Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 SEPAKAT
Adam kebingungan setengah mati. Wajahnya pucat ditatap tajam oleh Alya dan seluruh anggota keluarganya. Kenapa tiba-tiba dirinya yang disudutkan dan dijadikan tersangka?
"Tidak ada yang aku sembunyikan, Alya!" seru Adam membela diri.
"Bohong!" bentak Alya tegas tanpa ragu. "Amira bisa punya mobil baru itu pasti pakai uang simpanan kamu kan, Mas?!"
"Demi Allah, bukan, Alya!" pangkas Adam frustrasi.
"Terus kalau bukan uang kamu, uang siapa lagi?!" cecar Alya tak mau kalah.
"Ya jelas uang pribadi Amira lah!" Rika yang akhirnya memotong perdebatan murahan itu. Rika melangkah maju, merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama berdesain elegan dan menyerahkannya kepada petugas polisi.
Pak Polisi menerima kartu nama itu, lalu membacanya pelan. "AR Restaurant & Catering Services..." gumam petugas polisi itu.
"Amira adalah pemilik utama Restoran AR," tegas Rika penuh kebanggaan.
Mata Pak Polisi seketika berbinar. "Ah! Restoran AR yang menyajikan kuliner khas Asia langganan para pejabat itu, kan?"
"Bapak mengenalnya?" tanya Rika tersenyum.
"Tentu saja tahu! Kalian kan yang mengelola katering besar waktu resepsi pernikahan anak Pak Andre beberapa bulan lalu?"
"Pak Andre Kapolres?" tanya Rika memastikan.
"Tepat sekali!" Wajah Pak Polisi mendadak berubah sangat ramah. "Kebetulan sekali, bulan depan anak saya mau menikah dan kami belum menemukan vendor katering yang cocok. Masakan di AR itu terkenal enak sekali!"
"Ah, tenang saja, Pak. Ke kami saja nanti, Bapak kan sudah tahu sendiri kualitas masakan dan pelayanan kami," promosi Rika santai.
Seluruh keluarga Adam melotot kebingungan. Bagaimana mungkin negosiasi kasus tindak pidana perusakan barang mendadak berubah menjadi negosiasi bisnis katering?
Amira berdehem pelan, memotong pembicaraan. "Pak Polisi... sepertinya kita sudah melenceng jauh dari topik utama."
"Ah! Saya sampai lupa, Bu Amira," ucap Pak Polisi tertawa canggung. Ia menatap Amira dengan pandangan kagum. "Saya benar-benar tidak menyangka kalau pemilik Restoran AR yang ternama itu ternyata Anda. Masih sangat muda dan mandiri."
Petugas polisi itu kemudian berdehem merapikan seragamnya, lalu menatap keluarga Adam dengan raut wajah kembali tegas.
"Jadi bagaimana ini? Sudah jelas ya, pemilik sah mobil ini adalah Bu Amira. Dan sebenarnya, kalian tidak perlu mempermasalahkan Bu Amira dapat uang dari mana. Bagi seorang pemilik restoran dan katering sukses, membeli satu unit mobil cash itu hal yang sangat mudah dan tidak perlu diperdebatkan. Sekarang kita fokus ke pokok masalah: apakah kalian sanggup mengganti rugi 5 juta rupiah atau tidak?"
Semua orang bungkam dengan wajah kaku. Fakta bahwa Amira mampu membeli mobil saja belum sanggup mereka cerna, apalagi kenyataan bahwa Amira adalah owner sebuah restoran besar.
"Assalamu’alaikum..."
Atensi semua orang mendadak teralih ke pintu masuk. Seorang pria paruh baya berpakaian sederhana—masih mengenakan jaket driver ojek online yang tampak agak kusam—melangkah masuk dengan wajah lelah.
Pak Diki.
"Wa'alaikumsalam..." sahut Amira spontan. Nada suaranya mendadak melunak dan jauh lebih ramah dibanding saat ia berbicara pada mantan ibu mertuanya. Dalam hati, Amira membatin, 'Dari seluruh anggota keluarga Adam, sepertinya cuma Pak Diki yang masih punya nurani.'
"Adam... bagaimana keadaan adikmu, Sonia?" tanya Pak Diki menghampiri Adam. Pria tua itu baru saja datang setelah menerima pesan dari anak laki-lakinya.
"Mandek, Pak. Amira masih kekeh minta ganti rugi 5 juta rupiah," jawab Adam melirik Amira.
"Silakan duduk dulu, Pak," potong Pak Polisi dengan sopan, mempersilahkan Pak Diki duduk di kursi perundingan.
Pak Diki menatap Amira dengan pandangan teduh. "Amira... apa kabar, Nak?"
"Baik, Pak," jawab Amira tulus.
Pak Diki mengangguk-angguk. Sejak dulu, nurani Pak Diki selalu mengatakan bahwa Amira bukanlah wanita biasa. Selama ini Pak Diki diam-diam selalu menghitung pengeluaran rumah tangga, dan ia sangat tahu betul bahwa Amira-lah yang selama dua tahun ini diam-diam menombok dan mencukupi kebutuhan rumah mereka, bukannya bergantung pada Adam.
"Tolong jelaskan pada saya bagaimana duduk perkaranya, Pak Polisi," batuk Pak Diki pelan.
Petugas polisi menjelaskan kejadian penyerangan dan perusakan yang dilakukan Sonia secara rinci. Pak Diki mendengarkan dengan tenang, sesekali mengelus dadanya yang terasa sesak mendengar kelakuan buruk anak bungsunya.
Pak Diki lalu menatap Amira penuh penyesalan. "Amira... Pertama-tama, Bapak minta maaf yang sebesar-besarnya atas nama Sonia ya, Nak," ucap Pak Diki lembut dengan suara bergetar. "Kedua, untuk ganti rugi mobilmu... pasti akan kami ganti. Hanya saja, untuk uang 5 juta rupiah tunai malam ini, jelas Bapak tidak punya. Dan kamu jangan pernah mengharapkan kakak-kakaknya Sonia akan membantu... mereka semua egois."
Pak Diki merogoh saku jaket ojolnya, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan. "Ini Bapak cuma ada uang 200.000 rupiah, Nak... Bapak janji akan mencicilnya setiap bulan sampai lunas."
Seluruh anggota keluarga menatap Amira dengan pandangan meremehkan. Mereka menganggap tindakan Pak Diki sangat konyol. Mana mungkin Amira yang jutawan itu mau menerima dicicil 200.000 rupiah? Amira pasti akan menolaknya mentah-mentah dan menertawakan Pak Diki.
Namun, Amira justru tersenyum tipis. "Baiklah, Pak... Tolong buatkan surat kesepakatannya sekarang, Pak Polisi."
JGLER!
Semua orang tercengang! Dari tadi Amira begitu keras kepala menuntut 5 juta rupiah tunai, tapi kenapa hanya dengan uang cicilan 200.000 rupiah dari Pak Diki, Amira langsung luluh?!
"Dari tadi saja kamu bilang begitu, Amira!" celetuk Alya kesal seraya melipat tangan di dada. "Kalau cuma 200.000 rupiah, aku juga ada di dompet!" lanjut Alya mulai sok tampil sebagai pahlawan.
Amira menoleh dingin pada Alya. "Kapan aku pernah menuntut ganti rugi harus dibayar lunas malam ini? Pak Diki menunjukkan niat baik dan tanggung jawabnya untuk mencicil, tentu saja aku hargai niat baik beliau."
"Kamu sengaja mempermainkan kami ya, Amira?!" bentak Ridwan tak terima. "Kalau cuma cicilan dua ratus ribu rupiah, aku juga sanggup!"
"DIAM KALIAN SEMUA!" tegur Pak Diki keras dengan nada sarat kekecewaan. Pak Diki menatap Ridwan, Mila, dan Adam bergantian. "Kalian itu cuma bisa merendahkan orang lain, tapi selalu bertindak sembrono dan tidak mau bertanggung jawab!"
Seketika Ridwan dan yang lainnya bungkam tak berani membantah.
Pak Diki menghela napas panjang, lalu merogoh kantongnya lagi. "Pak Polisi, tolong secepatnya dibuatkan suratnya. Saya sudah membawa materai." Pak Diki menyodorkan dua buah materai, beserta dua bungkus rokok dan segelas kopi kemasan ke atas meja petugas.
Petugas polisi mengerutkan dahi. "Apa ini, Pak?"
"Bapak sudah bekerja keras melayani kami malam-malam begini... Ini sekadar ucapan terima kasih kecil dari rakyat kecil seperti saya, Pak," ucap Pak Diki tulus.
Pak Polisi tersenyum tersentuh. "Ah... Kalau begitu terima kasih banyak, Pak. Baiklah, saya ketikkan surat kesepakatannya sekarang." Petugas itu dengan sigap jemarinya menari di atas keyboard komputer.
Di sela-sela menunggu print-out surat, Pak Diki menatap mantan menantunya itu. "Amira... Maafkan kesalahan Adam selama ini ya, Nak."
"Tidak apa-apa, Pak. Masalah yang lalu tidak perlu dibahas lagi," sahut Amira sangat sopan.
"Mata dan hati Adam memang kadang-kadang buta, Mira..." bisik Pak Diki lirih.
"Bapak!" protes Adam merasa disudutkan di depan Alya.
"Diam kamu, Adam!" pangkas Pak Diki tegas. Pria tua itu kembali menatap Amira penuh doa. "Amira... Semoga kamu makin sukses ya, Nak. Semoga bisnismu semakin lancar dan berkah."
"Aamiin... Terima kasih banyak doanya, Pak," jawab Amira hangat.
Sebenarnya, jika sudah berbicara dengan Pak Diki, Amira merasa tidak tega. Toh, mobil barunya sudah dicover penuh oleh asuransi. Sejak awal, niat Amira melaporkan ke polisi bukanlah semata-mata mencari uang 5 juta rupiah, melainkan untuk memberi pelajaran keras pada Sonia dan memberi peringatan pada keluarga Adam bahwa dirinya bukan lagi sosok penurut yang bisa mereka injak-injak seenaknya.
Cara Pak Diki berbicara dan memperlakukan Amira begitu hangat dan penuh kasih sayang—seperti seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri. Melihat pemandangan itu, anak-anak Pak Diki—Ridwan, Mila, dan Adam—merasakan sengatan cemburu di dalam dada. Seingat mereka, Pak Diki jarang sekali bersikap hangat seperti itu kepada mereka.
Tak lama kemudian, dokumen selesai dicetak. Pak Diki menandatangani surat kesepakatan penjaminan cicilan tersebut, disusul oleh Amira.
"Nah, kalau begini kan enak," ujar Pak Polisi merapikan berkas. "Proses pencabutan laporan sudah selesai."
Beberapa menit kemudian, petugas membukakan teralis sel tahanan. Sonia melangkah keluar dengan wajah sayu dan lesu. Di sudut bibirnya masih ada sisa kuah ramen. Sebenarnya, selama ditahan beberapa jam tadi, Amira-lah yang diam-diam berinisiatif membelikan porsi makanan enak untuk Sonia lewat petugas kepolisian—sebuah tindakan penuh kepedulian yang tak akan pernah disadari oleh keluarga itu.
Sonia langsung menubruk dan memeluk ibunya, Mirna, sambil menangis sesenggukan. Sonia sebenarnya ingin memeluk Pak Diki, namun rasa gengsi dan amarah menghentikannya.
Saat melintas di samping Amira, Sonia menghentikan langkahnya. Tatapan matanya menajam, sarat akan dendam dan kebencian yang mendalam.
'Hari ini kamu sudah mempermalukan dan menghancurkanku di depan semua orang, Amira...' bisik Sonia dalam hatinya yang makin menghitam. 'Lihat saja nanti... Aku akan membalasmu seribu kali lipat’