Hati siapa yang tak hancur ketika orang yang sangat dicintai ternyata berkhianat.
"Apa salahku, Mas?"
"Maaf, aku mohon."
"Apa perbuatan kamu layak dimaafkan?"
Akankah Fani memaafkan pengkhianatan suaminya? Atau Fani akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marishana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Dekat
Malam telah berlalu, Pagi datang dengan syahdunya. Embun di ujung daun jatuh dengan membawa rindu pada tanah yang akan menumbuhkan pepohonan.
Walau masih teramat ngantuk tapi hati tidak bisa tenang sebelum diri melaksanakan kewajiban dua rakaat.
Tapi niat ingin lanjutkan mimpi di pagi hari sudah tidak memungkinkan karena harus ke kantor.
Karena nginap di rumah orang tuaku jadi aku tinggal makan aja,sarapan sudah tersedia di atas meja makan.
Aku pamit untuk ke kantor agak pagi karena memang jarak kantor dari rumah orang tuaku agak jauh.
Seperti biasa setibanya di kantor sibuk di depan laptop. Mengerjakan tugas-tugas yang memang menjadi tanggung jawabku.
Saat waktunya makan siang, gawaiku berdering dan terlihat jelas di layarnya si Kumbang yang memanggil untuk mengajakku makan siang. Aku belum mengganti nama kontaknya di gawaiku.Awalnya sih menolak tapi karena dia sudah ada di depan kantor , ya terpaksa menyetujui.
Dari mana sih dia tau kalau aku kerja di sini, Kok dia tau semua tentang aku. Dan masih banyak lagi pertanyaan dalam hatiku. Padahal aku tidak apa-apa tentang dia.
Aku keluar dari kantor sambil celingukan mencarinya, ya pasti bingun lah mencarinya , warna mobil dan jenis mobilnya aja aku nggak tau, Pas aku keluar di pinggir jalan ada sebuah mobil keluaran terbaru berwarna silver mendekat dan pengemudinya membuka jendela mobil sambil tersenyum ke arahku.
Aku cuma berdiri tanpa langsung naik
" Mau aku bukakan pintu?" tanyanya
Aku langsung buka pintu belakang.
""Duduk di depan aja" katanya lagi
Aku kemudian beralih membuka pintu depan dan duduk tepat di sampingnya.
" Gini kan lebih enak" tambahnya lagi
Kami langsung menuju ke sebuah restoran yang tak jauh dari kantorku. Aku tanyakan kepadanya dari mana dia tahu tentang kantorku, dengan santainya dia mengatakan bahwa semua tentang diriku dia tahu.
Benar-benar kurang kerjaan ini orang pikirku.
Sesampainya di restoran
Seorang waiters datang dan mencatat pesanan kami, kemudian berlalu menyiapkannya.
" Masih nginap di rumah orang tuamu" tanyanya
"Iyya Kak , tapi besok aku dah balik kok ke rumahku" jawabku
Rayhan hanya mengangguk.
Pembicaraan kami terhenti setelah waiter datang membawa pesanan kami
' Silahkan di nikmati " kata si waiters
Aku dan Rayhan mengucapkan terimah kasih sambil tersenyum ke sang waiter.
Kami memakan makanan dengan lahapnya sekali-kali bercerita tentang pekerjaan.
"Pulang kantor aku jemput " katanya lagi
"Nggak usah, aku bawa mobil kok" jawabku menolak
Karena waktu istirahat hampir habis, aku mengajaknya untuk mengantarkan ku kembali ke kantor.
Di perjalanan aku menanyakan banyak hal kepadanya, dari pada penasaran ya lebih baik aku tanyakan saja.
"Kakak berapa hari di sini" tanyaku
"Tergantung kamu, maunya aku sampai kapan" jawabnya asal
"Lho, kok aku sih Kak" tanyaku
"Kerjaan aku di sini udah selesai, pesta adik kamu juga udah selesai, ya jadi tinggal ketemuannya sama kamu belum selesai" jawabnya menerangkan.
"Lha sekarang kita ngapain, kan ketemu" kataku bingung
"Tapi akunya belum puas kangen-kangenan sama kamu" katanya menoleh ke arahku sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Aissssshhhh .. ".kataku sambil menunduk merasa malu.
"Kamu cantik kalau malu- malu begitu" katanya sambil sesekali melirik padaku
Wajahku semakin memerah dikatakan cantik.
"Gombal" kataku
'Aku serius, bagiku dari kecil kamu cantik tapi sekarang tambah cantik" melanjutkan aksi gombalnya.
Aku semakin malu dengan kata-kata gombalnya.
'Kamu tau nggak, aku paling suka dengan Lesung pipi kamu itu" ucapnya lagi
"Udah dong gombalnya Kak," ucapku.
"Bodoh banget mantan suami kamu ninggalin berlian seperti kamu"
Aku terperangah mendengar ucapannya, kemudian seketika wajahku murung.
Kenapa dia bisa tahu tentang perceraian ku dengan Mas Rasya."
Karena aku diam, dia meras bersalah
"Maaf, bukan maksudku buat mengingatkanmu' katanya merasa bersalah.
"Dari mana kakak tau semua tentang aku?" tanyaku pelan.
" Itu sangat mudah bagiku' ucapnya
Kalau kamu ada waktu luang aku bisa mengatakan semuanya.
"Btw kenapa sih Tante Rita bilangin Kakak BTL" tanyaku mengalihkan pembicaraan tentang perceraian ku.
Sebenarnya nggak enak sih nanyanya tapi karena penasaran ya terpaksa di tanyakan
" Ya karena sudah umur segini belum marrired, jawabnya.
""Kakak ada kelainan?" kataku keceplosan
Aku langsung menutup mulutku.
" Maksud kamu" tanyanya bingung
" Siapa tau aja kakak, anu.....itu tuh....gimana yah" ucapku bingung juga
"Hahahaha".....kamu pikir aku homo..apa? katanya sambil terus tertawa
Suasana kembali ceria karena pertanyaan ku kepadanya.
"Terus kenapa dong? kalau tidak salah umur Kakak sekarang udah 30 an lebih kan?, seusia kakak itu seharusnya udah punya anak tiga lah minimal.. hehe" kataku panjang lebar
" Tepatnya mendekati 32 tahun. Tapi aku kelihatan seperti 25 an kan? katanya memuji dirinya sendiri.
Kalau aku perhatikan benar juga katanya.
" Tepatnya belum di kasi sama yang di Atas" jawabnya serius
" InsyaAllah Kakak akan dapat yang terbaik diantara yang baik" ucapku menyemangatinya
" Aamin" jawabnya
Karena asiknya berbincang, tak terasa mobil sudah sampai di depan kantorku. Aku turun dan tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah di traktir .
Aku kembali melanjutkan pekerjaanku hingga tak terasa waktu menunjukkan jam pulang kerja. Aku berjalan ke luar dari kantor bersama dengan Dewi. Aku berjalan kearah parkiran sedangkan Dewi menuju kearah mobil suaminya yang sudah menunggunya.
Pada saat aku akan membuka pintu mobil, dari arah samping Rayhan berlari menghampiriku.
"Aku antar pulang" ajaknya
" Aku kan bawa mobil, gimana sih" jawabku
" Kita naik mobil kamu, sini aku yang nyetir" dia langsung mengambil kunci mobil di tanganku.
"Mobil Kakak? tanyaku heran
" Aku naik taksi online ke sini" katanya cengengesan
" Astaga.....Kakak kurang kerjaan banget sih" kataku sambil geleng kepala.
" Namanya juga usaha" katanya pelan
" Maksudnya"? tanyaku heran
Dia langsung menyalakan mesin kemudian melajukan kendaraan tanpa menjawab pertanyaan ku.
"Kita singgah ke Mall sebentar ya?" katanya
"Ngapain" tanyaku
" Berenang" jawabnya asal
Aku hanya mendengus kesal, mendengar jawabannya yang tidak masuk akal.
Aku menunjukkan jalanan yang lebih dekat ke arah Mall. Setelah sampai kami masuk Mall dan tiba-tiba dia memegang tanganku menuju kearah Lift. Aku heran dia kok gak sopan banget langsung pegang tangan.
Sesampainya di Lift aku langsung melepaskan tanganku. Dia hanya melirikku se kilas tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin dia juga reflek. Atau hanya cari kesempatan .
Setelah sampai di lantai tiga Mall, dia menuju kearah toko mainan, aku hanya mengikutinya tanpa banyak tanya. Dan setibanya dia mengambil beberapa mainan,
"Kamu mau beli sesuatu"? tanyanya
Aku hanya menggeleng,.
Sebenarnya aku sudah lelah, di samping karena kerja seharian aku juga lelah karena pengaruh sepatu high heel yang aku pakai, Sungguh membuat betis ku mengeras seperti batu. Aku meringis ketika mencoba mengimbangi langkahnya.
Setelah melewati penjual sepatu dia menarik tanganku masuk ke toko tersebut. Dia menuntunku duduk di sebuah kursi yang ada di dalam toko tersebut. Kemudian dia pergi mengambil beberapa pasang sepatu yang rata tanpa tumit. Dia berjongkok di depanku dan menyuruhku mencoba sepatu tersebut.
Aku terharu melihat perhatiannya padaku, Dia merasakan apa yang aku rasakan tanpa aku mengatakannya.
Aku mencoba setiap sepatu yang dia sodorkan di kakiku, tanpa mengatakan apa-apa.
Dia mendongak menatapku
"Makanya jangan selalu pakai high heels" katanya menasehati.
Ya Allah, kenapa dia begitu perhatian padaku padahal baru kemarin kami bertemu langsung.
Setelah mencoba beberapa pasang akhirnya aku menemukan yang pas, Dia mengambilkan tiga pasang sepatu dan ke kasir membayarnya.
Aku ingin membayarnya tapi dia menolaknya katanya hadiah untuk ku karena menemaninya makan siang dan ke Mall.
Sungguh membuatku tak enak di berikan hadiah olehnya.