Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Parkiran dan Udang
Rangga Prasetya menunggu di pintu keluar parkiran Linguara seperti bayangan yang menolak hilang.
Eve melihatnya saat langit Jakarta mulai gelap. Karyawan lain sudah bergegas pulang, beberapa memesan ojek online, beberapa turun ke basement. Rangga berdiri dekat tiang beton, kemejanya kusut, matanya merah, rambutnya tidak serapi dulu.
Dulu ia selalu tampil seperti pria yang hidupnya tersusun rapi. Malam ini, ia tampak seperti seseorang yang baru sadar bahwa panggungnya sudah dibongkar.
Eve memperlambat langkah, tetapi tidak mundur.
"Kamu puas?" Rangga langsung melangkah menghadang.
"Minggir."
"Pasti kamu yang memberitahu mereka soal ijazahku." Suaranya serak, marah, dan putus asa. "Kamu mau balas dendam karena aku meninggalkanmu?"
Eve menatapnya. "Ijazah palsu itu bukan aku yang buat."
"Jangan pura-pura."
"Kamu hancur karena perbuatanmu sendiri, Rangga. Bukan karena aku."
Kalimat itu membuat wajah Rangga berubah. Ia terbiasa melihat Eve menjelaskan, membela diri, meminta dipahami. Ia tidak terbiasa melihat perempuan itu berdiri tenang seperti pintu yang sudah terkunci dari dalam.
"Kamu merasa hebat sekarang?" Ia tertawa pahit. "Karena ada Daniel? Karena suami tentara miskinmu itu?"
Eve hendak melewatinya.
Rangga meraih pergelangan tangannya.
Rasa sakit menjalar sampai siku. Luka lama di telapak tangan memang sudah membaik, tetapi genggaman kasar itu menarik memar yang belum sepenuhnya hilang.
Eve mengerutkan kening, tetapi tidak berteriak.
"Lepaskan."
"Dengar dulu!"
"Saya bilang lepaskan."
Satu tangan muncul dari belakang Eve.
Jari-jari Rangga dibuka satu per satu, perlahan, tanpa tergesa, tetapi dengan tekanan yang membuat wajah Rangga memucat. Edric berdiri di belakang Eve. Matanya tenang. Justru karena terlalu tenang, udara di parkiran terasa lebih dingin.
"Dia bilang lepaskan," kata Edric.
Rangga menarik tangannya dengan susah payah. "Kamu lagi."
Edric menatap pergelangan Eve. "Sakit?"
"Sedikit."
"Masuk mobil dulu."
Rangga tertawa tajam. "Lihat? Cuma laki-laki biasa yang dia nikahi karena impulsif. Kamu pikir kamu siapa?"
Edric baru membuka mulut, tetapi Eve mendahului.
"Dia suamiku. Itu sudah cukup."
Parkiran hening sesaat.
Edric menoleh padanya.
Eve tidak sedang berusaha membuat Rangga cemburu. Ia tidak sedang membalas dendam. Ia mengatakan kalimat itu dengan keyakinan sederhana, seperti menyebut alamat rumah.
Suami.
Itu sudah cukup.
Sesuatu di dada Edric bergerak keras.
Rangga terdiam, lalu wajahnya berubah semakin buruk. "Kamu akan menyesal."
"Aku sudah pernah menyesal," kata Eve. "Karena terlalu lama percaya padamu."
Petugas keamanan Linguara mendekat. Edric memberi isyarat singkat. Rangga dipaksa mundur, tetapi saat pintu lift terbuka, ia mencoba ikut masuk. Seorang petugas menahannya.
Di dalam lift, Rangga dan Edric saling menatap lewat celah pintu yang menutup.
Untuk satu detik, Rangga merasa pernah melihat mata itu.
Bukan di parkiran. Bukan di Restoran 1973. Di tempat yang lebih formal, mungkin layar berita, mungkin foto bisnis yang cepat lewat. Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat, tetapi pintu lift tertutup sebelum ingatan itu punya bentuk.
Di balik tiang parkiran, Jess menggenggam tasnya sampai buku jarinya putih.
Ia mengikuti Rangga sejak sore. Ia ingin meminta penjelasan, mungkin meminta maaf, mungkin memaksa pria itu kembali. Yang ia lihat justru Rangga menunggu Eve.
Begitu petugas melepas Rangga di luar area lift, Jess muncul.
"Jadi ini yang kamu lakukan?" suaranya bergetar. "Kamu masih mencari perempuan itu?"
Rangga menatapnya dengan muak. "Jangan mulai."
"Aku yang selalu di sampingmu setelah semua orang meninggalkanmu!"
"Di sampingku?" Rangga tertawa dingin. "Kamu membuat semuanya lebih buruk."
Jess terhuyung seperti ditampar.
Rangga melihat ke arah lift yang sudah tertutup, lalu kembali menatap Jess. "Lihat Eve tadi. Tenang, bermartabat. Lihat kamu. Teriak-teriak seperti orang gila."
Air mata Jess langsung jatuh.
"Kita putus," kata Rangga. "Aku tidak butuh drama tambahan."
Jess memukul bahunya dengan tas. Sekali, dua kali, lalu berlari keluar sambil menangis. Rangga tidak mengejar.
Di apartemen, Eve mencuci tangan lama sekali.
Edric berdiri di dekat pintu dapur, memperhatikan bekas merah di pergelangan tangannya. Ia ingin menelepon Fajar. Ia ingin membuat Rangga tidak pernah lagi bisa mendekati gedung Linguara. Namun Eve menatapnya dari wastafel.
"Jangan melakukan sesuatu yang akan masuk berita."
"Saya belum mengatakan apa-apa."
"Wajahmu mengatakan banyak."
Edric menghela napas. "Baik. Tidak masuk berita."
"Edric."
"Tidak akan saya sentuh. Untuk malam ini."
Eve tidak yakin itu janji lengkap, tetapi ia terlalu lelah untuk berdebat.
Malam itu mereka memasak seafood. Edric membeli udang segar, cumi, kangkung, dan jeruk nipis. Eve mencoba membantu, tetapi Edric mengambil alih bagian yang butuh pisau tajam.
Saat makan, ia duduk di seberang Eve dan mulai mengupas udang satu per satu. Kepala, kulit, punggung, lalu garis hitam kecil dibersihkan dengan teliti. Udang yang sudah bersih diletakkan di piring Eve.
Satu.
Dua.
Tiga.
Piring Eve mulai penuh.
"Kamu juga makan," katanya.
"Nanti."
Ia terus mengupas.
Eve menatap tumpukan udang itu, dan suara Mama Lili muncul dari bagian ingatan yang paling lembut.
Suatu hari kamu akan bertemu seseorang yang mau mengupaskan udang untukmu. Orang seperti itu layak kamu beri tempat di hidupmu.
Dulu Eve tertawa. Ia bilang hidup tidak bisa diukur dari udang.
Mama Lili tersenyum dan menjawab, justru hal kecil yang tidak perlu dilakukan siapa pun itulah yang paling jujur.
Eve menunduk, mengambil satu udang, memasukkannya ke mulut. Rasanya manis, gurih, sedikit pedas dari sambal. Matanya panas.
"Enak?" tanya Edric.
"Enak."
Ia tidak membiarkan Edric melihat air matanya. Tidak malam ini. Tidak ketika hatinya terasa terlalu penuh.
Setelah makan, listrik tiba-tiba padam.
Apartemen gelap. Dari luar terdengar beberapa tetangga berseru, lalu suara generator jauh. Edric menyalakan lilin kecil yang disimpan Eve di laci dapur.
Cahaya api membuat ruangan berubah lembut. Bayangan mereka bergerak di dinding, besar dan dekat. Eve duduk di lantai dekat balkon, Edric di sampingnya.
"Jakarta suka dramatis," kata Eve.
"Atau mendukung suasana."
Ia menoleh. Api lilin memantul di garis wajah Edric, menyorot bekas luka tipis di pelipisnya yang selama ini selalu membuat Eve ingin bertanya.
Mereka saling menatap tanpa kata. Tidak ada Calista, tidak ada Rangga, tidak ada nama Kho yang besar dan menekan. Hanya dua orang di ruang gelap, dengan piring yang belum dicuci dan lilin murah di meja.
Listrik menyala kembali setengah jam kemudian.
Ponsel Edric ikut menyala. Pesan Jerry masuk.
Bos, besok semua sudah siap.
Edric menatap layar, lalu menatap Eve yang sedang meniup lilin.
Ia menarik napas.
"Lina."
"Hm?"
"Besok malam kamu ada waktu?"
Eve menoleh. "Kenapa?"
Edric menyimpan ponselnya.
"Ada beberapa hal yang ingin saya katakan."