Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesak Yang Menusuk Jiwa
Malam itu udara di Layung Koneng terasa lebih dingin dari biasanya. Raya baru saja selesai membantu Bik Tati membereskan dapur setelah makan malam, ketika tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak. Seperti ada beban berat yang menghimpit paru-parunya tanpa ampun.
Ia mencoba menarik napas, namun setiap tarikan justru terasa semakin menyakitkan, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya dari dalam.
"Bik... Bik Tati..." panggil Raya lirih, suaranya nyaris tak terdengar, tubuhnya mulai limbung menahan pusing yang begitu hebat.
Bik Tati yang sedang mencuci piring di belakang rumah langsung menoleh kaget begitu mendengar suara panggilan yang begitu lemah itu. Ia bergegas menghampiri Raya yang sudah bersandar di dinding dapur dengan wajah pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Neng! Neng kenapa?!" jerit Bik Tati panik, tangannya buru-buru menopang tubuh Raya yang mulai oleng.
Raya tak sempat menjawab. Matanya berkunang-kunang, dadanya semakin sesak seperti dihimpit ribuan batu. Dan detik berikutnya kesadarannya lenyap begitu saja.
Tubuhnya ambruk ke lantai dengan begitu keras, kepalanya nyaris membentur ujung meja dapur jika saja Bik Tati tak sigap menahannya.
"NENG RAYA! TOLONG!" teriak Bik Tati sekuat tenaga, suaranya begitu histeris memecah kesunyian malam itu.
" Kenapa Bu? " tanya Mang Hari ikut kaget.
" Raya, Kang!!! dia pingsan "
" Astaghfirullah! "
Teriakan itu langsung mengundang perhatian tetangga sekitar. Beberapa warga yang kebetulan masih berada di luar rumah bergegas berlari menuju sumber suara, mendapati Bik Tati yang sudah berlutut di lantai dapur, memangku kepala Raya yang begitu lemas dan tak sadarkan diri.
"Ya Allah, Neng Raya kenapa, Bik?" tanya salah satu tetangga yang ikut berdatangan, wajahnya begitu cemas melihat kondisi Raya yang begitu mengkhawatirkan.
"Nggak tau, tiba-tiba dia bilang sesak, terus langsung pingsan. " jawab Bik Tati dengan suara bergetar, air matanya sudah mulai menetes menahan kepanikan yang begitu besar.
Kebetulan malam itu Razka sedang berada tak jauh dari rumah Bik Tati, baru saja selesai penyuluhan di kelompok tani. Mendengar keributan dan teriakan yang begitu riuh, ia langsung berlari mendekat, dan dadanya seketika mencelos begitu melihat sosok Raya yang terkulai lemas di pangkuan Bik Tati.
"Neng Raya kenapa?!" seru Razka panik, ia langsung berlutut memeriksa kondisi Raya, tangannya menyentuh dahi gadis itu yang terasa begitu dingin, namun napasnya terdengar begitu pendek dan tersengal.
"Nafasnya sesak, Kang. Tolong bawa ke rumah sakit sekarang, saya takut kenapa-kenapa!" pinta Bik Tati dengan suara yang begitu memohon.
Tanpa berpikir panjang, Razka langsung menggendong tubuh Raya yang begitu ringan itu ke motor matic milik Pak Saep, dibantu beberapa warga yang turut sigap menopang. Bik Tati bergegas mengunci rumah seadanya sebelum ikut mengekor bersama suaminya. Hatinya begitu diliputi kecemasan yang begitu mendalam sepanjang perjalanan menuju rumah sakit terdekat di kota kecamatan.
Sesampainya di IGD, Raya langsung dilarikan oleh perawat yang sudah siaga. Ia dibaringkan di ranjang darurat dengan berbagai alat medis yang segera dipasang ke tubuhnya. Razka dan Bik Tati hanya bisa menunggu di luar ruang tindakan dengan hati yang begitu dicekam kekhawatiran, doa-doa kecil terus terucap lirih dari bibir Bik Tati yang tak henti menggenggam tasbihnya.
"Kenapa ya tiba-tiba Neng Raya bisa sesak kayak gitu? Padahal waktu makan, dia baik-baik aja." ucap Bik Tati cemas, matanya masih basah menahan air mata yang terus mengalir.
" Apa dia ada alergi makanan, Bik? " tanya Razka.
" Setau bibi nggak ada, lagian tadi kita cuma makan dadar telur dan urab. Setau bibi, dia tidak masalah kalau makan telur. "
Razka menggeleng pelan, pikirannya sendiri dipenuhi kekhawatiran dan sebuah firasat buruk yang begitu sulit ia jelaskan. Ada sesuatu yang begitu janggal dari kejadian mendadak ini, sebuah kecurigaan samar yang mengarah pada gangguan yang selama ini pernah menimpa Raya sebelumnya.
"Saya juga nggak tau pasti, Bik. Tapi... jangan-jangan ini ada hubungannya sama gangguan yang dulu." gumam Razka pelan, meski ia sendiri berharap dugaannya itu salah.
Bik Tati terdiam mendengar kata-kata itu, wajahnya semakin pucat menyadari kemungkinan yang begitu menakutkan itu. Ia teringat kembali kejadian di acara Panen Raya beberapa waktu lalu, sebuah teror yang sempat membuat seluruh desa geger.
" Semoga tidak terjadi apa-apa terhadap Raya. " ucap Mang Hari ikut khawatir.
Tak lama kemudian, dokter jaga keluar dari ruang tindakan dengan raut wajah yang begitu serius, membuat Razka dan Bik Tati langsung berdiri menyambut dengan hati berdebar kencang.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Razka cepat, suaranya begitu penuh kekhawatiran.
"Pasien saat ini sudah lebih stabil setelah kami beri oksigen dan penanganan awal, tapi kondisinya masih belum sadarkan diri. Kami sudah cek jantung dan paru-parunya, secara medis tidak ditemukan kelainan berarti yang bisa menjelaskan sesak separah itu." jelas sang dokter dengan nada yang begitu hati-hati, "Kami akan observasi lebih lanjut dan mungkin perlu beberapa pemeriksaan tambahan."
Penjelasan itu justru membuat Bik Tati semakin gelisah. Jika secara medis tidak ditemukan sebab yang jelas, maka kecurigaannya akan sesuatu yang bersifat gaib semakin menguat begitu saja di dalam benaknya.
"Boleh kami lihat kondisinya, Dok?" pinta Bik Tati memohon.
"Untuk sementara pasien masih perlu istirahat di ruang observasi, nanti kalau sudah dipindah ke ruang rawat inap, keluarga bisa menunggu di sana." jawab dokter itu sebelum akhirnya berlalu kembali ke dalam ruangan.
" Bu, kabarin Teh Yana. Dia berhak tau kondisi Raya disini. "
" Iya Kang. Ini mau aku telpon dulu. "
Bik Tati segera mengeluarkan ponselnya, tangannya begitu gemetar mencari kontak Mama Yana. Ia tahu, kabar ini harus segera disampaikan meski begitu berat untuk diucapkan.
Telepon itu tersambung setelah beberapa kali dering, suara Mama Yana yang begitu ceria di ujung telepon seketika berubah menjadi penuh kepanikan begitu mendengar kabar yang begitu mengejutkan itu.
"Maksudnya gimana, Tati? Raya kenapa?" tanya Mama Yana dengan suara yang mulai bergetar hebat, kedua tangannya sudah mulai gemetar memegang gagang telepon.
"Neng Raya tiba-tiba sesak napas terus pingsan, Teh. Sekarang lagi di IGD, kondisinya belum sadar juga " jelas Bik Tati dengan suara yang begitu berat menahan tangis.
Mama Yana langsung terduduk lemas mendengar kabar itu, air matanya seketika tumpah membasahi pipinya yang mulai menua. Bayangan wajah putrinya yang begitu ia sayangi langsung memenuhi benaknya, diiringi rasa bersalah karena tak berada di sampingnya saat dibutuhkan.
"Iya Tati, Teteh langsung berangkat malam ini juga. Tolong jaga Raya baik-baik ya." ucap Mama Yana dengan suara yang begitu bergetar sebelum akhirnya menutup telepon dan bergegas mengemasi barang seadanya, tak peduli lagi pada waktu yang sudah begitu larut malam itu.
Mamah Yana diantar sama A Fahmi, kakaknya Raya yang nomor 2. Sepanjang perjalanan ia selalu dzikir dan meminta keselamatan untuk putri bungsu kesayangannya.
" Mamah tidur aja, nanti Aa kabarin kalau sudah dekat RS. " ujar Fahmi sambil menyetir mobil yang mereka pinjam dari tetangga.
" Mamah nggak bisa tidur, A. "
" Dicoba Mah, jangan sampai Mamah ikutan sakit. Nanti siapa yang mau rawat si Neng kalau Mamah sakit? "
Malam itu begitu panjang, mereka sampai jam 3 subuh. Mama Yana langsung berlari kecil menuju ruang rawat inap tempat Raya sudah dipindahkan, wajahnya begitu kusut menahan kekhawatiran yang begitu mendalam sepanjang perjalanan.
"Raya... anak Mamah..." lirih Mama Yana begitu melihat putrinya terbaring lemah dengan selang infus dan oksigen yang terpasang di tubuhnya.
Wajah Raya yang biasanya begitu cerah kini terlihat begitu pucat, bibirnya sedikit membiru menahan sesak yang masih menyisakan pengaruhnya.
Mama Yana langsung duduk di samping ranjang, menggenggam erat tangan Raya yang begitu dingin, air matanya terus mengalir deras tanpa bisa ia bendung lagi.
" Kenapa bisa gini, Bik Tati? " tanya Fahmi.
" Bibik juga nggak tau, Mi. Sehabis makan malam, tiba-tiba dia teriak panggil bibi sambil pegang dada. Habis itu dia pingsan dan kita langsung bawa kesini. "
" Ya Allah Neng.. " tangis Mamah Yana terdengar begitu memilukan.
Bik Tati yang duduk tak jauh dari sana hanya bisa menundukkan kepala, ikut merasakan kepedihan yang begitu besar menyaksikan pemandangan yang begitu menyayat hati itu.
Razka yang sejak semalam terus menunggu di ruang tunggu, akhirnya diperbolehkan masuk untuk menjenguk sebentar, wajahnya begitu lelah namun matanya tak henti menatap Raya dengan penuh kekhawatiran.
" Teh, ini Razka yang bawa Neng Raya ke RS. " ucap Bik Tati memperkenalkan Razka pada keluarga Raya.
Razka mengangguk sopan seraya tersenyum.
"Terima kasih banyak ya Kang, karena sudah nolongin anak Mamah." ucap Mama Yana lirih.
"Sama-sama, Bu. Saya harap kondisi Neng Raya cepat stabil. " jawab Razka jujur, matanya kembali menatap wajah pucat Raya yang masih terbaring tak sadarkan diri.
" Aamiin. "
Pagi itu dokter kembali datang untuk memeriksa kondisi Raya, namun hasil pemeriksaan tambahan pun tak menunjukkan adanya kelainan medis yang jelas. Jantung, paru-paru, hingga hasil laboratorium semuanya menunjukkan angka yang normal, sebuah kejanggalan yang semakin membuat semua orang di ruangan itu diliputi tanda tanya besar.
"Kami sudah cek semuanya dan tidak ditemukan kelainan apa pun, Bu. Kondisi pasien saat ini stabil, hanya saja belum sadarkan diri. Kami akan terus observasi untuk mengetahui penyebabnya." jelas dokter itu dengan nada yang begitu bingung, tak biasa menghadapi kasus yang begitu sulit dijelaskan secara ilmu kedokteran itu.
Mendengar penjelasan itu, Mama Yana justru semakin yakin bahwa ada sesuatu yang begitu janggal, sesuatu yang berada di luar jangkauan ilmu medis biasa. Ia teringat kembali cerita-cerita yang pernah didengarnya tentang gangguan yang sempat menimpa Raya sebelumnya, sebuah teror gaib yang begitu meresahkan.
"Tati, jangan-jangan ini sama kayak yang dulu lagi?" bisik Mama Yana pelan pada Bik Tati, suaranya begitu penuh kekhawatiran.
Bik Tati menghela napas berat, mengangguk pelan membenarkan kecurigaan yang sama-sama mereka rasakan itu.
"Saya juga curiga begitu, Teh. Apa nggak sebaiknya telpon Pak Ustad Raya? Dia kan yang biasa menangani si Neng" usul Bik Tati.
" Iya juga Ti, coba Teteh telpon temennya si Neng yang kenal sama Ustadz Ahmad. "
Mama Yana mengangguk setuju, namun ia sendiri tak memiliki kontak langsung dengan Ustadz Ahmad yang selama ini menjadi pembimbing spiritual bagi Raya. Ia pun langsung menelpon Ara, sahabat karib Raya yang selama ini begitu dekat dan mengetahui banyak hal tentang kondisi putrinya itu.
Dengan tangan yang masih gemetar, Mama Yana mengambil ponsel Raya yang tergeletak di meja samping ranjang, mencari kontak Ara di antara daftar nama yang tersimpan. Begitu menemukannya, ia segera menekan tombol panggil dengan hati yang begitu berdebar, berharap bantuan segera datang untuk menyelamatkan putrinya dari cengkraman sesuatu yang begitu misterius dan mengerikan itu.
"Halo Assalamu'alaikum Neng Ara, ini Mama-nya Raya,." ucap suara di seberang telepon dengan nada yang begitu cemas dan bergetar.
Ara langsung terduduk kaget mendengar suara itu, jantungnya seketika berdegup begitu kencang menyadari sesuatu yang begitu tidak beres pasti sudah terjadi pada sahabatnya itu.
" Wa'alaikumussalam. Iya Mah, ada apa? Raya kenapa?" tanya Ara dengan suara yang mulai panik.
Mama Yana pun menjelaskan seluruh kejadian semalam dengan suara yang begitu berat menahan tangis, membuat Ara semakin diliputi kekhawatiran yang begitu besar mendengar kondisi sahabatnya yang begitu mengenaskan itu.
"Ya Allah, Mah... aku langsung ke sana sekarang. "
" Kalau bisa mah ajakin Pak Ustadz Ahmad ye Neng. Siapa tau kalau udah di do'ain sama dia, Raya bisa sadar. "
" Siap Mah! "ucap Ara cepat.
Setelah menutup telepon, Ara segera menghubungi Ustadz Ahmad. Ia menjelaskan seluruh kejadian yang begitu mendadak itu dengan suara yang masih begitu bergetar menahan kepanikan. Ustadz Ahmad yang mendengar penjelasan itu langsung terdiam sejenak, seolah sedang merasakan sesuatu yang begitu berat sedang terjadi pada muridnya itu.
"Baik, Neng Ara. Saya akan segera bersiap, kita berangkat nanti siang. Ini kelihatannya bukan gangguan biasa." ucap Ustadz Ahmad dengan nada yang begitu serius.
Di ruang rawat inap rumah sakit kecamatan, Raya masih terbaring lemah tak sadarkan diri. Sementara jauh di sudut lain kota, Manda yang sama sekali tak menyangka bahwa serangan gaib yang ia kirimkan lewat perantaraan Ki Bagas, telah begitu berhasil melumpuhkan targetnya. Ia tersenyum penuh kepuasan sambil menatap langit malam dari jendela kamarnya, tak menyadari bahwa sebuah pembalasan yang jauh lebih mengerikan sedang menanti di depan sana.
🌾🌾🌾🌾
Kondisi Raya masih belum menunjukkan perubahan yang berarti. Napasnya memang sudah tak lagi tersengal seperti semalam, namun kesadarannya tak kunjung kembali, membuat kekhawatiran Mama Yana dan Bik Tati semakin memuncak dari jam ke jam.
Razka yang sejak semalam bolak-balik menjaga di rumah sakit, ia tampak begitu lelah namun tak sedikit pun menunjukkan niat untuk pulang beristirahat, hatinya terlalu diliputi kekhawatiran untuk bisa tenang jauh dari sosok Raya.
Waktu terus berjalan dengan begitu lambat, setiap detik terasa begitu menyiksa bagi mereka yang menunggu dengan hati begitu cemas. Beberapa kali perawat datang memeriksa kondisi Raya, namun tak ada perkembangan berarti yang bisa mereka sampaikan, hanya sebuah kesabaran panjang yang harus terus mereka jalani sambil menanti kedatangan bantuan yang begitu diharapkan itu.
" Neng, apapun yang kamu rasakan, tolong berjuang untuk kembali. " lirih Razka.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target