Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Hadiah
Kaizan tetap diam sampai panggilan berakhir.
Tiga malam kemudian, Keira menemukannya duduk di lantai ruang tamu bersama Mochi. Anjing besar itu menggigit ujung dasinya, sementara laptop terbuka di meja dengan layar sudah gelap.
Mochi kini memakai tanda nama biru. Tujuh hari pencarian telah lewat tanpa satu pun orang yang mengaku pemilik mampu menyebutkan ciri tersembunyinya. Siang tadi, Keira membawanya kembali ke klinik untuk vaksin dasar, obat cacing, dan pemasangan microchip. Nomor Keira terdaftar sebagai kontak utama, sedangkan Kai menjadi kontak darurat. Untuk pertama kalinya, kata `sementara` hilang dari status Mochi.
"Kamu baru pulang?" tanya Keira.
"Lima menit lalu."
"Dan langsung dirampok Mochi."
"Dia punya selera mahal."
Keira duduk di sofa, menyembunyikan kantong kertas kecil di belakang punggung. "Tutup mata."
Kaizan menatapnya curiga. "Kenapa?"
"Kalau tidak mau, ya sudah."
"Baik."
Begitu matanya tertutup, Keira mengeluarkan kotak plastik bening. Isinya jam tangan pintar dengan tali biru gelap dan layar kotak. Modelnya jelas dibuat untuk anak-anak.
"Buka."
Kaizan melihat benda itu, lalu Keira. "Ini untukku?"
"Sekitar dua ratus ribu rupiah. Jangan hina harganya."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Wajahmu bilang banyak."
Keira memasangkan jam itu ke pergelangan tangannya. Tali terakhir masih muat, meski bentuknya terlihat lucu di samping kemeja kerja dan jam mekanis yang biasa dia pakai.
"Ada telepon, pesan suara, dan lokasi," jelas Keira. "Kamu sering tidak menjawab ponsel. Kalau tersesat saat mencari pekerjaan, aku bisa menemukanmu."
"Aku tidak pernah tersesat."
"Minggu lalu kamu salah masuk gang dan baru pulang dua puluh menit kemudian."
Kaizan tidak mungkin mengatakan bahwa dia menghindari mobil Moreno yang menunggu di depan apartemen.
Keira menyentuh layarnya. "Aku sudah melihat jam ini sejak masih diskors. Waktu itu uangku harus dibagi untuk sewa, kebutuhan Mama, dan dana darurat. Jadi aku sisihkan sedikit setiap minggu."
Dia mengambil ponsel Kaizan dan membantu memasangkan aplikasi. Kontak pertama diberi nama `Kei`, lengkap dengan foto Keira sedang cemberut saat memegang sisir Mochi.
"Kenapa fotonya itu?" tanya Kaizan.
"Supaya kamu takut kalau tidak menjawab."
Keira menekan tombol pesan suara. Sedetik kemudian, jam di pergelangan Kaizan bergetar dan mengeluarkan suaranya sendiri.
"Tes. Pulang tepat waktu dan jangan lupa beli makanan Mochi."
Kaizan memutar pesan itu sekali lagi.
"Kamu bisa dengar nanti."
"Aku sedang memastikan suaranya jelas."
"Tiga kali?"
"Pengujian perangkat harus menyeluruh."
Keceriaan di wajah Kaizan menghilang. Bukan karena kecewa, melainkan karena harga dua ratus ribu itu mendadak terasa lebih berat daripada jam mewah mana pun yang pernah dimilikinya.
"Kei, kamu tidak perlu menghemat untukku."
"Aku tahu. Aku mau. Itu beda."
Dia mengangkat pergelangan tangan Kaizan. "Mulai sekarang, kalau aku menelepon lewat ini, harus dijawab."
"Siap, Kapten."
Kaizan melepas jam mekanisnya dan menyimpan benda mahal itu ke dalam laci. Jam anak-anak tetap di pergelangan tangannya.
"Sekarang giliranku."
Dia mengambil kotak kecil dari tas laptop. Kotaknya polos, tanpa pita dan tanpa nama merek. Di dalamnya terbaring kalung tipis dengan liontin awan kecil bertatah batu bening.
Keira langsung menyipit. "Itu Cloud lagi?"
"Model tambahan. Bukan bagian dari delapan belas barang kemarin."
"Berapa?"
Kaizan mengingat angka pada faktur: dua ratus juta rupiah.
"Barang contoh yang tidak jadi masuk katalog," katanya. "Karena pembelian kemarin besar, mereka memberi diskon hampir penuh."
"Hampir penuh itu berapa?"
"Masih dalam batas hadiah yang kita sepakati."
Keira menatapnya lama. Kaizan mempertahankan wajah tenang yang biasanya membuat direksi mengira semua krisis telah terkendali.
"Kamu tidak bohong?"
Peringatan Oma bergaung di kepalanya.
Kaizan seharusnya mengatakan semuanya malam itu. Tentang nama, NusAir, kartu hitam, dan harga kalung di tangannya. Namun Keira berdiri begitu dekat, menunggu jawaban, dan rasa takut kehilangan membuat kata-katanya berhenti di tenggorokan.
"Ini memang barang diskon," jawabnya.
Keira akhirnya membalikkan badan agar dia memasangkan kalung itu. "Kalau nanti aku menemukan faktur lain, kamu tidur dengan Mochi."
"Mochi akan senang."
"Aku serius."
"Aku juga."
Liontin awan itu jatuh tepat di bawah kalung Cloud yang lebih dulu dipilih Keira. Nilai dua hadiah malam itu sama-sama dua ratus, tetapi selisih tiga angka nol berdiri diam di antara mereka.
Keira menghadapnya. "Punyaku tidak sebagus hadiahmu."
"Siapa bilang?"
"Bentuknya untuk anak SD."
"Kamu membeli fungsi yang kamu pikir akan menjagaku." Kaizan menyentuh tali biru di pergelangan. "Tidak ada barang lain yang lebih bagus."
Keira merapikan kerah kemejanya untuk menyembunyikan wajah yang mulai panas. "Jangan pintar bicara. Cuci piring."
Kaizan berdiri tanpa melepas jam itu. Saat dia membawa piring ke dapur, Keira memotret punggungnya dan mengirimkannya kepada Vera dengan keterangan pendek: hadiahku dipakai.
Balasan Vera datang dalam tiga detik: bahkan konglomerat belum tentu dapat jam sekeren itu.
Keira tertawa. Dia tidak tahu betapa tepatnya kalimat tersebut.
Beberapa hari kemudian, Keira mengenakan kalung baru itu ke kantor. Dia baru keluar dari ruang briefing ketika seorang pria tinggi dengan jaket krem berjalan dari arah studio media NusAir. Dua pegawai mengikuti sambil membawa kamera dan lampu portabel.
"Kevin, jadwal wawancara direksi maju lima belas menit," kata salah satu dari mereka.
"Kita masih punya waktu. Ambil gambar hanggar setelah ini."
Kevin Liauw menurunkan kacamata hitamnya. Wajahnya dikenal dari video perjalanan dan ulasan kabin yang ditonton jutaan orang. Sebagai cucu salah satu tokoh senior industri penerbangan, dia terbiasa masuk ruang yang tidak terbuka bagi pembuat konten biasa.
Keira tidak mengenalinya. Dia hanya mengangguk sopan saat mereka hampir berpapasan, lalu membungkuk mengambil kartu identitas seorang staf yang jatuh.
"Punya Anda," katanya sambil menyerahkan kartu itu.
Staf tersebut berterima kasih. Keira melanjutkan langkah menuju lift tanpa menoleh lagi.
Kevin justru berhenti.
Tatapannya mengikuti seragam pilot dan dua liontin awan yang memantulkan cahaya di leher Keira.
"Siapa dia?" tanyanya pelan.