NovelToon NovelToon
Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan terakhir Seorang Anak

Hasan pun terbangun dari tidurnya karena dengar ibunya teriak.

"Ada apa, Bu?" tanyanya panik. Saat melihat Husnan terbaring di lantai, ia langsung menghampiri kakaknya. "Bu... kakak kenapa?" ucap Hasan dengan kuatir sambil mencoba membangun kan pelan tubuh Husnan.

Yuni menggeleng dengan wajah penuh kecemasan.

"Ibu juga tidak tahu. Ayo, kita segera membawanya ke rumah sakit!"

Karena mereka tidak memiliki kendaraan, Yuni bergegas berlari ke rumah tetangganya yang berada di depan rumah . Ia mengetuk pintu dengan terburu-buru.

"Pak Said... tolong, Pak! Tolong buka pintunya!" teriak Yuni.

Tak lama kemudian, Pak Said keluar dari rumahnya.

"Ada apa, Bu Yuni? Pagi-pagi begini kok tergesa-gesa sekali?"

"Pak, tolong bantu saya. Husnan pingsan gak tau kenapa . Tolong antarkan kami ke rumah sakit."

Mendengar perkataan Yuni, Pak Said pun langsung berlari menuju rumah Yuni. Sesampai di kamarnya Husnan ia terkejut melihatnya terbaring di lantai kamar dengan wajah yang sangat pucat.

"Astaghfirullah... cepat, kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!"

Ia pun mengangkat Husnan yang kurus itu menuju ke kursi depan mobil miliknya.

"Ayo naik semua kita ke rumah sakit"

" Iya ayo Hasan "

Hasan mengangguk" tapi Bu sekolahnya gimana"

"Nanti ibu ijin ke Bu guru".

Merekapun berangkat ke rumah sakit sambil berdoa semoga Husnan tidak kenapa Napa.

Sesampainya di rumah sakit, Pak Said langsung menggendong Husnan menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Yuni dan Hasan mengikuti dari belakang dengan wajah penuh kecemasan.

"Dokter... tolong! Anak saya pingsan!" teriak Yuni.

Beberapa perawat segera datang sambil membawa kasur roda . Husnan pun dipindahkan ke atas kasur tersebut dan dibawa masuk ke ruang penanganan. Dokter bersama tim medis segera memeriksa kondisinya.

Yuni hanya bisa berdiri di depan ruang perawatan sambil terus berdoa. Hasan memegang tangan ibunya, jangan panik dulu Bu kakak bai baik saja.ucapnya sambil menenangkan ibunya.

Tak lama kemudian, Pak Said menghampiri Yuni.

"Mbak Yuni, saya pamit dulu ya. Saya masih ada urusan di rumah. Semoga Husnan cepat sembuh."

"Iya, Pak. Terima kasih banyak sudah mengantar kami. Hati-hati di jalan pak"

Pak Said mengangguk lalu meninggalkan rumah sakit.

Yuni dan Hasan kemudian duduk di kursi yang berada di depan ruang perawatan.

"Bu... kenapa Kak Husnan bisa pingsan?" tanya Hasan sambil menatap wajah ibunya.

"Ibu juga tidak tahu, Nak. Ibu berharap kakakmu baik-baik saja."

"Oh iya, Bu... kemarin Kak Husnan tidak membeli obat.Uangnya dipakai untuk membeli kue ulang tahun Hasan."

"Apa? Husnan tidak membeli obat?" ucapnya sambil melihat ke Hasan.

"Padahal kata dokter sudah bilang dia harus minum obat setiap hari. Jika sampai telat kondisinya bisa makin memburuk."

Hasan cuma terdiam. Hatinya merasa bersalah.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu ruang perawatan akhirnya terbuka. Dokter keluar sambil melepas masker.

Yuni berdiri dan menghampiri dokter.

"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?"

"Syukurlah dia di bawa rumah sakit dengan cepat. Kalau terlambat sedikit saja, kondisinya bisa makin memburuk."

"Alhamdulillah... Terima kasih, Dok."

"Ibu, mari ikut saya ke ruang administrasi. Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan."

Yuni pun mengangguk sambil mengikuti langkah dokter.

Sesampainya di ruang administrasi, dokter memberi tahu.

"Untuk saat ini kami akan menstabilkan kondisinya terlebih dahulu. Namun, jika penyakitnya terus memburuk, kemungkinan besar ia membutuhkan transplantasi jantung. Proses itu tentu memerlukan jantung lain dan biaya yang sangat besar."

"Donor jantung saya aja dok biarpun harus gantiin nyawanya saya juga siap asal kan Husnan selamat."

"Sementara sekarang kami akan berusaha semaksimal mungkin tetapi jika tidak membaik ya harus dengan cara itu."

"Dokter kemudian menyerahkan rincian perkiraan biaya perawatan kepada Yuni.

Yuni pun sempat Terkejut melihat rincian itu.

"Dari mana saya dapat uang sebanyak ini?" gumamnya .

Kemudian Yuni kembali menuju ruang perawatan sambil memikirkan tagihan itu.

Di sana, Hasan sedang tertidur disamping ranjang Husnan yang masih terbaring belum sadar.

"Ibu sudah datang," ucap Hasan.

Yuni mengangguk sambil cemas setelah di berikan tagihan itu ,Ia duduk di samping kedua anaknya. Namun pikirannya masih dipenuhi tagihan rumah sakit yang sangat besar itu.

Setelah beberapa saat, Yuni bergegas keluar dari ruang perawatan. ia murung di kursi depan sambil terus memikirkan tagihan itu gimana cara biar dapat uang sebanyak itu.

"Saudara gak ada tetangga juga tidak ada kalau meminjam sebanyak itu" gumam nya sambil memegang kepalanya.

Ia pun bertindak tanpa memikirkan harga diri,Yuni berlutut di gerbang rumah sakit dan sambil meminta minta sama orang yang lewat .

"Tolong... tolong kami... Anak saya sedang sakit. Saya tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Tolong bantu kami..." ucap Yuni sambil memohon di kasihani.

Beberapa orang hanya melirik sekilas lalu berlalu begitu saja. Ada juga yang pura-pura sibuk memainkan ponsel. Hanya beberapa orang yang meletakkan beberapa lembar uang ke tangan Yuni.

"Terimakasih pak buk terimakasih."

Kemudian, dua orang yang baru saja keluar dari rumah sakit berjalan melewati Yuni. Salah seorang dari mereka mengambil dompet dan berniat memberikan beberapa lembar uang kepada Yuni.

"Kasihan juga ya, ibu itu," ucapnya .

Namun, temannya segera menghentikan tangannya.

"Eh, jangan banyak-banyak Din. Belum tentu ceritanya benar. Sekarang banyak pengemis yang menipu."

Perkataan kedua orang itu terdengar oleh beberapa orang di sekitar mereka.

Seorang bapak yang sedang duduk di bangku rumah sakit langsung membela Yuni.

"Hei anak muda jangan mudah berburuk sangka. Kalau memang benar bagaimana? Tidak ada seorang ibu yang rela menjatuhkan harga dirinya hanya untuk meminta-minta kalau bukan karena benar-benar terdesak."

Suasana seketika menjadi hening.

Yuni hanya menundukkan kepala. Air matanya menetes tanpa henti .

Ia tidak merasa dirinya memalukan. Baginya menyelamatkan nyawa anaknya jauh lebih penting daripada harga dirinya sendiri.

Di rumah sakit Husnan pun bangun dan sambil bertanya kepada Hasan .

" Dik dimana ibu"?

"Itu di luar"jawabnya singkat.

Lalu Hasan menengok di jendela melihat ibunya yang sedang berlutut minta di kasihani.

"Dik ayo temui ibu"ucap Husnan sambil menggenggam tangan adiknya Dengan tergesa-gesa.

Hasan mengangguk sambil mengikuti kakaknya.

Setelah mereka sampai di bawah , Husnan pun menghampiri ibunya.

"Bu jangan begini ,Kalau Ibu begini, mending aku gak di obati bu, Kita pulang saja ke rumah" ucap Husnan sambil menangis sejadi jadinya sambil memeluk erat badan ibunya.

Yuni pun ikut menangis. Dengan penuh penyesalan, sambil memukuli dadanya sendiri.

"Maafkan ibu nak ibu sudah berusaha semaksimal mungkin,tapi ibu belum bisa menghidupi kalian berdua dengan baik. Ibu sungguh tidak berguna."

Husnan menggeleng sambil mengusap air matanya.

"Jangan bilang begitu Bu.Justru aku yang membebani ibu.kalau seandainya aku tidak sakit ibu pasti tidak akan menderita"

Mendengar ucapan anak sulungnya,Yuni semakin memeluk erat tubuhnya .

"Jangan di ucap lagi perkataan itu ya nak, kamu anak ibu yang paling pengertian.Ibu tidak ingin menyerah ibu pasti bisa bayar tagihan rumah sakit," jawab Yuni sambil mengusap air matanya Husnan .

"Bu... Hasan lapar," ucapnya.

Yuni segera mengusap air matanya berusaha senyum.

"Iya ayo nak ,kita pulang dulu,Husnan tunggu di rumah sakit dulu ya ,ibu pulang dulu,jaga diri baik-baik."

"Iya Bu sana pulang dulu Husnan akan tunggu di rumah sakit.ia segera berjalan ke rumah sakit.

Yuni pun mengangguk, sambil mengandeng tangan Hasan .

Setelah melihat ibunya pergi sama adiknya, Husnan kembali ke dalam rumah sakit . Ia mencari ruang administrasi.tak lama kemudian,ia menemukannya.

.Husnan berjalan sambil menghapus sisa sisa air mata di wajahnya ,lalu mengetuk pintu.

Dok....dok... suara pintu.

"Silahkan masuk " ucap dokter yang sedang mengecek data pasien.

Husnan pun menghampiri dokternya.dengan agak gemetar.

"Dok kalau boleh tahu berapa banyak biaya buat operasi saya."

"sementara saat ini biayanya sekitar 41 juta.

Husnan pun terkejut"saya gak mau di obatin dok ibu gak punya uang sebanyak itu.saya sudah membuat ibu sangat menderita dan membesarkan kami berdua, saya tidak ingin di obati."

Dokternya pun mengusap kepala Husnan.sambil berkata.

"Kamu masih kecil tapi begitu pengertian sama kondisi keluargamu ,kamu kembali dulu ke ruang perawatan ya,saya akan membicarakan nanti.

Husnan pun mengangguk sambil berjalan keluar.

Dokternya memandang punggung Husnan yang perlahan menghilang. Ia menghela napas."kasihan anak ini,anak orang miskin memang di paksa tumbuh dewasa sebelum waktunya."gumamnya pelan.

Husnan mengangguk . lalu keluar dari ruang administrasi.

Langkahnya terasa berat untuk melanjutkan hidupnya. Kata-kata dokter terus terngiang di kepalanya, sementara bayangan ibunya yang berlutut memohon belas kasihan tak mau hilang dari ingatannya.

Sesampainya di ruang perawatan, ia duduk di ranjang dan menatap ke arah jendela. Langit perlahan mulai berubah gelap.

Di dalam hatinya, sebuah keputusan besar mulai terbentuk.

1
the virtuso
saling support kak
Putry Chan
💪
Otna Forever
Siiip, lanjutkan
Obby Ilhamsyah: semangat nulis novelnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!