“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Intan berdiri di depan cermin sambil memoleskan lipstik tipis ke bibirnya.
Senyum kecil terbit di wajah wanita itu.
Sudah beberapa hari terakhir pikirannya hanya dipenuhi satu nama.
Permana.
Suami baru Tiara.
Pria yang, menurut kabar yang beredar, jauh lebih mapan daripada Haikal. Bukan sekadar memiliki uang, tetapi juga memiliki perusahaan, rumah besar, kendaraan mewah, dan kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupan Haikal sekarang.
Sementara Haikal?
Intan mendengus pelan.
Pria itu sudah jatuh miskin. Pabriknya disita karena utang. Kondisinya juga semakin buruk setelah penyakit menyerang tubuhnya.
Intan tidak mau menghabiskan sisa hidupnya bersama pria yang tidak lagi mampu memberinya apa-apa.
"Haikal sudah tidak berguna," gumamnya.
Ia mengambil tas kecilnya.
"Saatnya mencari Daddy baru."
Sudut bibirnya terangkat.
Dan siapa lagi yang lebih cocok daripada Permana?
Pria itu sudah menikahi Tiara.
Wanita yang dulu menurut Intan terlalu beruntung.
Tiara sudah pernah menjadi istri Haikal.
Kini Tiara kembali mendapatkan kehidupan yang lebih baik bersama Permana.
Intan merasa tidak terima.
"Sangat menyenangkan kalau aku bisa menyingkirkan orang yang sama dua kali."
Tatapannya berubah tajam.
Dulu Tiara kehilangan Haikal karena dirinya.
Sekarang, Intan ingin merebut Permana dari Tiara.
Ia tahu, rencananya tidak akan mudah.
Permana bukan pria bodoh.
Karena itu, Intan tidak berniat menyerang secara terang-terangan.
Ia akan mendekati perlahan.
Membuat Permana terbiasa melihatnya.
Membuat pria itu merasa iba.
Kemudian membuat dirinya terlihat sebagai wanita yang membutuhkan pertolongan.
Setelah itu, semuanya akan menjadi lebih mudah.
---
Sore itu, Intan sengaja datang ke sebuah pusat perbelanjaan tempat Permana biasa mengurus beberapa urusan bisnis.
Ia sudah mengetahui kebiasaan pria itu dari informasi yang didapatkannya.
Dan keberuntungan berpihak kepadanya.
Dari kejauhan, Intan melihat Permana berjalan keluar dari sebuah toko.
Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana panjang gelap. Satu tangannya memegang ponsel. Langkahnya santai, seolah tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengawasinya.
Intan langsung mengambil sebuah cup kopi dari meja kafe.
Ia menarik napas.
Inilah kesempatan.
Ia berjalan mendekat.
Semakin dekat.
Kemudian—
Bruk!
Tubuh Intan sengaja menabrak bahu Permana.
Cup kopi di tangannya terlepas.
Cairan cokelat itu tumpah membasahi bagian depan kemeja Permana.
"Oh!"
Intan berpura-pura terkejut.
Permana menghentikan langkah.
Ia menatap bajunya yang terkena noda kopi, lalu memandang Intan.
"Maaf. Aku tidak sengaja."
Intan terdiam sejenak.
Kemudian wajahnya berubah seolah-olah sangat kesal.
"Bapak harus tanggung jawab!"
Alis Permana terangkat.
"Tanggung jawab?"
"Iya!"
Intan menunjuk pakaiannya sendiri.
"Jangan hanya minta maaf. Lihat pakaianku!"
Permana menatapnya.
Noda kopi memang mengenai sebagian pakaian Intan.
Namun, pria itu segera menyadari sesuatu.
Posisi tumpahan kopi itu terlalu tepat.
Seolah-olah cup tersebut memang sengaja diarahkan kepadanya.
Tetapi Permana tidak mengatakan apa-apa.
"Kalau begitu, aku akan mengganti biaya cucinya."
Intan menggeleng.
"Itu tidak cukup."
"Jadi?"
Intan menatap jas yang dikenakan Permana.
"Aku malu dilihat orang dalam keadaan seperti ini."
Ia kemudian tersenyum tipis.
"Setidaknya beri aku jas Bapak untuk menutupi pakaianku yang kotor."
Permana langsung menggeleng.
"Tidak bisa."
Intan mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Aku tidak memberikan pakaianku kepada sembarang orang."
Intan tertawa kecil.
"Bukankah hanya jas? Aku akan mengembalikannya."
Permana memasukkan ponselnya ke saku.
Kemudian ia merogoh dompet.
Beberapa lembar uang dikeluarkannya dan diberikan kepada Intan.
"Beli saja baju baru."
Intan menatap uang tersebut.
Wajahnya seketika berubah.
Ia sebenarnya berharap Permana memberikan jasnya.
Dengan begitu, ia bisa menciptakan alasan untuk bertemu lagi.
Mengembalikan jas.
Mengajak makan.
Mengucapkan terima kasih.
Lalu perlahan masuk ke kehidupan pria itu.
Namun Permana justru memberikan uang.
"Ini..." Intan menerima uang tersebut dengan wajah kaku.
"Gunakan untuk membeli pakaian."
Permana kemudian berkata dengan nada datar.
"Selain istriku, tidak ada yang boleh memakai barang saya."
Seketika senyum Intan menghilang.
Kalimat itu seperti tamparan.
Permana bahkan tidak menyebut nama Tiara.
Namun Intan tahu persis siapa yang dimaksud.
Istriku.
Tiara.
Wanita yang ingin disingkirkannya.
Intan menggigit bibir.
"Pak, aku hanya..."
Permana sudah berbalik.
Tetapi sebelum pergi, ia berhenti sejenak.
Tatapannya kembali kepada Intan.
"Dan lain kali, hati-hati membawa minuman."
Intan tersenyum paksa.
"Tentu."
Permana pergi tanpa menoleh lagi.
Begitu pria itu menghilang di balik kerumunan, wajah Intan berubah total.
Tangannya mengepal.
"Dasar!"
Ia menatap uang di tangannya.
"Pria sombong."
Ia bahkan tidak berhasil menyentuh jas Permana.
Tidak berhasil membuat pria itu merasa iba.
Tidak berhasil mendapatkan alasan untuk bertemu kembali.
Sebaliknya, Permana justru sudah membaca gerak-geriknya.
"Wanita penggoda?"
Intan terdiam.
Ia tidak tahu apakah Permana benar-benar menganggapnya demikian.
Namun dari tatapan pria itu tadi, ia yakin Permana sudah mencurigainya.
Intan memasukkan uang ke dalam tas.
"Belum selesai."
Senyumnya kembali muncul.
"Aku tidak akan menyerah hanya karena gagal sekali."
Ia menatap ke arah Permana pergi.
"Tiara..."
Namanya diucapkan dengan penuh kebencian.
"Kamu sudah dua kali mendapatkan kehidupan yang seharusnya bisa menjadi milikku."
Intan menarik napas panjang.
"Pertama Haikal."
Kemudian ia tersenyum licik.
"Sekarang Permana."
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Dalam pikirannya, rencana baru mulai terbentuk.
Jika Permana tidak mudah ditaklukkan dengan rayuan, mungkin ia harus menggunakan cara lain.
Mungkin membuat Tiara cemburu.
Mungkin menciptakan masalah.
Atau mungkin...
Membuat Permana percaya bahwa Tiara sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Intan tersenyum.
"Permainan baru saja dimulai."
Bersambung....