Dan Dia rahasiakan, kita tak pernah sedikitpun tahu...
Dan Dia jaga, kita tak pernah sedikitpun menerka nya...
Kita selama ini hanya mengeluh sembari seolah jalani saja....
Fii Lauhim Mahfudz... kisah kehakikian kehidupan yang menyuguhkan segala cuplik kehidupan.
Seorang Habibah yang mencintai Habibi dalam diam, dan hanya bisa berdoa dengan berbagai usaha yang menggemaskan.
Di bumbui oleh lika-liku kehidupan yang apik, dengan berbagai kisah persahabatan, persaudaraan dan cinta ❤😘...
selamat membaca 🥰🥰🥰
bisa juga kalian dapatkan buku novelnya melalui online di link nulisbuku.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran
Seusai kuliah dan keluar dari kelas, Habibah dan Ali langsung menuju ke papan pengumuman yang berada tepat di tengah-tengah lingkup kampus. Sehingga bagi Ali yang baru memijakkan kaki di kampus kota besar seperti itu pun bingung karena tak kunjung sampai. Habibah masih saja berjalan lurus melewati fakultas-fakultas lain, dan belok melewati dua kelas di fakultas dakwah. Ali hanya memasang muka manyun selama perjalanan yang tak kunjung sampai.
“Sampai kapan kita harus lurus dan belak belok, mbak Habibah?”
Sedangkan Habibah langsung tersenyum mendengar keluhan Ali, dia pun menjawab
dengan menirukan nada berbicara Ali, “Ya Allah mas Ali… itu papan pengumumannya…
sabar toh…”
Ali pun menengok ke arah kanannya, dan benar saat dia mengikuti arah tunjuk Habibah,
terlihat olehnya papan pengumuman yang berjajar banyak. Ali langsung membelalakkan
mata melihatnya.
“Duh! Banyak juga!” serunya. Dia sembari hitung satu persatu. Kurang lebih ada dua
puluh papan pengumuman. Dimana lima dari sebagiannya papan kecil, tak begitu besar
seperti lima belas lainnya.
Setelah berada tepat di depan papan pengumuman yang Habibah tunjukkan, segeralah Ali membaca sembari di perjelas dengan penjelasan dari Habibah.
“Nah, itu pengumuman tentang pelaksanaan ujian dan beberapa Dosen yang masuk
setelah UAS. Besok mulai libur, disana tertulis jelas bahwa libur sampai dua bulan, kurang
lebih seperti itu…”
Ali pun mengangguk-angguk sangat paham. Dia pun kemudian bertanya tentang perihal
lainnya.
“Lalu rencana liburan nanti, mbak Habibah mau kemana?”
Sembari tersenyum ramah, Habibah pun menjawab, “Insya Allah ke luar kota,”
“Saya ingin melancarkan lagi hafalan saya…”
“Kenapa tidak di pondok yang saya tempati saja… kan sudah cukup bagus…”
Langsung terdiamlah Habibah sejenak, lalu dia perlahan menjawab, “Insya Allah… jadi saya juga masih ragu lebih enaknya dimana… saya ingin riyadloh Al Qur’an…”
“Tadabbur Al Qur’an saja dulu mbak…”
Kembali terdiamlah Habibah, dalam hati dia membenarkan kata-kata Ali. Sedangkan Ali
melanjutkan bicaranya,
“Nanti saya temani sowan yai mbak, terus mbak bilang saja apa niat mbak, nanti setelah
usai liburan insya Allah selesai, kan enak bila silaturrahim lagi yai kenal mbak… karena
mbak telah luancar hafalannya…”
Degh!
Mendengar kata-kata Ali, Habibah sangat tercengang. “Terkenal?” dalam hatinya
bertanya-tanya sedemikian rupa. Dia benar-benar tak pikirkan bila berujung seperti itu. Dia pun langsung menyahut,
“Nanti saya pikir-pikir saja… saya kurang suka dengan akhir cerita dari pentadabburan
sampai riyadloh Al Qur’an bila seperti itu…” ucap Habibah.
Ali pun langsung bingung, dia tak mengerti dengan arah pikiran Habibah. Dalam hatinya
terus bertanya-tanya setelah itu. Selama dia hidup, bukankah tujuan setiap orang agar bisa di kenal orang yang kebaikan-kebaikannya? Kecerdasannya? Kemampuannya?. Tapi kenapa Habibah malah kurang suka hal itu? Dia terus bertanya-tanya. Ingin rasanya dia langsung tanyakan pada Habibah, namun terlihat olehnya Habibah terdiam setelah mengutarakan maksudnya, tampak bingung pula.
Habibah benar-benar diam seribu bahasa. Sampai dia tak mengutarakan sepatah kata pun kalau langkahnya kini ingin meninggalkan tempat itu. Ali hanya mengikuti dibelakang, dia merasa serba salah. Karena dia yang berkata pada awalnya, namun baginya bukanlah suatu kesalahan.
Habibah baner-benar seolah-olah syok akan kata-kata Ali. Dia sadar apa itu terkenal, di
kenal, dan sejenisnya. Dia sadari pula apa yang akan ada di balik semua hal itu. Dia pun
sangat pahami bahwa dia sedikit membutuhkannya hanya untuk puaskan inginnya di dunia.
Habibah tak inginkan itu. Dia tak ingin merasa sulit. Di dunia dia hanya ingin hidup dalam ketenangan nikmat-nikmat takdirNya. Bukan terkenal. Namun bila hal itu memang
sebagian dari takdirNya.
Dia tak tahu lagi harus bagaimana. Penyamarannya pun di depan Ali tak akan lama. Padahal dia telah relakan gelar Hafidzohnya di depan Ali. Dimana sebenarnya
hafalan Al Qur’annya telah berada di tingkatan sangat lancar. Dia hanya ingin tadabbur Al Qur’an. Merasukkan jiwa Al Qur’an ke dalam jiwa rohaninya.
Dalam langkahnya, dia terus berdo’a agar dia terus terjaga. Dia sadar apa yang dia
lakukan. Diamnya pula, membuat Ali yang berjalan di belakangnya pasti bertanya-tanya.
Sembari terus berdo’a dalam hatinya, perlahan dia pun berkata,
“Apakah aku boleh meminta?”
“Pada siapa mbak?” langsung menyahutlah Ali pada pertanyaannya di sekian lama
kebisuannya.
“Pada Muhammad Ali…” jawab Habibah sembari tersenyum.
“Saya? Hehe… silahkan mbak.” Jawabnya.
“Jangan memanggil dengan sebutan mbak ya… plis…” ucap Habibah sembari menunjukkan raut wajahnya seperti memohon. Meski Ali tahu hal itu hanya candaan. Ali menggeleng. Kembali Habibah memasang wajah memelas. Ali tetap menggeleng, namun kini sembari menjawab,
“Lalu aku memanggil apa?”
“Habibah saja, nanti saya akan memanggilmu Ali…” Habibah mulai tersenyum. Dia tetap perhatikan wajah Ali yang masih menempakkan keraguan.
“Baiklah,” seketika mendengarnya Habibah pun sangat senang sembari berucap dalam
hati, ‘Yes! Yes!’ namun kembali Ali menyahut,
“Tapi… ada satu syarat.”
“Apa itu?” Habibah seketika mengerutkan alisnya.
“Sampeyan mondok di tempatku mondok!”
“Hem?” semakin mengerutlah kedua alis itu.
...****************...
yuuuk mmpir juga dikaryaku berjudul "menikah karena perjodohan (Haris dan Hana) " smoga berkenan, mksh 🥰🥰🥰
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk