Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Sekedar untuk hiburan.
***
Ari seorang pemuda tampan penakluk wanita, suatu hari bertemu dengan gadis yang tak mudah ia taklukkan. Ia pun jatuh hati pada gadis polos bernama Vidya. Kesederhaan Vidya telah memikat hatinya dan iapun menikahi sang gadis.
Namun ternyata pernikahan tak mampu menghentikan petualangan cintanya. Ia merasa hambar dengan perasaannya terhadap Vidya. Diana, mantan kekasih terindah yang tak mampu ia hapus dari ingatannya, telah hadir menjadi orang ketiga dalam biduk rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberi pelajaran pada Ari
(Masih) Pov Andy
Usai menemui Vidya, aku pulang kerumah. Dan kembali aku mendapat informasi tentang Ari dari temanku yang intel, bahwa pria itu sering terlihat membawa seorang perempuan cantik ke sebuah hotel. Wanita yang dia bawa itu bukan Dista.
"Dasar buaya" aku bergumam sendiri
Siang hari sekitar jam 14.00, aku menelfon Ari dan kembali mengajaknya bertemu disuatu tempat yang lebih private. Kami kemudian bertemu disebuah rumah makan dengan konsep pedesaan serta outdor.
"Mau apalagi?" Ucapnya saat kita sudah duduk disebuah balai yang menghadap hamparan sawah.
"Aku tau segala sepak terjangmu diluar, Bro!"
"Gak ada urusan denganmu apapun yang kulakukan!"
"Laki-laki bangsat!" ucapku yang hampir saja menarik kerah bajunya dan melayangkan bogem mentah kewajahnya.
"Eitsss..jangan maen kasar! apa urusanmu mengurus hidupku? urusanku denganmu hanyalah tentang Dista, selebihnya, kau tak berhak ikut campur urusanku!"
"Laki-laki tak tau diuntung macam kamu tak layak mendapat istri sebaik Vidya!"
"Kau tau istriku?"
"Aku menemuinya tadi pagi, dia terlalu sempurna untuk laki-laki bangsat macam kamu!" Tajam aku menatap manik matanya yang mulai memerah menahan emosi.
"Jangan coba-coba kau ganggu dia!" gantian dia hendak meninjuku. Lihatlah laki-laki ini, bahkan dia yang tak bisa menjaga kesetiaanya tapi dia tak rela istrinya bertemu denganku.
"Aku sudah layangkan gugatan cerai untuk istriku. Kau benar memang dia perempuan tidak baik, aku telah salah memilih. Aku rasa laki-laki macam kau pantas sekali bila bersanding dengan Dista. Kalian sama-sama tak bisa setia, cocok bila bersatu, ambillah dia, aku dengan senang hati merelakannya untukmu, tapi istrimu akan kujadikan istriku, bagaimana?"
"Kurang ajar sekali kau!"
Buggggggg..
Dia segera berdiri menyerangku dan melayangkan satu tinju yang tepat mengenai rahangku. Tak mau diam aku yang tak siap atas serangannya agak terhuyung kebelakang.
Buggggg...buggggg...buggggg..
"Aku tau selain Dista kau masih punya perempuan lain kan?kau sering membawanya ke hotel dekat terminal itu! Bangsat kau!" Aku mengucapkan kalimat itu sambil kulayangkan tiga kali bogemku kewajahnya.
"Laki-laki macam apa kau hah?bahkan bersalaman denganku saja istrimu tak mau karena dia benar-benar menjaga dirinya saat jauh darimu. Bandingkan dengan perilaku istriku, aku penuhi segala kebutuhan hidupnya tapi dia malah bekerja menjadi wanita penghibur saat aku jauh darinya. Apa kau mau mendapat istri seperti itu?istri yang menjajakan tubuhnya untuk laki-laki lain saat dia jauh darimu?disaat kamu sedang mati-matian mencari nafkah untuknya ternyata ia malah sedang bergumal dengan lelaki lain diranjang, kau mau seperti itu,hah??Aku menekan kalimatku. Dia diam tak lagi melawan. Aku melepaskan cengkraman tanganku dilehernya, dan kami kembali duduk dengan nafas terengah-tengah setelah adegan adu jotos barusan.
"Aku rela tukar tambah istri pengkhianat macam Dista dengan istri solehahmu, bagaimana kau setuju?Aku lihat seleramu itu perempuan rendahan yang suka tampil buka-bukaan macam perempuan yang kau bawa ke hotel dekat terminal itu kan?Kau bisa mendapatkan sepuluh wanita murahan seperti itu dalam semalam, cukup dengan uang seratus ribu, kau bisa menikmati tubuh mereka. Tapi kau tak kan bisa dapatkan wanita seperti istrimu disembarang tempat. Dari pada kau terus menyakitinya serahkan saja padaku biar aku yang membahagiakannya!"
"Bugggg...." kembali ia menyerangku, aku membalas pukulannya.
"Buggg....buggg"
Kami saling tinju dan saling serang, hingga akhirnya datang pihak keamanan rumah makan tersebut datang melerai kami.
"Bapak-bapak yang terhormat, kalau mau beradu jotos jangan ditempat kami, dilarang membuat keributan disini, silahkan pergi dan selesaikan urusan kalian diluar, atau kami panggilkan polisi?" Ujur salah seorang security.
Kamipun meminta maaf atas kesalahan kami, setelah aku membayar minuman yang tadi kupesen, namun tak sempat aku minum, aku segera berlalu menuju tampat parkir, ternyata mobilku dan Ari bersebelahan.
"Urusan kita belum selesai, Bro. Pikirkan tawaranku, aku siap mengambil alih istrimu jika kau hanya bisa menyakitinya" dia hendak menyerangku kembali namun aku segera menutup pintu mobilku
"Urusi dulu memar diwajahmu nanti kita adu otot lagi" Aku membuka separuh kaca mobilku lalu segera melajukan mobilku meninggalkannya yang masih berdiri terpaku di tempat parkir.
Aku pulang kerumah, Dista sedang tak ada karena ia pulang kerumah orang tuanya sejak kami ada konflik. Anak-anak ikut bersamanya. Lelah rasanya memikirkan masalah rumah tangga kami. Sejujurnya ini bukan kali pertama Dista mengkhianatiku. Sekitar tiga tahun lalu, saat kami tinggal di Surabaya, dia juga melakukan hal yang sama, berselingkuh dengan laki-laki lain saat aku sedang tidak bersamanya. Saat itu aku memaafkannya, demi anak kami, karena saat itu putri kami yang kedua masih berusia 10 bulan.
Bisa dikatakan aku adalah suami yang kurang tegas terhadap istri. Kuakui rasa cintaku padanya begitu besar, hingga aku selalu menuruti apapun maunya, bahkan aku selalu memaafkan apapun kesalahannya. Saat ketahuan selingkuh waktu itu, ia menangis bersimpuh dihadapanku dan ia berjanji tak akan mengulanginya lagi. Akupun memaafkannya demi keutuhan rumah tangga kami, demi anak-anak kami yang masih butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Aku berharap setelah itu dia tidak akan mengulanginya kembali.
Namun dasar, mungkin memang sudah tabiatnya yang berkaitan dengan akhlak hingga ia tak bisa memperbaiki diri atas kesalahannya yang lalu, malah mengulanginya kembali. Dan kini, aku sudah tak akan memaafkan Dista lagi, tekadku sudah bulat untuk menceraikannya, walau ini keputusan berat. Karena lagi-lagi anak-anak yang akan jadi korban, aku tak mungkin membawa mereka bersamaku ke Jakarta, terpaksa aku biarkan anak-anak nanti ikut bersama ibunya. Tak bisa aku bayangkan anak-anakku dibesarkan oleh seorang ibu yang justru berprilaku minus, bagaimana bisa ia bekerja sebagai wanita penghibur sementara uang dariku tak pernah kurang. Bagaimana akhlak kedua anak gadisku bila dididik oleh ibu macam Dista.
Ah andai Vidya yang jadi istriku, mungkin rumah tangga akan sempurna dan bahagia hingga ke Jannah-Nya.
Akupun menelfonnya, sekedar ingin memberi tahu agar ia tidak mudah percaya kepada suaminya. Segera kupencet nomer telfonnya, terdengar nada sambung. Tak sabar aku menunggunya untuk mengangkat telfonku.
"Halo...mau apa kau, hah? mau apa kau menelpon istriku?INGAT YA..jangan coba-coba kau mempengaruhi istriku. JANGAN PERNAH KAU BERANI MENGGODA ISTRIKU. Istriku bukan perempuan murahan macam istrimu. Aku tak akan rela menukar istriku dengan wanita rendahan seperti istrimu itu! Jika sampai kau berani menghubungi istriku lagi, apalagi kalau sampai kau menemuinya. Aku akan melaporkanmu ke polisi dengan tuduhan penganiayaan yang telah kau lakukan padaku!
Tut..tut..
Suara telfon terputus. Rupanya si borokokok itu yang ngangkat.
"Huftttttt" Aku merebahkan tubuhku dikasur.
Tak lama terdengar deru mobil memasuki halaman rumah. Kemudian ada suara lengking berteriak-teriak diruang tamu. Suara yang aku kenal.
"Paaaaaaa...papaaaaa, keluar paaa..."
Aku segera keluar dari kamarku, dan mendapati Dista datang dengan penuh emosi.
"Mau apa kau datang kemari?"
"Oh jadi gitu ya, Papa sengaja cari-cari kesalahanku ternyata ada niat untuk mendekati istrinya si Ari yang kampungan itu?"
"Apa maksudmu?"
Bersambung
Yuk baca karya pertamaku " Aku Seorang Mafia" silahkan cek di profilku. semangat berkarya author ♥️