Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 SUREL YANG DIBUAT UNTUKKU
Alamat surel itu menggunakan nama Kaluna. Meski begitu, Kaluna tidak pernah membuatnya. Ia tidak pernah menambahkan kata private di belakang namanya. Tidak pernah menggunakan layanan surel tersebut. Tidak pernah menyimpan kata sandi atau nomor pemulihan yang berhubungan dengan akun itu.
Beberapa hari sebelum kecelakaan, akun tersebut aktif seolah-olah miliknya. Akun itu menerima kode aktivasi rekening dan pemberitahuan transaksi. Lalu terhubung dengan tiket satu arah ke Singapura.
Pagi itu, Kaluna kembali duduk di ruang kerja Salindri. Naren berada di seberang meja dengan laptop terbuka, sementara beberapa cetakan riwayat surel diletakkan di antara mereka.
“Nama penggunanya dibuat agar terlihat pribadi,” kata Naren. “Tidak memakai alamat perusahaan, tapi tetap memakai nama lengkapmu.”
“Biar kelihatan seperti akun pribadiku.”
“Mungkin.”
“Jadi bukan cuma akun yang nggak diketahui perusahaan.”
Salindri mengangkat salah satu lembar.
“Kalau pihak lawan melihat alamat seperti ini, mereka akan mengatakan kamu sengaja membuat surel terpisah agar transaksi tidak terhubung dengan pekerjaan resmi.”
Kaluna kembali membaca alamat itu.
kaluna.adiswara.private@protonmail.com.
Bahkan pilihan katanya terasa seperti tuduhan. Seseorang tidak hanya membuat akun atas namanya. Orang itu memilih nama yang membuat rahasia tampak seperti kesengajaan.
“Kapan dibuat?” tanyanya.
“Tiga hari sebelum permohonan rekening diajukan,” jawab Naren.
“Tanggal berapa?”
Naren menunjukkannya.
Hari itu, Kaluna berada di kantor pusat dari pagi sampai sore. Ia memeriksa kalender lama di telepon yang sudah dipulihkan sebagian.
“Akun ini dibuat dari mana?”
“Nah, itu yang belum ketemu.”
“Tidak ada catatan?”
“Ada, tapi tidak lengkap.”
Surel menggunakan layanan dengan perlindungan data yang cukup ketat. Mereka tidak bisa mendapat alamat perangkat lengkap hanya dari salinan yang dimiliki. Ada catatan pemulihan dan penerusan pesan. Alamat itu pernah diakses dari jaringan yang juga dipakai Asteria Corporate Services.
“Jaringan yang sama dengan rekening?” tanya Kaluna.
“Jalur administrasinya sama,” jawab Naren. “Tapi kita belum bisa mengatakan komputer yang dipakai juga sama.”
“Kenapa belum?”
“Karena Asteria memakai layanan bersama. Beberapa pegawai bisa keluar melalui jaringan yang serupa.”
Kaluna bersandar.
Setiap kali mereka menemukan satu celah, muncul lagi bagian yang belum jelas.
“Nama Dian masih muncul?”
Naren menggeser satu dokumen.
Dian Paramitha tercatat sebagai petugas yang menerima berkas verifikasi. Namanya juga muncul dalam komunikasi awal dengan bank. Isi komunikasi yang mereka miliki cuma berupa daftar, bukan salinan penuh.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Kaluna.
“Dia yang memeriksa kelengkapan dokumen.”
“Dia mengirim kode aktivasi?”
“Belum tentu. Tugasnya bisa cuma memeriksa paspor, identitas, dokumen perusahaan, dan formulir.”
“Kalau dia lihat pasporku, mestinya dia tahu yang datang bukan aku.”
“Tidak ada bukti seseorang datang langsung,” kata Salindri. “Prosesnya dapat dilakukan melalui perwakilan perusahaan.”
Kaluna memandangi foto Dian yang telah dicetak.
Perempuan itu pernah bekerja di Sekretariat Direksi Mahardika Medika. Ia mungkin pernah melihat Kaluna berjalan melewati meja kerjanya. Mungkin juga pernah mengurus jadwal, tiket, atau salinan paspornya.
“Aku ingin bicara dengannya.”
“Kami belum menemukan alamat terbarunya,” kata Naren.
“Nomornya?”
“Tidak aktif.”
“Tempat kerja baru?”
“Belum tercatat.”
“Dia keluar tiga minggu setelah kecelakaanku, lalu hilang dari riwayat kerja?”
“Bukan hilang. Hanya tidak ada catatan baru yang mudah ditemukan.”
Kaluna mengembuskan napas.
“Ada terlalu banyak orang yang berhenti bekerja setelah aku jatuh ke sungai.”
“Karena sebagian memang cuma dilibatkan untuk pekerjaan tertentu,” kata Naren. “Setelah itu, mereka dipindahkan atau diminta pergi.”
“Atau dibayar untuk diam.”
Salindri mengangkat wajah dari dokumen.
“Jangan anggap dugaan itu sudah jadi fakta.”
“Aku tahu.”
Kaluna tahu pengacaranya benar. Sulit terus bersikap netral ketika hampir setiap nama dalam dokumen lama berakhir dengan nomor tidak aktif dan alamat kosong.
Teleponnya bergetar.
Elara mengirim foto kotak permainan dokter. Di dalamnya ada boneka kecil yang dibungkus kain seperti pasien.
Dia sakit perut. Besok kamu periksa.
Kaluna tersenyum tipis.
Dokter Elara nggak bisa periksa sendiri?
Balasan datang tidak lama.
Aku capek. Kamu jadi dokter gantian.
Kaluna mengetik bahwa ia akan datang sesuai jadwal.
Elara mengirim satu pertanyaan lagi.
Ada orang yang duduk lihat lagi?
Jari Kaluna berhenti.
Ia belum menerima keputusan mengenai pendamping profesional. Salindri mengatakan permintaan Veyra belum disetujui, tetapi juga belum ditolak.
Belum tahu. Aku tetap datang.
Elara membalas dengan stiker wajah cemberut.
Kaluna menutup layar.
“Aku ingin masalah pertemuan selesai sebelum besok.”
Salindri mengangguk.
“Saya sedang minta pengadilan mempertahankan kesepakatan awal.”
“Veyra belum mencabut permohonannya?”
“Belum.”
“Padahal dia sendiri mengirim jadwal tanpa pengawasan.”
“Setidaknya itu bisa jadi pegangan kita.”
Kaluna kembali ke dokumen surel.
Ia harus membuktikan siapa yang membuat rekening. Harus mempertahankan waktu dengan Elara. Harus melawan berita. Harus mengembalikan saham. Semua bergerak bersamaan, sementara setiap pihak menuntutnya tetap tenang.
Naren menutup salah satu halaman di laptop.
“Ada satu perkembangan lagi.”
“Apa?”
“Nomor pemulihan surel.”
Kaluna mendekat.
Nomor tersebut berbeda dari nomor telepon yang tercantum pada rekening, tetapi didaftarkan menggunakan identitas yang sama.
Sulastri.
Perempuan yang sudah meninggal empat tahun sebelum rekening dibuka.
“Dua nomor memakai identitas orang yang sama?” tanya Kaluna.
“Iya.”
“Berarti orang ini memang memilih identitas itu. Bukan asal ambil nomor.”
“Seseorang memiliki salinan identitas Sulastri atau akses ke data registrasinya.”
“Sulastri itu siapa?”
Salindri membuka berkas lain.
“Sulastri pernah bekerja sebagai tenaga kebersihan melalui perusahaan penyedia jasa.”
“Di mana?”
“Mahardika Medika.”
Kaluna mengangkat wajah.
“Gedung utama?”
“Selama enam bulan. Setelah itu dipindahkan ke gedung arsip lama.”
“Kapan meninggal?”
“Empat tahun sebelum kejadianmu.”
“Apakah perusahaan menyimpan salinan identitas pegawai penyedia jasa?”
“Biasanya penyedia jasa menyimpan, tapi bagian keamanan gedung juga bisa memiliki salinan untuk kartu akses.”
Kaluna teringat gedung lama tempat dua pria pernah dijemput menggunakan kendaraan perusahaan.
Kembali ke tempat yang sama. Data lama, pegawai luar, identitas yang mungkin dianggap tak akan pernah diperiksa lagi.
“Nama perusahaan penyedianya?” tanya Naren.
Salindri membaca.
“Bina Karya Utama.”
“Masih beroperasi?”
“Sudah tutup.”
Kaluna hampir tertawa.
“Tentu saja.”
Naren tidak ikut bereaksi.
“Kita belum tahu siapa yang mengambil identitas itu. Salinan bisa berpindah melalui banyak tangan.”
“Tapi orang yang menyusun ini tahu data mana yang aman dipakai.”
“Karena orangnya sudah meninggal.”
“Dan tidak ada keluarga yang akan memeriksa nomornya.”
Kaluna kembali ke alamat surel palsu.
Dia memakai identitas orang yang sudah meninggal, membuat akun pribadi atas nama Kaluna, menghubungkannya dengan perusahaan administrasi, lalu memastikan tidak ada satu pun pemberitahuan yang masuk ke Kaluna.
“Apa ada surel lain di dalam akun itu?” tanyanya.
“Hanya sebagian yang dapat kita lihat dari penerusan pesan,” kata Naren. “Bank mengirim pemberitahuan ke sana. Asteria juga mengirim beberapa dokumen.”
“Isinya?”
“Konfirmasi bahwa permohonan sedang diproses, permintaan verifikasi, dan pemberitahuan rekening aktif.”
“Dian yang mengirim?”
“Satu pesan memakai akun petugas dengan namanya.”
“Yang lain?”
“Akun umum Asteria.”
“Apakah Dian membalas menggunakan alamat pribadinya?”
“Tidak.”
Salindri kembali memeriksa dokumen.
“Kita perlu berhati-hati. Bisa jadi Dian benar-benar cuma mengurus formulir.”
“Kalau begitu dia tetap tahu siapa yang menyerahkan dokumen.”
“Bisa.”
“Dan aku ingin mendengarnya langsung.”
Naren menurunkan layar laptop sedikit.
“Aku sudah minta orang mencari keluarganya.”
Kaluna menghadap ke arahnya.
“Tanpa memberitahuku?”
“Aku baru mendapat hasil awal pagi ini.”
“Apa?”
“Dian punya kakak perempuan di Depok. Alamatnya masih aktif.”
“Kita ke sana.”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Orang yang kami kirim hanya memastikan alamat itu masih aktif. Kita nggak tahu apakah Dian tinggal di sana.”
“Kalau kakaknya tahu tempatnya?”
“Kita harus punya alasan supaya mereka nggak langsung menutup pintu.”
Kaluna hendak berdiri, tetapi Salindri menghentikannya dengan satu kalimat.
“Kalau Dian merasa terancam, dia bisa menghubungi orang yang pernah memberinya perintah.”
Kaluna kembali duduk.
Benar.
Mendatangi setiap orang secara mendadak tidak selalu menghasilkan jawaban. Bisa saja justru memperingatkan orang yang lebih besar.
“Jadi apa rencananya?”
“Kita kirim permintaan resmi melalui Asteria dulu,” kata Salindri. “Minta mereka menjelaskan proses pembukaan rekening, siapa pemberi dokumen, dan bentuk verifikasi yang dipakai.”
“Mereka bisa mengatakan arsipnya tidak ada.”
“Setidaknya kalau mereka menolak, ada catatannya.”
Naren membuka berkas lain.
“Ada yang lebih langsung.”
Ia memperlihatkan daftar pesan masuk pada alamat surel palsu.
Beberapa judul terlihat biasa.
Aktivasi. Pemberitahuan keamanan. Ringkasan rekening.
Lalu satu judul muncul beberapa hari setelahnya.
Flight Reservation Confirmation – Jakarta to Singapore.
Kaluna membaca tanggalnya.
“Tiket itu dikirim ke surel ini.”
“Iya.”
“Bukan cuma akun perjalanan direksi?”
“Konfirmasi utamanya masuk ke surel palsu. Salinannya diteruskan ke akun perjalanan perusahaan.”
“Berarti orang yang ngurus tiket ini tahu alamat surel itu.”
“Yang bisa dipastikan baru itu.”
Salindri menunjuk satu bagian.
“Ada catatan bahwa alamat surel penerima tiket diubah beberapa menit setelah pemesanan.”
“Dari alamat mana?”
“Awalnya tiket dikirim ke akun administrasi perjalanan direksi. Setelah tiket terbit, salinannya dikirim ke surel palsu atas namamu.”
Kaluna mencoba menyusun urutannya.
Akun perjalanan perusahaan membuat pemesanan. Surel palsu menerima salinan. Kemudian tiket ditampilkan seolah Kaluna sendiri yang menyimpannya secara pribadi.
“Siapa yang mengubah alamat penerima?”
“Namanya belum ketemu. Yang ada cuma kode agen.”
“Cari.”
“Sedang.”
Kaluna membaca rincian pemesanan.
Nama penumpang benar. Nomor paspor benar. Tanggal lahir benar. Bahkan pilihan kursi dekat jendela sama dengan kebiasaannya saat melakukan perjalanan.
Ia berhenti pada bagian itu.
“Mereka tahu aku selalu memilih kursi dekat jendela.”
Naren memeriksa layar.
“Bisa tercatat dari perjalanan lama.”
“Di akun perjalanan direksi.”
“Iya.”
Tengkuk Kaluna terasa dingin.
Seseorang tidak hanya mengambil paspor atau tanda tangannya dari lemari dokumen. Orang itu membuka riwayat perjalanan. Melihat kebiasaan tempat duduk. Mempelajari surel yang biasa digunakan. Mengerti cara tiket direksi dipesan.
Mereka membuat pelarian palsu dengan detail yang akan terlihat masuk akal bagi orang yang mengenalnya.
“Apakah tiket itu pernah dibuka dari surel palsu?” tanya Kaluna.
“Ada riwayat akses.”
“Dari mana?”
Naren memperlihatkan waktunya.
Aktivitas pertama berasal dari jaringan Asteria. Aktivitas kedua, beberapa jam kemudian, berasal dari jaringan perusahaan lain.
Nama jaringannya belum tampak pada ringkasan awal. Naren harus meminta catatan tambahan dari pihak yang membantu pemeriksaan.
Ia membuka pesan yang baru masuk.
“Ada jawaban.”
Kaluna mendekat.
Naren membaca sebentar, lalu mengerutkan kening.
“Dari mana?” tanya Salindri.
“Yang kedua bukan dari Mahardika Medika.”
“Terus dari mana?”
Naren memutar laptop.
Nama perusahaan muncul di layar.
Sentra Arunika Logistik.
Kaluna terdiam.
Surel palsu dibuat melalui jalur Asteria. Dipakai membuka rekening. Menerima tiket Singapura. Lalu jejak akses berikutnya berasal dari jaringan Sentra Arunika.
Jejak akses surel itu berasal dari jaringan Sentra Arunika, perusahaan yang juga mengirim uang ke rekening atas namanya.
Kaluna kembali membaca nama itu.
Sentra Arunika Logistik.
Nama perusahaan itu kini muncul di dua jalur: aliran dana dan jejak akses surel.