Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft 10,1
Ketika cahaya menghilang— ketika suara dengungan lingkaran sihir itu berhenti—
lingkaran sihir di lantai sudah tidak ada. Lantai kayu kembali normal, seperti tidak pernah ada apa-apa di sana.
Bunga putih, Requiem Flower, juga hilang. Tidak ada kelopak, tidak ada tangkai, tidak ada cahaya. Hilang tanpa jejak, seolah-olah memang tidak pernah ada.
Yamada berdiri sendirian di tengah kamarnya yang gelap, hanya diterangi cahaya bulan dari jendela yang terbuka. Tidak ada suara. Tidak ada cahaya sihir.
Tidak ada sistem yang berkedip merah. Tidak ada gambaran masa lalu.
Hanya dirinya. Dan kesadaran kedua yang diam di dalam kepalanya.
Yamada masih memejamkan mata, mencoba mencerna apa yang baru saja dia lihat.
Jadi... Suara Yamada yang asli terdengar lemah, sangat lemah, seperti seseorang yang baru saja melihat kematiannya sendiri dan kebangkitannya sendiri. Aku sendiri yang memilih untuk kembali. Aku yang membuat kontrak itu. Aku yang bilang 'apapun' harganya.
Yamada menatap lantai kosong tempat lingkaran sihir tadi berada.
"Sepertinya begitu. Kau yang ingin kembali melihat ibumu, melihat ayahmu, menepati janji pada kakakmu. Makanya perempuan itu menghidupkanmu... atau menghidupkan tubuhmu selama lima tahun."
Dan kau... Kesadaran kedua berhenti, suaranya bergetar. "Kenapa? Bagaimana kau bisa berada di sini, di dalam tubuhku yang seharusnya sudah mati dan sudah aku janjikan untuk kembali?"
Yamada terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak dia ketahui. Pertanyaan yang sama yang menghantuinya sejak dia bereinkarnasi.
"Aku mati." Jawabnya akhirnya, dengan suara pelan. "Ditabrak truk di duniaku. Lalu ada suara yang bilang Soul detected, lalu cahaya putih. Lalu aku bangun di sini. Di tubuhmu."
Itu bukan jawaban. Itu hanya kronologi. Bukan alasan. Kenapa harus tubuhku? Kenapa harus aku? Dari sekian banyak orang mati di dunia ini, kenapa jiwamu masuk ke tubuhku yang sudah mati lima tahun lalu?
"Aku tahu. Itu bukan jawaban yang memuaskan." Yamada duduk di tepi tempat tidur, dengan tubuh yang terasa sangat lelah, lelah secara fisik dan mental. "Aku juga ingin tahu. Kenapa jiwaku masuk ke tubuhmu? Kenapa bukan ke tubuh orang lain? Kenapa pas 5 tahun setelah kontrakmu selesai?"
Tidak ada jawaban dari dalam kepala. Tidak ada jawaban dari sistem yang masih diam.
"Kenapa sistem memilihku? Siapa perempuan rambut putih itu sebenarnya? Apakah dia dewi? Apakah dia penyihir?"
Tidak ada jawaban.
"Dan apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu di malam api hitam itu? Apa hubungan monster bertanduk tiga dengan perempuan rambut putih? Apa hubungan kakak Ren dengan semua ini?"
Tetap tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang masuk dari jendela.
Yamada menghela napas panjang, napas yang mengandung semua kebingungan dari dua kehidupan.
"Sepertinya kita punya banyak pekerjaan rumah. PR yang jauh lebih banyak daripada tugas sekolah yang ditanyakan Sato dulu."
Bukankah kau malas? Kenapa kau terdengar seperti ingin menyelesaikan semuanya? Suara itu bertanya, sedikit bingung dengan perubahan sikap Yamada.
Yamada terdiam sejenak, menatap bulan di luar jendela.
Kemudian tersenyum tipis, senyum lelah tapi tulus.
"Benar. Aku malas. Sangat malas. Seharusnya aku tidak peduli. Seharusnya aku tidur saja dan biarkan semuanya mengalir."
Lalu kenapa kau mau melakukannya? Kenapa kau mau mencari tahu siapa perempuan itu, siapa monster itu, apa yang terjadi lima tahun lalu?
Yamada melihat ke luar jendela, ke langit yang mulai berubah dari hitam pekat menjadi biru gelap, tanda fajar akan segera tiba. Angin pagi mulai berhembus.
"Karena kalau aku tidak melakukannya..." Dia mengepalkan tangan, tangan anak 15 tahun yang terluka, yang baru saja bertarung melawan monster Level 12. "...aku akan mati lagi. Dan kali ini, mungkin aku tidak akan bereinkarnasi lagi. Aku akan benar-benar hilang. Dan kau juga akan hilang. Dan ibu di bawah akan menangis lagi untuk kedua kalinya karena kehilangan anak yang sama."
Jawaban itu membuat kesadaran kedua diam, meresapi.
[Ding!]
Sistem akhirnya muncul kembali. Setelah beberapa menit hilang total setelah cahaya bunga itu, sistem muncul dengan suara yang jernih, tidak lagi serak atau error.
Kali ini tampilannya berbeda. Tidak berkedip merah, tidak rusak, tidak ada tulisan WARNING besar. Tampilannya bersih, biru muda yang tenang, stabil.
[System initialization complete. 100%]
[All primary functions restored. Soul link stable.]
Yamada menatap jendela transparan tersebut, dengan mata yang masih merah karena kurang tidur.
"Baru sekarang selesai? Setelah semua kekacauan tadi, setelah aku hampir mati dua kali, setelah aku melihat masa laluku yang bukan masa laluku, baru sekarang kau bilang complete?"
[Yes. Host compatibility issue has been resolved through external memory trigger - Requiem Flower.]
"Kenapa begitu lama? Dua hari untuk loading 100%? Sistem macam apa yang loadingnya dua hari?"
[Host compatibility issue: Two souls with same name, same body, but different origins caused system confusion. Requiem Flower forced synchronization.]
"Dan sekarang? Kondisinya bagaimana?"
[Synchronization stabilized at 64%. Will no longer decrease rapidly unless host enters forbidden zones.]
Yamada melihat status yang muncul otomatis di sampingnya.
[STATUS]
Name: Yamada
Age: 15
Race: Human
Level: 1
HP: 100/100
MP: 82/100
Strength: 11
Agility: 13
Intelligence: ??? (Hidden by Unique Trait)
Luck: 7
Skills:
• Basic Magic Analysis Lv.1 • Basic Swordsmanship Lv.1 • Danger Sense Lv.1
Unique Trait:
• Lazy Genius - Fully Active
Soul Synchronization: 64% (Stable)
Memory Reconstruction: 13% (Locked until next trigger)
Yamada mengerutkan kening, menatap angka-angka itu.
"Sistem." Panggilnya.
[Yes, Host?]
"Apakah tubuh ini benar-benar milikku sekarang? Milik kita? Milikku dan dia?"
Sistem diam cukup lama. Lebih lama dari biasanya. Jendela biru itu berkedip pelan, seolah-olah sedang mempertimbangkan jawaban yang paling aman.
Kemudian— dengan tulisan yang jelas, tanpa keraguan—
[Negative.]
Yamada membeku. Darahnya berdesir.
"Apa maksudmu negative?"
[This body belongs to neither soul currently residing in it. Neither Primary Soul (Unknown Origin) nor Secondary Soul (Native Origin) is the original owner of this body anymore.]
Yamada menatap layar, dengan mata melebar, tidak percaya.
"Jelaskan. Jelaskan dengan bahasa yang bisa dimengerti orang malas. Jangan pakai bahasa sistem."
[Information restricted. Insufficient authority to reveal true owner of this body.]
"Kenapa restricted lagi? Kenapa insufficient lagi? Kau kan sudah 100%!"
[Insufficient authority of host. True owner information is classified as Level 80+ information. Host is Level 1.]
Yamada mengusap wajahnya dengan kedua tangan, frustrasi.
"Kalau begitu aku punya satu pertanyaan terakhir, yang paling penting, yang seharusnya bisa dijawab Level 1 sekalipun."
[Proceed. Host may ask one question.]
"Siapa aku? Siapa sebenarnya aku? Apakah aku Yamada yang mati ditabrak truk? Atau aku Yamada anak desa yang mati lima tahun lalu? Atau aku orang ketiga yang tidak ada hubungannya dengan keduanya?"
Sistem tidak menjawab. Beberapa detik berlalu, yang terasa seperti menit. Lampu minyak yang padam tadi tiba-tiba menyala sendiri dengan api kecil, menerangi wajah Yamada yang tegang.
Kemudian sebuah jendela baru muncul. Bukan status, bukan quest, bukan skill, bukan warning.
Melainkan sebuah pesan, sebuah kartu identitas, dengan bingkai hitam.
[Identity Report]
[Name: Yamada]
[Origin: Unknown]
[Soul Classification: Irregular - Two souls merged, one soul missing.]
[Designation: ??? - Not Yamada, Not Ren, Not the White Witch's Child.]
[True Name: Data Expunged by External Entity.]
Yamada menatapnya, membaca berulang-ulang.
"...Bahkan namaku saja tidak bisa kau jelaskan. Bahkan sistem yang katanya 100% complete tidak tahu siapa aku sebenarnya."
[Correct. True identity is beyond system scope. System was not designed to identify you.]
Yamada tertawa kecil, tawa yang pahit, tawa lelah, tawa seorang pemalas yang akhirnya menemukan masalah yang benar-benar tidak bisa diselesaikan dengan tidur.
"Bagus. Sangat bagus. Jadi aku bereinkarnasi ke tubuh orang lain yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu, tubuh itu ternyata bukan milikku dan bukan milik teman sekamarku, dan bahkan sistem yang membawaku ke sini tidak tahu siapa aku. Sempurna. Ini adalah awal yang sangat sempurna untuk kehidupan kedua yang katanya ingin hidup lebih santai."
Dia berdiri dari tempat tidur, mematikan jendela sistem dengan kibasan tangan, membiarkan kegelapan kamar kembali.
"Kalau begitu aku akan mencari jawabannya sendiri. Dengan cara paling malas yang bisa kupikirkan: hidup dulu, bertahan dulu, nanti jawabannya akan datang sendiri kalau kita terus berjalan."
Dia tidak tahu apakah kata-kata itu untuk dirinya sendiri, untuk teman sekamarnya di dalam kepala, atau untuk perempuan rambut putih di luar jendela.
Pintu kamar terbuka pelan, dengan derit kecil.
Ibunya berdiri di luar, dengan celemek yang sudah dipakai, wajah yang masih sedikit bengkak karena menangis semalaman, tapi tersenyum lembut. Di tangannya ada handuk bersih.
"Kau sudah bangun? Tidak tidur semalaman ya? Matamu merah." Tanyanya pelan.
"Ya. Tidak bisa tidur. Banyak nyamuk." Jawab Yamada, dengan alasan malas yang paling klise.
"Kau tidur dengan baik?" Ibunya bertanya lagi, masuk ke kamar dan membuka tirai jendela lebih lebar, membiarkan cahaya fajar masuk.