Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat pengunduran diri ???
Setelah beres semua, akhirnya mereka sarapan bersama.
Anand duduk dikursi ujung, Wahidah duduk disebelah kanan Anand, sedangkan Sifa duduk disebelah kanan Wahidah.
"Pih, hari ini aku keluar dengan Sifa ya pih?"
"Mau kemana kalian?"
"Jalan jalan pih, sekalian bikin undangan untuk resepsi mereka yang kilat gitu lho pih"
"Memangnya kamu tau tempatnya?"
"iya, kan papih yang ngasih tau"
"Ingat memang?"
"Ingat lah pih, gini gini nilai IQ ku tinggi kali, nurunin Albert Einsten "
"Memangnya berapa IQ mu?" Ledek Anand
"130"
"Ngarang"
"Ahaha latihan ngarang pih, Rhoma irama kerjaannya ngarang duitnya kan banyak"
"Mami sendiri punya duit nggak?"
"Tunainya dikit, mau nambahin?"
Anand mengeluarkan dompet , dan isinya masih utuh sisa kemarin yang dipalak Wahidah buat kontengan. Dan Iapun mengeluarkan duit pecahan limapuluhan satu lembar
"Nih, jatahmu hari ini. Cukup kan warna biru satu ahaha"
"Mana cukup pih, segini?"
"Ya sudah sini" Anand menarik uang limapuluhan yang barusan ia kasih ke Wahidah
"Ish papih, Isiin pih buat jaga jaga"
"Atm nya Ilham isinya kan banyak, katamu mau nguras dolarnya"
"Ah papih payah, istrinya malah didukung buat maling"
Ahaha
-
Wahidah dan Sifa sudah sampai dirumah sakit
"Sifa, kamu taruh kuenya dimeja, dan buruan kesini ya? kakak tunggu disini"
"Baik k kak" Jawab Sifa dengan kikuknya
Sifa berjalan menuju ruangan dokter Ilham. Dan benar, adanya teh manis dalam gelas saja tak ada teman buat ngemil
Sifa menghampiri meja suaminya " Bapak, semoga suka dengan kuenya ya?" Sifa menaruh box berisi samoza 5 biji
Setelah selesai bermonolog, iapun keluar dengan buru buru
"Sifa!!"
Suara itu Sifa sangat kenal
" Fitri" ucapnya pelan
Sifa berbalik, Fitripun berlari mendekati Sifa
"Fa, kamu keluar dari sini kok nggak ngomong ngomong sih"
Deg
"Keluar?"
"Perasaan aku belum membuat surat pengunduran diri ,dan belum ada niat untuk mengundurkan diri. Siapa yang membuatnya?"
"Iya, tadi pagi aku sendiri yang menerima surat pengunduran diri darimu"
"Siapa yang ngasih?"
"Dokter Ilham"
"Apa!! bapak !?"
"Iya, lah, dari kamu kan?"
Sifa diam tidak berani menjawab, sedetik itu Sifa ingat Wahidah
"Emp, Fit, Sifa pergi dulu ya?" Sifa langsung ngibrit lari, takut salah jawab
"Faaa!!! "Teriak Fitri, tapi teriakan Fitri seperti mengusir, karena Sifa larinya malah tambah kencang
Fitri garuk garuk "Heran, ditanya baik baik malah kabur"
-
Sementara
Dokter Ilham yang perutnya sudah keroncongan, langsung berjalan cepat menuju ruangannya, berharap ada yang bisa dimakan
Gerrreeeet
Dokter Ilham masuk ruangan, dan netranya langsung tertuju pada atas meja samping teh manis
Saat itu juga, Ilham seperti menemukan bongkahan emas. Ia langsung membuka box transparan berisi gorengan segitiga yang masih hangat
"Tumben, rumah sakit sekarang ngasihnya pakai box, nggak pakai mika lagi"
Ilham mulai menggigit samoza berisi ayam yang rasanya pas dilidah "Enak, tak bosen dengan rasanya"
Selang beberapa menit, setelah Ilham menghabiskan dua samoza, datanglah dayang dayang yang akan mengekori Ilham untuk melakukan visit
"Permisi dok"
Dokter Ilham langsung mengelap bibirnya dengan tissu
"Wih, makan apa dok, enak banget kelihatannya?" Sinta
Yanti langsung comot "Boleh ambil ya dok, pas untuk kita bertiga"
Plaaak
"Nggak sopan !" Tapi Sinta juga main ambil dan melahapnya langsung "Enak dok, dapat kiriman darimana dok?" Mulut Sinta masih penuh
"Kiriman? kiriman apa?"
"Santi, kamu nggak ikut ambil?" Ilham
"Males" Jawabnya ketus tapi lirak lirik
"Nggak usah lirak lirik, kalau mau, ambil aja" Ilham
"Memangnya dokter nggak kurang?"
Dokter Ilham mikir,
"Kuranglah, orang aku laper"
"Ambil, saya sudah kenyang. Saya takut kamu pingsan ditengah tengah kita melakukan visit"
Dengan kemayu Santi akhirnya ambil juga
Dokter Ilham membenahi jas putihnya lagi, Santi kalangkabut karena ditangannya masih ada gigitan samoza yang belum habis
"Dok, dokter mau visit sekarang?"-Santi
"Iya"
"Saya belum habis dok"
"Makannya cepat dong, dari tadi disuruh ambil aja, pura pura nggak mau" Semplak Yanti yang sudah mengelap bibirnya
Dokter Ilham tak menghiraukan Santi,
"Kalian tunggu diruang anggrek, saya akan keluar sebentar"
Dokter Ilham berlalu menuju administrasi bagian karyawan, ia sudah janjian dengan bagian adm HR untuk minta data karyawan yang akan diundang ke resepsinya seminggu lagi
Tak makan lama, dokterpun berlalu dari divisi itu
"Kelihatannya, Dokter Ilham mau undang undang, mau ada acara apa ya?" Bisik salah satu karyawan bagian ini
"Ah kepo kamu, tadi nggak tanya langsung saja sama dokter" Jawab teman satunya yang tidak ingin tau urusan orang lain
"Iya, tunggu undangannya saja, pasti kita bakalan diundang mah"
-
Dokter Ilham berjalan dengan gagahnya, banyak pasang mata yang membuatnya berdecak kagum.
Ilham tidak menghiraukan tatapan maut para wanita yang berpapasan dengannya. Ilham terus berjalan melewati antrian dipoly diberbagai bagian.
Karena jalan itu satu satunya yang bisa ia lewati untuk menuju keparkiran umum, maka, iapun berlenggang dengan santainya.
Ilham berjalan menuju mobil dimana Wahidah berada.
Wahidah melihat Ilham datang, ia langsung membuka jendela kemudi.
Ilham membungkuk agar kepalanya bisa mendekat orang yang diajak bicara
Ilham menyerahkan file copian data karyawan yang akan diundang "Ini kak"
Menyerahkan kertas, tapi matanya mengabsen seperti mencari orang.
"siapa yang kau cari?"
"Kakak sendirian?"
"Tidak"
"Mana?"
"Mana siapa?" Wahidah pura pura nggak ngeh
"Mana temennyalah"
Wahidah tersenyum, karena yang Ilham cari ada dibelakang Ilham yang sedang panasan sambil kesilauan
"Tuh" Tunjuk Wahidah pada Sifa
Ilham membelok
Deg
Hati Ilham berdetak, ketika melihat istri kecilnya diam berdiri sambil matanya bergerak gerak karena silau
"Bapaaak"pelan
"Iya, hati hati ya?"Ilham tersenyum, dan mengusap pucuk rambut Sifa. Dan Ilham langsung berjalan menjauh
"Bapaaak"pelan
Ilham menoleh
"Kenapa Sifa bisa mengundurkan diri ? Sifa tidak ada niat untuk keluar dari sini"
"Tapi sekarang kamu menjadi tanggung jawabku Sifa" Masih menoleh, tidak berbalik
Sifa kecewa
"Ikutlah kakak dulu, kerjaanku masih banyak, jangan bersedih" Ilham berlalu
Sifa berjalan dan mulai duduk disamping Wahidah
"Jangan bersedih, kita jalan jalan ya? habisin uang suamimu hihi" Wahidah terkekeh geli
Wahidah mulai mengemudikan dengan santai.
Pertama yang ia kunjungi adalah mall, dimana yang ia butuhkan ada disitu semua
Wahidah menggandeng Sifa seperti anaknya
Tujuan pertama, mencetak undangan.
Disini terkenal kilat, rapih, bagus, dan mahal. Sehari bisa kelar jika memesan undangan berjenis ekspress.
Setelah berbincang bincang masalah undangan, Wahidah mengajak Sifa masuk kebutik untuk memilih baju penunjang acara resepsinya.
"Eh jeng Idah, mari silahkan jeng. Oh, ini toh istrinya dokter Ilham?"
"Iya, tolong dong pilihkan yang cocok buat adikku ini" Wahidah merangkul Sifa
"Memang kapan jeng, resepsinya?"
"Nggak ada seminggu lagi, enam hari cuss"
"Oh mendadak banget"
"Iya, mumpung Ilham bersedia, kalau enggak nikah nikah, jadi duda lapuk dia"
Bersambung....
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx