Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7. Ruangan itu terasa begitu sempit
Setelah bel berbunyi dan teman-teman sekelas mulai beranjak berhamburan keluar ruangan, aku justru diam terpaku di tempatku duduk. Kaki terasa berat seakan tertanam di lantai, tak sanggup melangkah sedikit pun. Ruangan yang biasanya terasa begitu luas, lapang, dan nyaman untuk kami isi bersama-sama, hari ini mendadak terasa berubah. Dinding-dindingnya seakan perlahan saling mendekat, menyempit, menekan dadaku hingga napasku terasa sesak dan pendek. Udara yang berhembus pelan pun terasa berat, seakan tak cukup lagi untuk memenuhi paru-paruku. Hanya tersisa aku dan keheningan yang menyelimuti ruangan itu, namun bayangannya seakan masih berdiri di sana, memenuhi setiap sudut pandangku.
Aku mencoba menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantung yang masih berpacu liar di dalam rongga dada. Namun setiap kali aku memejamkan mata, kembali terbayang sosoknya berdiri di depan sana. Wajahnya yang tenang, tatapan matanya yang tajam namun tak menyiratkan apa pun, serta sikapnya yang begitu dingin dan jauh... semuanya terus berputar di kepalaku tanpa henti. Sejak pertama kali ia melangkah masuk tadi, ruangan ini seakan tak lagi milik kami semua. Ruangan itu seakan menjadi miliknya sepenuhnya, dan aku... aku merasa begitu kecil, begitu sempit, dan tak berdaya di dalamnya.
Teman-teman yang berjalan beriringan sambil tertawa riang seakan tak menyadari perubahan besar yang kurasakan sendirian. Mereka membicarakan hal-hal seru seputar kuliah, kagum pada ketampanan dan kecerdasan dosen baru itu, namun tak satu pun dari mereka tahu betapa sesaknya hatiku saat ini. Tak satu pun menyadari bahwa pria yang mereka kagumi itu adalah sosok yang mengikat janji perjodohanku. Bahwa bagiku, ruangan ini bukan sekadar ruang kelas tempat menuntut ilmu, melainkan tempat di mana duniaku seakan terhimpit sempit oleh kenyataan yang begitu berat untuk kuterima.
Aku perlahan memberanikan diri berdiri, meraih tasku yang tergeletak di atas meja. Langkah kakiku pelan dan ragu saat mulai melangkah menuju pintu keluar. Setiap langkah terasa begitu jauh dan berat. Rasanya lorong kecil dari bangku hingga ke pintu depan itu seakan membentang sangat panjang. Setiap kali aku melintas di dekat meja tempat ia tadi berdiri, napasku kembali tertahan. Bayangan keberadaannya masih terasa begitu nyata di sana. Seakan ia masih berdiri di tempat itu, menatapku lekat-lekat dengan tatapan yang sama—tenang namun tak tergugat sedikit pun.
Jantungku berdegup kencang kembali. Rasanya ruangan yang kosong itu kini terasa semakin sempit dan sempit lagi. Seakan tak ada ruang bagiku untuk bernapas, tak ada ruang bagiku untuk bersembunyi dari rasa gugup dan canggung yang meluap-luap. Aku merasa seakan setiap gerak-gerikku sedang dipantau, seakan matanya masih mengikutiku dari belakang, menilai setiap langkahku, memastikan aku tak melampaui batas yang telah ia tetapkan dalam diam.
Sesampainya di ambang pintu, aku tak sengaja menoleh kembali ke dalam ruangan itu. Kosong. Tak ada siapa pun. Namun kesan kehadirannya begitu kuat seakan masih memenuhi setiap jengkal ruangan itu. Aku menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, berusaha melepaskan segala sesak yang mengikat dadaku. Ternyata bukan ruangannya yang sempit, pikirku perlahan. Melainkan hatiku yang sedang merasa terhimpit oleh kenyataan yang begitu luar biasa. Bahwa di ruangan kecil ini, aku harus menampung dua perasaan sekaligus: rasa hormat sebagai murid, dan rasa canggung sebagai calon pasangan hidupnya. Dua hal yang begitu berbeda, namun harus kugenggam bersama di ruangan yang sama.
Aku pun melangkah keluar dengan langkah yang perlahan mulai terasa ringan, meski dadaku masih menyisakan rasa sempit yang tak sepenuhnya hilang. Aku menyadari, mulai hari ini, setiap kali melangkah memasuki ruangan itu, aku tak hanya sekadar hadir sebagai mahasiswi. Aku hadir dengan rahasia besar yang tersimpan rapat di dalam dadaku. Dan di sanalah, di ruangan yang terasa semakin sempit itu, aku harus belajar menahan diri, menjaga sikap, serta menyembunyikan segala rasa yang berkecamuk—agar tak seorang pun tahu, agar tak seorang pun mencurigai, dan agar batas yang telah ia lukiskan tetap terjaga dengan baik.
bersambung...