Saat terbangun aku sudah berada di tempat yang asing. Aku memutar tubuhku untuk melihat lebih jelas dimana aku berada, aku merasa sedang diawasi, dia.. dia melihat kearah ku dengan mata merahnya. Dan dia tersenyum, terlihat dua buah taring keluar dari bibirnya..
Haloo semua... ini cerita pertamaku di MangaToon, Aku harap kalian seneng bacanya, semua cerita yang akan kutulis harus Happy Ending!
Why
Why
Why
Karena kopi pait adanya didunia nyata yaa, so aku bikin cerita yang bikin kalian senyum-senyum aja, just Have Fun in my Fantasi World ♥️♥️♥️
Oh yayayaa, jangan lupa love, like, kalo bisa comment juga, biar aku semangat gadang tiap malam 😆😆😆 demi kalian pencinta Fantasi World.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BFK.11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerangan Tengah Malam (awal)
Malam semakin larut, semua orang terlelap dalam mimpinya masing-masing. Diluar hujan deras, petir menyambar bersahutan dan angin yang kencang menghempaskan sesuatu diluar sana.
Malam itu Alice tidur sendiri dikamarnya, ia meminta pulang ke rumah bersama Bibi Anna dan Hans. Gara menyetujuinya, dengan syarat Alice akan memanggil namanya jika terjadi sesuatu.
Drrttt
Drrttt
Drrrttt
Suara alarm membangunkannya, dia sengaja menyetel alarm tengah malam, karena hari ini adalah hari ulang tahun Hans, dia mati-matian mencari alasan untuk pulang kerumah. Namun ulang tahun kali ini mungkin akan menjadi bencana bagi Alice.
Alice membuka tirai kamarnya, diluar sangat gelap, tidak ada seorangpun yang akan berdiri disana pikirnya. Apalagi dengan kondisi hujan, petir dan berangin seperti ini. Namun Alice salah, seseorang mengamati Alice dari luar sana, matanya berkilat-kilat, dia tersenyum licik.
Alice mengendap-endap turun kelantai satu, dia melihat lampu kamar Hans sudah padam, dia menengok ke kamar Bibi Anna, lampunya juga sudah padam. Alice membuka lemari, dia ingat menyimpan sebuah lilin bekas taun lalu disana.
Dia menemukannya, kondisinya masih layak untuk dipakai, namun sudah sedikit berdebu. Alice meniupnya
Wuuuush
Wuush
"Sudah lebih baik.." Begitu pikirnya.
Lalu Alice bergegas kekamarnya, dia lupa membawa kue yang dia minta Dean bawakan sore tadi di istana.
Alice membuka pintu, namun..
Jendela kamarnya telah terbuka, dia berjinjit pelan-pelan kearah jendela..
."Sepertinya aku sudah menguncinya tadi, ya tuhan dingin sekali.." Alice memeluk badannya sendiri.
Saat akan berbalik, seseorang membekap mulutnya dari arah belakang.
Hmmp
Hmmppp
Dan semua menjadi gelap.
Perlahan Alice membuka matanya, dia merasa Dejavu dengan keadaanya, dia ingat ketika dia terbangun di sebuah kamar yang tidak diketahuinya, dan seseorang menunggunya disana.
Gara berdiri dengan senyum diwajahnya, Alice masih mengingat jelas kejadian itu.
Alice memegang kepalanya yang sedikit pusing akibat obat bius, dia mencoba menyesuaikan matanya dengan kegelapan, berharap Gara berdiri disana seperti dulu. Namun, Alice tak menemukannya.
Seluruh baju Alice basah, dia mencoba menghangatkan tubuhnya dengan menggosok kedua tangannya.
Ruangan ini kosong dan berantakan, lantai-lantai nya telah terkelupas, Alice memegang salah satu bagian lantainya yang rucing, dan suara hujan diluar begitu kencang, suara angin yang menampar jendela membuat telinga Alice sakit dan kepalanya semakin pusing, Alice menutup kedua telinganya.
Alice mencoba untuk berdiri, namun keseimbangan belum penuh, dia berjalan sempoyongan sambil memegang tembok sebagai penahan tubuhnya yang masih limbung.
Dia mendekat ke arah jendela, diluar gelap tidak ada cahaya sedikitpun. Alice mencoba membuka jendela dengan mendorongnya, namun sia-sia, tidak ada yang terjadi.
Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah Alice, seketika angin menyapu wajah Alice, dia menutup matanya, sebagian debu terbang ke matanya, Alice tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berdiri didepannya.
Dia menyentuh rambut Alice, mencium rambutnya dan kembali membelainya. Bulu kuduk Alice berdiri, dia merasakan sensasi dingin yang berbeda dengan saat Gara menyentuhnya. Rasanya menakutkan dan sangat dingin, tidak ada rasa bahagia sedikitpun.
Alice mencoba mendorong...
Namun, dia tidak beranjak sedikitpun, seperti sebuah batu yang sangat berat, Alice kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.
Namun tangan dingin itu menopang tubuhnya yang seringan kapas dan menggendong nya.
"Lepaskan...! Lepaskan aku!" Alice menjerit.
Namun tidak ada respon sedikitpun, sekarang Alice tau bahwa dia adalah seorang Pria.
Pria itu membuka pintu dan membawa Alice ke sebuah ruangan, terdapat sedikit cahaya disana, sehingga refleks Alice melihat siapa yang menggendongnya.
Luca
Luca
Lelaki yang berbahaya, yang mempunyai 2 warna mata yang berbeda, Alice masih ingat pertemuan pertamanya dengan Luca, sama seperti hari ini, dia mencium rambut Alice dan mengendusnya bagaikan sebuah makanan.
Luca tersenyum, taringnya terlihat berkilau.
Luca membawa Alice ke tempat tidur. Didepannya terdapat sebuah sofa yang penuh dengan wanita-wanita yang menggoda Luca bagaikan sebuah Hareem. Alice bergidik membayangkan dirinya berada diantara wanita-wanita itu.
Bruugh
Luca melempar Alice ke tempat tidur dengan cukup keras.
Aarg
Semua wanita memandang jijik ke arah Alice.
Alice memeluk lututnya dengan erat.
Alice kedinginan, ia mencoba meraih selimut dan menutup tubuhnya.
Terdengar suara tawa dari sekumpulan wanita itu.
Alice tidak mendengarkannya, ia lebih fokus menghangatkan badannya yang akan membeku jika dibiarkan saja.
Luca duduk disofa, semua wanita mulai mengerubunginya, perlahan tapi pasti Luca menghisap leher mereka satu-persatu.
Setelah puas Luca berjalan ke arah Alice.
Luca mendekat dan mengambil selimut yang Alice pakai, dia melemparkannya ke arah sekumpulan wanita itu, mereka tertawa senang.
Alice bergidik ngeri saat melihat sekumpulan wanita itu adalah vampire. Taring mereka mencuat keluar saat tertawa, dan mereka menjilat dengan lidahnya.
Luca mendekat dan menjambak rambut Alice.
"Aku akan meminum darahmu sampai habis..! Semua kekuatanmu akan beralih padaku! Dan sampah itu akan aku musnahkan bersama seluruh keluarganya!" Umpat Luca.
Deg
Deg
Deg
"Gara..." Gumam Alice.
HAHAHAHA
Luca tertawa keras.
"Kau memanggil namanya? Dia tidak akan datang! Kau tau? Aku sudah menyibukkannya dengan sekumpulan pasukanku tengah malam tadi!" Luca sesumbar telah mengalahkan Gara.
"Tidak, tidak mungkin! Gara akan datang.. dia sudah janji.." Alice mencoba menahan tangisnya. Dia tidak mau mengeluarkan setetespun air matanya didepan bajingan seperti Luca.
Luca mengendus tubuh Alice..
"Hmm kau tau, aroma tubuhmu aku tidak tahan lagi.. akan kuhisap sehingga tidak ada setetespun yang tersisa..!!"
"Akan kubuat sampah seperti mereka menderita! Seperti yang kurasakan selama ini! Aku ingin mereka merasakannya!!" Luca berkata histeris.
Alice mencoba mengulur waktu, dia masih berharap Gara akan datang menyelamatkannya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan! Apa hubunganku dengan semua ini!" Ucap Alice.
"Kau! Kau masih belum mengerti?! Aku akan mengambil darahmu untuk kekuatan! Kekuatan! Dan akan kubalaskan dendam keluargaku!! " Jawab Luca.
"Keluargamu?" Tanya Alice.
"Mereka membunuh semua keluargaku dan menyisakan aku sendiri! Membunuh Ayah, Ibu, dan Kakaku, semuanya mereka membantai semuanya!! Aku akan merebut kerajaan itu! Menggantikan Ayah dan Kakakku!!" Balas Luca.
Alice mencoba mencerna kata-kata Luca, dia mencoba menghubungkan pemberontakan yang terjadi dimasa lalu dengan apa yang Luca bicarakan, dan tentang kematian Ibu Gara serta orang tuanya, mungkin berhubungan dengan keluarga Luca.
Duaar
Suara petir membuat tubuh Alice terlonjak kebelakang, dia terkejut.
"Sudah cukup dongengnya Nona, sekang bagian happy endingnya..!!"
Luca mendekat kearah Alice dan tersenyum, taringnya keluar dari bibirnya.
Luca menjilat lengan Alice dan menancapkan kedua taringnya, dia mulai menghisap darah Alice dengan kuat dan tanpa ampun.
Aaaaaaah
Hmmmmp
"Toloong berhenti Luca... Aku mohooon.."
Uuuhk
Luca menjilat kaki Alice dan kembali menancapkan kedua taringnya.
Darah Alice bercucuran dari segala arah, dia belum sembuh total dari serangan kemarin dan sekarang sudah diserang lagi.
Aroma tubuh Alice memenuhi ruangan, vampire-vampire wanita itu menatap lapar ke arah tubuh Alice, namun tangan Luca menahan agar mereka tetap duduk disana.
Alice terlihat pucat, kepalanya terasa berat pusing, badannya dingin dan mulai berwarna biru.
Tidak ada suara rintihan lagi, Alice sudah terlalu lemah, dia mulai menutup matanya, disaat terakhir hanya namanya yang keluar dari mulutnya.
"Gaa..raaa.."
padahal ceritanya mantaaaaaaaf ...aku suka aku ssuka
lanjuuuuuuut thor sampai keistimewaan si kembar di perlihatkan .
keluarkan imajinasimu yg rrrruuuuuuuuuaaaaaaaaaaarrrrr biasaaaaaaaah ...
akuu tunguuuu...