NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

​Perkataan polos dari bibir kecil Dio terus bergaung di kepala Renata, merobek dinding pertahanannya hingga tak bersisa. Sungguh ironis, seorang bocah berusia tujuh tahun harus mengalah pada keadaan karena keegoisan orang-orang dewasa di sekitarnya. Rena menatap piring kosong di hadapannya, lalu menyeka sisa air mata yang mengering di pipi dengan punggung tangan. Sesuatu di dalam dirinya mendadak bergeser.

​Ucapan Dio tadi benar-benar menjadi tamparan keras yang menyadarkannya sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu. Rena mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Dia tidak boleh lemah lagi. Selama ini dia terlalu naif, terus menunduk dan menggantungkan harapan pada Aris. Padahal nyata-nyata suaminya sendiri sama sekali tidak bisa diharapkan untuk menjadi pelindung, apalagi pemenuh kebutuhan masa depan anak mereka.

​"Kalau aku tetap diam, masa depan Dio yang akan jadi taruhannya," bisik Rena pada diri sendiri, memantapkan hati.

​Siang itu, ketika rumah sudah kosong karena mertua dan iparnya pergi bersenang-senang, Rena memutuskan untuk mencari ketenangan di luar. Suasana rumah yang pengap dan penuh aura penindasan itu membuatnya sesak. Dia menggandeng tangan Dio menuju ke sudut teras, tempat sebuah sepeda ontel tua yang rantainya sudah agak berkarat bersandar lelah.

Rena masuk ke dalam kamarnya mengganti baju dasternya dengan pakaian yang sedikit rapi.

​"Dio, kita jalan-jalan keluar sebentar, yuk? Menghirup udara segar,,kamu mau main di taman ga?" ajak Rena, mencoba mengulas senyum terbaiknya di depan sang anak.

​Mata Dio langsung berbinar senang. "Mau, Ibu! Dio mau naik sepeda, kita main di taman!"

​Rena menuntun sepeda tua itu keluar pagar, lalu meminta Dio duduk di boncengan belakang yang beralaskan busa tipis. Mereka berdua mulai menyusuri jalanan kampung yang relatif sepi di bawah naungan pohon-pohon mangga yang rindang. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Rena, perlahan mengikis rasa sesak yang sempat mengimpit dadanya sejak pagi tadi.

​Setelah beberapa menit mengayuh, Rena menghentikan sepedanya di sebuah taman bermain yang tak jauh dari kompleks perumahan mereka. Taman itu cukup asri, dikelilingi rumput hijau dan beberapa wahana permainan anak-anak yang tampak ramai. Rena menepuk bahu kecil Dio yang bersandar di punggungnya.

​"Nah, kita sudah sampai. Dio main di sana dulu, ya? Ibu tunggu di kursi sebelah sana," ujar Rena sambil menunjuk sebuah bangku taman panjang yang teduh di bawah pohon beringin.

​"Iya, Ibu! Ibu jangan sedih lagi, ya," sahut Dio riang sebelum berlari kecil menghampiri perosotan besi di ujung taman.

​Rena melangkah menuju bangku kayu yang tak jauh dari Dio bermain lalu mendudukinya. Kedua matanya bergerak kesana kemari, memperhatikan setiap orang yang ada di taman, para ibu yang mengobrol santai, anak-anak yang tertawa lepas, dan para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya. Benaknya sempat bertanya apakah mereka juga memiliki masalah yang sama dengannya. Di tengah riuhnya suasana, otak Rena terus berputar keras. Dia memikirkan segala cara yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan uang demi biaya pendaftaran sekolah Dio sebelum minggu ini berakhir.

​Saat Rena sedang tenggelam dalam lamunannya, seorang wanita paruh baya berusia sekitar 50-an tahun berjalan mendekat. Wanita itu mengenakan blus batik yang rapi dan membawa sebuah tas belanja kecil. Tanpa ragu, dia menduduki celah kosong di samping Rena, lalu mengembuskan napas panjang seolah baru saja menyelesaikan tugas yang sangat berat.

​"Aduh, panas sekali ya siang ini, Mbak," ujar wanita paruh baya itu membuka percakapan, sambil mengibas-ngibaskan selembar brosur ke arah lehernya yang berkeringat.

​Rena tersentak kecil dari lamunannya, lalu buru-buru menoleh dan tersenyum sopan. "Iya, Bu. Untung di bawah pohon ini agak teduh."

​"Benar, Mbak. Saya sengaja mampir ke sini dulu sebelum pulang, kepala saya rasanya mau pecah kalau terus-terusan di rumah anak saya," keluh wanita itu lagi, mulai berbasa-basi tanpa canggung.

​Rena mengangguk kecil, mendengarkan dengan penuh simpati. "Memangnya ada apa di rumah anak Ibu?"

​"Itu loh, anak perempuan saya baru saja melahirkan anak pertama dua minggu lalu. Keadaan rumahnya sekarang berantakan sekali seperti kapal pecah," wanita itu memijat pelipisnya perlahan. "Cucian menumpuk, piring kotor di mana-mana, lantai belum disapu. Sedangkan suaminya itu keras kepala, tidak ingin memiliki pembantu tetap yang menginap di rumah karena alasan privasi katanya."

​Rena memiringkan tubuhnya, mulai tertarik dengan cerita wanita oarub baya tersebut. "Lalu, Ibu tidak bisa membantu?"

​"Badan tua saya ini sudah encok semua, Mbak. Tidak akan kuat kalau harus mengurus semuanya sendirian," jawab wanita itu sambil menggeleng pasrah. "Saya repot sekali memikirkannya. Kalau saja ada orang yang mau bekerja lepas di rumah anak saya, mungkin bebannya bisa berkurang. Tidak perlu seharian, cukup datang setiap pukul delapan pagi sampai jam sepuluh atau sebelas siang. Jadi, setelah semua pekerjaan rumah selesai, dia bisa langsung pulang."

​Mengingat durasi kerja yang singkat itu, mata Rena langsung berbinar terang. Jam kerja seperti itu sangat sempurna baginya karena dia bisa pergi setelah Aris berangkat kerja dan sudah berada di rumah kembali sebelum mertuanya menyadari kepergiannya. Jantung Rena berdegup kencang oleh harapan yang tiba-tiba membubung tinggi.

​"Maaf sebelumnya, Bu..." Rena memberanikan diri, suaranya sedikit bergetar karena antusias. "Kalau boleh tahu, apakah Ibu sudah menemukan orang untuk pekerjaan lepas itu? Jika belum... apakah saya boleh menawarkan diri untuk bekerja di rumah anak Ibu?"

​Wanita paruh baya itu seketika menghentikan kibasan brosurnya. Dia menoleh, menatap Rena dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan terkejut sekaligus senang. "Loh, Mbak mau? Serius? Tapi kalau dilihat-lihat, penampilan Mbak ini rapi, seperti bukan orang yang biasa kerja serabutan."

​Rena tersenyum getir, meremas jemarinya di atas pangkuan. "Saya sangat serius, Bu. Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini."

​"Aduh, tentu saja saya senang sekali kalau Mbak mau! Anak saya pasti terbantu," ujar wanita itu dengan wajah yang mendadak cerah. Namun, sedetik kemudian keningnya berkerut heran. "Tapi, kalau boleh saya tahu, kenapa Mbak yang kelihatan masih muda begini mau mengambil pekerjaan lepas seperti ini? Apa suami Mbak tidak melarang?"

​Mendengar pertanyaan tentang suami, pertahanan Rena kembali agak melunak. Kegetiran yang dia simpan sendiri mendesak ingin keluar. Dipandangnya Dio yang sedang tertawa di kejauhan dengan senyum getir, sebelum akhirnya Rena menatap wanita di sampingnya dengan mata yang berkaca-kaca.

​"Keadaan rumah tangga saya juga sedang tidak baik-baik saja, Bu,"

1
vania larasati
lanjut
Mefiani
kuat rena...sabar dulu suatu saat kebahagian akan datang kepadamu..💪💪
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!