Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Meja Makan Lebaran
Di rumah kami, posisi duduk saat Lebaran lebih jujur daripada ucapan maaf lahir batin.
Mbak Laras duduk di sebelah Ibu, tepat di bawah foto keluarga yang paling besar. Tunangannya duduk di kanan Ayah, di kursi yang biasanya disimpan untuk tamu penting. Para paman dan bibi memenuhi sisi panjang meja.
Aku?
Aku berdiri di dekat dapur sambil memegang mangkuk opor yang panasnya menembus kain lap.
"Sekar, jangan melamun. Ketupatnya kurang," tegur Ibu.
"Iya, Bu."
Aku menaruh opor, mengambil piring kotor, lalu kembali ke dapur. Begitulah cara termudah agar tidak ada yang bertanya kenapa lulusan baru sepertiku masih belum punya pekerjaan. Bukan karena mereka sungkan. Mereka hanya terlalu sibuk menanyakan promosi Mbak Laras, rencana pernikahannya, dan gedung mana yang pantas untuk resepsi.
"Calon menantunya Bu Endang bukan orang sembarangan," kata Budhe Sari, cukup keras agar semua orang mendengar. "Wirajaya Group itu perusahaannya ada di mana-mana, ya?"
"Damar tidak suka membesar-besarkan urusan keluarga," jawab Mbak Laras, tetapi senyumnya mengembang.
Pria di sampingnya hanya mengangkat gelas teh. "Saya masih belajar banyak dari keluarga."
Rendah hati, tampan, kaya raya. Paket lengkap yang membuat para ibu lupa mengunyah.
Damar Wirajaya mengenakan kemeja putih sederhana. Jam tangannya mungkin bisa membayar cicilan rumah kami selama beberapa tahun, tetapi ia tidak pernah meliriknya. Wajahnya tenang, suaranya datar, dan setiap jawaban keluar seolah sudah ditimbang sebelum diberikan.
Aku baru bertemu dengannya hari ini. Itu seharusnya tidak penting.
"Hadiah dari Mas Damar belum dibuka semua, Bu?" Bulik Yah menunjuk tumpukan kotak di meja ruang tamu.
Wajah Ibu langsung bersinar. Sejak pagi, tumpukan itu menjadi pusat rumah kami. Ada kain batik untuk Ayah, mukena untuk Budhe Sari, kurma premium untuk Pakdhe Warto, tas untuk Bulik Yah, dan kotak beludru panjang untuk Ibu.
Ibu membukanya lagi, meski semua orang sudah melihat isinya dua kali.
Kalung emas koleksi Dewi itu menangkap cahaya lampu dan memercikkannya ke dinding. Halus, berat, dan jelas terlalu mahal untuk dipakai belanja ke pasar.
"Aduh, Mas Damar," kata Ibu sambil menyentuh dada. Matanya berkaca-kaca. "Ibu sampai tidak enak menerimanya."
Tangannya tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengembalikan kotak itu.
"Tidak seberapa, Bu," jawab Damar.
"Sekar dapat apa?" tanya Bulik Yah tiba-tiba.
Sendok yang kupegang beradu dengan bibir piring.
Ruangan menjadi hening selama satu detik. Hanya satu detik, tetapi cukup untuk menghitung semua kotak dan memastikan tidak ada namaku di sana.
Ibu tertawa lebih dulu. "Sekar belum bekerja. Dia juga jarang pergi ke mana-mana. Buat apa barang mahal? Nanti malah tidak terpakai."
"Benar juga," sahut Budhe Sari. "Kalau sudah dapat kerja, baru beli sendiri. Biar belajar mandiri."
Aku tersenyum. Senyumku sudah terlatih sejak kecil, tipis dan tidak menuntut siapa pun merasa bersalah.
"Aku memang nggak butuh apa-apa, kok."
Mbak Laras menoleh kepadaku. Ada sedikit rasa tidak enak di matanya, tetapi Pakdhe Warto segera bertanya tentang rencana lamaran. Perhatian semua orang berpindah seperti kipas angin yang diputar menjauh dariku.
Lebih baik begitu.
Aku membawa piring nasi terakhir dan duduk di kursi paling ujung, separuh terhalang lemari pajangan. Lauk yang tersisa tinggal kuah opor dan sambal. Aku tidak protes. Di keluarga ini, protes hanya membuat Ibu mengingat daftar panjang pengorbanannya membesarkanku.
Saat sendokku menyentuh nasi, sesuatu yang kuning muncul dari bawahnya.
Telur mata sapi.
Di bawah telur itu ada dua potong rendang yang sengaja disembunyikan.
Aku menoleh ke seberang. Ayah sedang menuangkan teh untuk Pakdhe Warto. Ia tidak melihatku, tetapi ujung bibirnya bergerak sedikit.
Itu bahasa rahasia kami.
Ketika aku kecil dan Ibu memberikan paha ayam terakhir kepada Mbak Laras, Ayah menyelipkan telur ke dasar mangkukku. Saat uang sekolah menipis dan Ibu berkata seragam lama Mbak Laras masih bagus untukku, Ayah menyimpan pisang goreng di garasi. Kasih sayangnya selalu bersembunyi, seolah mencintaiku adalah kesalahan yang perlu dilakukan diam-diam.
Aku memotong telur itu kecil-kecil agar habisnya lebih lama.
"Sekar baru lulus dari UNAIR, kan?"
Suara Damar membuat sendokku berhenti.
Semua orang memandangku. Damar juga.
"Iya," jawabku.
"Jurusan manajemen proyek?"
Aku mengerutkan kening. Bahkan beberapa kerabatku tidak ingat jurusanku. "Iya, Mas."
"Sudah ada tempat yang dituju?"
Sebelum aku sempat menjawab, Ibu menyela, "Belum. Anak ini pilih-pilih. Sudah Ibu bilang, jangan gengsi mulai dari bawah. Lihat Mbak Laras, sebelum lulus saja sudah diterima kerja."
Tawa kecil mengitari meja. Tidak semuanya jahat. Justru itu yang lebih menyakitkan. Merendahkanku sudah menjadi kebiasaan bersama, seperti mengoper stoples nastar.
Damar tidak ikut tertawa.
Tatapannya tetap padaku. Hitam, tenang, dan terlalu lama.
Aku menunduk, menyuap nasi meski tenggorokanku mendadak sempit. Di bawah meja, jemariku meremas ujung baju Lebaran bekas Mbak Laras yang telah dipermak dua kali agar pas di tubuhku.
"Dia akan dapat pekerjaan yang sesuai," kata Ayah pelan.
"Kamu selalu membelanya," gerutu Ibu.
"Saya bisa meminta tim kami melihat CV-nya," ujar Damar.
Aku langsung mengangkat kepala. "Nggak perlu, Mas. Terima kasih."
Jawabanku terlalu cepat. Alis Ibu terangkat, tetapi Damar hanya menyandarkan punggung.
"Baik," katanya.
Satu kata. Tidak tersinggung, tidak memaksa.
Namun tatapannya turun ke tanganku yang masih menggenggam kain baju, lalu kembali ke wajahku. Seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang sejak tadi dicari.
Aku bangkit dengan alasan membawa mangkuk kosong. Di dapur, suara pujian kembali mengalir. Nama Damar disebut berkali-kali, disusul tawa Ibu yang lebih cerah daripada sepanjang tahun lalu.
Aku mencuci piring terlalu cepat. Air sabun membuat gelas hampir terlepas dari tangan.
"Capek, Nak?"
Ayah berdiri di ambang dapur.
Aku menggeleng. "Biasa."
Ia melirik ke ruang makan, lalu mendorong piring kecil berisi sepotong lapis legit ke arahku. "Yang ini Ayah simpan sebelum habis."
Dadaku menghangat sekaligus nyeri. "Ayah makan saja."
"Ayah sudah manis." Ia menepuk perutnya dan tersenyum kikuk. "Kamu makan di belakang, biar tenang."
Aku membawa piring itu ke pintu dapur dan duduk di anak tangga yang menghadap halaman sempit. Udara sore Bandung lembap setelah hujan singkat. Dari dalam rumah, Budhe Sari sedang menghitung berapa banyak tamu yang pantas diundang ke lamaran Mbak Laras.
Untuk beberapa menit, aku bisa bernapas.
Pintu kaca di belakangku memantulkan ruang makan. Kalung emas Ibu berkilau. Mbak Laras tertawa sambil menunduk. Damar duduk di antara keluargaku seperti seseorang yang memang seharusnya berada di sana.
Lalu, dalam pantulan itu, kepalanya berbalik.
Ia menatap lurus ke arahku.
Bukan kepada Mbak Laras. Bukan kepada siapa pun yang sedang berbicara dengannya.
Kepadaku.
Tatapan hitam itu menembus kaca, diam dan tak berkedip, sampai rasa manis kue di lidahku berubah pahit.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku berharap Damar Wirajaya benar-benar lupa membawakanku hadiah.