azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
enam
Sudah 4 bulan usia Rania, bayi mungil itu juga terlihat gembul dengan pipinya yang tembem. Setiap hari perkembangan Rania membuat Azalea jatuh cinta.
Azalea selalu bahagia, walau ocehan dari bayi itu belum jelas, namun membuat Azalea bahagia melihatnya.
Penampilan Azalea juga sedikit berubah, rambut bondolnya mulai memanjang melewati lehernya.
Walau di rumah penampilannya masih dengan gaya tomboy dengan celana dan kaos oblong over sizenya, namun jika keluar rumah saat Kiano mengajaknya keluar, Azalea mengurangi penampilan tomboynya itu. Yah walau Kiano belum pernah mengajaknya ke sebuah acara resmi untuk menunjukkan kalau Azalea adalah istrinya.
Azalea pagi itu bangun sedikit terlambat, mendadak malam tadi Rania sedikit rewel. Azalea subuh terlambat, keluar kamar perlahan dan hati-hati takut Rania terbangun lagi.
"Mass " serunya sedikit kaget, Kiano duduk di kursi makan dengan menyangking gelas kopinya.
Kiano menoleh, pria itu hanya mengangguk.
"Maaf aku bangun telat, tadi malam Rara sedikit rewel"
Azalea membuka lemari pendingin, mengeluarkan telur dan lainnya.
"Tadi malam Mas pulang jam berapa?"
"Aku pulang jam 10, di kantor lagi banyak kerjaan Za"
Azalea tidak menjawab, namun tangannya dengan lincah mulai mengolah bumbu untuk membuat nasi goreng.
"Aku dengar tadi malam, kalau Rara sedikit rewel, tapi aku segan mengetuk kamarmu"
Azalea melirik Kiano, namun tetap tak menjawab. Ia mulai menyalakan kompor dan menumis bumbunya.
"Apa Rara nggak perlu ke dokter?"
Azalea menggeleng cepat, "Rara nggak kenapa-kenapa Mas.."
Azalea masih sibuk membolak-balikkan telur dadar kesukaan Kiano.
"Rara sepertinya kangen Mas Kian, sudah semingguan kan mas Kian nggak ada gendongin dia, karena sibuk closing akhir tahun di kantor?"
Kiano tersentak, ternyata sudah seminggu dia selalu pulang larut malam. Mungkin juga Rara beneran rindu padanya. Kiano mengangguk pelan, saat Azalea meletakkan sepiring nasi goreng di depannya.
"Makasih Za"
Azalea hanya mengangguk, namun tangannya sibuk menyiapkan segelas air putih untuk Kiano.
"Hari ini mas masih sibuk?pulang larut lagi?"
Azalea duduk di depan Kiano, meraih sendok di piringnya dan mulai menyantap sarapannya. Mata indahnya menatap Kiano lekat, Kiano yang ditatap seperti itu, sedikit gugup.
"Aku hari ini nggak masuk rencananya, tapi lihat situasinya juga. Kalau mereka butuh aku nanti, aku tetap ke kantor"
Azalea mengunyah nasi gorengnya sembari masih mengamati Kiano, agak kurusan pria itu. Memang Azalea semingguan ini melihat Kiano hanya di pagi hari saat sarapan.
Ada lingkaran hitam di bawah mata Kiano, sepertinya dia juga jarang tidur dengan nyenyak.
"Nanti aku temanin Rara berjemur"
Azalea mengangguk, dia sudah berdiri hendak membereskan piring bekas sarapan mereka, saat Kiano tiba-tiba menghentikan tangannya.
Keduanya tersentak kaget, Azalea menatap pergelangan tangannya yang dicekal Kiano. Ada yang berdebar cepat di dalam dadanya, Azalea terdiam cukup lama.
"Ma..maaf Za" ujar Kiano menarik tangannya, "Biar aku yang cuci piring"
Azalea menelan salivanya, debaran dadanya masih saja kencang. Ia juga ikut menuju wastafel mengantar piringnya sendiri, Azalea sedang berusaha meredam debar itu.
Suara tangisan Rania terdengar dari pintu kamar yang Azalea biarkan terbuka, dengan cepat ia berlari ke kamarnya dengan hembusan nafas yang terdengar lega.
Lega, yah!, Azalea lega bisa menghindari Kiano. Memang mereka telah menjadi suami istri, dan azalea sudah 3 bulan lebih menjadi istri Kiano.
Namun tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka, sesuatu yang romantis atau lainnya. Azalea tidak pernah masuk ke kamar pria itu ataupun sebaliknya, dia juga tak pernah menyiapkan pakaian untuk Kiano seperti yang biasa seorang istri lakukan.
Mereka benar-benar bagai orang asing yang hidup satu rumah, Kiano benar-benar menjaga janjinya pada gadis itu.
Kiano mengusap tangannya yang basah, setelah memastikan dapur bersih, ia beranjak ke ruang keluarga.
Matanya menatap pemandangan indah, putrinya, Rania, sedang dalam dekapan Azalea yang berdiri menimang.
Rasa rindu menyeruak hebat, dengan langkah mantap Kiano menghampiri Azalea, meminta Rania.
Azalea mengulurkan bayi itu, kembali tangan mereka saling beradu, dan debar itu juga kembali lagi. Susah payah Azalea mengacuhkan rasa itu, ia nggak mau terpengaruh.
Agak aneh rasanya, entah karena apa, namun belakangan ini Azalea sering berdebar karena Kiano.
"Anak ayah udah gendut aja" Kiano menciumi bayi perempuan itu yang mengoceh tak jelas.
Kiano tertawa senang, saat jemari mungil itu menjambak rambutnya, Azalea terpana. Suara tawa Kiano terdengar renyah, wajah pria itu cerah bagaikan sinar matahari pagi yang menyinari.
"Putri cantik ayah, putri cantiknya ayah" ujar Kiano berulang-ulang memuji.
Azalea hanya tersenyum tipis, perlahan membalikkan tubuhnya membelakangi Kiano. Ada yang meleleh di dalam hatinya, rasa sedih.
Azalea terkenang akan Naima, jika saja kakaknya itu masih hidup betapa bahagia hidupnya. Memiliki suami tampan yang mapan dan setia, memiliki putri cantik yang sehat.
Perlahan Azalea mengusap ujung matanya yang basah, rasa rindu itu kembali menyeruak. Tak dapat ia bayangkan bagaimana perasaan Kiano, dia saja masih sering menangis dalam diam jika rindu pada Naima menghampirinya. Lantas bagaimana dengan pria itu, tentu jauh lebih menyakitkan bagi Kiano.
"Terima kasih Za"
Azalea menoleh kaget, dengan cepat mengusap ujung matanya.
"Untuk apa mas?" tanyanya memicingkan mata.
"Sudah membesarkan Rara dengan baik"
Pria itu menatap Azalea dengan sorot penuh terima kasih, Azalea dengan cepat menggeleng.
"Jangan ngomong gitu mas, kamu kan menggajiku untuk itu"
Sorot mata Kiano terlihat kaget, pupilnya membesar sesaat. Ia hendak menggeleng, namun ucapan Azalea sedikit menyentil perasaannya.
"Aku cuman babysitter berkedok ibu sambung mas"
Azalea tersenyum miris, sorot matanya terlihat sayu.
"Nggak za, kamu itu mamanya Rara"
Terdengar tawa sumbang dari bibir Azalea," Mama mana yang membesarkan bayinya tapi dibayar"
Kiano terdiam, mengapa rasanya ia mendengar nada sendu dan putus asa. Sangat tidak Azalea, gadis itu biasanya terlihat tangguh dan cuek.
"Kamu kenapa Za?" tanya Kiano akhirnya, bagiamana pun rasa penasaran di hatinya minta diluapkan.
Pria itu menatap Azalea penuh selidik dengan tubuhnya yang bergoyang-goyang karena menggendong Rania.
Azalea, lagi-lagi tersenyum tipis, namun terlihat miris. Tak ada niatan menjawab, Azalea tidak ingin kelihatan baper, sebenarnya ia menyadari kalau hatinya mulai sering memikirkan Kiano, dan jujur Azalea tidak menyukai rasa ini.
Azalea tidak ingin jatuh cinta pada pria yang tidak bisa melupakan masa lalunya, apalagi pria itu adalah suami kakaknya sendiri.
Saat menerima ide orangtuanya, Azalea yakin kalau perasaan romantis untuk Kiano tidak akan pernah menghampiri hatinya.
Azalea yakin kalau dirinya tidak akan jatuh cinta pada Kiano, tujuannya menerima ide ayah ibunya semata karena Rania, Azalea tidak tega membiarkan bayi itu dibesarkan wanita lain.
Seandainya saja Kiano rela melepaskan Rania dalam pengawasannya beberapa tahun saja, Azalea tidak akan bersedia menikah dengan suami kakaknya itu.
"Kamu lagi ada masalah Za?sedari tadi, aku kok merasa kamu sedikit diam?"
"Mas.." panggil Azalea sendu,"Apa mas Kian punya rencana menikah lagi?"
Kiano terperangah dengan mulut separuh terbuka, matanya membelalak tak percaya.
"Kalau ada jauh-jauh hari ngomong yah mas, jangan tiba-tiba kamu ceraiin aku"
Azalea meninggalkan Kiano yang masih terkejut begitu saja, mata pria itu masih mengamati Azalea yang melangkah masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Bersambung....
.