Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Menaklukkan Puncak Bukit Panorama dan Menyelami Kuliner Malam Nusantara
BAB 28: Menaklukkan Puncak Bukit Panorama dan Menyelami Kuliner Malam Nusantara
Matahari baru saja bergeser naik dari garis cakrawala timur, menyapukan cahaya keemasan hangat ke seluruh penjuru resor terapung tempat Mayor Aris dan Mayang menghabiskan waktu cuti khusus mereka.
Pukul enam pagi, ketika kabut tipis masih memeluk lekukan-lekukan bukit hijau di kejauhan, pintu kamar utama terbuka perlahan.
Aris, yang sudah bangun sejak subuh, berdiri di ambang pintu dengan balutan kaus olahraga hitam berlogo kesatuan yang melekat pas di tubuh atletisnya, sementara celana jogger abu-abu melingkar santai di pinggangnya.
Tidak ada suara terompet sangkakala barak yang memecah keheningan, tidak pula derap langkah sepatu lars prajurit yang bersiap siaga untuk apel pagi.
Hari ini, dunia militer seolah berhenti berputar khusus untuk mereka berdua.
Aris melangkah masuk menghampiri tempat tidur, mendapati istrinya masih meringkuk nyaman di balik selimut putih tebal.
Kacamata berbingkai tipis milik Mayang tergeletak rapi di atas nakas kayu.
Dengan penuh kelembutan, perwira menengah itu duduk di tepi ranjang, lalu menyibak selimut perlahan sambil mengusap puncak kepala istrinya.
"Bangun, Ibu Komandan," bisik Aris dengan suara baritonnya yang berat namun hangat, menyapa telinga Mayang.
"Hari ini kita ada misi khusus. Kita mau menaklukkan puncak bukit sebelum matahari terlalu tinggi menyengat."
Mayang mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengusir kantuk yang masih menggelayut. Ia mendongak, menatap wajah suaminya yang sudah tampak segar dan bugar.
Bibirnya langsung mengukir senyuman tipis.
"Pagi-pagi buta begini sudah diculik buat daki gunung, Mas? Kirain mau lanjut tidur manja di bawah selimut hangat."
Aris tertawa renyah, suara tawa yang begitu renyah dan jarang sekali didengar oleh bawahannya di Mako Batalyon.
"Tidur manja bisa kapan saja setelah ini, Mayang. Tapi panorama indah dari puncak bukit sana tidak akan sabar menunggu kita terlalu lama. Ayo mandi, saya sudah siapkan air hangat."
Setengah jam kemudian, keduanya sudah siap dengan pakaian penjelajahan alam yang kasual.
Mayang mengenakan jaket hoodie berbahan ringan berwarna merah muda lembut, celana legging olahraga yang elastis, serta sepatu trekking khusus yang nyaman di kaki.
Sementara itu, Aris menyelempangkan sebuah ransel kecil di punggungnya yang berisi perbekalan darurat, air mineral dingin, serta beberapa potong buah segar untuk dinikmati di perjalanan.
Perjalanan pendakian ringan (light hiking) itu dimulai dari gerbang belakang resor yang langsung terhubung dengan jalur setapak alami menuju Puncak Bukit Panorama.
Jalur tersebut dinaungi oleh rimbunnya pepohonan tropis berukuran besar, dengan tanah lembap yang masih menyimpan embun pagi dan kicauan burung-burung liar yang bersahutan menyambut hari.
Meskipun jalurnya tidak terlalu ekstrem jika dibandingkan dengan medan latihan tempur di hutan perbatasan, bagi Mayang yang sehari-hari lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan kantor Persit, pendakian ini tetap membutuhkan usaha fisik yang cukup berarti.
Di sinilah sisi protektif seorang suami sekaligus komandan militer terpancar nyata. Aris selalu berjalan di sisi depan atau sedikit di samping istrinya, memastikan setiap pijakan kaki Mayang aman di atas tanah berbatu dan akar-akar pohon yang melintang.
"Capek, Mas?" tanya Aris penuh perhatian saat mereka berhenti sejenak di sebuah pos perhentian kecil di bawah naungan pohon beringin tua.
Mayang menyeka butiran keringat yang mulai membasahi keningnya dengan handuk kecil, lalu mengatur napasnya yang sedikit tersengal.
Ia tersenyum lebar sambil menggeleng pelan.
"Lumayan bikin jantung berdetak lebih cepat, Mas! Tapi, jujur saja, udaranya segar banget. Paru-paru rasanya dibersihkan dari debu-debu kota dan asap kendaraan taktis di asrama."
"Bagus kalau begitu," balas Aris sambil tersenyum bangga, lalu membuka botol air mineral dan menyerahkannya kepada istrinya.
"Minum dulu perlahan-lahan. Jangan langsung dihabiskan sekaligus."
Setelah beristirahat selama sepuluh menit untuk memulihkan tenaga, mereka melanjutkan sisa pendakian yang tinggal beberapa tanjakan terakhir.
Dan begitu kaki mereka menginjak dataran tertinggi Puncak Bukit Panorama, segala rasa lelah dan peluh yang bercucuran seketika terbayar lunas tanpa sisa.
Dari atas ketinggian tersebut, pemandangan alam terbentang sangat megah sejauh mata memandang.
Garis pantai melengkung dengan air laut biru jernih berpadu sempurna dengan hamparan hijaunya pepohonan pulau.
Dari kejauhan, atap-atap resor kayu tempat mereka menginap tampak bagaikan titik-titik kecil di atas permadani biru.
Angin pegunungan yang sepoi-sepoi dan sejuk langsung menerpa wajah mereka, mendinginkan tubuh setelah penat mendaki.
Mereka duduk bersandar di atas sebuah bangku kayu sederhana yang sengaja dibuat di tepi tebing.
Aris mengeluarkan bekal buah apel segar dari dalam ranselnya, memotongnya dengan pisau sikat kecil, lalu menyuapkannya langsung ke mulut Mayang dengan penuh kasih sayang.
Mayang menerima suapan itu sambil menatap takjub keindahan alam di hadapannya.
"Mas... tempat ini benar-benar seperti surga kecil yang tersembunyi. Kalau kita di sini terus, rasanya aku lupa kalau di luar sana ada jadwal dinas militer yang padat."
Aris merangkul pundak istrinya erat-erat, menarik tubuh Mayang agar bersandar nyaman di dada bidangnya. Ia mengecup puncak kepala Mayang dengan lembut.
"Nikmati setiap detik kebersamaan ini, Mayang. Hidup ini tidak hanya tentang tugas dan tanggung jawab kepada negara, tapi juga tentang bagaimana kita merawat cinta yang sudah kita bangun bersama."
Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di puncak bukit tersebut berbincang tentang masa depan, mengenang masa-masa awal perkenalan mereka di asrama, hingga tertawa lepas menikmati embusan angin pegunungan yang menenangkan jiwa.
Menjelang siang hari, Aris dan Mayang berjalan turun secara perlahan menyusuri jalur yang sama, kembali ke kawasan resor untuk membersihkan diri dan menikmati makan siang sederhana.
Namun, rangkaian hari libur mereka tidak berhenti sampai di situ.
Ketika matahari mulai condong ke barat dan memancarkan cahaya jingga sore yang hangat, Aris mengajak Mayang menyusuri pusat kota kecil nelayan yang terletak tidak jauh dari teluk tempat mereka tinggal.
Suasana kota kecil itu sangat tenang dan ramah, jauh dari kebisingan kota besar.
Mereka mampir ke sebuah pasar seni tradisional, melihat-lihat kerajinan tangan cangkang kerang mutiara yang dibuat langsung oleh pengrajin lokal, serta membeli beberapa suvenir kecil sebagai kenang-kenangan.
Malam harinya, suasana liburan berubah menjadi semakin meriah dan hangat.
Alih-alih memesan makanan mewah di restoran tertutup resor, Aris memilih mengajak Mayang berpetualang kuliner ke sebuah kawasan warung kaki lima legendaris yang terletak di tepi jalan utama kota kecil tersebut.
Warung tenda sederhana itu dipenuhi oleh warga lokal yang antusias.
Di bawah pendar lampu teplok kuning yang temaram dan aroma sedap masakan yang menguar ke udara, mereka duduk di sebuah meja kayu panjang yang beralaskan taplak plastik sederhana.
Suasananya begitu membumi, jauh dari segala protokoler kepangkatan militer yang biasanya melekat pada diri Mayor Aris.
"Kamu yakin mau makan di sini, Mas?" tanya Mayang dengan mata berbinar penasaran, menatap sekeliling warung yang ramai. "Nanti kalau ada anak buahmu yang lihat Komandannya makan di warung tenda pinggir jalan gimana?"
Aris tertawa renyah, merangkul bahu istrinya dengan gemas.
"Biar saja. Di luar jam dinas dan di luar Mako Batalyon, saya bukan lagi Komandan Batalyon yang harus menjaga wibawa di depan pasukan. Saya di sini murni sebagai suami yang ingin memanjakan istrinya dengan kuliner terenak di kota ini."
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Di atas meja tersaji dua porsi besar mi goreng seafood tradisional khas pesisir yang dimasak menggunakan wajan arang besar, menghasilkan aroma smoky yang sangat menggugah selera.
Di atasnya bertabur potongan cumi kenyal, udang segar, dan suwiran telur orak-arik yang melimpah.
Sebagai pendamping, dua mangkuk wedang jahe panas yang mengepulkan uap harum rempah-rempah disajikan untuk menghalau angin malam pesisir yang mulai bertiup dingin.
Mayang segera mencicipi suapan pertama mi goreng tersebut.
Matanya langsung membelalak lebar, memancarkan ekspresi kekaguman yang luar biasa.
"Wah... Mas Aris! Sumpah, ini enak banget! Bumbu rempahnya meresap sampai ke dalam mie-nya, beda banget sama masakan katering asrama!"
"Sudah saya bilang, kuliner lokal itu selalu punya kejutan rasa yang luar biasa," jawab Aris tersenyum puas melihat lahapnya cara makan sang istri.
"Makanya, jangan pernah meremehkan warung pinggir jalan."
Sambil menikmati sisa malam di bawah langit gemilang yang dihiasi ribuan bintang tanpa polusi cahaya kota, keduanya menghabiskan waktu dengan saling bertukar cerita, tertawa lepas, dan menikmati setiap detik kebersamaan yang berharga itu.
Hari kedua cuti bulan madu mereka ditutup dengan rasa syukur yang mendalam sebuah perjalanan cinta, petualangan alam, dan kehangatan sederhana yang akan terus terukir abadi di dalam ingatan mereka berdua sebagai babak paling manis dalam lembaran pernikahan baru mereka.