Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.
Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.
Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Jordan melangkah lebar masuk ke area dapur, melintasi ubin pualam yang dingin dengan napas memburu.
Rasa perih di perutnya akibat asam lambung mendadak tertutupi oleh gelombang cemburu dan amarah murni yang membakar dadanya.
Melihat wanita yang menjadi tunangan sahnya terkurung erat dalam cengkeraman lengan tegap Alessio dalam posisi yang teramat rapat dan sarat intensitas membuat kontrol dirinya runtuh seketika.
Tanpa berpikir panjang, Jordan memajukan tubuhnya, meraih bahu Vanessa secara kasar, dan menarik tubuh wanita itu dengan paksa agar terlepas dari kurungan Alessio.
Vanessa terhuyung mundur dua langkah, memegangi lengannya yang terasa nyeri akibat remasan jemari Jordan yang tak terkontrol.
"Jangan menyentuh tunanganku!" gertak Jordan, suaranya parau dan bergetar hebat.
Wajahnya yang pucat pasi kini memerah padam, matanya menancap lurus pada adik kandungnya.
Alessio perlahan menurunkan tangannya dari pintu kulkas. Ia merapikan ujung lengan jas hitamnya dengan gerakan amat santai, seolah-olah ketegangan di antara mereka hanyalah angin lalu. Senyum miring yang teramat tipis terukir di bibirnya yang tegas.
"Ah, kau sudah pulang, KA-KAK?" sapa Alessio. Nada suaranya terdengar begitu dingin, tenang, namun sarat akan ejekan yang memprovokasi.
Meskipun Jordan telah menarik Vanessa, Alessio tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri. Ia memiringkan kepalanya, menatap Jordan dengan pandangan malas dari atas ke bawah.
"Kenapa kau begitu emosional, Jordan?" bisik Alessio renyah. "Aku hanya sedang berbincang sedikit dengan Nona Vanessa. Hitung-hitung... perkenalan singkat dengan calon kakak iparku sendiri. Apakah itu sebuah pelanggaran di rumah ini?"
"Jaga jarakmu darinya!" bentak Jordan, menyembunyikan rasa terintimidasi di balik teriakan nyaringnya. Ia menggeser tubuhnya sedikit ke depan untuk menutupi Vanessa.
"Vanessa itu calon istriku! Kau tidak berhak berada sedekat itu dengannya, apalagi di tempat sepi seperti dapur!"
Alessio terkekeh pelan. Sebuah tawa rendah di kedalaman tenggorokannya yang membuat bulu kuduk bergidik.
"Tenanglah. Tentu saja aku akan menjaga jarak," sahut Alessio santai, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.
"Toh, aku juga sudah memiliki Yessika. Aku tidak ingin calon tunanganku merasa sedih atau terluka jika melihatku terlalu akrab dengan orang yang selama ini telah merundungnya."
Dada Vanessa berdesir keras mendengar kalimat itu. Kata 'merundung' yang keluar dari mulut Alessio terasa seperti sindiran yang ditujukan tepat ke wajahnya.
Jemari Vanessa mengepal erat di samping gaun piyamanya, membuang muka ke arah dinding dapur. Ia menahan kemarahan yang meluap, menolak untuk membuang energi membantah kebohongan yang sengaja dipelihara oleh dua pria di hadapannya.
Jordan, yang merasa posisinya di atas angin karena Alessio menyinggung soal Yessika, justru makin menyipitkan matanya penuh kecurigaan.
Rasa cemburunya atas kehadiran Alessio di sisi Yessika tadi pagi di rumah sakit mendadak mencuat kembali.
"Kalau begitu, jauhi Yessika juga!" bentak Jordan dengan nada suara yang menuntut.
Alessio mengangkat sebelah alisnya, memamerkan raut wajah polos yang teramat palsu.
"Menjauhi Yessika? Atas dasar apa? Bukankah Yessika adalah wanita yang dijodohkan denganku?"
"Karena Yessika tidak menyukaimu!" teriak Jordan tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya.
Tangannya menunjuk dada Alessio secara agresif.
"Dia tidak sudi bertunangan dengan pria terbuang sepertimu! Yessika... Yessika sudah memiliki pria lain yang dia cintai!"
Sebuah keheningan singkat melingkupi dapur mewah itu.
Alessio menatap Jordan tanpa berkedip. Bukannya marah atau terkejut, senyuman di bibirnya justru makin melebar. Sebuah senyuman gelap yang sarat akan dominasi berbahaya.
"Pria lain yang dia cintai?" bisik Alessio pelan, nada suaranya sangat berwibawa. "Kalau begitu... aku justru makin bersemangat. Aku pasti akan merebut Yessika dari pria itu."
Namun, saat kalimat "merebut Yessika" itu terlontar dari bibirnya, mata sehitam malam milik Alessio sama sekali tidak tertuju pada Jordan.
Pandangannya yang tajam dan pekat justru menghujam lurus ke arah Vanessa, menatap wanita itu dengan binar misterius seolah-olah ada pesan terselubung yang sedang ia sampaikan.
Vanessa yang menangkap tatapan itu mendadak merasa risih dan lelah. Ia memutar pandangannya ke arah lain, menyunggingkan senyum sinis yang amat tipis.
"Pria gila," batin Vanessa murka.
Rasa muak menjalar ke seluruh tubuhnya melihat dua saudara berdarah Carlton ini bertengkar dan saling tatap hanya demi memperebutkan wanita tak berotak dan penuh muslihat seperti Yessika.
Alessio merapikan kerah jasnya sekali lagi, memutus kontak mata dengan Vanessa.
"Aku permisi dulu, Kakak. Nikmati waktu malammu," ujar Alessio dingin.
Tanpa menunggu balasan, ia membalikkan badan dan melangkah pergi menyusuri lorong dapur yang remang-remang, meninggalkan aura dingin yang tertinggal di udara.
Begitu langkah kaki Alessio menghilang sepenuhnya di balik belokan koridor, sisa-sisa kontrol diri Jordan runtuh total.
Ia memutar tubuhnya secara mendadak, menatap Vanessa dengan raut wajah penuh kebencian dan cemburu liar.
"Kau!" bentak Jordan, maju mencengkeram lengan Vanessa hingga gelas yang dipegang wanita itu bergoyang keras.
"Apa yang kau lakukan dengannya di sini, hah?! Apa kau sengaja menggodanya di belakangku?!"
Vanessa menepis tangan Jordan secara kasar.
"Jaga bicaramu, Jordan! Aku cuma ke dapur untuk mengambil minum!"
"Mengambil minum atau menjual dirimu?!" gertak Jordan penuh hinaan, matanya melotot tajam.
"Aku tahu tabiatmu, Vanessa! Kau sengaja mendekati Alessio karena tahu dia pria tampan, kan? Kau ini memang perempuan genit! Haus belaian lelaki sampai-sampai adik calon suamimu sendiri mau kau mangsa!"
Kemarahan Vanessa memuncak hingga ke ubun-ubun. Rasa sakit di hatinya akibat pengkhianatan Jordan bertransformasi menjadi keberanian yang membakar jiwanya.
Tanpa ragu sedikit pun, Vanessa mengayunkan tangan kanannya yang memegang gelas air dingin.
Brak! Gebyur!
Isi air dingin di dalam gelas itu disiramkan secara telak tepat ke wajah Jordan.
Air mengucur deras dari rambut, dahi, hingga membasahi kerah kemeja Jordan. Pria itu terpaku, matanya terpejam rapat saat sensasi dingin menghantam wajahnya yang pucat.
"Jaga mulutmu yang kotor itu, Jordan!" bentak Vanessa dengan nada suara yang bergetar hebat karena amarah yang sangat besar.
"Jangan samakan aku dengan wanita simpananmu itu! Tidak semua perempuan di dunia ini semurahan Yessika yang sudi tidur dengan lelaki mana saja, termasuk dengan calon suami dari kakaknya sendiri!"
Kata 'murahan' dan sindiran keras soal Yessika menghantam rasa bangga dan gengsi Jordan tepat di pusatnya. Dibakar oleh penghinaan, rasa malu, dan amarah yang tak terkontrol.
Plak!
Sebuah tamparan keras yang teramat bertenaga mendarat mulus di pipi kiri Vanessa.
Kekuatan pukulan itu begitu besar hingga membuat kepala Vanessa terlempar ke samping. Tubuh rampingnya hilang keseimbangan, hantamannya keras saat ia terjatuh dan tersungkur di atas lantai marmer dapur yang dingin.
Gelas kaca di tangannya terlepas, memantul di lantai tanpa pecah namun menimbulkan suara nyaring yang menggetarkan kesunyian.
Sudut bibir Vanessa robek, darah segar berwarna merah pekat menetes perlahan, jatuh membasahi lantai pualam putih di bawahnya. Pipinya terasa panas membakar dan kebas.
Jordan berdiri di atasnya, menatap Vanessa yang tersungkur di bawah kakinya dengan dada yang naik-turun memburu.
"Itu hadiah yang sangat pantas untuk perempuan bermulut kotor sepertimu!" gertak Jordan penuh kemenangan yang kejam.
Ia menunjuk wajah Vanessa dengan jari telunjuknya yang bergetar.
"Sekali lagi kau berani menghina Yessika atau bertingkah genit di depan Alessio... aku pastikan hukumanmu akan jauh lebih parah dari ini!"
Vanessa menyapu rambutnya yang terurai menutupi wajah. Perlahan, mengabaikan rasa sakit yang menyengat di pipi dan lututnya, ia mengangkat kepalanya.
Pandangan matanya tidak memancarkan ketakutan atau air mata melainkan sebuah kilatan dendam yang amat dingin dan mematikan.
Vanessa menyunggingkan senyum miring yang berdarah, menatap lurus ke mata Jordan dari posisi bawah.
"Pukul lagi," tantang Vanessa dengan suara pelan namun amat tajam. "Pukul aku lagi, Jordan. Jangan berhenti di sini."
"Kau...!" Jordan yang merasa ditantang kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi di udara, siap mendaratkan tamparan kedua ke wajah Vanessa yang sudah terluka.
"Cukup, Tuan Muda Jordan!"
Sebuah suara tegas dan berwibawa memotong pergerakan tangan Jordan. Pak Ben,kepala pelayan senior muncul dari balik pintu dapur dengan langkah cepat. Wajah tuanya tampak amat serius dan penuh peringatan.
Jordan membeku di udara, menoleh tajam ke arah Pak Ben.
"Jangan ikut campur, Pak Ben! Ini urusanku dengan tunanganku!"
"Saya tidak berniat ikut campur, Tuan Muda," ujar Pak Ben tenang namun suaranya menekan, melangkah berdiri di antara Jordan dan Vanessa yang masih bersimpuh di lantai.
"Tapi, saya hanya ingin mengingatkan... Tuan Besar Arthur memberikan perintah yang sangat jelas sebelum berangkat dinas tadi pagi. Jika Tuan Besar tahu Anda kembali memukuli Nona Vanessa hingga terluka parah seperti ini... Anda sendiri yang tahu hukuman apa yang akan menanti Anda begitu Tuan Besar kembali."
Nama Arthur Carlton mendadak seperti air es yang menyiram amarah murni Jordan. Mengingat ancaman sang Ayah tentang pencabutan seluruh akses fasilitas dan hukuman berlutut di aula leluhur, kepalan tangan Jordan perlahan-lahan mengendur.
Jordan menarik tangannya kembali. Ia melangkah mundur satu tapak. Ia mengepalkan jemarinya gusar, menghembuskan napas kasar melalui hidungnya.
"Cih!" Jordan melepehkan ludahnya ke samping, menatap Vanessa yang kini dibantu oleh Pak Ben untuk berdiri secara perlahan.
"Ingat kata-kataku baik-baik, Vanessa," bisik Jordan penuh ancaman, menunjuk wajah Vanessa dengan mata menyipit tajam.
"Lain kali jaga mulutmu. Jangan pernah sembarangan menghina Yessika atau bertindak melampaui batasmu di rumah ini! Kau cuma calon istri yang menumpang hidup pada Keluarga Carlton!"
Tanpa menunggu balasan, Jordan membalikkan badan dengan gusar, menyapu air di wajahnya secara kasar, dan melangkah keluar dari dapur dengan hentakan kaki yang memecah hening malam.
Di dalam dapur yang kembali sunyi, Vanessa mengusap tetesan darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Pak Ben menyodorkan selembar kain bersih dengan raut wajah penuh simpati yang tersembunyi.
Vanessa menerima kain itu, lalu menatap pintu keluar dapur tempat Jordan baru saja menghilang.
"Terima kasih atas tamparanmu malam ini, Jordan," bisik Vanessa pelan di dalam hati, matanya berkilat penuh kehancuran dan kebangkitan. "Setiap tetes darah yang keluar dari bibirku malam ini... akan kubayar tuntas dengan kehancuran seluruh takhta yang kau banggakan."
makin kesini makin seruuuuuuu ,,
penasaran kak ,,
lanjuut kak ,,
pgen liat si Jordan Dan yessika keluar dr keluarga Carlton dg kaos oblong Dan daster ,,
😏😏😏