Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Ok! Deal! Nomor rekening!" kata Candra pada Auri.
Auri membuang nafas lega. Akhirnya lelaki yang sejak tadi membuat moodnya naik turun akan segera pergi.
"Minta sama Siti saja. Atas nama rekening AM digital printing."
Candra yang tadi menunduk memperhatikan ponselnya menoleh pada gadis ayu yang kembali sibuk di depan komputer nya.
"Katanya Lo owner nya, masa kagak hafal nomor rekening sendiri?"
Auri mengangkat wajahnya.
"Rekening pribadi sama operasional usaha jelas beda lah. Katanya pengusaha, gitu aja ngga tahu!"
Candra mengeratkan rahangnya.
"Hei...Lo pikir gue ga tahu? Jelas lebih tahu gue kali! Gue transfer pake rekening pribadi gue juga bakal di ganti sama kantor nanti. Ini juga kalo ngga urgent di suruh bokap, ogah gue talangin."
Auri memutar bola matanya dengan malas.
"Iya aja deh! Udah sana ke Siti aja!" usir Auri. Candra berdecak lalu berjalan menghampiri Siti untuk scan barcode.
"Udah ya! Inget, jangan sampe seminggu!" pinta Candra.
"Ya kak, insyaallah di usahakan secepatnya. Apalagi teh Auri langsung yang nanganin!" kata Siti.
Candra mengangguk pelan.
Ia kembali mendekat pada Auri.
"Kok masih di sini? Ngapain lagi?" tanya Auri.
Bukannya menjawab, Candra kembali duduk di bangku yang tadi ia duduki.
"Lo kenapa ga kerja?"
"Kerja lah, ini apa?" tanya Auri balik.
"Ckkkk! Ngga ngajar!" Auri memperbaiki pernyataannya.
"Heum, lagi ngga mood!" sahut Auri sekenanya.
"Buset, ngajar sesuai mood! Gimana anak didik Lo ntar!"
Auri melirik sekilas tanpa ingin membuka percakapan lagi. Tapi dasar Candra, sosok yang biasa di kejar kaum hawa merasa harga dirinya jatuh saat di abaikan oleh seorang Auri.
Jiwa kepo nya datang lagi. Mengingat kemarin saat mereka bertengkar, ia mendapati fakta jika Om Estu merupakan papa dari Auri.
Salahkah kalo ingin bertanya?
"Ishhhh! Cewek model Lo jadi guru kek apa ngajarin nya? Apalagi muridnya kebanyakan ****diot! Ca**t! Dan...."
"Sssttttt! Bisa diem ngga?"
Candra sedikit terkejut tapi mungkin lama-lama terbiasa sejak tadi eh...sejak kemarin.
"Mereka memang punya kekurangan, tapi bukan berarti kamu bebas menghina dan merendahkan mereka seperti itu! Mereka memang berkebutuhan khusus, ngga sesempurna kamu! Tapi bukan berarti kamu bebas mengolok-olok kekurangan mereka dong! Pendidikan ngga menjadi acuan punya attitude yang baik!" kata Auri panjang lebar.
Candra menelan ludahnya perlahan. Dalam hati, ia juga tak bermakna merendahkan anak-anak berkebutuhan khusus itu. Tapi ia memang rasanya puas saja kalau meledek Auri.
"Weeey....sabar bro! Kalem kenapa!" Candra mengangkat kedua tangannya.
"Ishhhh! Udah ah sono pergi, besok-besok kalo udah jadi juga di kabarin. Kalo perlu nanti aku anterin ke TKP!"
"Buset! Ngeri banget TKP kaya lagi nanganin kasus!"
"Ya Allah Gusti nu Agung...." Auri menepuk dadanya pelan-pelan.
Candra terkekeh pelan.
"Btw, gue jadi nemenin Lo kondangan kan ke nikahan mantan Lo itu?''
Auri melirik lalu membuang nafasnya perlahan.
"Ngga tau!'' jawabnya singkat.
"Heum...ngga kuat liat dia bersanding sama cewek lain?"
"Apaan sih...?'' Auri mendengus sebal.
"Dateng aja, gue temenin. Free kok. Tunjukkin ke mereka kalo Lo udah move on. Bahkan gue jauh di atas segala-galanya dari mantan Lo itu!''
"Narsis!''
"Hey...emang gue sama sekali gak menarik di mata Lo?''
"Nggak! 'B' aja!''
Siti dan kawan-kawan hanya bisa menguping mendengar obrolan bosnya tersebut. Tapi sesekali mereka saling melirik seolah kode untuk mengobrol seperti apa yang ada di benak mereka hanya saja dengan mode diam.
Candra ternganga tak percaya.
"What?''
Auri mengernyitkan alisnya.
"Apalagi sih? Udah sana pulang!''
"Iya ih...gue balik!''
"Ntar kalo aku berubah pikiran soal ke nikahan Ikhsan, aku chat kamu!'' kata Auri pelan. Namun ia memalingkan wajahnya tak menatap lawan bicaranya tersebut. Akhirnya muncul senyum sinis dari bibir Candra.
"Gengsi benget deh, heran gue!''
Auri menatap wajah tampan dan manis itu sekilas.
"Udah kan?''
"Belom, satu lagi!''
"Apalagi sih?''
"Kenapa Lo ngga ngajar?"
"Kena teguran atasan. Off ngajar tiga hari.''
"Itu sekolah swasta? Main off aja? Alasannya apa?''
"Gara-gara proyek kamu'' jawab Auri. Candra yang tadi tertawa tengil, kini wajahnya berubah.
"Apa ada kaitannya sama kamu yang nyamperin ke proyek? Atasan mu menegurmu sampai di off kan tiga hari?''
"Heum!'' jawab Auri singkat. Candra menggigit kuku jempolnya dan menatap gadis ayu tersebut.
"Eum...kamu bisa minta Om Estu...''
"Ngga perlu! Lebih baik sekarang kamu pulang, kami di sini banyak kerjaan!'' kata Auri yang kembali menyibukkan diri dengan komputernya.
Candra menghela nafas perlahan.
"Oke, gue balik! Kabarin aja kalo udah beres sama buat acara ke undangan mantan Lo!''
"Heum!'' gumam Auri.
Candra pun keluar dari ruangan berAC tersebut. Pemuda itu pun langsung masuk ke dalam mobilnya lalu perlahan mundur hingga setelahnya meluncur ke jalan raya.
Candra mendadak teringat pertengkaran Auri dan Estu. Sepertinya memang keduanya memiliki hubungan yang kurang baik atau bahkan tidak baik.
"Ishhh! Ngapain gue peduli sama tuh cewek galak! Mana gue nawarin dia ke undangan lagi'' Candra meremas setirnya. Rasanya ada yang aneh dalam dirinya setiap bertemu dengan gadis ayu tapi galak tersebut.
*******
Terimakasih