NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Di keheningan malam yang mencekam, suara tembakan terus terdengar dari berbagai arah. Para pria maupun wanita saling tembak-menembak di jalanan yang begitu sepi.

Dor!

Dor!

Dor!

Banyak dari pihak musuh yang tewas, tidak terkecuali anak buah Caesar. Caesar, yang awalnya berniat pulang setelah meninjau markasnya, justru diserang oleh musuh dari berbagai arah. Beruntung Caesar tidak sendirian; ia membawa anak buah biasa dan juga beberapa anak buah bayangan.

"Mereka sudah mati semua, Tuan," ucap salah satu anak buah yang juga menjadi kaki tangan Caesar.

"Hm. Pulang," jawab Caesar pendek. Ia segera menaiki mobilnya dan melaju pulang. Urusan mayat-mayat itu diserahkan kepada anak buahnya yang lain.

"Kalian, bereskan tempat ini!" perintah si kaki tangan kepada anak buah yang tersisa.

Setelah sekitar dua jam perjalanan, Caesar akhirnya sampai di kediaman mereka. Para penjaga langsung membuka gerbang mansion. Seluruh penjaga mansion yang berjumlah 20 orang itu menunduk hormat kepada Caesar.

Caesar melangkah masuk ke dalam mansion dan melihat Louis masih berada di sofa ruang keluarga bersama adik bungsunya, Tio. Louis yang mendengar suara langkah kaki spontan menoleh. Ia mendapati Caesar baru saja pulang dengan noda darah yang mengering di jaketnya.

"Baru pulang?" tanya Louis. Caesar hanya mengangguk.

"Bersihkan tubuhmu sana, banyak noda darah," ucap Louis yang sedang menyusui anaknya.

"Hm," gumam Caesar. Namun, saat Caesar baru hendak beranjak pergi, Louis memanggilnya kembali.

"Sudah makan?" tanya Louis.

"Sudah." Louis mengangguk paham.

Caesar berjalan ke lantai atas menuju kamarnya. Ia membersihkan tubuhnya selama kurang lebih 15 menit. Karena belum mengantuk setelah mandi, Caesar memutuskan untuk turun kembali. Ia duduk di samping Louis dan memperhatikan adik bungsunya yang matanya masih terbuka lebar.

"Belum tidur?" Louis menggeleng.

"Belum. Tio sepertinya belum mengantuk," ucap Louis.

Daddy belum pulang?" tanya Caesar lagi.

"Daddy-mu besok pagi baru pulang," jawab Louis yang diangguki oleh Caesar.

Tio melepaskan mulutnya dari puting Louis, lalu menatap abang pertamanya itu dengan tatapan polos.

"Aban dak bobo?" tanya Tio dengan suara khas anak kecil yang cadel.

"Belum. Tio kenapa belum tidur, hm?" tanya Caesar sambil mencubit pelan pipi tembam Tio.

"Belum ngantuk, Abang," ucap Tio.

"Tidurnya harus sekarang, ini sudah malam. Kak Bian saja sudah tidur," kata Caesar.

"Kaka Bian dak ada di lumah. Kaka Bian pelgi dengan Daddy, Abang," sahut Tio.

Caesar mengernyit. "Kemana malam-malam begini Daddy membawa Bian?" gumamnya.

"Kata daddy-mu, ada urusan dengan keluarga besar. Sebenarnya Mommy juga diajak, tapi karena Tio lagi sakit, jadi hanya Daddy dan Bian yang pergi ke sana," jelas Louis.

Caesar mengulurkan tangan untuk memeriksa kening Tio. Ia merasakan suhu hangat menjalar di telapak tangannya. "Sudah diperiksa?"

"Sudah. Kata dokter hanya demam biasa. Cukup dikompres dan diberi obat penurun panas," jawab Louis yang masih menggendong Tio.

"Bawa ke kamar, Mom, biar dia bisa istirahat," saran Caesar.

"Hm, kamu juga tidurlah. Max sama Cael tidak pulang hari ini, mereka ada di markas," kata Louis. Caesar kembali mengangguk.

Louis kemudian membawa Tio ke kamarnya untuk ditidurkan. Namun, saat hendak direbahkan di ranjang, Tio malah mulai menangis.

"Huaaaa... no, no, Mommy..." Tio merengek. Louis pun terpaksa menggendongnya kembali.

Louis berjalan mondar-mandir ke kanan dan ke kiri agar Tio bisa kembali tertidur. Karena rasa kantuk yang teramat sangat dan sudah tidak tertahankan lagi, Louis akhirnya terduduk di sofa kamar. Ia tertidur di sana sambil memeluk Tio dengan sangat erat agar sang anak tidak terjatuh.

Ceklek.

Maxime yang baru saja pulang dan hendak menuju kamarnya melihat pintu kamar sang adik masih terbuka dengan lampu yang menyala. Ia memutuskan untuk masuk. Di dalam, Maxime melihat Mommy dan adik bungsunya sudah tertidur pulas di sofa.

Karena tidak tega melihat Louis tertidur di sofa dengan posisi yang bisa membuat badannya sakit, Maxime berinisiatif menggendong Tio terlebih dahulu dan menidurkannya di ranjang. Setelah itu, ia perlahan mengangkat Mommy-nya dan merebahkannya di ranjang yang sama.

Maxime mematikan lampu kamar, menutup pintunya dengan pelan, lalu melangkah masuk ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.

Sementara itu di markas, Michael sedang memeriksa beberapa senjata yang akan dijual kepada sekutunya di luar negeri. Ada berbagai jenis senjata yang diperdagangkan oleh kelompok mafia yang berada di bawah pengawasan Caesar ini.

"Sudah semua. Kalian langsung kirim ke tempat biasa," perintah Michael kepada anak buahnya.

"Baik, Tuan." Mereka segera mengangkut peti-peti berisi senjata itu ke atas kapal untuk dikirim kepada sekutu yang biasa memesan barang dari Caesar.

Mereka sengaja mengirim senjata tersebut menggunakan kapal laut karena jalur laut jarang dilewati patroli polisi. Sebenarnya, kelompok mafia ini sama sekali tidak takut pada polisi. Hanya saja, mereka malas berurusan dengan birokrasi hukum yang rumit, sehingga jalur laut menjadi pilihan terbaik.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Michael memutuskan untuk pulang karena urusan pengiriman sudah sepenuhnya dipegang oleh wakil atau kaki tangannya.

"Jaga mereka. Saya mau pulang. Selesai mengirim barang, langsung kembali ke markas," ucap Michael.

"Baik, Tuan."

Di tengah perjalanan pulang, perhatian Michael tanpa sengaja tersita oleh seseorang yang tergeletak di tengah jalan. Karena penasaran dan curiga, Michael menghentikan mobilnya, turun, dan mendekati orang tersebut untuk memeriksa.

Michael membalikkan tubuh orang itu. Tampak seorang pemuda yang bersimbah darah. Dalam remang malam, Michael bisa melihat bahwa pemuda itu memiliki wajah yang manis.

"Hei, apa kamu masih hidup?" Michael menggoyang-goyang tubuh si pemuda. Namun, tidak ada pergerakan ataupun respons sama sekali.

"Apa orang ini sudah mati? Ah, sudahlah, bawa ke mansion saja dulu." Michael mengangkat tubuh pemuda itu, memasukkannya ke dalam mobil, lalu melaju cepat menuju mansion.

Tak butuh waktu lama Michael membawa pemuda itu masuk ke dalam mansion

"bik panggil dokter leon kemari" ucap Michael ke maid senior itu

"baik tuan"

10 menit kemudian dokter leon dokter pribadi keluarga anton datang dan langsung memeriksa pemuda itu.

"lukanya tidak terlalu serius hanya butuh di obatin " penjelasan dokter leon

"hm" deheman Michael

"dia hanya butuh istirahat dan ini salep oleskan ke tubuh yang ada lukanya"

" iya "ucap Michael dengan malas

" ck, dasar anak anton,ya sudah saya pulang ingat jangan di apakan anak orang "ucap dokter leon yang memperingati keponakannya itu

"iya cerewet banget sih om seperti wanita pms " ucap Michael dengan kesal

" saya suntik mati kamu ya lama-lama,anak anton gak ada satupun yang benar "gerutu dokter leon

Leon keluar dari kamar itu dan memutuskan untuk pulang, Michael melihat wajah pemuda itu dengan pandangan sulit di artikan

" cantik "Michael keluar meninggalkan pemuda itu sendiri di kamar

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!