Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Sabotase
Suara ayam berkokok bergema di pagi buta. Biyakta yang bangun lebih dulu, segera mengajak istrinya untuk melaksanakan sholat subuh.
Biasanya setelah itu Diyah akan turun untuk ikut memasak sarapan. Namun, kali ini langkahnya ditahan oleh Biyakta yang duduk di sisi ranjang.
"Ada apa, Mas?" tanya Diyah.
"Pagi ini tidak perlu ke dapur, temani aku saja di sini," jawab Biyakta yang memiliki maksud tertentu. Dia menarik tangan Diyah, hingga wanita itu duduk di pangkuannya.
Saat Biyakta menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, Diyah langsung melengos untuk menutupi pipinya yang memerah.
"Memangnya Mas ada kegiatan apa?" tanya Diyah dengan polos, padahal jantungnya sudah berdebar kencang.
Biyakta menarik sudut bibirnya, makin tergoda jika Diyah lugu seperti ini. Tangannya yang kekar mengangkat dagu Diyah, hingga tatapan mereka kembali bertemu.
"Mau sarapan ...." Diyah mengernyit. "Sarapan kamu," lanjut Biyakta, lalu dengan cepat memagut bibir istrinya. Baru saja ingin memadu cinta, tiba-tiba ponsel milik Biyakta berdering. Pria itu tak langsung berhenti, tetapi Diyah yang mendorong pelan dada suaminya.
"Siapa tahu penting," ucap Diyah. Dengan terpaksa Biyakta pun menurut, dia meraih ponsel dan melihat ada panggilan masuk dari Firman.
"Ada apa, Man?" tanya Biyakta saat panggilan terhubung. Terdengar di ujung sana suara napas Firman yang memburu.
"Den, irigasi di selatan jebol, airnya sudah meluber dan membuat padi kita tenggelam!" jelasnya yang telah mendapat laporan dari anak buahnya. Entah kapan tepatnya air itu turun ke sawah, yang jelas kini petakan itu sudah seperti lautan.
"APA?" Tentu saja Biyakta shock, sebab beberapa hari yang lalu semuanya masih baik-baik saja. "Kalau begitu kita ke sana sekarang."
"Siap, Den," balas Firman, lalu setelah panggilan tertutup Biyakta izin kepada Diyah untuk memeriksa sawah mereka.
"Diyah, maafkan aku. Aku harus pergi sekarang untuk memeriksa sawah di selatan. Irigasinya jebol," ujar Biyakta yang tak ingin membuat istrinya kecewa.
"Nggak apa-apa, Mas, urus yang penting saja dulu. Kamu hati-hati ya," balas Diyah pengertian.
Setelah berganti pakaian Biyakta langsung turun ke garasi. Suara deru motor tentunya cukup bising, hingga membuat beberapa orang terbangun. Termasuk Januar yang mengintip dari jendela kamarnya. Dia tak memberi respon apa pun, selain tatapannya yang dingin.
Sesampainya di sana Biyakta sempat mematung, tetapi dengan cepat dia menyelidiki apa penyebab irigasi itu jebol. Matanya awas menelisik ke tiap sudut yang mencurigakan. Dia sangat yakin bahwa semua ini bukan kebetulan.
"Tanahnya tidak longsor secara alami, aku juga melihat ada beberapa jejak kaki yang masih baru di sebelah sana. Ini pasti ulah orang!" tandas Biyakta menyimpulkan apa yang dia lihat.
"Berarti ada yang coba-coba menyabotase sawah kita, Den?" tanya Firman.
"Kurang lebih begitu. Mereka tidak suka kita mendapat panen yang melimpah. Setelah ini kita harus lebih waspada, bila perlu cari siapa pelakunya!" jawab Biyakta, sebelumnya Juragan Marta juga pernah mengalami hal serupa. Namun, ayahnya tidak terlalu peduli, hingga akhirnya pelaku malah tertangkap warga.
"Baik, Den," balas Firman dengan cepat.
****
"Mas, aku udah nggak pegang uang lagi. Sedangkan kebutuhan kita semakin banyak. Kamu mau terus-terusan begini?" keluh Rani, mencoba bicara lagi dengan Cakra, supaya suaminya segera mencari kerja. Dia sedang mengandung, secara otomatis dia butuh uang untuk melakukan berbagai pemeriksaan.
Cakra tak menggubris, dia malah asyik main game yang ada di handphone-nya.
"Mas, aku ini sedang hamil anak kamu lho. Aku juga ngidam!" rengek Rani seraya meraih tangan Cakra agar pria itu mengalihkan perhatiannya.
Cakra langsung berdecak keras. "Lagian siapa suruh hamil? Udah tahu aku lagi nganggur! Kalo dibilang egois, kamu tuh yang egois, harusnya kamu pinter dikit, pake KB kek!"
"Kok kamu malah jadi nyalahin aku sih? Sebelumnya kan kita nggak ada pembahasan apa-apa soal anak? Terus gimana sekarang aku pengen ayam bakar," balas Rani, atas dasar cinta dia selalu menerima semua perlakuan Cakra kepadanya.
"Ya minta dulu sama ibu kamu lah!" ujar Cakra masa bodohh dengan keinginan istrinya. Namun, Rani semakin merengek hingga terus menggoyangkan tangannya.
"Ibu nggak kasih, dia selalu bilang supaya kamu tanggung jawab, sama aku, sama anak kamu."
Cakra menghela napas panjang. Setelah menikah dia benar-benar hanya ongkang-ongkang kaki saja dan mengandalkan uang sisa pesta hajatan.
"Kalo begitu kita pakai pinjaman online saja," cetus Cakra.
"Pinjol?" balas Rani dengan alis yang bertaut.
"Iya 'kan jadi bisa buat modal juga. Mulai besok aku mau ngojek online deh supaya ada penghasilan," ujar Cakra, memberikan angin surga kepada Rani, hingga wanita itu langsung tersenyum lebar.
"Ya udah boleh, nanti kamu yang bayar tagihannya 'kan?"
"Iyalah siapa lagi?" tukas Cakra, Rani pun langsung setuju, akhirnya dia men-download aplikasi pinjaman online dan menggunakan data dirinya untuk mendapatkan uang dari aplikasi tersebut.
****
Sedangkan di sudut lain, Sarmila bersama teman-temannya baru saja beristirahat setelah menjadi buruh pengupas kulit bawah. Kini ponselnya ditahan, sehingga tak ada alat komunikasi yang bisa digunakan untuk menghubungi keluarga maupun temannya.
"Sampai kapan aku akan begini?" keluh Sarmila yang setiap hari hanya bisa meratap, karena selain pekerjaan yang dijanjikan tak sesuai, mereka juga jarang mendapatkan upah. Dapat makan dan minum saja sudah untung.
Kabur? Tidak, teman Sarmila sudah mencobanya dan mereka malah disiksa. Dia tidak mau menambah penderitaan lagi.
Di tengah rasa lelah itu, tiba-tiba Sarmila melihat seorang pria yang familiar, dengan cepat Sarmila pun memanggilnya.
"Mas Andre!"
Pria yang dimaksud pun menghentikan langkah, dan Sarmila langsung mendekat untuk meminta penjelasan.
"Kamu?" kata Andre.
"Ini aku, Mas, Sarmila. Mas bilang kan mau jadiin aku artis, kenapa aku malah ke tempat seperti ini, Mas?" cerocos Sarmila sambil menangis, karena rasanya dia tidak kuat untuk lama-lama di sini.
"Oh iya, kamu yang dari kampung Sumber Makmur 'kan?"
Sarmila langsung mengangguk. Sementara Andre menepuk jidatnya, pura-pura bahwa ini sebuah kesalah pahaman.
"Ini pasti salah pihak manajemen. Kalau di sini memang untuk para pekerja serabutan. Ya sudah nanti aku urus dulu ya soal kepindahanmu, kalau sudah selesai kamu bisa ikut aku. Aku yang jemput," papar Andre kembali memberikan harapan setinggi langit.
"Bener 'kan, Mas?" tanya Sarmila memastikan, dan Andre tentunya langsung mengangguk.
"Tunggu sampai besok. Kalau kamu disuruh kerja, bilang saja kamu orangnya Andre," jawab pria itu sambil mengusap bahu Sarmila sekilas.
Mendengar itu, Sarmila langsung bernafas lega. Akhirnya, akhirnya dia bisa bebas.
Semogah biyan datang sebelum ada gosib,,,
sabar diyah,,semogah cepat hamidun ,,,biar mereka yang selalu mengolok mu malu...