Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.
Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.
Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.
Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Keesokan harinya saat Alina membuka mata Farhan sudah tidak ada di sofa tempat ia tidur.
Alina merapihkan tempat tidur kemudian dia mandi untuk bersiap pergi ke kampus.
Ternyata Farhan melakukan rutinitas setiap pagi yaitu olahraga, saat memasuki kamar dia tidak melihat Alina di tempat tidur, tetapi suara gemericik air dari kamar mandi sudah menjawab.
Alina keluar kamar mandi menggunakan pakaian lengkap, Tatapannya tertuju pada Farhan yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Hari ini kamu ke kampus?." tatapan matanya yang awalnya fokus ke ponsel langsung beralih menatap Alina.
Alina mengangguk,"Iya kata temenku banyak tugas yang aku lewatkan." jawab Alina sambil skincare an.
Farhan bangkit dari duduknya, dia memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Mereka berdua turun bersamaan, di meja makan sudah ada mama dan papa Farhan.
"Selamat pagi ma, pa." sapa Alina.
"Selamat pagi." mama dan papa menjawab secara bersamaan.
"Hari ini kamu kuliah?." tanya mama.
"Iya ma, aku udah ketinggalan mata kuliah banyak." jawab Alina.
"Jangan terlalu capek, kalau sekiranya tugasnya sulit kamu suruh suami kamu yang kerjain." kali ini papa yang selalu menyimak obrolan membuka suara.
Jangan ditanya bagaimana ekspresi Farhan.
"Setelah mama terbitlah papa yang ada di kubu Alina." ucap Farhan.
"Jadi laki-laki itu harus melindungi orang yang berharga di hidupnya." saut papa.
Mendengar ucapan papa Alina melirik Farhan, apa mungkin dia menyadari wanita berharga di hidup Farhan.
Alina membuang pikiran tersebut,dia fokus pada makanannya.
Setelah itu mereka saling berpamitan, papa berangkat kerja Alina dan Farhan pergi ke kampus.
"Alina bareng sama Farhan aja ke kampusnya." ucap mama.
"Engga usah ma, Alin ga mau ada rumor yang tersebar." jawab Alina.
"Udah gapapa, biar Farhan ada temannya, terus kamu Farhan jangan lupa kasih nafkah ke Alina." Seketika Farhan melupakan hal tersebut, sedari menikah dia tidak pernah membahas perihal nafkah.
Alina dan Farhan pergi bersama.
Saat di perjalanan Farhan membuka obrolan.
"Nanti pulangnya kamu naik taksi aja, jangan naik ojek motor." ucap Farhan.
"Iya." jawab Alina, " boleh ga nanti waktu pulang aku main sama teman-temanku?." Alina meminta izin karena yang menjadi wali nya selama orang tuannya pergi adalah Farhan.
"Mau kemana?." tanya Farhan.
"Mungkin ke mall, makan-makan." jawab Alina.
"Boleh, tapi jangan terlalu capek,kamu baru aja sembuh." tambah Farhan.
Kemudian Alina tersenyum kecil,dan itu tidak luput dari pandangan Farhan.
"Kenapa senyum-senyum?." Farhan tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Aku jadi ingat waktu kita ketemu di mall, kamu ngeselin banget waktu beli kue."
Farhan mengingat kejadian itu dan dia ikut tertawa, tetapi tawanya memudar saat mendengar ucapan Alina selanjutnya.
"Mas tau, setelah itu aku pulang sambil nangis." Alina berkata dengan tersenyum, tetapi senyuman itu membuat Farhan merasa bersalah.
"Aku pikir aku tidak akan berhubungan sama kamu lagi setelah perjodohan itu dibatalkan, eh sekarang kita malah masuk ke hubungan yang rumit." ucap Alina.
"Maaf." ucap Farhan
Alina menatap Farhan yang fokus pada kemudi.
"Semua itu udah berlalu, jadi sekarang kita harus menjalani sisanya." Farhan kira Alina adalah tipe kekanak-kanakan ternyata dia salah Alina jauh lebih dewasa dari yang ia tahu.
Tidak terasa percakapan panjang yang mereka lalui membawa mereka sampai ke kampus.
"Aku turun dulu ya mas." pamit Alina.
Sebelum membuka pintu mobil, Alina menadah ke arah Farhan.
Farhan pikir Alina meminta uang, jadi dia mengeluarkan kartu dari dompetnya, ternyata dia salah, Alina mencium punggung tangannya.
"Kata bunda sebelum melakukan aktivitas sebagai istri harus meminta ridho suami." Setelah itu Alina keluar meninggalkan Farhan yang membeku.
Alina berlari sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang.
Sama dengan Alina Farhan masih mengumpulkan kesadaran, ia tidak menyangka Alina akan melakukan hal tersebut. Senyum tipis terbit dari bibir Farhan, dia menatap punggung tangannya.
Debaran yang tidak dapat dihindari mulai hadir pada dua orang yang tidak sengaja bersatu karena keadaan.
...----------------...
Alina berlari sambil tersenyum sampai tidak melihat di depannya ada orang, akhirnya Alina menabrak orang itu.
"Aduh, maaf kak maaf." ucap Alina.
Saat orang tersebut berbalik ternyata itu adalah Azka.
"Alina." ucap Azka.
"Kak Azka."
"Kamu kemana aja tiga hari ini,aku ke rumah kamu tapi tidak ada orang, terus aku telpon engga kamu angkat, kamu tau ga kalau aku khawatir." Azka berkata dengan menggebu-gebu sambil memegang kedua pundak Alina.
"Sabar kak, kalau nanya satu-satu biar ga bingung jawabnya." ucap Alina.
"Sekarang kamu jelasin,kamu dari mana." Mereka berjalan bersama dengan Azka yang merangkul pundak Alina.
Dari jauh Farhan melihat kejadian tersebut, ada rasa marah yang terlalu samar untuk di rasakan saat melihat interaksi antara Alina dan Azka.