Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tekanan untuk Martin
Proses evakuasi dan pengamanan lokasi kejar-kejaran berlangsung hingga larut malam.
Direktur perusahaan yang terkulai lemas beserta dua pengawalnya dipindahkan ke mobil tahanan dengan pengawalan ketat.
Gavin mengambil alih komando di lapangan untuk membawa para tersangka kembali ke Kantor Polisi Distrik 1, berusaha menjaga gengsi di depan timnya meskipun semua orang tahu siapa yang menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Sekembalinya di kantor polisi, suasana di dalam bangunan tua itu terasa menegang.
Kabar penangkapan seorang direktur besar dari perusahaan ternama atas kasus pembunuhan dan pencucian uang telah menyebar cepat.
...***...
Di dalam ruangannya yang remang-remang, Komisaris Martin duduk di balik meja kayu tua.
Bau asap rokok tipis membumbung ke udara. Di hadapannya, sebuah telepon berkabel warna hitam, jalur langsung dari Kantor Kepolisian Pusat Kota tiba-tiba berdering nyaring.
KRINGGG! KRINGGG!
Dering telepon itu terdengar berulang kali, memotong kebisingan suara ketukan mesin tik dan obrolan di luar ruangan.
Martin menatap gagang telepon itu sejenak dengan mata pandanya yang sembap.
Ia sudah bisa menebak siapa yang menelpon dan apa alasan di balik panggilan tersebut.
Dengan helaan napas berat, Martin mengangkat gagang telepon dan menempelkannya ke telinga.
"Selamat malam. Komisaris Martin di sini," ucapnya tenang.
Dari seberang sambungan, suara bentakan keras seorang pejabat tinggi kepolisian pusat kota langsung meledak, cukup keras hingga getaran suaranya terdengar samar dari luar ruangan.
"Martin! Apa-apaan yang dilakukan anak buahmu di Distrik 1?! Siapa yang memberi kalian izin menangkap Direktur Perusahaan Bintang Sentosa tanpa memberitahu markas pusat kota?!"
Martin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit yang sudah terkoyak.
Wajahnya tetap datar, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman getir.
Penangkapan direktur itu ternyata merusak arus uang haram yang mengalir ke kantong para pejabat tinggi di pusat kota.
Pencucian uang melalui bengkel kecil di Distrik 1 itu adalah salah satu jalur pundi-pundi dana rahasia mereka.
"Mohon maaf, Jenderal," jawab Martin dengan nada sangat sopan dan penuh hormat.
"Kami hanya menindaklanjuti laporan dari warga terkait tindak pidana pembunuhan di wilayah hukum Distrik 1. Saat dilakukan investigasi dan penggeledahan, kami menemukan bukti petunjuk yang mengarah langsung pada beliau."
"Tindak pidana pembunuhan?! Kamu tahu berapa besar dampak ekonomi yang runtuh karena penangkapan ini?! Kenapa kamu tidak menyerahkan kasus ini ke markas pusat terlebih dahulu?!" bentak suara dari telepon.
Martin mengusap keningnya yang berkerut. Ia berakting polos dengan sangat rapi. "Mohon ampun, Jenderal. Kami di distrik bawah ini hanya polisi kecil yang tidak tahu-menahu mengenai urusan bisnis besar atau kepentingan Bapak-bapak di pusat. Kasus ini murni pembunuhan warga biasa. Karena pelakunya terindikasi mau melarikan diri ke luar kota, tim kami terpaksa melakukan tindakan cepat di lapangan agar hukum tetap tegak."
"Jangan berpura-pura bodoh, Martin! Aku tahu permainanmu!" ancam suara itu dengan nada menekan.
"Serahkan seluruh berkas bukti, ponsel cadangan, dan tersangka ke markas pusat besok pagi! Biar tim investigasi pusat yang mengambil alih!"
Martin mengangguk pelan, meskipun orang di seberang sana tidak bisa melihatnya.
"Siap, Jenderal. Petunjuk dari Jenderal akan kami catat. Namun, prosedur pendaftaran kasus di kejaksaan distrik sudah berjalan malam ini. Berkasnya sudah masuk ke sistem jaringan hukum umum. Jika ditarik secara mendadak, saya takut media dan masyarakat akan mencium adanya ketidakberesan."
Sambungan telepon di seberang hening sejenak.
Sang pejabat tinggi di pusat menyadari bahwa Martin telah mengunci posisi hukum kasus ini agar tidak bisa ditutupi begitu saja.
"Cerdas sekali kamu, Martin... Cerdas sekali," bisik suara di telepon dengan nada dingin penuh ancaman.
"Jangan harap anggaran operasional distrikmu tahun depan akan berjalan lancar."
TUT... TUT... TUT...
Sambungan telepon diputus sepihak. Martin perlahan menurunkan gagang telepon dan meletakkannya kembali ke tempatnya.
Ia kembali menghela napas panjang, merogoh saku kemejanya untuk mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya.