Linggar Angkasa adalah seorang pria yang sudah memiliki istri, menjalin cinta terlarang dengan seorang wanita yang tidak lain adalah karyawannya sendiri, istrinya seorang model majalah yang sering berada di luar kota.
Tania... wanita berusia 25 tahun yang menjabat sebagai sekretaris perusahaan retail,, atas dasar cinta, dia rela menjadi simpanan dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
3 tahun menjalin asmara tanpa kepastian kemana arah hubungan akan berlabuh, tiada hari tanpa desahan, kepuasan dan... cinta bertepuk sebelah tangan.
Jalinan cinta terlarang keduanya membuahkan hasil... tanpa ikatan... tanpa tuntutan... yang ada hanya sebuah kesadaran dari kesalahan...
Apakah Tania dan Linggar akan tetap bertahan? ataukah Tania mundur dan memutuskan hidup tanpa perlindungan...
Selamat membaca ya guys... semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Bulan purnama telah berganti, waktu terus berjalan mengganti cerita dan kenangan dalam satu waktu yang berbeda.
Sejak kepergian Tania dan perceraiannya dengan Maya, Linggar semakin menggila. Dia kini telah merambah bisnis di bidang pengobatan. Linggar bekerja sama dengan dinas kesehatan terkait untuk memperluas jaringan bisnisnya.
Wanita tak lagi di liriknya, tatapan elangnya pada kaum wanita penuh kebencian. Tak ada senyum dalam hidupnya.
Setiap malam... Keringat selalu bercucur membasahi tubuh, akibat dari mimpi yang beberapa minggu terakhir ini menghantuinya.
" Tidaaaaak... Jangan pergi" teriaknya.
Gelisah?, pasti!! Hidupnya tidak tenang... Dia seperti berada di padang rumput kering, tanpa ada ganda tanda kehidupan.
Linggar terbangun setelah dia tersentak dari mimpi yang menghantuinya, mimpi dia melihat anak kembar yang sangat mirip dengannya.
" Apa arti dari semua ini..." lirih Linggar.
Linggar turun dari ranjang, dia... Sendirian. Saat ini Linggar memimpin perusahaan miliknya sendiri, dia menolak perusahaan dari ayahnya. Pak Angkasa tidak bisa memaksa, sebab Linggar benar benar terlihat rapuh.
Tuuut... Tuuut...
" Ya Pa?" Linggar menjawab telepom dari papanya.
"......"
" Baik pa, aku kesana sekarang" lanjut Linggar.
Linggar mengenakan kaos hitam di padukan celana santai sebatas lutut, memakai kaca mata hitam, lalu turun menuju basement.
SUV hitam meluncur menuju rumah utama keluarga Angkasa. Memecah jalanan ibu kota yang tampak lengang karena hari libur.
Gerbang terbuka.... Menampakkan beberapa mobil nampak berjejer parkir di halaman rumah orang tuanya...
Langkah dari seorang linggar terdengar saat sepatinya menginjak lantai marmer. Terukur... Dan terarah, membuat senam jantung siapapun yang mendengar langkah kaki tersebut.
Tap.
Linggar berhenti tepat saat mata berada pada garis lurus seorang wanita. Wanita tersebut tersenyum padanya, membuat semua yang hadir menoleh mengikuti arah mata wanita itu.
" Linggar, kamu sudah datang nak..." sambut Bu Intan.
Satu satunya wanita yang mampu membuatnya tersenyum, tetapi... Tidak untuk kali ini.
" Sini... Mama kenalin pada keluarga teman mama waktu SMA." kata Bu intan sambil menggandeng lengan putranya.
Linggar bukan tidak tahu maksud semya keluarga itu berkumpul, dia paham meskipun belum ada kata yang keluar untuk menjelaskan.
Bu Intan melangkah mendekat.... Meraih lengan putranya dan membawanya menuju sofa tempat mereka berkumpul.
" Mas Toni, Jeng Niken, ini anakku Linggar. Yuka... Ini putra tante, Linggar." Mereka menjabat tangan Linggar dengan senyuman, tidak terkecuali Yuka.
Pak Angkasa yang diam memperhatikan raut wajah anaknya yang tidak bersahabat. Dia paham putranya masih menutup hati.
" Apa tujuan kalian memanggilku kemari." tanya Linggar tanpa basa basi, ya... Meskipun dia tahu tetapi dia ingin mendengar langsung.
" Umur kamu sudah kepala 3 nak, kita membutuhkan keturunan, kami berniat mendekatkan kamu dan Yuka. " jelas Bu Intan yang tahu anaknya tidak suka basa basi.
Yuka tersenyum malu malu. Suasana tegang... Menunggu jawaban dari Linggar. Pak Angkasa menatap putranya dengan intens, bukan tatapan keinginan... Lebih ke khawatir.
" Aku seorang duda kalau kau tidak tahu, dan aku pernah memiliki wanita simpanan selama bertahun tahun, yang saat ini tidak aku ketahui di mana keberadannya. " suara Linggar mampu membuat suasana menjadi lebih tegang.
Jarum jam seolah berhenti berdetak, Yuka hanya tahu bahwa Linggar duda, tetapi tidak dengan wanita simpanan.
" Aku bisa menerima mas, sebuah hubungan terjalin dan bisa berjalan jika kita saling menerima kekurangan." balas Yuka dengan tenang.
Ucapan Yuka mencairkan suasana, tetapi tidak membuat ruangan itu menjadi sejuk.
" Cinta bisa datang kapan saja mas... Selama kita tidak menutup pintunya. Komunikasi yang terjalin, mampu menumbuhkan benih cinta di hati kita." lanjut Yuka dengan nada yakin.
Linggar tersenyum tipis, sangat tipis untuk ukuran keramahan.
Pak Angkasa tetap dalam posisi tidak lepas memperhatikan sikap dan kalimat dari putranya.
Mata tua itu melihat keraguan, kehampaan, kekosongan dan... Luka yang masih dalam.
" Tidak perlu memaksakan... ikuti aliran air saja... Tuhan akan menyatukan jika memang jodoh sudah di takdirkan." Pak Angkasa kemudian berucap.
Hening... Bu Intan dapat membaca maksud yang mendalam dafi kalimat suaminya. Tetapi... Dia merasa tidak enak menolak permintaan sahabatnya, yang menginginkan perjodohan ini.
" Yuka yakin Om, Yuka bisa membuat mas Linggar jatuh cinta pada Yuka." ucap Yuka dengan keyakinan.
" Jika tidak bisa?" tanya Linggar dengan singkat.
" Aku tetap akan berusaha, aku mampu untyk membuatmu berada di sisihku." jawab Yuka.
Linggar akhirnya diam tanpa kata, tudak melangkah maju ataupun mundur. Cukup lelah dengan makhluk bernama wanita.
" Hubungan tidak akan bahagia jika terpaksa, ikatan akan lepas saat rasa tidak sama." ucap Pak Angkasa.
" Tidak perlu terburu buru, kalian saling mengenal dulu sebelum memutuskan ke hubungan lebih lanjut" lanjut Pak Angkasa.
" Ayo kita makan dulu, ngobrolnya nanti di lanjutkan." Bu Intan mencoba mengurai ketegangan.
2 keluarga kaya itu bersama sama menuju meja makan yang terletak di tepi kolam renang. Linggar lebih banyak diam, sejujurnya dia ingin menolak perjodohan ini, tetapi melihat tatapan ibunya... Dia urungkan. Dia tidak ingin membuat ibunya malu.
" Nanti saja aku langsung bicara sama mama" batin Linggar.
Yuka berjalan mendekat...
" Mas Linggar mau lauk apa?" tanya Yuka sambil menyendok nasi.
" apa saja" jawab Linggar dengan singkat.
Yuka mengerti, lalu menuangkan sayur dan meletakkan laku lalu meletakkannya di depan Linggar.
Pak Toni dan Bu Niken, orang tua Yuka tersenyum melihat anaknya yang telaten, mereka Yakin putrinya mampu membuat Linggar jatuh cinta.
Linggar tidak berkata apapun, dia tidak nyaman tetapi diam... matanya hanya melihat makanan yang tersaji di hadapannya... Dan jujur... Dia malas menyentuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hay manteman... Cuaca lagi tidak bersahabat, jaga kesehatan ya... Semoga kalian terhibur denhan coretan recehku ini... jejak kalian adalah semangatku...
krna km berulang kali mngatakn tak menginginkn ank dri rahim tania.... bhkn klo smpe tania hamil... km dgn enteng mgatakn untuk digugurkn...🙄🙄
eeee istri yg di bela"in.... taunya mndua😂😂😂😂
yg hncur km ato tania.....
tania saat ini sedih dan trluka.... tpi kelak saat anknya lahir.... dia punya pngobat luka....
sdangkn kamu linggar..... bhagia nggk ... tpi kecewa... trnyata perempuan yg km prioritaskn... km cintai ugal"an... nyatanya sm berhiantnya sprtimu di belakangmu....
ap lgi kelak saat tak sengaja km brtemu tania dgn anknya ..... ank yg nyata" tak prnah km inginkn trlahir dri rahim tania....