Hira Arinta perempuan memiliki banyak talenta yang diwarisi oleh ayahnya. Hidup Hira selalu di bawah kendali orang tuanya, keinginan terbesar orang tuanya yaitu menjadi dokter bedah. Namun, Hira mematahkan harapan keduanya dengan mengambil jurusan desain komunikasi visual.
Tidak ada cinta dan kasih sayang yang Hira dapatkan sejak kedua orang tuanya mengusir dari rumah dimana tempat selalu mendapatkan cinta.
"Aku membenci kata cinta yang meruntuhkan cita-cita ku."
Bintang Aditya Prawira pria berprofesi sebagai tentara berpangkat Kolonel, berstatus duda. Memiliki putri cantik bernama Kihana, Adit harus menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk Kihana. Cintanya tidak bisa terukur untuk sang putri, kehilangan sosok ibu tidak akan kehilangan juga sosok ayah, baginya Kihana prioritas utama.
Tuhan berkehendak lain, Adit dipertemukan dengan sosok Hira Arinta yang penuh misterius.
"Aku akan menumbuhkan dan memberikan cinta yang pernah hilang dalam hidupmu." Bintang Aditya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NatiaGeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skin to Skin
Aditya membawa keluar Hira dari rumah Johan Siregar, perempuan ini seperti mengigil karena terus menangis. Aditya menuntun Hira untuk masuk ke mobilnya, Hira tidak sepatah pun mengeluarkan kata-kata.
Tidak pernah sebelumnya Aditya melihat tindakan ke-kerasan orang tua terhadap anak kandungnya di atas umur dua puluh tahun, ini merupakan pertama kali bagi Aditya.
Hira mengambil lembaran tissue untuk menghapus air mata dan ingus, perempuan ini sangat kesusahan menghapus air matanya karena masih terasa pukulan ikat pinggang Johan bagian tangannya.
"Kamu biasakan untuk meminta tolong...saya tidak keberatan jika menghapus air mata dan ingus kamu." Aditya mengambil alih tissue yang berada di dashboard mobilnya.
Tidak ada jawaban dari bibir Hira, perempuan itu membiarkan Aditya menghapus lelehan air mata yang mengalir tanpa komando. Penampilan Hira saat ini sangat memprihatinkan, mata bengkak, ada bekas memar di bagian tangan kanan, bagian kaki kiri membiru karena pukulan ikat pinggang.
"Kita ke rumah sakit sekarang...saya mau melakukan fis...." Hira menutup mulut Aditya dengan telunjuknya, dia menggelengkan kepala jika ide Aditya itu jangan dilakukan.
Aditya tidak mengerti dengan jalan pikiran Hira, dia berniat untuk melakukan pemeriksaan atas tindakan ke-kerasan yang dilakukan Johan. Hira mengambil ponselnya yang terletak di dalam tas yang dibawakan oleh Aditya ketika dia meninggalkan restoran tadi.
"Aku sekarang butuh ketenangan... bisakah Abang membawa aku ke tempat yang tenang dan sunyi...aku mohon." Tulis Hira dalam pesannya kepada Aditya.
Aditya yang membaca pesan yang dikirimkan istrinya tanpa berbicara lagi, dia menghidupkan mobilnya dan meninggalkan kediaman orang tua Hira.
Bagaimana Aditya menebus hati Hira yang begitu rapuh, perempuan itu selalu punya pemikiran sendiri. Terbaik bagi Aditya tidak bagi Hira, perempuan ini penuh misterius pikir Aditya.
Pria itu mengemudi dalam diam tapi pikiran berkelana entah kemana, tentunya Aditya memikirkan Hira dan keluarga kandung perempuan itu.
Menempuh perjalanan selama dua jam menuju kota Malang, Aditya ingin membawa Hira jauh dari hiruk pikuk kota Surabaya. Dia sudah meminta izin kepada kesatuannya tidak masuk selama dua hari.
Melewati hutan Pinus Aditya berhenti di dekat sungai, dia sedikit banyak mengetahui kota Malang karena pernah bertugas di sini selama satu tahun.
"Ayo turun...Saya akan menunjukan tempat yang nyaman dan sunyi." Aditya membuka safety belt milik Hira. "Mau jalan sendiri atau di bimbing?" Aditya mengulurkan tangannya.
Hira menerima uluran tangan Aditya agar jalannya seimbang, kakinya sakit untuk berjalan. Tubuhnya seperti tulang yang dilepaskan secara paksa, bagian persendian masih kaku karena Johan beberapa kali melayangkan pukulan pada bagian situ.
Berjalan tertatih dengan baju dan rok yang tidak berbentuk Hira mencoba mengimbangi langkah Aditya, lambat namun pasti keduanya sampai di bibir sungai.
Aditya melepaskan tangan Hira, dia tahu perempuan ini butuh waktu sendiri, dia beringsut tidak jauh dari tempat Hira berdiri.
"Bapak Hira boleh ga jadi pelukis?" tanya Hira kepada Johan.
"Tidak ada cerita kau jadi pelukis...kau harus masuk fakultas kedokteran UI..lihat nilai kau tinggi semua...kau juara umum di sekolah." jawab Johan kala Hira meminta persetujuan ingin melanjutkan pendidikannya.
"Tapi aku tidak menyukai dunia kesehatan...waktu ku akan hilang...kita akan terfokus pada keselamatan nyawa pasien...Pak." Hira mencoba membuka pikiran Johan yang menginginkan dia untuk masuk fakultas kedokteran.
"Boru Hira Arinta Siregar...ikuti semua perintah bapak kau ini....aku tahu mana yang terbaik untuk kau." Johan menatap tajam anaknya yang tidak ingin menuruti kemauannya.
peristiwa tiga tahun lalu seperti berputar ulang di dalam kepala Hira, watak Johan yang keras tidak bisa di tembus, menjadikan Hira tidak bisa bebas dalam mengeluarkan pendapat.
"Gambar siapa ini....aku sudah bilang jangan melanggar perintah aku....kau tidak dengar ucapan aku...jangan keras kepala Hira...jadi anak penurut...kau ini suka sekali membangkang perintah aku." Johan merobek gambar karikatur yang Hira buat untuk hari guru.
Kenangan Johan yang menolak keras hobi Hira tentang melukis membuat mental perempuan down, lain sisi Arvind diam-diam membelikan Hira hadiah perlengkapan lukis dari Inggris. Kakaknya sangat tahu Hira mempunyai kemampuan dalam melukis, Arvind saat itu mendapat bonus pertamanya dari perusahaannya langsung membelikan Hira peralatan lukis paling mahal.
Kenangan orang-orang terdekat Hira terus berputar di dalam benak kepala perempuan itu, di mulai dari penyiksaan Johan Siregar dari sejak dia kecil, perempuan itu merasa tersisihkan di dalam keluarga sendiri. Johan lebih senang mengajak Arvind pergi ke mall atau kebun binatang tanpa Hira, Pria itu memberikan berbagai alasan agar Hira tidak pergi bersamanya.
Mamak Ratna yang selalu menangis jika selalu membela Hira ketika di hukum oleh Johan, wanita itu rela tidak tidur semalaman jika Hira di kurung di luar jika membuat kesalahan.
Air mata perempuan kembali turun mengenang tindakan Johan yang pilih kasih kepada Arvind dan dirinya, sejak dulu dia dikatakan anak pembawa masalah.
Jika Hira ingin meminta kepada Tuhan, dia tidak ingin mendapatkan ayah seperti Johan Siregar. Johan seperti monster yang selalu menghantui hidup Hira, pria paruh baya itu tidak segan untuk mengurung Hira di luar rumah walau hujan petir.
Aditya yang sejak tadi berada tidak jauh dari perempuan itu, melihat keberadaan Hira tidak lagi di tempat semula, perempuan itu berjalan ke arah sungai yang memiliki aliran yang deras.
Aditya berlari mengejar Hira yang berjalan dengan tatapan kosong, pria itu secepatnya mungkin untuk meraih tubuh Hira. Jika sedikit saja pria itu terlambat, mungkin Hira sudah hanyut terbawa arus.
Aditya menarik tubuh Hira dalam pelukannya, Pria sudah terlatih dalam keadaan apapun, menyelamatkan warga sipil yang terjebak di semur galian sudah pernah Aditya lakukan, menyelamatkan sopir yang terjepit kendaraan pun pernah Aditya lakukan.
Aditya menurunkan tubuh basah kuyup Hira dipinggiran sungai. "APA YANG KAMU LAKUKAN ARINTA." suara Aditya naik satu desibel atas tindakan Hira.
Air mata perempuan kembali turun, suaranya tidak bisa keluar untuk menjawab ucapan Aditya. Hira hanya menggelengkan kepala, tubuh perempuan itu gemetar hebat.
"Sh-it" Umpat Aditya dalam hati, dia tidak tega melihat kondisi istrinya yang sangat memperhatikan.
Aditya mengendong Hira kembali ke mobilnya, pria itu harus cepat menukar baju mereka yang sudah basah kuyup.
Tak jauh dari sungai, Aditya menemukan sebuah penginapan. Pria itu langsung memesan satu kamar untuk dia dan Hira.
"Arin...bangun...kamu harus ganti baju." Aditya meletakan tubuh Hira di atas kursi rotan panjang, tadi ketika masih berada di mobil, Aditya pikir Hira tertidur karena kelelahan menangis.
Aditya memberi waktu untuk Hira bangun, pria itu beranjak mencari baju kering di dalam koper pakaian miliknya yang terbawa dalam mobil, pria itu berniat tadi setelah makan bersama, mereka akan kembali ke asrama.
Aditya menukar pakaiannya yang lembab, Dia harus mengurus Hira, Aditya takut Hira akan terserang hipotermia karena terlalu lama memakai baju basah.
"Arin....ganti pakaian kamu dulu." Aditya menepuk lembut pipi Hira.
Tidak kunjung ada jawaban dari Hira, Aditya menempelkan punggung tangannya di dahi Hira, panas luar biasa, Namun tubuh Hira mengigil seperti kedinginan.
Aditya bergerak membuka setiap lapisan pakaian basah yang di pakai istrinya, ini tugas paling sulit yang pernah Aditya alami selama ini. Dia takut Hira akan marah jika Aditya melihat seluruh tubuh polos perempuan itu.
Lapisan pakaian pertama Hira sukses Aditya buka, mata pria membulat sempurna. Dia menghitung memar yang berada di bagian pergelangan tangan istrinya, turun ke arah perut rata Hira, ada bekas cubitan yang membiru, selanjutnya bagian paha bagian depan terlihat jejak ikat pinggang.
Hira meringis karena Aditya menyentuh salah satu memar yang terlukis di kulit putih Hira, Aditya membalikan tubuh perempuan itu, punggung putih mulus Hira penuh dengan bekas pukulan ikat pinggang, Punggungnya mengeluarkan darah segar di titik memar tersebut.
Niat awal Aditya ingin membuka pengait bra Hira, tidak sanggup menahan tangisnya. Baru satu hari sebagai suami, pria itu merasa sudah gagal menyelamatkan Hira dari siksaan Johan Siregar.
"Saya janji tidak akan melepaskan kamu dari sekarang Arin." Tangis Aditya tumpah, dia tidak sanggup melihat darah segar masih mengalir dari panggung Hira.
Cup
Dalam tangisnya pria itu mengecup luka yang menganga di punggung Hira, menghapus dengan kasar air matanya Aditya mengendong tubuh Hira ke tempat tidur.
Aditya membersihkan luka di punggung Hira dengan antiseptik, tubuh putih itu kini banyak tanda memar yang menghiasinya.
"Panas..." Ucap Hira dengan suara yang nyaris hilang.
Aditya mengecek kembali dahi Hira, tetap panas. Suhu udara juga sudah turunkan, tidak mungkin memakaikan Hira dengan pakaian tebal jika tubuhnya demam tinggi.
Hira polos tanpa lapisan apapun yang menempel pada tubuhnya, Aditya akan menerima akibatnya nanti setelah Hira terbangun dari tidurnya.
"Maafkan saya." Aditya membuka bajunya, mengambil selimut lalu bergabung dengan Hira. Keduanya sama polos sekarang, skin to skin.
gimana reaksi Hira mengetahui dia dan Aditya sama-sama polos, apakah Hira akan berubah pandangan pada Aditya.
BPK nya