Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang
Hening yang menyelimuti ruangan itu terasa mencekik. Semua mata kini tertuju pada Wendah, yang duduk terpaku dengan wajah yang kehilangan seluruh rona kemanusiaannya. Kebohongan yang ia pelihara bertahun-tahun sebagai senjata untuk menyingkirkan Alara kini berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan reputasinya sendiri.
"Bagaimana bisa?" suara Bagas terdengar nyaris tak terdengar, sebuah bisikan yang penuh dengan kehancuran. Ia bangkit dari kursinya, menatap ibunya dengan tatapan yang penuh kengerian.
"Bu, jelaskan padaku. Bagaimana bisa Ibu melakukan ini? Bagaimana bisa Ibu menukar masa depanku dengan selembar kertas palsu?"
Wendah yang biasanya angkuh dan dominan, kini terlihat kecil di kursi pengadilan. Ia mencoba mencari pembelaan, namun suaranya tercekat.
"Ibu... Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, Bagas! Alara tidak selevel dengan kita! Ibu tidak suka wanita itu sejak awal, ibu hanya ingin kamu memiliki keturunan yang pantas, seseorang yang bisa meneruskan nama baik keluarga ini!"
"Jadi dengan cara menghancurkan hidup orang lain?" potong Alara.
Suaranya tidak meledak-ledak, namun tajam seperti sembilu. Ia berdiri, menatap mantan mertuanya itu dengan tatapan yang tidak lagi berisi amarah, melainkan belas kasihan yang dalam.
"Ibu merasa bangga karena telah memisahkan kami? Ibu merasa menang karena telah membuatku merasa tidak berharga selama bertahun-tahun?"
Alara kemudian menoleh ke arah Bagas. Pria itu tampak seperti orang yang baru saja kehilangan dunianya. Bahunya merosot, matanya memerah, dan ia tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya.
"Bagas," panggil Alara dengan nada lembut yang justru terasa seperti duri bagi Bagas. "Kamu selalu bilang kamu sibuk bekerja untuk masa depan kita. Kamu selalu bilang kamu memercayai ibumu karena dia yang melahirkan kamu. Tapi, pernahkah kamu bertanya padaku tentang apa yang aku rasakan? Pernahkah kamu duduk di sampingku saat aku menangis di malam hari karena merasa tidak sempurna?"
Bagas tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa menunduk, membiarkan penyesalan menghujam dadanya dengan kekuatan yang tidak tertahankan. Ingatannya berputar kembali ke masa lalu. Ia teringat hari di mana hasil tes itu "diumumkan" oleh ibunya. Ia sedang sibuk dengan proyek besar, ia merasa lelah, dan saat ibunya memberikan kabar itu, ia merasa itu adalah alasan yang masuk akal mengapa rumah tangganya terasa hambar. Ia memilih jalan pintas: mempercayai satu pihak tanpa pernah mendengar pihak lain.
"Aku mempercayaimu, Ibu," bisik Bagas, suaranya bergetar. "Aku mempercayai lebih dari siapa pun di dunia ini. Tapi Ibu menghancurkan kepercayaan itu."
"Bagas, kamu tidak mengerti! Ibu melakukan ini agar kamu tidak terjebak dengan wanita yang tidak bisa memberimu keturunan!" seru Wendah, mencoba mempertahankan posisi moralnya yang sudah lama runtuh.
"Berhenti, Bu," potong Bagas dengan suara keras yang memecah keheningan ruang sidang.
"Jangan lagi gunakan alasan keturunan untuk menutupi kejahatan Ibu. Ibu hanya ingin kendali. Ibu ingin mengendalikan hidupku, pernikahanku, dan masa depanku. Dan kamu, Nindy," Bagas melirik ke arah Nindy yang duduk di kursi belakang dengan wajah pucat, "jangan kira aku tidak tahu keterlibatan mu dalam mendukung rencana ini."
Nindy terlonjak, berusaha mengelak, namun air mukanya yang penuh kepanikan sudah cukup menjadi pengakuan.
"Majelis Hakim yang mulia," Alara kembali berbicara, suaranya tenang namun berwibawa. "Saya sudah tidak menginginkan apa pun dari mereka. Saya tidak menginginkan permohonan maaf, karena luka yang mereka berikan tidak akan sembuh dengan kata-kata. Saya hanya ingin proses perceraian ini diselesaikan secepatnya. Saya ingin memutus ikatan yang dibangun di atas dasar penipuan ini."
Hakim ketua mengangguk perlahan. "Sidang akan dilanjutkan dengan agenda putusan setelah verifikasi ini tercatat sebagai bukti. Saudara Bagas, apakah ada yang ingin Anda sampaikan?"
Bagas berdiri. Ia menatap Alara, mencoba mencari sedikit saja celah di mata wanita itu untuk sebuah harapan. Namun, yang ia temukan hanyalah dinding tebal yang sudah dibangun Alara untuk melindungi dirinya sendiri.
"Saya... saya tidak bisa membantah kenyataan ini," ujar Bagas dengan suara parau. "Saya tidak akan menghambat perceraian ini. Saya adalah suami yang gagal. Saya terlalu sibuk mengurus ambisi saya hingga saya lupa untuk mengurus orang yang paling berharga dalam hidup saya. Saya tidak layak untuk Alara."
Kata-kata itu membuat ruangan kembali hening. Bagas mengakui kekalahannya, bukan hanya di pengadilan, tapi di hadapan hidupnya sendiri.
Setelah sidang ditunda untuk perumusan putusan, Alara melangkah keluar dari ruang sidang. Udara di luar terasa begitu segar, seolah beban yang selama ini menghimpit pundaknya telah terangkat. Ia tidak menoleh ke belakang, meski ia tahu Bagas sedang menatapnya dari ambang pintu ruang sidang.
Bagas mengejarnya sampai ke halaman gedung pengadilan. "Alara, tunggu!"
Alara berhenti, namun ia tidak berbalik. "Apa lagi, Mas Bagas? Apakah kamu masih ingin memintaku untuk tetap menjadi istri pertama sambil membiarkan mereka merendahkan aku?"
Bagas terdiam. "Tidak. Aku hanya ... aku hanya ingin tahu, apakah setelah semua ini, apakah ada sisa ruang untuk pengampunan?"
Alara berbalik perlahan. Senyum tipis menghiasi bibirnya, senyum yang tidak berisi benci, namun juga tidak berisi cinta. "Pengampunan itu ada, Bagas. Aku memaafkan mu. Aku memaafkan Ibu. Tapi memaafkan bukan berarti aku harus kembali dan hidup di reruntuhan yang sama. Aku memaafkan agar aku bisa bebas."
"Tapi kita bisa mulai lagi, Alara. Aku akan membuktikan padamu—"
"Tidak ada lagi 'kita', Bagas," potong Alara dengan mantap. "Selama ini aku adalah pendukung mu yang paling setia. Aku adalah orang yang berdiri di sampingmu saat kamu tidak punya apa-apa. Tapi kamu membiarkanku merasa tidak ada apa-apanya saat kamu mulai memiliki segalanya. Kamu bukan hanya membiarkan ibumu menghancurkan ku, kamu adalah bagian dari kehancuran itu karena diam mu."
Bagas terdiam membisu. Kata-kata itu lebih tajam daripada pisau mana pun. Ia sadar, ia telah membiarkan permata yang paling berharga lepas dari tangannya hanya karena ia terlalu takut untuk bersuara melawan dominasi ibunya.
Alara berjalan menuju taksi yang sudah menunggunya. Saat ia masuk ke dalam mobil, ia melihat dari balik kaca jendela Bagas yang masih berdiri mematung di tengah teriknya matahari siang. Pria itu tampak begitu kecil, begitu kesepian, dan begitu hancur.
Bagas menatap taksi itu menjauh. Ia tahu, dalam hidupnya, ia telah memenangkan banyak pertempuran bisnis, ia telah membangun imperium, ia telah dihormati oleh banyak orang. Namun hari ini, ia baru saja kalah dalam peperangan yang paling menentukan, menjaga satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya tanpa syarat.
Rumah besar itu, yang rencananya akan ia renovasi untuk menyambut Nindy, kini hanyalah sebuah bangunan kosong yang penuh dengan bayang-bayang kegagalan. Bagas berjalan kembali ke mobilnya, masuk ke dalam, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia menangis, bukan karena takut pada ibunya, bukan karena tekanan pekerjaan, tetapi karena kesadaran yang sangat pahit bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya hal nyata yang pernah ia miliki.
Kebohongan itu telah runtuh. Fondasinya telah hancur. Dan di atas puing-puing itu, Bagas harus belajar berdiri sendiri, sementara Alara telah terbang jauh meninggalkan masa lalunya, menuju langit yang lebih luas dan lebih bebas. Ia tidak lagi butuh restu siapa pun, karena ia telah menemukan restu yang paling penting, kebebasan untuk mencintai dirinya sendiri kembali.
Bersambung...
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘