Juan Edward Harrison adalah seorang pria yang tak ingin terikat hubungan dengan wanita mana pun, namun ternyata dia memiliki sebuah cinta kepada wanita yang bernama Fanya Anastasia Janson.
Tetapi Fanya lebih memilih menikah dengan pria lain yang bernama Brian Janson Adkinson karena Fanya kecewa kepada Juan
Kekecewaan Fanny tak berhenti sampai disitu, karena dia mendapati suaminya telah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Bagaimana akhir kisah mereka? Akankah Franklin menerima kenyataan bahwa Fanny telah menikah, atau dia akan merebut Fanny dari Harry?
Lalu bagaimana dengan Fanny? akankah dia bertahan dengan Harry atau lebih memilih bercerai dan menanti sang Casanova.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navizaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Milikku
Happy Reading 😊
"Maaf Nona Mimy, aku sekarang sedang sibuk, minta tolonglah pada yang lain!" Franklin mematikan panggilan itu.
"Hahahaha, lucu sekali ekspresi mu Fank!" Danish tergelak melihat asistennya itu yang terlihat kesal.
"Sudahlah Bos, jangan meledekku! dia itu memang wanita aneh," Danish masih tergelek.
Franklin tidak menanggapi ledekan Danish yang memang selalu di ucapkan oleh bosnya itu. Semenjak di tinggalkan Fanny menikah tiga tahun lalu Franklin sudah sering mendapat olokan dari Danish.
Entah itu olokan karena di tinggal menikah, atau ketika sering di goda banyak wanita yang menginginkan tidur dengannya.
Franklin sudah tidak pernah pergi ke club malam lagi setelah di tinggal Fanny menikah. Dia sudah memutuskan untuk berhenti bermain dengan wanita pemuas naf su sesaat.
Dulu dia memang tidak pernah memikirkan hubungan pernikahan, tapi setelah melihat wanita yang selama ini menemani hari-harinya memilih menikah dengan pria lain, membuat Franklin sadar bahwa dia juga butuh sandaran untuk hidup.
Akhirnya Danish mengajak Franklin pulang ke hotel karena waktu juga sudah larut malam, Franklin sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Fanny besok, dia sudah mempersiapkan diri untuk bisa membujuk Fanny.
Tidak akan pernah melepaskan wanita itu lagi, Franklin akan menggenggam erat wanita pilihan hatinya itu.
Franklin sudah berada di dekat mobilnya, diapun terkejut ketika mendapatkan tepukan di bahunya dengan sedikit keras.
"Tuan, apa kamu tidak kasihan padaku? lihatlah sampai sekarang belum ada yang mau menolong ku!" seru Mimy membuat Franklin terkejut.
"Ada apa Nona?" tanya Danish.
"Mobilku mogok tuan, aku tidak bisa pulang ke rumah, dari tadi aku sudah berusaha meminta bantuan pada sahabat dan juga keluarga ku, tapi sampai sekarang belum ada yang datang menolong," jawab Mimy dengan raut wajah yang sedih.
"Kenapa kau tidak memanggil taksi saja, tidak perlu merepotkan orang lain kan?" ucap Franklin yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Danish.
Danish langsung memberikan kode pada Franklin menyuruhnya untuk mengantarkan wanita itu.
"Hah, baiklah bos, perintahmu adalah suatu kemutlakan!" gerutu Franklin.
"Nona ini sudah larut, menunggu taksi semalam juga sudah tidak ada ada, sebaiknya kamu pulang bersama asisten ku, biarkan Franklin mengantarmu!" ucap Danish.
Akhirnya Danish menyuruh salah satu pengawalnya untuk menjemputnya, sedangkan Franklin dan Mimy langsung masuk ke dalam mobil dan langsung melenggang ke alamat yang di tunjukkan oleh Mimy.
Sepertinya alamat rumah ini terlihat sangat Familiar. Batin Franklin.
Sepanjang perjalanan Mimy selalu mengoceh tak berhenti, membuat telinga Franklin terasa panas karena ocehan itu.
"Tuan, kamu memang bukan orang sinikan? aku tahu dari cara kamu berbicara, memangnya kau berasal dari negara mana?"
"Amerika!" jawab Franklin cepat.
"Aku juga berasal dari Amerika loh, wah jarang sekali bertemu dengan sama-sama warga USA," Franklin tidak menanggapi.
Dia masih sibuk menatap jalan di depannya.
"Tuan Franklin, apakah anda akan sakit gigi? kenapa pendek sekali membalas ucapan ku?"
"Berhentilah Nona Mimy, atau aku tidak mau mengantarkan mu lagi!" Mimy langsung menutup mulutnya seketika.
Ternyata Franklin bisa menyeramkan juga kalau sedang marah.
Setelah beberapa saat Franklin memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah berlantai dua yang lumayan cukup besar.
"Terima kasih tuan atas bantuan anda? masuk dulu yuk, aku akan merasa tersanjung kalau tuan Franklin mau masuk ke rumah," ucap Mimy.
"Tidak perlu, turunlah!" seru Franklin.
"Jangan galak-galak donk tuan, nanti gantengnya ilang loh," Franklin benar-benar di buat kesal level dewa oleh wanita bernama Mimy itu.
Pada saat Mimy sudah turun, ada seseorang membuka pintu depan. "Fanny!!" seru Mimy melihat Fanny yang menatapnya dengan badmood.
"Kenapa baru pulang? akukan minta di belikan Pizza mozarella papperoni dengan taburan paprika, dari tadi nungguin kamu Mimy!"
Franklin mendengar dan melihat jelas siapa wanita yang sedang mencak-mencak di pintu sambil bersedekap dada.
"Fanny!" Franklin langsung membuka pintu mobil dan keluar dari dalam.
Seakan tidak percaya apa yang di lihatnya bahwa Fanny ada di depan matanya saat ini.
"Tuan Frank, kenapa anda berlari?" Franklin langsung berhenti saat di Mimy bertanya.
"Franklin!!"
"Fanny, ternyata kamu ada di sini?"
Franklin ingin sekali mendekat ke arah Fanny dan memeluknya, tapi ucapan Mimy telah mengurungkan niatnya untuk mendekat.
"Eh kalian saling kenal? Fanny cepat masuk dulu, kamu kan sedang hamil jadi jangan terlalu lama berada di luar rumah, angin malam tidak baik untukmu!" Fanny yang masih terkejut itu langsung masuk ke dalam rumah segera dan menutup pintunya.
"Maaf ya Frank, Fanny itu lagi depresi berat akibat perceraian nya dengan suaminya, apalagi sekarang dia sedang hamil!" Franklin sangat kaget mendengar kehamilan Fanny.
Dia tidak menyangka bahwa Fanny melarikan diri ke Perancis dengan keadaan yang sedang berbadan dua.
"Sudah berapa bulan kandungan nya?" tanya Franklin curiga.
Entah itu miliknya atau milik Harry bagi Franklin tidak masalah. Dia hanya ingin Fanny bisa menjadi miliknya.
"Kata dokter pas periksa tadi sekitar 6 minggu, berarti belum ada dua bulan," jawab Mimy.
Deg! jantung Franklin berdegup lebih kencang lagi.
Belum ada dua bulan, dia dan Fanny sudah bertemu dan melakukan malam panjang itu sekitar satu setengah bulan yang lalu.
Itu berarti ... !
"Mimy, bolehkah aku masuk ke rumahmu, sepertinya aku haus," ucap Franklin tiba-tiba.
Mimy berbinar dan langsung mengangguk senang.
"Ayo Frank, masuklah, aku senang sekali!"
Mimy langsung membukakan pintu rumah dan menyuruh Franklin untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Bentar ya, aku buatin minum dulu," ucap Mimy.
"Tunggu Mimy, bolehkan aku menggunakan kamar mandimu?"
"Tentu saja Frank, kamarku ada di lantai atas, pintu nomer dua dari arah kanan, sebelahnya kamar Fanny," jawab Mimy.
Ternyata wanita ini berguna juga, tingkah anehnya malah membawaku kepada wanitaku, terima kasih Mimy.
Mimy berlalu pergi meninggalkan Franklin menuju dapur untuk membuatkan minuman. Sedangkan Franklin langsung bergegas naik ke lantai atas menuju kamar Fanny.
Fanny, aku tahu dia milikku!
Franklin berhenti menatap dua pintu berwarna putih dan pink itu.
"Samping kamar Fanny, kamar kedua dari kanan, berarti ini kamar Fanny!" gumam Franklin mengetuk jarinya ke dagu.
Diapun segera mengetuk pintu kamar yang berwarna putih.
Sedangkan di dalam kamar.
Fanny masih merasa shock saat melihat Franklin di depan tadi, dia tidak menyangka bahwa pria yang selalu mengusik hatinya ada di negara ini.
"Ya Tuhan, apa aku hanya berhalusinasi?"
Tok, tok, tok!
Fanny terkejut mendengar sebuah ketukan pintu yang sedikit keras.
"Ya Tuhan Mimy, apa tidak bisa pelan sedikit?"
Fanny berjalan menuju pintu dan membukanya.
Ceklek!
Fanny terkejut melihat siapa yang ada di depan pintu kamarnya. Franklin langsung menahan pintu dengan tangannya karena Fanny berusaha menutup pintu itu.
"Aku ingin kita bicara Fanny!"
Bersambung.
Duh emak, othor kok suka gantungin sih🤭
mau lanjut ya? 🌹🌹🌹🌹👈👈👈😘😘