NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:846
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna

Pasar kaget itu tampak begitu hidup dengan riuhnya suara tawar-menawar dan klakson samar mobil taksi dari jalanan sekitar. Aroma churros berembus di udara, dan ke mana pun aku memandang, yang terlihat adalah panorama berbagai warna, tekstur, dan kain yang beraneka ragam.

Aku sudah mengunjungi pasar kaget yang sama setiap hari Sabtu selama bertahun-tahun. Tempat ini adalah harta karun, sumber inspirasi dan barang-barang unik yang tidak bisa kutemukan di toko-toko mewah yang tertata rapi, dan tempat ini tidak pernah gagal membangkitkan kembali kreativitasku yang sedang buntu. Ini juga merupakan tempat favoritku untuk berkunjung setiap kali aku perlu menenangkan pikiran.

Namun hari ini, tempat ini tidak berhasil melakukan keduanya. Sebesar apa pun usahaku, aku tidak bisa menghempaskan ingatan tentang bibir Xavier yang menyentuh bibirku.

Ketegasan bibirnya. Kehangatan tubuhnya. Aroma parfumnya yang halus dan mahal, serta bobot tangannya yang penuh percaya diri di pinggulku.

Bahkan setelah berlalu beberapa hari, aku masih bisa merasakan momen tersebut dengan sangat jelas seolah-olah baru saja terjadi. Ini sungguh menyebalkan.

Hampir sama menyebalkannya dengan bagaimana aku telah terbuka padanya saat sarapan, hanya agar dia kembali menjadi sosok yang berengsek setelah sempat memperlihatkan sedikit sisi kemanusiaannya yang mengejutkan.

Ada satu momen di mana aku sempat menyukai Xavier, meskipun bisa jadi itu hanya karena rasa kesepianku yang berbicara.

Berlawanan dengan apa yang kukatakan padanya saat pemotretan, ada sesuatu yang mengusik ketika harus pulang setiap hari ke rumah yang sepi dan tanpa noda. Perpisahan kami selama sebulan telah meredakan rasa sakit hati akibat kata-katanya sebelum dia pergi ke Eropa, dan aku tidak menyadari betapa kehadiran Xavier telah menghidupkan suasana rumah itu sampai dia pergi.

“Kita sudah pernah ke stan yang ini,” kata Selena.

“Hmm?” Aku memainkan rumbai-rumbai pada selendang bermotif warna ungu.

“Stan yang ini. Kita sudah pernah ke sini tadi,” ulangnya. “Kamu kan sudah beli selendang?”

Aku mengedipkan mata saat sisa barang di stan itu menjadi jelas di pandanganku. Dia benar. Ini adalah salah satu penjual pertama yang kami kunjungi saat baru tiba. “Maaf.” Aku melepaskan selendang itu sambil mendesah. “Aku agak linglung hari ini.”

Aku terlalu sibuk memikirkan tunanganku yang berengsek itu.

“Benarkah? Aku sama sekali tidak menyadarinya.” Senyum goda Selena memudar saat aku tidak membalasnya. “Ada apa? Biasanya kamu menjelajahi tempat ini seperti sedang dikejar anjing neraka.”

Selena sangat suka berburu barang bekas dan selalu bergabung dalam petualangan Sabtuku setiap kali dia bisa. Aku pernah mencoba membujuk Rachel untuk ikut sekali, tetapi peluang dia untuk menginjakkan kaki di pasar kaget lebih kecil daripada tipisnya hak tinggi Jimmy Choo.

“Hanya saja ada banyak hal yang sedang membebani pikiranku.” Aku ingin menceritakan tentang pemotretan itu kepada Selena, tetapi tidak ada hal berarti yang bisa diceritakan. Xavier dan aku hanya bersentuhan bibir selama tiga puluh detik untuk sebuah foto. Lebih dari itu hanyalah gejolak hormon dan masa-masa singgel ku yang berbicara.

Lagipula, aku tidak berbohong. Di antara pekerjaanku, hubunganku yang penuh ketegangan dengan Xavier, kewajiban sosial baruku sebagai calon Nyonya Romanov, dan daftar panjang hal yang harus kulakukan untuk pernikahan, aku benar-benar berada di ambang batas kemampuanku.

“Kita hampir selesai, kok,” bahasku. “Aku hanya perlu menemukan cermin emas untuk pesta Sweet Sixteen cucu perempuan Buffy Darlington.”

“Aku tidak menyangka kita hidup di dunia di mana ada orang yang bernama Buffy Darlington.” Selena merinding. “Orang tuanya pasti sangat membencinya.”

“Buffy Darlington Ketiga, tepatnya. Itu nama keluarga.”

“Itu malah makin parah.”

Aku tertawa. “Yah, terlepas dari namanya, Buffy adalah sosok wanita terpandang di kalangan masyarakat atas New York dan ketua panitia Legacy Ball. Aku harus membuatnya terkesan, atau aku harus merelakan bisnisku hancur.”

Legacy Ball adalah acara paling eksklusif di kancah internasional. Acara ini berganti-ganti lokasi setiap tahunnya, dan dansa yang akan datang pada bulan Mei kebetulan diadakan di sini, di New York.

Menjadi tuan rumah untuk acara tersebut dianggap sebagai sebuah kehormatan yang sangat besar. Aku tadinya berharap mendapat kesempatan untuk posisi itu, tetapi posisi tersebut malah jatuh ke tangan istri seorang konglomerat dana lindung nilai.

“Ngomong-ngomong soal masyarakat kelas atas, bagaimana pekerjaan barumu?” tanyaku.

Selena berhenti dari klub malam kumuh itu minggu lalu setelah mendapatkan pekerjaan yang sangat diidam-idamkan di Valhalla Club, sebuah klub khusus anggota untuk orang-orang terkaya dan paling berkuasa di dunia. Dadyku telah berusaha masuk ke sana selama bertahun-tahun, tetapi cabang Boston sudah tertutup untuk pendaftar baru, dan keluarga kami tidak memiliki relasi yang cukup kuat untuk masuk melalui pintu belakang.

Wajah Selena berbinar. “Sangat luar biasa. Gaji lebih tinggi, tunjangan lebih baik, dan jam kerja lebih sedikit daripada pekerjaan lain yang bisa kutemukan di kota ini. Ini jauh lebih baik daripada jadi bartender dengan Cessi Si Pembuat Risih yang selalu bernapas di dekatku. Mungkin aku akhirnya bakal punya waktu untuk menyelesaikan bukuku…” Dia menghentikan kalimatnya saat dia menatap ke arah belakang bahuku. “Um, Anna?”

“Hmm?” Aku melihat sebuah cermin emas di meja terdekat. Pesta cucu Buffy bertema Beauty and the Beast, dan meskipun aku sudah menyelesaikan dekorasinya, aku menginginkan satu barang unik untuk menyempurnakan semuanya.

“Kamu mungkin ingin melihat ke belakangmu.” Sebuah nada aneh terdengar menyelimuti suara Selena.

Rasa penasaran pun tersulut saat aku berbalik untuk melihat apa yang sedang ditatap Selena. Tidak banyak hal yang bisa membuatnya terusik.

Pada awalnya, yang kulihat hanyalah lalu-lalang orang-orang yang memegang churros dan para penjual yang menawarkan dagangan mereka. Kemudian, aku menyadari seseorang yang berdiri di belakang kami.

Rambut pirang agak kecokelatan. Mata biru. Perawakan yang dulunya jangkung kini telah terisi oleh otot selama bertahun-tahun.

Kantong-kantong belanjaanku jatuh terhempas ke tanah saat rasa terkejut merenggut napas dari paru-paruku.

Harper.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!