Ini hanya karya fiksi.
Bagaimana kabar mu hari ini? Apa semua berjalan dengan lancar? Atau mereka masih suka mengganggu mu?
Tenang, bila itu terjadi aku akan selalu melindungi mu dari bangun hingga terlelap mu, sebagai imbalannya biarkan aku menyatu dengan jiwa mu.
Ikuti terus alur cerita pendek menarik dalam setiap judulnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXII (Keranda Mayat Part II)
Dug dug dug dug!!!
Jantung Sumiati bergetar hebat, kakinya gemetaran, keringat dingin mengucur deras, tak kala ia melihat sosok terbujur yang tak asing baginya.
“Tidak mungkin, ini enggak mungkin.” mulut Sumiati terus saja bergumam.
Dengan sekuat tenaga, Sumiati berdiri dari jongkoknya, saat ia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba kain penutup keranda terbuka separuh, yang membuat Sumiati kaget.
“Akhhhhhh!!!!!” Sumiati berteriak sekencang-kencangnya, ia pun lari dari dalam ruangan menuju meja makan bu Nana kembali.
Saat ia menyusuri lorong-lorong rumah dengan larinya, tak sengaja ia melihat seorang wanita dengan pakaian putih, lusuh, panjangnya sekaki, siapakah dia?
Iya benar! Kuntilanak, kutilanak itu berada tepat di atas kepala Sumiati.
“Mau kemana Sum?” tanya sang kuntilanak dengan cekikikan.
Sumiati hanya bisa lari, ingin baca do'a tapi malangnya, segala do'a yang ia tahu mendadak hilang dari kepalanya.
Sumiati terus saja lari, seraya sang kuntilanak mengikuti dari atas kepalanya.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar!” hanya nama itu yang ia ingat dalam takutnya.
Sumiati yang berfikir kalau ia sampai ke meja makan, akan melegakan hatinya, tapi ternyata ia salah, di tempat yang ia tuju tidak ada siapapun, entah kemana ibunya dan bu Nana pergi.
Setidaknya saat Sumiati mendongak, sang kuntilanak sudah hilang entah kemana.
Saat Sumiati akan meninggalkan meja makan, dari ekor matanya ia melihat keanehan pada hidangan yang ada di atas meja makan. Karena penasaran Sumiati mendekat.
“Hah!” Sumiati membungkam mulutnya dengan tangannya, ia tak percaya, ternyata yang ia makan dan ibunya adalah belatung dan ari-ari bayi.
Karena merasa jijik Sumiati muntah tak beraturan, ia pun segera keluar dari dapur itu untuk mencari ibunya.
Dengan perut yang masih bergejolak, ia terus berjalan, menyusuri rumah bu Nana.
Setelah lama ia mencari, Sumiati pun melihat sebuah ruangan yang dari dalamnya terdengar ada beberapa orang yang bercengkrama.
“Apa ibu ada di dalam?” gumam Sumiati.
Ia pun tak menyia-nyiakan waktu, Sumiati ingin segera masuk ke dalam ruangan tersebut dan membawa ibunya pulang.
Saat ia akan memutar knock pintu, Sumiati syok bukan main, karena ia tak dapat memegang knock itu, dalam artian, Suamiati bisa tembus.
“A-ada apa ini sebenarnya? Aku kenapa? Ibu... ibu dimana?” air mata ketakutan pun mengalir, lalu Sumiati berjalan lurus, ke arah pintu.
Zzebb!!
Sumiati tembus ke balik pintu, disanalah ia melihat aktivitas di luar nalar.
Yang mana bu Nana, pak Karyo suami bu Nana serta ibunya sedang melakukan sebuah ritual.
“Apa ini?” gumam Sumiati.
“Bu! Ibu! Ayo kita pulang!” pekik Sumiati, namun orang-orang yang berada dalam ruangan dengan pencahayaan lampu dinding itu tak melihat bahkan tak mendengarnya.
Sumiati terus saja meneriaki ibunya, namun itu sia-sia saja.
“Bagaimana? Sudah siapkan bu?” tanya bu Nana pada ibu Sumiati.
“Sudah bu,” jawab ibunya Sumiati.
“Ibu benarkan tidak akan menyesal setelah ini? Karena sukma Sumiati tidak akan pernah lagi menyatu dalam jasadnya.” terang bu Nana.
“Saya siap bu, saya sudah tak tahan dengan kepiskinan ini, dari aku muda, sampai usia ku 65 tahun, aku belum pernah yang namanya hidup senang, kalau ku tahu sejak awal ada cara yang membuat kaya dengan instan pasti akan aku lakukan, meski pun harus mengorbankan banyak nyawa.” Mendengar curahan hati ibunya, Sumiati menangis sejadi-jadinya.
“Ibu, kenapa ibu jadi berpikiran sempit begini? Ibu tega mengorbankan aku demi kekayaan? Hiks hiks hiks...” Sumiati menangis dengan sangat keras.
“Baiklah, kalau ibu sudah siap, tapi ada dua syarat lagi yang harus ibu penuhi.” ujar bu Nana.
“Apa itu bu?” tanya ibunya Suamiati.
“Pertama, usia mu akan berkurang setengahnya, dan yang kedua, jika ibu ingin mati dengan tenang, maka ibu harus berhasil mencari satu orang pengikut, sama seperti kami.” ucap bu Nana dengan serius.
“Saya siap bu! Meski pun umur saya tinggal 2 tahun lagi tak mengapa, jika hanya terpakai satu tahun, asalkan saya dapat merasakan apa itu hidup tentram.” tutur sang ibu.
Sumiati pun tak henti-hentinya memohon agar ibunya mau mengurungkan niat itu, namun apa daya, sang ibu yang tamak dan kehilangan jalan Tuhan telah tertutup mata batin dan imannya.
“Ingat ya bu, kalau ibu tidak memenuhi syarat yang terakhir, sukma ibu akan di bawa oleh utusan nyai S ke kerajaannya, untuk di jadikan budak disana, kalau di dunia kita ibu akan seperti orang koma.” terang bu Nana lagi.
“Baik bu, saya siap!” ucap ibunya Suamiti dengan hati bersemangat.
“Bu..., ibu... jangan lakukan hal ini, ini hanya akan menyesatkan ibu, aku fikir ibu sayang sama Sumi.” Sumiati terus saja memohon.
“Maafkan ibu Sum, ibu sudah sangat bosan dan muak dalam hidup susah, kamu juga cuma beban dan muasal malu bagi ibu, dirimu yang tak kunjung menikah, jadi bahan gunjingan warga, lebih baik kau pergi ke dunia lain, mungkin disana hidup mu lebih baik.” batin ibunya Sumiati.
“Bu! bu! ibu....!” teriak Sumiati.
Bu Nana dan pak Karyo pun memulai ritual, mulai dari bakar menyan sampai memotong 3 ayam cemani, di dalam ruangan itu juga terdapat 2 lukisan nyai berparas cantik memakai baju warna hijau pekat.
Sumiati teramat takut sekali, apalagi perlahan lahan mulai tercium bau bunga melati dan dari arah pintu masuk mulai terdengar suara hentakan kuda.
Tak tukutak tukutak tukutak tukutak!
“Siapa? Kenapa ada suara kuda di rumah ini?” tanya batin Sumiati.
reeeett etttt ...!
Mereka semua yang ada dalam ruangan serentak menoleh ke arah pintu yang terbuka otomatis.
Dan di pintu yang telah terbuka, terlihatlah seorang wanita berparas cantik berpakaian persis seperti di lukisan yang ada dalam ruangan, duduk di atas kreta kuda, di temani para pengawal, yang dari pinggang ke kaki adalah kuda berwarna hitam pekat, sedangkan bagian atasnya adalah manusia.
Dengan penuh hormat, bu Nana dan pak Karyo bersujud mengarah sang nyai, di ikuti oleh ibunya Sumiati.
“Selamat datang nyai di rumah kami yang sederhana ini.” ucap pak Karyo dan bu Nana secara bergantian.
“Sudah, bangunlah kalian bertiga,” titah Nyai S.
Lalu mereka bertiga pun bangun, dan duduk bersila seraya menyatukan sepuluh jari mereka.
“Nyai, disini kami membawa pengikut baru yang menginginkan kekayaan.” ucap bu Nana.
Lalu nyai S pun menoleh ke arah ibunya Sumiati.
“Apa benar Makhdalena?” tanya nyai S, yang membuat ibu Sumiati mengangguk.
“Dari mana dia tahu nama ku?” batin ibunya Sumiati.
Sumiati yang takut akan sosok gaib itu bersembunyi di belakang tubuh ibunya yang telah tabu.
Saat Sumiati melirik sedikit dari balik bahu ibunya, sang nyai S, melirik kembali Sumiati.
Dug dug dug dug! Jantung Sumiati berdetak hebat.
“Apa dia melihat ku?” batin Sumiati.
“Apa kamu sudah siap akan semua persyaratan dan resiko yang akan kamu terima Makhdalena?” ucap nyai S, dengan masih menatap ke arah Sumiati.
“Saya siap nyai!” jawab tegas ibunya Sumiati.
“Kalau begitu, aku bawa tumbalnya, seperti biasa kau mengerti kan Nana?” ucap nyai S.
“Mengerti nyai.” jawab bu Nana dengan menundukkan kepalanya.
“Malam ini, jasadnya harus habis tanpa sisa noda sedikit pun, untuk mu Makhdalena setelah kau menyelesaikan ritual terkahir, bukalah bungkusan yang di bawah kolong lemari kamar mu.” terang sang nyai.
“Pengawal bawa dia.” ucap nyai S seraya mengarahkan matanya ke arah Sumiati.
Lalu dua orang pengawal menjemput paksa Sumiati.
“Tidak! Tidak! Jangan bawa aku! Aku tidak mau!” teriak Sumiati.
Walau mereka bertiga dapat melihat sang nyai dan pengawalnya, namun mereka tak dapat melihat kehadiran Sumiati disana, mereka hanya melihat ekspresi pengawal yang seperti memegang sesuatu.
“Ibu!!!!” teriak Sumiati, namun sang ibu tak dapat mendengarnya.
Pengawal yang memegang kuat lengan Sumiati pun memakaikannya sebuah kalung besi, dengan rantai yang panjang, lalu di kaitkan ke kreta sanga nyai.
“Baiklah, kalian kerjakan sisanya, aku pergi dulu.” ucap sang Nyai.
Lalu kreta kuda nyai S pun mulai berlarian, Sumiati yang ada di belakang kreta pun jadi ikut lari juga, mengimbangi kecepatan sang kuda, namun kecepatan kuda dan manusia sangatlah berbeda, alhasil Sumiati tersungkur, ia tak bisa berdiri, yang akhirnya ia terseret-seret, yang membuat lehernya terkoyak dan berdarah.
Setelah sosok nyai dan pengawalnya tak terlihat lagi, ibunya Sumiati, bu Nana dan pak Karyo bergegas menuju ruangan yang ada keranda mayatnya.
Sesampainya mereka di ruangan tersebut, mereka membuka penutup mayat, dan mulai menyantap jasad Sumiati tanpa sisa.
Setelah selesai melakukan ritual terkahir, ibunya Sumiati pun pulang ke rumah untuk melihat isi bungkusan yang di berikan sang nyai.
Tak perlu waktu lama Ibu Sumiati mengambil bungkusan dari kolong lemari bajunya, saat ia buka bungkusan itu, ia merasa senang tiada batas, karena isinya adalah 10 batang emas.
“Aku kaya! Hahahahha!”
Selesai.
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Mutualan di IG yok, nanti ada trailer Save Yalisa kalau mau up!
Mohon lbih teliti lagi sblm updte bab ato bisa direvisi biar lbih ciamik🙏
Semngt thor
Thanks 😊