Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Beberapa hari telah berlalu dengan tenang di kediaman Wen. Pagi itu, Jenderal Wen mendatangi paviliun Feng Wu dengan wajah yang serius namun lembut.
"Wu'er, Kaisar Qinchuan mengirim utusan," ucapnya pelan. "Beliau ingin menemuimu secara pribadi di istana sore ini. Mungkin ada hal penting yang hendak dibicarakan"
Feng Wu mengangguk mantap, tanpa sedikit pun terlihat gugup. "Aku mengerti, Kakek. Aku akan pergi."
Ia tidak bertanya alasannya, namun ia tahu bahwa Kaisar bukan orang yang mengundang tanpa tujuan. Entah itu untuk menanyakan sesuatu, memberi perintah, atau sekadar ingin mengenalnya lebih dekat maka ia siap menghadapinya dengan kepala tegak.
Sore harinya, Feng Wu berangkat ke istana ditemani Qing Su. Saat melangkah melewati gerbang utama istana kekaisaran, ia berjalan dengan langkah tegap, punggung lurus, dan tatapan mata yang lurus ke depan, bukan seperti wanita bangsawan pada umumnya yang berjalan menunduk malu-malu.
Setiap langkahnya memancarkan kepercayaan diri dan ketegasan yang jarang dimiliki gadis seusianya. Para pengawal istana yang melihatnya tak kuasa menahan pandangan, terpaku melihat gadis yang berjalan seakan ia adalah tuan putri di tempat itu sendiri.
Di lorong utama menuju paviliun naga, seorang pemuda berjalan berlawanan arah dengannya. Ia mengenakan jubah naga berwarna emas murni lambang kekuasaan tertinggi di seluruh kekaisaran. Wajahnya tampan namun memancarkan kesombongan yang mendalam, tatapannya tajam dan menilai segala sesuatu seakan semua itu miliknya.
Ia adalah Pangeran Mahkota, putra sulung Kaisar, pewaris takhta yang paling diunggulkan.
Feng Wu sama sekali tidak mengenalnya. Ia hanya mengira itu salah satu pangeran biasa, sehingga ia tidak berhenti, tidak menunduk, dan tidak memberi hormat sedikit pun. Ia hanya terus berjalan lurus, seakan pemuda itu tidak lebih dari orang lain.
Pangeran Mahkota berhenti di tempatnya, alisnya terangkat tinggi karena terkejut sekaligus tersinggung. Selama ini, belum pernah ada wanita, apalagi gadis muda yang berani lewat di hadapannya tanpa menunduk dan memberi hormat. Rasa kesal mulai muncul di hatinya... namun saat matanya jatuh pada wajah Feng Wu, langkahnya seketika terhenti.
"Bukankah gadis itu..... lumayan juga" batin Pangeran Mahkota.
Pangeran Mahkota melihat wajah Feng Wu yang cantik menawan, bersinar, dan memiliki keanggunan yang alami. Di matanya tidak ada rasa takut, tidak ada rasa rendah diri hanya ketenangan yang tak tergoyahkan. Rasa kesalnya seketika lenyap, digantikan oleh rasa kagum sekaligus keinginan untuk memiliki.
Pangeran Mahkota tersenyum tipis, senyumannya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam, senyum licik yang seakan sudah menganggap gadis itu miliknya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membiarkan Feng Wu lewat, lalu berbalik dan pergi begitu saja.
Setelah mereka berdua berpapasan dan berlalu, Qing Su yang berjalan di belakang Feng Wu langsung berbisik dengan napas terengah-engah karena cemas.
"Nona! Tadi itu... itu adalah Pangeran Mahkota! Yang Mulia Putra Mahkota! Bagaimana Nona bisa tidak memberi hormat padanya?!"
Feng Wu hanya tersenyum tipis, tanpa sedikit pun terlihat takut atau menyesal. Ia terus berjalan dengan tenang.
"Pangeran Mahkota atau bukan, bagiku sama saja," jawabnya pelan namun tegas. "Selama aku tidak melakukan kesalahan, tidak ada yang perlu kutakuti. Hormat diberikan pada mereka yang pantas menerimanya bukan hanya karena kedudukan atau gelar."
Qing Su terdiam, menatap punggung tuannya dengan kekaguman yang semakin dalam. Gadis ini benar-benar berbeda dari yang lain. Di dalam hatinya, tidak ada rasa takut pada kekuasaan hanya kebenaran dan keadilan yang ia junjung tinggi.
Dan di belakang mereka, di balik pilar batu yang besar, sepasang mata lain menyaksikan semuanya. Siapa lagi jika bukan Pangeran Ketiga, yang sejak tadi menunggu kedatangannya. Ia melihat pertemuan itu, melihat senyum licik Pangeran Mahkota, dan melihat ketegasan Feng Wu. Tangannya mengepal erat di balik jubahnya.
Feng Wu melangkah masuk ke ruang kerja pribadi Kaisar, ruangannya sangat luas, tertata rapi, dipenuhi rak buku dan peta kekaisaran. Di balik meja kayu jati yang besar, Kaisar Qinchuan duduk dengan tenang. Saat melihat Feng Wu masuk, ia meletakkan pena yang dipegangnya, lalu menatap gadis itu dengan tatapan ramah namun berwibawa.
Feng Wu berhenti di jarak yang pantas, lalu memberi salam dengan sopan namun tegak. "Feng Wu memberi hormat pada Yang Mulia Kaisar. Semoga Yang Mulia selalu sehat dan panjang umur."
Kaisar tersenyum lembut, mengangkat tangannya memberi isyarat agar bangkit. "Bangkitlah, Feng Wu. Duduklah. Di sini tidak perlu terlalu kaku."
Setelah Feng Wu duduk, Kaisar mulai berbicara dengan nada bercakap-cakap seperti keluarga, bukan penguasa dan rakyat.
"Aku mendengar banyak hal tentangmu, Terutama saat di perbatasan Utara, bagaimana kau membantu mengobati prajurit yang terluka dengan cara yang cepat dan tepat, bahkan meracik ramuan yang menghentikan wabah tanpa menewaskan satu pun orang. Dan yang paling mengagumkan... kau menyusun strategi pertahanan yang membuat musuh mundur tanpa perlu pertempuran berdarah. Itu bukan hal biasa bagi gadis seusiamu." Ujar Kaisar secara terperinci bahkan tidak ada yang terlewat.
Feng Wu menunduk sedikit, merendah dengan tulus. "Yang Mulia terlalu memujiku. Itu hanyalah pengetahuan dasar yang kupelajari. Mengobati luka adalah kewajiban setiap tabib, dan menghindari pertumpahan darah adalah kebijaksanaan yang seharusnya dimiliki siapa pun yang memegang kekuasaan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, tidak ada yang istimewa."
Kaisar mengangguk puas, tatapannya penuh kekaguman sekaligus kebanggaan. "Kerendahan hatimu sungguh patut dipuji. Banyak orang yang berbakat, namun sedikit yang tetap rendah hati. Kakekmu Jenderal Wen benar-benar membesarkan cucu yang luar biasa."
Kaisar menarik napas panjang, lalu wajahnya berubah menjadi lebih serius. Ia menatap Feng Wu dengan tatapan penuh harap sekaligus ragu.
"Feng Wu, sebenarnya alasan aku mengundangmu ke sini bukan hanya untuk berbincang. Ada satu hal yang sudah lama menyiksaku. Selama bertahun-tahun, tubuhku sering terasa nyeri di persendian, sesak napas, dan kadang demam datang dan pergi tanpa sebab. Para tabib istana sudah berusaha mengobati, namun tak ada yang benar-benar sembuh. Penyakit ini datang dan pergi, membuatku sering merasa lelah dan lemah."
Ia menatap Feng Wu dengan penuh harap. "Aku mendengar kau sangat ahli dalam pengobatan, bahkan dalam hal yang para tabib biasa sulit disembuhkan. Maukah kau melihat keadaanku? Jika kau bisa membantu, aku akan sangat berterima kasih.
Feng Wu mengangguk tenang. "Tentu saja, Yang Mulia. Izinkan aku memeriksa."
Ia maju ke depan, memeriksa denyut nadi Kaisar dengan saksama, lalu memperhatikan wajah, lidah, dan bertanya tentang gejala yang dirasakan. Tak butuh waktu lama, Feng Wu mengangkat wajahnya dengan tatapan yakin.
"Aku sudah paham, Yang Mulia. Ini bukan penyakit biasa, melainkan sisa racun lama yang tertinggal di dalam tubuh sejak bertahun-tahun lalu. Racun itu tidak mematikan, namun perlahan merusak sendi dan organ dalam. Itulah sebabnya tak ada obat biasa yang bisa menyembuhkannya karena racun itu sudah menyatu dengan aliran darah."
Kaisar terkejut mendengarnya. "Racun...? Jadi selama ini aku bukan sakit biasa?"
"Benar," jawab Feng Wu tegas. "Namun Yang Mulia tidak perlu khawatir. Aku punya obat yang bisa membersihkannya sepenuhnya."
Feng Wu mengeluarkan dua botol porselen kecil dari lengan bajunya, satu berisi air bening, satu berisi pil kecil berwarna emas. Ia menyerahkannya kepada Kaisar.
"Yang Mulia, minumlah air di botol pertama setiap pagi selama tujuh hari berturut-turut. Dan ambil satu butir pil ini setiap malam sebelum tidur. Setelah tujuh hari, racun itu akan hilang sepenuhnya, dan tubuh Yang Mulia akan pulih kembali seperti sedia kala."
Kaisar menerima kedua botol itu dengan tangan gemetar bukan karena takut, melainkan karena harapan yang kembali tumbuh di hatinya. Ia menatap Feng Wu dengan penuh rasa terima kasih yang mendalam.
"Terima kasih, Feng Wu... kau benar-benar anugerah bagi kekaisaran ini."