Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Menuju Garis Akhir
Matahari perlahan mulai bergeser tepat ke tengah kubah langit siang itu.
Terik sinarnya menghangatkan butiran pasir putih di sekitar pulau persembunyian.
Suara deburan ombak kecil terdengar berirama menghantam bibir pantai.
Suasana di sekitar gubuk tua terasa begitu sunyi dan damai.
Namun, ketenangan alam itu berbanding terbalik dengan situasi di dalam gubuk.
Persiapan menuju kepulangan besar-besaran mulai dilakukan dengan sangat teliti.
Pak Haji Mahmud tidak datang dengan tangan kosong pagi tadi.
Beberapa kantong besar berisi pakaian ganti bersih kini tersusun rapi di sudut ruangan.
Selain itu, sebuah perangkat komunikasi satelit portabel generasi terbaru juga ditinggalkan di sana.
Andra memeriksa setiap alat elektronik tersebut dengan cermat dan seksama.
Ia memastikan tidak ada satupun kabel yang longgar atau sinyal yang terganggu.
Insting taktis militernya bekerja secara maksimal untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk.
Di sisi lain ruangan, Kirana membantu melipat pakaian lama mereka yang basah.
Pakaian itu sudah mengering terkena terik angin laut sejak pagi tadi.
Meskipun sisa-sisa rasa cemas masih sedikit membayangi benaknya, semangat wanita itu telah bangkit.
Ia tidak lagi merasa sebagai sosok korban yang hanya bisa bersembunyi di dalam ketakutan.
Kehadiran sang suami memberikan benteng pertahanan mental yang luar biasa kuat.
Kirana melangkah mendekati meja tempat Andra sedang merakit ulang perangkat komunikasi.
Ia meletakkan setumpuk pakaian kering yang sudah selesai dilipat dengan rapi.
"Semua perlengkapan sandi dan komunikasi sudah beres, Mas?" tanya Kirana pelan.
Andra mendongakkan kepalanya, lalu memberikan senyuman hangat kepada istrinya.
"Semua sudah siap, Kir. Alat ini tidak bisa dilacak oleh radar frekuensi publik mana pun," jawab Andra.
"Kita akan memegang kendali penuh atas informasi begitu menginjakkan kaki di daratan kota nanti."
Kirana menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Ia merasa jauh lebih tenang setelah mendengar penjelasan teknis yang sangat meyakinkan itu.
"Lalu, bagaimana dengan rencana penyeberangan kita nanti malam?" tanya Kirana lagi.
Andra berdiri dari duduknya, lalu merapikan jaket taktis yang dikenakannya.
"Pak Haji Mahmud sudah memodifikasi mesin perahu nelayan itu secara khusus," jelas Andra.
"Suara mesinnya dibuat sangat senyap agar tidak mencurigakan patroli laut."
"Kita akan berangkat tepat tengah malam saat penjagaan pantai mulai melemah."
Rencana itu disusun secara matang tanpa celah kesalahan sedikit pun.
Mereka tahu betul bahwa kesalahan kecil bisa berakibat fatal bagi keselamatan nyawa mereka.
Waktu berjalan merangkak perlahan seiring siang berganti sore hari.
Terik matahari yang menyengat perlahan berubah menjadi kehangatan senja yang menenangkan.
Langit di atas ufuk barat mulai memerah membias di atas permukaan air laut.
Pemandangan senja itu tampak begitu indah dan memesona dari balik rimbunnya pohon kelapa.
Namun, di balik keindahan panorama senja itu, ketegangan besar justru sedang menanti di ujung pelayaran.
Sementara itu, situasi di daratan kota besar benar-benar berada dalam ambang kehancuran total.
Imperium bisnis milik Rian diguncang oleh badai kepanikan yang luar biasa masif.
Berbagai dokumen rahasia dan rekaman transaksi ilegal mendadak bocor ke meja aparat penegak hukum.
Bukan cuma itu saja, para investor besar secara serentak menarik seluruh modal mereka.
Mereka merasa tertipu dan takut terseret dalam lingkaran hitam skandal pencucian uang.
Kantor pusat perusahaan Rian diserbu oleh para wartawan dan penagih utang yang murka.
Rian mondar-mandir di dalam ruang kerja pribadinya dengan langkah kaki yang tidak beraturan.
Wajah pria angkuh itu kini tampak pucat pasi dipenuhi butiran keringat dingin.
Ia mencoba menghubungi beberapa pejabat tinggi yang selama ini menjadi pelindungnya.
Namun, tidak ada satupun nomor telepon pentingnya yang aktif merespons panggilan.
Semua orang mendadak menghindar seolah-olah dirinya adalah wabah penyakit mematikan.
"Sialan! Brengsek kalian semua!" geram Rian sambil membanting vas kristal mahal ke lantai.
Pecahan kaca berserakan ke segala arah di dalam ruangan mewah tersebut.
Napas Rian memburu tak terkendali karena amarah dan rasa panik yang sudah mencapai ubun-ubun.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dalang di balik kehancuran bisnisnya adalah pria miskin yang selama ini ia injak.
Rian mengira kehancuran itu ulah para pesaing bisnis lamanya di bursa saham gelap.
Ia terus menerus meneriakkan sumpah serapah kepada siapa saja yang melintas di dekat ruangannya.
Kemarahan itu tidak mampu menyelamatkan perusahaannya yang sedang runtuh perlahan.
Kerajaan bisnis yang ia bangun dengan cara licik kini ambruk dalam hitungan hari.
Kembali ke pulau tersembunyi, malam yang pekat akhirnya kembali merangkak naik.
Bulan sabit menggantung redup di balik gumpalan awan hitam yang tebal.
Jam di pergelangan tangan Andra menunjukkan pukul dua belas malam lewat sepuluh menit.
Saatnya bagi mereka untuk meninggalkan tempat persembunyian sementara tersebut.
Andra dan Kirana berjalan pelan keluar dari gubuk menuju ke arah bibir pantai.
Suara deburan ombak malam menyambut langkah kaki mereka di atas pasir basah.
Di tepi pantai, perahu nelayan bermesin senyap buatan Pak Haji Mahmud sudah menanti.
Perahu itu bergoyang lembut mengikuti irama ombak kecil yang menerpa lambungnya.
Andra melangkah lebih dulu ke dalam air dangkal untuk menstabilkan perahu.
Ia kemudian berbalik dan mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Kirana naik.
Kirana menyambut uluran tangan suaminya dengan genggaman yang erat.
Ia melangkah naik ke atas perahu dengan penuh kehati-hatian.
Setelah memastikan istrinya duduk dengan posisi aman di bagian tengah, Andra ikut naik.
Ia memposisikan dirinya di dekat tuas kemudi dan mesin tempel perahu.
Tangan kokohnya memutar kunci starter perlahan-lahan.
Brrr... brrr...
Mesin perahu itu berdengung sangat halus, hampir tidak terdengar dari jarak beberapa meter saja.
Sistem peredam suara buatan Pak Haji Mahmud bekerja dengan sangat sempurna.
Andra mulai mengarahkan haluan perahu perlahan-lahan menjauhi garis pantai pulau.
Perahu kecil itu membelah gulungan ombak malam dengan gerakan yang stabil dan tenang.
Mereka meninggalkan daratan pulau persembunyian diiringi hembusan angin laut yang dingin.
Kirana duduk bersandar di bangku kayu sambil memeluk erat tubuhnya sendiri.
Ia menatap lurus ke depan, menerobos kegelapan malam yang membentang luas di hadapan mereka.
Meskipun rasa dingin menusuk hingga ke tulang, tidak ada lagi rasa takut di matanya.
Yang ada di dalam benak wanita itu adalah rasa penasaran bercampur tekad yang kuat.
Mereka sedang melaju menuju kota tempat di mana seluruh kebenaran akan segera terungkap.
Perjalanan laut malam itu memakan waktu beberapa jam lamanya tanpa hambatan berarti.
Mesin senyap perahu bekerja tanpa kenal lelah membawa mereka menembus batas perairan gelap.
Menjelang pukul tiga pagi, siluet lampu perkotaan mulai tampak dari kejauhan.
Cahaya lampu gedung-garis pencakar langit memantul di atas permukaan air laut pelabuhan.
Mereka akhirnya mendekati dermaga tua tempat penjemputan rahasia yang telah diatur sebelumnya.
Andra mengurangi kecepatan mesin perahu secara bertahap hingga lajunya melambat.
Matanya awas mengawasi situasi di sekitar dermaga tua yang tampak lengang dan sepi.
Tidak terlihat adanya tanda-tanda penjagaan mencurigakan dari pihak anak buah Rian di sana.
Sepertinya musuh mereka sedang sibuk memadamkan kebakaran besar di internal perusahaan.
Mereka benar-benar lengah dan tidak menduga Andra akan kembali secepat ini.
Andra mengarahkan perahu merapat perlahan ke sisi tiang pancang dermaga kayu.
Ia melompat naik ke atas pelataran dermaga untuk mengikat tali pengaman perahu.
Setelah itu, ia kembali mengulurkan tangannya untuk membantu Kirana turun dari sampan.
"Hati-hati, pegang tanganku erat-erat, Kir," bisik Andra pelan.
Kirana menyambut tangan suaminya dan melangkah turun dengan selamat ke atas dermaga.
Mereka kini resmi menginjakan kaki kembali di daratan kota tempat asal mula segalanya.
Suasana pelabuhan tua di dini hari itu terasa begitu dingin dan berangin.
Sebuah mobil sedan hitam berstandar khusus tampak terparkir di ujung jalan keluar dermaga.
Mobil itu adalah kendaraan penjemputan rahasia yang disiapkan oleh jaringan kepercayaan Andra.
Andra merangkul pundak Kirana, membimbing langkah istrinya menuju arah mobil tersebut.
Pintu mobil terbuka secara otomatis begitu mereka mendekati kendaraan itu.
Seorang pria berjas rapi berdiri di samping pintu mobil sambil membungkuk hormat.
Pria tersebut adalah salah satu orang kepercayaan Andra yang memegang kendali operasional kota.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda," sapa pria itu dengan nada penuh takzim.
Andra menganggukkan kepalanya singkat sebagai tanda terima kasih atas sambutan tersebut.
"Bagaimana situasi di pusat kota saat ini?" tanya Andra langsung pada intinya.
"Situasi di markas besar Rian sudah kacau balau, Tuan," lapor pria itu cepat.
"Para investor meninggalkannya, dan polisi sudah bersiap mengeluarkan surat penangkapan."
Sudut bibir Andra terangkat membentuk senyuman dingin mendengar laporan tersebut.
"Bagus sekali," ucap Andra dengan suara tegas berwibawa.
"Sekarang, saatnya kita mendatangi persembunyian terakhirnya secara langsung."
Kirana mendengarkan percakapan itu dengan perasaan takjub yang luar biasa besar.
Ia menyadari bahwa suaminya bukanlah orang sembarangan seperti yang terlihat selama ini.
Pria di sampingnya adalah sosok penguasa sejati yang sedang menagih hak miliknya.
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil sedan hitam yang mewah tersebut.
Pintu mobil menutup rapat, mengisolasi mereka dari terpaan angin malam pelabuhan.
Kendaraan itu melaju pelan meninggalkan area dermaga menuju jantung kota.
Babak akhir dari penyamaran panjang sang miliarder resmi dimulai malam ini.