"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB ENAM: Retaknya Cermin (Bagian 3)
“Are you losing your fucking mind?” Ian mengumpatku untuk ke sekian kalinya. Aku memutar bola mataku.
“Yes, I am. Ada masalah dengan kegilaanku ini?”
“Of course! Bagaimana bisa kamu menyuruhku menyatakan cinta pada Ara yang jelas-jelas berstatus sebagai pacarmu? Hanya orang gila yang punya permintaan seperti itu,” Ian mondar-mandir di samping ranjangku. Aku menyilangkan tanganku di belakang kepala.
“Ini kan buat kebaikan bersama,” sahutku santai.
“Kebaikan bersama apanya? Sinting!” lagi-lagi dia mengumpat. Aku menghela napas. Mendudukkan diriku sambil bersandar.
“Ian, kita kan nggak mungkin begini terus. Aku tahu kamu naksir pacarku, dan aku juga tahu bahwa Ara menaruh perhatian padamu. Aku nggak bisa bersikap baik-baik aja dengan hal-hal itu.”
“Tapi, kan salahmu sendiri pakai bertanya pada Ara jika dia bukan pacarmu, dan jika dia ditembak laki-laki sepertiku. Itu risikomu,” Ian menekankan telunjuknya di dadaku. Tidak sakit, tapi cukup terasa.
“Tapi jawaban Ara juga akhirnya mengungkapkan alasan masuk akal yang membuatku mengerti kenapa dia begitu perhatian padamu. Kamu laki-laki yang baik menurut dia, mungkin jauh lebih baik dariku.”
“Itu cuma dugaanmu. Duh! Kenapa jadi serumit ini sih hubungan kita bertiga?” Ian berdiri membelakangiku. Bajunya kusut, rambutnya kusut, sudah pasti wajahnya lebih kusut lagi.
“Ini bukan rumit. Ini hanya butuh sedikit penyelesaian dari semua pihak. Dan sekarang aku menawarkan salah dua dari penyelesaian yang kupunya. Ungkapkan perasaanmu dan biarkan Ara memilih, done,” tawarku.
“Nggak sesepele itu, Zang. Argh!” Ian berjongkok, merangkulkan lengan di sekitar lututnya. Aku menyilangkan tanganku, menunggu. Aku tahu dia tak punya pilihan lain.
“Zang, tidak bisakah kita berhenti di sini? Tidak bisakah kamu tetap jadi sahabatku dan Ara sebagai pacar sahabatku?” Ian menggumam.
“Dengan kenyataan bahwa kamu menyukai pacar sahabatmu itu? Nope! Aku tidak suka dengan sesuatu yang tidak pasti. Aku tahu bagaimana matamu berbinar ketika melihat Ara. Aku pun tahu bagaimana semringahnya kamu ketika melihat Ara menjemputmu di bandara. Udah jelas kalau kamu tulus sama Ara. Tapi Ara? Aku nggak tahu apa yang ada di pikirannya. Cintakah? Kagumkah? Nothing. I know nothing. Untuk itulah aku memintamu menyatakan perasaan padanya. Aku hanya butuh tahu, apakah Ara benar-benar menyukaimu, atau hanya kagum padamu?” Ian kembali berdiri, berkacak pinggang di hadapanku.
“I know. Tapi sekarang ini kita lagi ada kerjaan. Kita ke sini bukan buat main-main perasaan. Fokus ajalah sama proyek kita, Zang,” kali ini aku yang berdiri. Kuletakkan tanganku di kedua bahu Ian.
“Ian, kita di sini cuma dua minggu. Kerjaan kita juga cuma tinggal finishing dan bikin laporan. Minggu depan kita harus balik. Dan aku nggak tahu lagi kapan bisa ketemu Ara. Aku atau kamu sama-sama nggak tahu lagi kapan bisa ngelihat Ara.”
“But, this feels like suicide. For fuck sake, why are you so stubborn?” Ian memandangku pasrah.
“Come on! It won’t be that bad. Just agree to come with me and tell her. Apa pun hasilnya, I’m still your man,” tak mudah memang, tapi aku serius mengatakannya. Kulihat Ian menggigit bibirnya. Hening, lalu Ian pun bersuara.
“Okay, kalau emang itu maumu.”
...***...
“Chan, temenin ke toilet yuk! Biasanya ada mas-mas usil tahu di sebelah sana,” Ara menggaet lenganku. Secara langsung memintaku berdiri.
“Ah, aku harus telepon Andra ini, Chan. Minta temenin Ian aja. Dia juga udah selesai makan tuh!” aku mengedikkan daguku ke arah Ian. Kulihat Ian menghirup napas panjang.
“Ih, padahal dari tadi nggak ngapa-ngapain. Giliran suruh nemenin malah alasan mau nelpon mas Andra. Dasar!” Ara menggerutu.
“Udah, Ra! Nggak perlu ngomel. Yuk, kutemenin!” Ian dengan segera berdiri dari kursinya. Aku ikut berdiri, memastikan Ara sudah berjalan lebih dulu sebelum menepuk punggung Ian.
“Good luck!” bisikku pelan. Ian menatapku dalam-dalam. Aku tahu dia kecewa, tapi aku pun tak bisa mundur sekarang. Dia berjalan meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa. Kupandangi Ian dan Ara yang semakin menjauh, dengan tangan Ara yang sesekali menepuk bahu Ian. Kuseka wajahku dengan telapak tangan. Sesuatu yang menyelusup di hatiku semakin berdarah-darah.
It’s hard for me too, you know?
Aku tak pernah jatuh cinta dengan gadis lain. Pernah suatu ketika, aku merasa jatuh cinta dengan salah satu teman basketku. Sekilas, dia terlihat seperti Ara. Manis, tomboi, dan supel. Salah satu temanku, yang tahu aku beberapa kali mencuri pandang padanya, akhirnya mengenalkan kami berdua. Padahal temanku tahu jika aku tak lagi sendiri. Dia berdalih ‘tak ada salahnya menambah teman’. Yah, kupikir memang tak ada salahnya. Namanya Riana. Dua tahun di bawahku, setahun lebih muda dari Ara. Mulailah kami bertukar sapa sederhana tiap bertemu di lapangan. Yang lama-kelamaan merambah menjadi pesan singkat ‘hati-hati di jalan’ dan ‘jangan lupa makan’. Yang makin lama berubah menjadi telepon singkat hanya untuk sekadar memastikan masing-masing sudah sampai di rumah dengan selamat. Ya, awalnya kupikir aku jatuh cinta padanya. Aku pikir aku bisa mengiyakan omongan Ara tentang mencari perempuan yang lebih baik darinya. Ya, hanya awalnya.
Suatu hari aku tanpa sengaja mendengar Riana mengolok salah satu temanku, saat itulah aku sadar bahwa dia bukan Ara. Ara tak pernah mengolok temanku dengan sebutan hewan, meskipun dia sedang jengkel sekali pun. Seketika itu pula aku menjauh dari Riana. Pesan singkatnya tak pernah kubalas, chatnya langsung kuhapus, dan teleponnya tidak pernah kuangkat. Saking kesalnya dengan sikapku, Riana langsung menghampiriku ketika istirahat latihan. Aku ingat sekali saat itu lapangan sedang ramai. Dia tiba-tiba marah tak karuan. Mengataiku pemberi harapan palsu dan penggantung hubungan. Teman-teman Riana sibuk menenangkannya sambil memberikan tatapan memohon padaku. Entah apa yang mereka mohonkan dalam tatapan mereka padaku waktu itu. Aku tak begitu ambil pusing karena aku kembali turun ke lapangan untuk menyelesaikan latihanku. Ketika Riana sudah tenang, dia mendekat padaku, bertanya tentang alasanku yang tiba-tiba mengabaikannya. Dan dengan tanpa perasaan kujawab saja jika dia tidak semanis kelihatannya. Sejak saat itu pula aku kapok membandingkan Ara dengan perempuan mana pun di sekitarku.
Kutengok jam tanganku. Tiga puluh menit berlalu, dan mereka berdua belum kembali. Kulangkahkan kakiku ke arah balkon. Mengerling matahari yang sudah hampir di atas kepala. Tak seperti biasanya, kafe langganan kami sepi di lantai dua. Pelanggan yang dari tadi keluar masuk lebih memilih di lantai bawah. Mungkin karena panas hari ini begitu menyengat di kulit. Kuputuskan untuk membuka salah satu payung kafe untuk melindungiku dan chocolate milkshakeku. Angin semilir seketika membelaiku, membuatku menguap beberapa kali. Ah, mungkin ada baiknya kupejamkan mataku. Setidaknya aku tidak perlu melihat langsung jika Ara dan Ian bergandengan tangan dari kejauhan.
Ara tidak sempurna, sangat tidak sempurna. Dia cerewet, moody, sering minder, dan masih banyak lagi. Dia tidak seramah kelihatannya. Bahkan banyak yang mengatakan Ara terlihat judes ketika kamu belum mengenalnya. Tak jarang temanku bertanya alasanku pacaran dengannya, alasan kenapa aku betah dengannya. Aku selalu menjawabnya dengan tawa. Karena aku tahu seharusnya aku yang bertanya begitu pada Ara. Bagiku, pertanyaan itu terlalu mudah. Aku punya beribu jawaban dan alasan yang bisa membuatku jatuh cinta padanya. Tapi aku tak pernah tahu apa yang membuat Ara betah denganku, yang bengal dan bandel luar biasa. Aku tak pernah tahu alasan Ara tetap memilihku di antara banyak lelaki yang ada di sekitarnya. Dan sekarang, ketika ada lelaki teman dekatku yang jatuh hati padanya, aku baru sadar aku sudah tidak punya waktu untuk menanyainya.
“Chan!” kudengar Ara memanggilku sambil berlari menaiki tangga. Aku memicingkan mata. Antara panas, malas, dan takut sakit hati jika melihat Ian dan Ara datang bersama.
“Oh, kalian udah balik? Rame ya toiletnya?” tanyaku asal. Tiba-tiba saja Ara menampar pipiku. Sangat keras hingga berhasil membuatku membuka mata lebar-lebar.
“Kok...”
“Itu karena nyuruh Ian nembak aku. Kamu ini kenapa sih? Aku tuh pacarmu,” Ara terlihat sangat marah ketika mengatakannya. Aku menelan ludah. Aku tak suka membuat Ara marah.
“Iya, tapi kamu suka dia kan? Katamu dia baik,” aku mengelus pipiku yang panas. Shit! Jangan sampai aku ditampar lagi setelah ini.
“Iya, dia memang baik. Sangat baik jika dibanding kamu. Tapi, bukan itu masalahnya.”
“Lalu apa? Kan sudah jelas kalau kamu juga menyukainya,” aku bersikeras. Belum kudapati batang hidung Ian di sekitar kafe.
“Rasa sukaku ke Ian hanya sebatas kagum, Chan. Nggak lebih. Aku nggak bisa pacaran dengan dia hanya karena aku kagum padanya,” Ara menjelaskan padaku dengan raut putus asa. Aku ingat dia tadi pergi dengan rambut terurai. Sekarang dia sudah mengikat tinggi-tinggi rambut hitamnya itu. Persis seperti Ara yang membuatku luluh dulu. Aku tersenyum.
“Tapi dia lebih sabar dan perhatian, Chan. Dia emang jauh lebih baik dariku.”
“Tapi kamu yang jadi pacarku. I want you, not him!” Ara menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Aku sadar itu tandaku untuk berhenti. Tapi, rasa ingin tahuku menang lebih banyak daripada keinginanku untuk mengalah.
“Why?” tanyaku lugas. Ara membenamkan wajahnya dalam telapak tangan. Menutupi wajahnya dengan napas yang masih tak karuan.
“Chan, I told you that I love you for so many times. I mean it. Kamu emang bandel, rese, tukang gombal, semaunya sendiri, ngeselin, dan masih banyak yang lain. Tapi, itu kamu. Aku nggak mau kamu digantiin orang lain meskipun itu Ian sekalipun. I love you cause it’s you. Don’t you get it?” Ara menjawab pelan. Sangat pelan hingga aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Entah setan apa yang merasukiku, tapi aku bisa merasakan stroberi dalam mulutku. Ini lip balm Ara. Ara berusaha mendorong tubuhku tapi tenaga setanku jelas lebih besar dari kekuatan malaikat miliknya. Aku semakin hilang akal. Kuburu rasa manis di lidahku yang entah kenapa masih tak habis. Meskipun bibirnya bergetar, Ara pun menyerah. Menyambut bibirku dengan napasnya yang memburu. Bodoh, aku dan dia terlalu lama menjadi orang suci.
“Hey guys, please! Tidak kasihankah kalian denganku yang barusan patah hati ini?” celetukan Ian seketika menyadarkan kami berdua. Ara memelukku, menyembunyikan wajahnya dalam dadaku. Sebagai tanda karena dia malu sudah ketahuan melakukan dosa. Dan sebagai usahanya untuk mengatur napasnya yang sudah kubuat berantakan.
“Sorry. Aku hanya ingin menghapus lip balm pacarku dengan sangat cepat. Tiba-tiba aja aku nggak suka warnanya,” aku berkilah dengan setengah tertawa. Bisa kurasakan Ara juga tertawa dalam pelukanku.
“Fuck you, bro!” Ian mengacungkan dua jari tengahnya padaku. Tawaku malah mengeras. Kulihat Ian berjalan memutariku. Aku tahu dia akan menggoda Ara.
“Ara!” panggilnya manja sambil memainkan kucir kuda Ara. Tentu saja Ara langsung mencubit pinggang Ian dengan tanpa ampun. Sepertinya Ian harus mulai belajar jurus kebal cubitan juga mulai sekarang.
“Aw! Shit, man! Sakit tahu, Ra!” Ian mengelus-elus pinggangnya sembari merutuk meninggalkan kami berdua. Ara terkekeh tanpa sesenti pun mengalihkan wajahnya dari dadaku. Aku bisa membayangkan bagaimana merahnya wajah Ara karena dadaku sekarang mulai merasakan dampaknya. Aku mengelus kepalanya, kueratkan pelukanku di tubuhnya.
“Love you, babe!” ujarku lembut di telinganya. Ara tertawa pelan.
“I love you too, asshole!” bisiknya lirih. Yeah, setidaknya bukan hanya pahlawan yang bisa mendapat ciuman wanita cantik, right?
...***...