Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.
Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Mala turut tersentak karena erangan suaminya itu. Lalu ia menjauhkan tangannya. Setelah sadar apa yang baru saja ia sentuh tadi, perempuan muda itu menjadi malu sendiri. Wajahnya semerah tomat, apa yang dipikirkan lelaki itu tentang dirinya nanti.
Saat kedua mata Danzel telah membuka terbuka sempurna, ia menunjukkan raut wajah yang aneh lagi. Ekspresi yang persis seperti semalam. Rupanya tindakan nakal wanita itu yang tak disengaja telah kembali membangkitkan nalurinya sebagai lelaki sejati.
"Kamu tidak sabaran sekali." Lelaki itu mengulas senyum nakal. Mala bingung dibuatnya. Belum sempat menyahut, tubuh kekar dengan dengan perut sixpack itu telah berpindah posisi. Mengukung istrinya yang sudah panik dibawah sana.
"Danzel,"
"Ssstt!" Danzel membungkam istri cantiknya itu dengan bibirnya. Gerakannya lembut, namun memabukkan. Namun hanya beberapa menit bertahan, hingga sisi agresif darinya mulai muncul ke permukaan dan menyerang perempuan itu dengan semestinya.
Dan akhirnya, ditemani matahari yang mulai meninggi, mereka kembali melakukan hubungan badan yang sudah tertunda selama beberapa waktu.
***
Saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi lebih 30 menit, mereka masih ada di balik selimut dengan tubuh yang sama sama polos. Pandangan Mala menatap kosong ke langit langit ruangan, ada banyak hal dalam kepalanya. Ia melirik ke sampingnya, lelaki berbadan kekar itu tidur dengan posisi telungkup. Mereka baru saja melakukan satu jam yang lalu.
Rasa aneh menyelimuti hati Mala. Ia pernah baca, kalau beberapa perempuan merasakan hal aneh seperti keadaan sedih, canggung dan marah bahkan ingin menangis setelah malam pertama. Dan sepertinya, itu yang ia rasakan sekarang.
Semalam, ia dan Danzel sudah berhubungan. Lebih tepatnya hubungan badan karena nafsu, bukan cinta seperti yang Mala harapkan saat ia masih gadis. Dan dilakukan saat mereka sama sama dalam pengaruh alkohol. Bahkan mungkin saja, Danzel masih mabuk pagi tadi.
Mala hanya bingung, bagaimana ia akan bersikap nanti. Mengingat cara Danzel semalam saja ia sudah malu sendiri. Bahkan otaknya sampai berpikir, bagaimana kalau ia hamil. Punya anak. Oh tidak, dia tidak sanggup membayangkannya. Ia sangat menyukai anak kecil, tapi Danzel?. Bahkan di usianya sekarang ia masih berperilaku seperti anak anak.
Beberapa menit melamun, lalu tiba tiba raut panik muncul di wajah cantiknya. Mala langsung beranjak duduk. Matanya membulat. Karena sibuk dengan overthinking nya ia sampai melupakan Ely, entah apa yang sedang dilakukan anak itu sekarang.
Buru buru Mala meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, ia tak sempat memakainya dan langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hanya butuh sepuluh menit bagi Mala untuk mandi, ia keluar dari kamar mandi dengan langkah hati hati namun tergesa. Rasanya pangkal pahanya ngilu, Danzel melakukannya terlalu cepat semalam.
Saat pintu terbuka, bertepatan dengan seorang pria yang melintas tepat di depannya, ia seolah baru saja kembali dari arah kamar Ely.
"Oh, hai!" Sapa lelaki itu dengan senyum manisnya yang membuat semua gadis terpesona.
"Sudah selesai?" Tanyanya lagi.
Dahi Mala berkerut, apanya yang sudah selesai." Apa yang sudah selesai?"
"Kalian. Kalian sudah selesai?" Seolah paham maksud lelaki tadi, perempuan itu tersipu malu. Jadi teman teman Danzel semalam tidak pulang, menunggunya dan Danzel selesai?
"Oh tidak perlu dijawab, aku hanya bercanda. By the way, I'm Atlas. Kamu?" Atlas memperkenalkan dirinya. Ia masih mengingat wajah Mala saat pernikahan nya dengan Danzel dulu. Sekarang ia dapat melihat dengan dekat wajah naturalnya tanpa polesan apapun yang tetap memukau di depan matanya.
"Panggil saja Mala." Menerima uluran tangan Atlas. Menurut penilaiannya, Atlas ini adalah tipe lelaki hangat, beda dengan Danzel yang mulutnya terkadang sepedas cabai.
"Beautiful name. Tadi ada suara anak kecil menangis, aku mengeceknya dan ternyata ada gadis kecil disana. Tapi tenang, dia sudah tenang dan kembali tidur sekarang."
Mala kembali teringat tujuan awalnya. Wajahnya kembali panik, sudah jam segini tapi Ely bahkan belum diberi makan.
"Oh tidak, aku harus mengecek Ely. Permisi." Mala berlalu dari hadapan lelaki itu. Pandangan Atlas mengikuti gerak tubuhnya hingga menghilang dibalik pintu.
****
Atlas memastikan istri sahabatnya itu masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, baru setelahnya ia melanjutkan langkah menuju ruang tamu.
"Dia sudah bangun?" Ariel yang begadang semalaman dan baru bisa tidur jam tiga pagi tadi menguap lebar, memerhatikan Atlas. Lalu kembali merebahkan tubuhnya ke sofa. Mengusap ujung bibirnya beberapa kali.
Sementara Raja dan Cakra memilih tidur berdua di kamar tamu yang biasa mereka tempati.
"Entah," Pendek dia menjawab. Wajahnya terlihat aneh, dan Ariel dapat melihat perubahan itu.
"Kenapa Dein belum keluar juga? Jadwal berangkat kita satu jam lagi, nanti terlambat!" Ariel mulai mengomel, ia hendak beranjak dan membangunkan Danzel sendiri.
Weekend ini, mereka berencana menghabiskan waktu pergi camping, sekaligus menikmati air terjun disana. Tempat favorit mereka sejak dulu, yang rutin dikunjungi pada hari tertentu.
Atlas agak ragu untuk menjawab, menilik dari wajah lelah Mala tadi, ia berasumsi kalau si pria mesum yang sayangnya adalah sahabat karibnya itu baru akan bangun beberapa jam kemudian.
"Dasar Danzel sialan! Semalam dia seenaknya meninggalkan kita lalu pergi ke kamar bersama istrinya. Si mesum itu pasti menang banyak ronde! ****, aku saja kalah dengannya!" Gerutu Ariel kesal.
Padahal tadi malam pesta sedang seru serunya, namun tiba tiba istri Danzel datang dan mengacaukan segalanya. Jujur ia agak kesal. Dan si tuan rumah, juga menurut saja dan langsung masuk kamar. Dan yang lebih mengesalkan lagi, dia tidak bisa tidur karena mendengar suara suara keramat dari kamar pasangan tersebut.
"Ya, pasti kalah! Kamu akan anak mama, ketahuan tidur sama perempuan pasti habis digorok mamamu itu." Atlas berkata benar. Walaupun nakal dan urakan, Ariel paling tunduk pada ibunya. Tak jauh beda dengan Danzel.
"****!" Umpatnya lagi menanggapi ledekan Atlas.
"Sepertinya jadwal kita hari ini akan tertunda lama. Bahkan mungkin batal."
"Why?" Tanya Ariel heran.
Atlas berbisik pelan, wajahnya seperti meledek temannya tersebut.
"Benar benar gila! Dia bilang begitu?! Danzel bahkan memecahkan rekor si Raja." Lelaki blasteran itu tampak shock. Melirik kamar tamu tempat Raja tidur, pasti si buaya darat itu akan menghajar Danzel kalau tahu ia memecahkan rekor yang dipegangnya selama ini.
"Ya, istri Danzel bilang begitu. Aku berpapasan dengannya tadi. Wajahnya bahkan sangat kelelahan. Benar benar ganas sekali temanku yang satu itu!." Atlas menahan tawa, menyaksikan wajah terkejut Ariel yang percaya saja akan perkataannya merupakan hiburan tersendiri baginya.
***
"Kenapa kalian ini?" Raja yang baru terbangun karena suara Ariel yang membuat telinganya terusik ikut bergabung. Lelaki berbadan besar itu duduk diatas sofa, menyambar kopi yang tersaji diatas meja.
"Hei,itu punyaku!"Tegur Atlas.
Raaj hanya menaikan satu alisnya. Memijat keningnya yang masih terasa pusing.
"Danzel memecahkan rekormu!" Tawa Ariel kembali menggelegar.
"What do you mean?" Raja mengerutkan kening. Tanda tak paham akan kata kata lelaki itu.
"Dia pecah tujuh ronde, kau tahu? Pantas saja suaranya semalam sangat mengganggu! Si sialan itu pasti tidak bisa bangun dari ranjang sekarang. Mungkin bangun tiga jam lagi.
Uhuk!
Raja sampai tersedak kopi panas yang diteguknya. Lidahnya terasa terbakar.
"What!! Really?!"