Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kebenaran pahit
"Tempat ini terlihat sangat megah," gumam Airyn terkagum-kagum saat mereka baru saja tiba di sebuah pelataran luas.
Rumah-rumah di area ini dibangun dengan gaya bertingkat yang menjulang tinggi serta berarsitektur mewah.
Cassian sudah lebih dahulu memperkenalkan kawasan tersebut pada para Aetherist muda lainnya, kecuali Airyn, Flora, dan William yang melangkah agak tertinggal di barisan belakang.
"Ini adalah distrik Dewan Asteria. Rumah-rumah yang berukuran raksasa itu milik para bangsawan. Sementara rumah yang bentuknya lebih sederhana di sebelah sana adalah kediaman para profesor, guru, ataupun tenaga medis," terang Fin pada ketiganya.
"Kalau untuk murid sepertimu, Fin?" tanya William penasaran.
"Kami tinggal di asrama akademi. Tapi murid yang berasal dari kota ini diperbolehkan tinggal di rumah masing-masing," Jelas Fin ramah.
Cassian menoleh ke arah rombongan. "Para tamu terhormat, kediaman pribadi saya berada tak jauh dari sini. Mari singgah, saya akan menyajikan hidangan sarapan terbaik untuk kalian."
"Tentu saja aku mau, Paman! Makanan yang disediakan tempat ini terlalu sederhana," balas Stella antusias tanpa ragu.
Fin buru-buru menyela dengan sopan, "Mohon maaf, Tuan Cassian. Tapi Profesor Alistair telah mengutusku untuk membawa seluruh Aetherist ke akademi. Mereka diminta untuk sarapan di kantin akademi."
"Hei! Kenapa tidak boleh?! Siapa kau berani melarang?!" bentak Stella keras kepala. "Ayo Paman, kita pergi saja!"
"Aku mencari kalian ke mana-mana, ternyata kalian ada di sini."
Sebuah suara anggun mendadak menyela. Airyn mendongak dan menemukan sosok Seraphina melangkah mendekat. Jubah putih kremnya yang panjang menjuntai hingga menutup kaki, membungkus figur anggun sang Kepala Divisi Medis.
"Ah, Profesor Seraphina! Saya hanya berniat mengundang para tamu agung ini ke kediaman saya. Tapi bocah ingusan ini malah menahan langkah kami," tuduh Cassian seraya menunjuk Fin yang menunduk kaku.
Seraphina melangkah mendekati Fin. Dengan penuh kehangatan, wanita itu menepuk pundak Fin dan mengelus pelan rambutnya.
"Kerja bagus untuk hari ini, Fin," puji Seraphina lembut, yang langsung dibalas senyuman lega oleh pemuda itu.
Seraphina kemudian berbalik menatap Cassian dengan raut tegas. "Saya yang akan mengambil alih dari sini, Tuan Cassian. Anda dipersilakan kembali ke kediaman Anda."
"Tapi—"
"Mereka berada di sini sebagai murid dan perwakilan wilayah, Tuan Cassian. Bukan tamu pribadi yang bisa Anda jamu seenaknya," pangkas Seraphina tanpa memberi ruang debat.
Mengertakkan gigi menahan malu, Cassian akhirnya menunduk memberi hormat kaku, lalu berbalik pergi meninggalkan rombongan.
"Paman Cassian!" panggil Stella, namun pria itu terus melangkah cepat tanpa memalingkan wajah.
"Anak-anak, ikuti saya ke gedung akademi sekarang. Kalian pasti sudah lapar," ajak Seraphina seraya memimpin jalan bersama Fin.
Airyn, Flora, dan William segera menyusul, sementara yang lain mengekor di belakang. Stella berjalan paling akhir dengan raut wajah bersungut-sungut kesal.
"Perlu kalian ketahui, Anak-Anak... di dalam Kota Asteria tidak ada kendaraan atau kereta kuda. Seluruh warga dan dewan terbiasa berjalan kaki untuk menjaga kebersihan kota," jelas Seraphina saat mereka melintasi jalanan batu berukir yang mengkilap.
Tak berapa lama, sebuah kompleks bangunan megah beratap tinggi yang dikelilingi gerbang besi menjulang menyambut mereka. Para pengawal gerbang langsung membungkuk hormat dan membukakan akses begitu melihat Seraphina datang.
Dari pintu gerbang menuju bangunan utama, mereka melintasi jalan setapak berkerikil putih yang dipayungi rimbunnya pepohonan mahoni tua.
"Selamat datang di Akademi Asteria," tutur Seraphina seraya mendorong pintu kayu raksasa menuju koridor utama.
Sebuah lorong tinggi nan luas menyambut kedatangan mereka. Karpet beludru merah membentang panjang di sepanjang lantai. Beberapa murid akademi yang berpapasan sempat menghentikan langkah, membungkuk hormat, sebelum akhirnya saling berbisik heboh melihat kehadiran para penguasa elemen.
Dinding koridor yang dicat putih bersih dihiasi oleh deretan bingkai foto dan lukisan bersejarah. Airyn mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah lukisan besar. Delapan sosok dengan ciri fisik unik tampak berdiri merangkul satu sama lain seraya menyunggingkan senyum bangga.
"Itu adalah potret para Aetherist generasi pertama saat mereka berhasil menciptakan Aetherwall dan mengamankan benua bagi umat manusia," tutur Seraphina lembut saat menyadari pandangan Airyn yang dalam.
Airyn menggeser langkahnya mengamati bingkai-bingkai foto di sebelahnya yang menampilkan para Aetherist dari generasi ke generasi. Namun, urutan potret itu mendadak terputus, menyisakan tembok bagian ujung yang kosong melompong tanpa ada lukisan apa pun.
"Foto kakekku saja tidak ada di dinding ini," cetus Stella yang mendadak berdiri di sebelah Airyn dengan nada dingin.
"Kenapa deretan fotonya terhenti di sini, Nona..maksudku profesor Seraphina?" tanya Airyn polos, murni karena penasaran.
Seraphina terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah keruh dan ragu untuk menjawab.
"Tentu saja terhenti! Itu semua gara-gara nenekmu, bukan?!" potong Stella tajam, menatap Airyn penuh permusuhan.
"Apa maksudmu?!" Airyn berbalik menantang Stella, mengikis jarak. Sorot mata emas Airyn mendadak menggelap, memancarkan ketegasan yang membuat Stella sempat tersentak ciut.
Kemarin Raja Horus dari Solaria juga menyindir Lilyan dan sekarang Stella ikut menyalahkan neneknya. Sebenarnya peristiwa apa yang telah terjadi puluhan tahun lalu?
"Sudah, Sudah! Mari kita ke kantin sekarang," buru-buru Seraphina memotong percekcokan itu dan mengalihkan pembicaraan, melangkah cepat menuju persimpangan koridor sebelah kiri.
Stella mendengus gusar lalu mengekor di belakang Seraphina.
"Ayo, Airyn..." bisik Flora seraya merangkul pelan lengan Airyn.
"Jangan hiraukan ucapan Stella," timpal William di sampingnya.
Airyn menatap William lekat-lekat. "Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, William?"
William mengangkat kedua tangannya ke udara seraya mengangkat bahu, memasang gestur tidak tahu-menahu.
Tak puas, Airyn berbalik menatap sahabat di sebelahnya. "Flora... apa kau tahu sesuatu?"
Flora seketika menundukkan kepala dalam-dalam, menolak bertatap mata dengan Airyn. Melihat kebisuan itu, dada Airyn makin bergemuruh, Flora jelas-jelas mengetahui kebenarannya.
"Tolong jawab aku, Flora. Kau orang yang paling aku percayai di sini," desak Airyn pelan namun menuntut.
Flora perlahan mendongak menatap Airyn. Dari balik bahu itu, Flora bisa melihat William menggelengkan kepalanya kuat-kuat, memberi isyarat agar gadis itu tetap bungkam.
Namun Flora mendesah pasrah. "Aku... aku tidak bisa menyembunyikannya dari Airyn."
TAK!
William menepuk jidatnya sendiri di belakang.
Dengan suara bergetar, Flora menyampaikan kebenaran yang akan terasa pahit bagi Airyn.
"Dari cerita yang menyebar selama beberapa generasi... Ratu Lylian dari Tidebay dianggap sebagai sosok utama yang memecah aliansi dan merusak hubungan persaudaraan para Aetherist di benua ini."
DEG.
Airyn membeku seketika. Langkah kakinya memaku di atas karpet beludru, seolah seluruh pasokan udara di paru-parunya melenyap secara mendadak.
"T-tidak mungkin... Aku tidak percaya Nenek melakukan hal seburuk itu," bisik Airyn terbata-bata, berusaha keras menyangkal kenyataan.
William melangkah mendekat, memegang bahu Airyn. "Tenanglah, Airyn. Itu hanya cerita seperti legenda, bisa saja bias atau salah."
Namun otak Airyn terus berputar liar. Neneknya, Lylian—adalah alasan di balik perpecahan para Aetherist generasi lalu. Itu sebabnya lukisan para penguasa elemen di dinding koridor terputus.