Menikah karna ingin balas dendam. Inilah yang Verdiansyah lakukan pada seorang gadis cantik. Ia sengaja menikahi gadis tersebut untuk membalaskan dendam adiknya yang telah meninggal dunia.
Apakah yang akan terjadi? Akan kah Verdi mampu melanjutkan dendamnya? Atau malah jatuh cinta pada gadis yang ia nikahi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
"Baiklah sayang, apapun untukmu akan aku berikan. Asal kau bisa memuaskan ku dan selalu berada disampingku." Jawab Sandra.
"Tentu sayang, tanpa kau bilang, aku akan selalu berada disampingmu dan akan selalu memuaskanmu." Jawab Alex sambil memeluk tubuh Sandra.
...🥀🥀🥀🥀...
"Ada apa? Tumben kau datang kesini?" Tanya Seli, kakak sepupu Melati. Saat membuka pintu apartemennya.
"Apa kau akan terus membiarkan ku berdiri disini?" Tanya Aldo.
"Upss sory, ayo masuk."
"Belum." Jawab Seli. "Ouh iya kau mau minum apa? Biar aku buatkan"
"Apa saja, asal jangan yang mengandung racun. Aku belum siap mati muda."
"Tidak mungkin juga aku membunuh perjaka kaya seperti dirimu." Ledek Seli.
"Sembarangan."
Setelah beberapa saat kemudian Seli membawa segelas kopi lalu diletakkan dimeja yang ada dihadapan Aldo. "Minum Do'
"Makasih."
"Ouh iya bagaimana? Kenapa Melati belum menghubungimu?" Tanya Aldo kembali, karna sejujurnya Aldo sangat rindu ingin bertemu dengan Melati.
"Aku juga tidak tahu. Kenapa Melati belum menelpon ku."
"Apa kau tahu no orang tua Melati?"
"Ibunya tidak punya ponsel. Biasanya cuman minjem ditetangga."
"Oyah?" Aldo kaget, karna di jaman sekarang ternyata masih saja ada orang yang tidak memiliki ponsel.
"Hooh. Jadi kalau Melati rindu sama ibunya. Melati selalu menelpon tetangganya itu."
"Apa kau punya no tetangganya Melati?" Lagi-lagi Aldo bertanya. Aldo sudah membulatkan tekatnya untuk berbicara dan bertemu langsung Melati untuk menyatakan cintanya yang sempat tertunda malam itu.
"Tunggu!! Sepertinya dulu Melati pernah menelpon tetangganya dengan ponselku." Jawab Seli lalu bergegas masuk kedalam kamar untuk mengambil ponselnya.
"Ada?" Tanya Aldo saat Seli sudah keluar dari kamar sambil memegang ponselnya.
"Aku pusin Do, terlalu banyak panggilan keluar yang tanpa nama." Jawab Seli lalu duduk di depan Aldo.
"Coba sebutkan satu-satu no ponselnya. Biar aku yang hubungi." Aldo mengambil ponselnya yang berada di saku celana.
"Gila kamu Do, masa ia kamu mau nelpon semua no ini?"
"Atau gini deh, kamu ingat-ingat kapan terakhir kali Melati nelpon ke tetangganya itu."
Lalu Seli terdiam mengingat-ingat Melati yang tempo hari menelpon tetangganya untuk berbicara kepada ibunya.
"Bulan lalu, tapi aku lupa tanggalnya."
"Tidak masalah lupa tanggal, yang jelas bulannya sudah pasti. Ayo sebut satu persatu no panggilan keluar bulan lalu."
"Oke, tunggu." Seli mencari, dan memberikan satu persatu no panggilan keluar.
Berapa kali Aldo mencoba, namun semua gagal karna. "Masih ada?" Tanya Aldo menatap penuh harap kepada Seli.
"Masih ada dua." Jawab Seli.
"Semoga salah satu dari no ini adalah tetangga Melati." Ucap Aldo
"Iya semoga."
Dan ternyata Aldo harus menelan kenyataan pahit. Dua no tersebut tidak ada yang aktif sama sekali. Sehingga membuatnya menghembuskan nafas secara kasar.
"Bagaimana lagi" Aldo menyanderkan belekangnya dikursi.
"Segitu khawatirnya kamu Do sama Melati. Apa jangan-jangan??" Seli menatap curiga pada Aldo karna tidak seperti biasanya Aldo yang ia kenal sebagai pria cuek dengan wanita tiba-tiba seperti ini. Gelisah hanya karna tidak mendapat kabar dari seorang perempuan yang tak lain adalah Melati sepupunya.
"Tidak usah melihat ku seperti itu." Tegur Aldo. "Kau tahu sendiri jawabannya, jadi tidak usah bertanya."
"Hahahahahahah" Seli tertawa. Ternyata benar dugaannya, jika Aldo sang sahabat sedang jatuh cinta kepada Melati.
"Tidak ada yang lucu!" Aldo melempar Seli dengan bantal sofa.
"Betapa beruntungnya kalian jika bisa bersama. Yang cowoknya baik. Yang ceweknya juga baik banget. Sungguh luar biasa."
"Jadi kau merestui aku menyukai sepupumu?"
Seli tidak menghiraukan ucapan Aldo, ia justru mengetik sesuatu diponselnya.
"Bagaimana? Kau merestuiku?" Lalu Aldo membuka ponselnya dan membaca isi pesan Seli. "Ini alamat Melati?" Tanya nya sambil menatap wajah Seli.
"Ya" jawab nya sambil mengangguk. "Jika kau penasaran ingin tahu kabarnya ..." Belum sempat Seli berucap Aldo langsung berdiri dari duduknya
"Makasih Sel. Aku pamit, mau ke rumah Melati dulu." Ucapnya dengan penuh semangat menggebu-gebu.
"Astaga Aldo!" Teriak Seli menatap Aldo yang berlari seperti anak kecil yang sedang mendapatkan permen kesukaannya. "Aldo jangan lupa sampaikan salamku pada Melati." Teriak Seli di depan pintu.
"Doakan aku, semoga aku berhasil." Teriak Aldo
smw pada gantung ceritanya