Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa Cia dua?
Hari berganti begitu cepat.
Vino sudah keluar dari rumah sakit. Ia kembali ke sekolah, tapi auranya berbeda. Wajah itu masih sama, tapi senyumnya hilang. Tatapannya kosong, seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu.
Seperti biasa, ia diantar-jemput supir dan Mba Sri.
Di sisi lain kota, Johan baru saja menutup laptop setelah meeting yang melelahkan. Entah dorongan apa, ia menyuruh supir berbelok.
"Ke sekolah Vino."
Ia tidak tahu harus berharap apa. Hanya ingin melihat.
Tapi setelah menunggu hampir setengah jam di parkiran, anak itu tak kunjung muncul.
Dengan ragu ia menghampiri pos satpam.
"Pak, Vino sudah pulang?"
"Oh Den Vino? Dari tadi sudah pulang, Pak. Sama Mba Sri."
Johan mengangguk kaku. Kecewa.
Saat berbalik menuju mobilnya, langkahnya terhenti.
Di depan gerbang, ada seorang pria. Rafa.
Pria itu tersenyum lebar, membukakan pintu mobil. Dan dari arah pagar, sesosok kecil berlari secepat kilat lalu melompat ke pelukan Rafa.
Tawa itu... Tawa itu milik Cia.
Dada Johan serasa ditusuk. Sakit. Perih.
Itu putrinya. Putri yang selama ini ia abaikan.
Tanpa sadar ia sudah berdiri di hadapan mereka.
"Pak Rafa."
Rafa menoleh. Alisnya sedikit terangkat.
"Ada apa, Johan?"
"Saya... boleh bicara sebentar?" Suara Johan tercekat.
Rafa melirik ke arah Cia, lalu berjongkok dan mengusap kepala putrinya.
"Cia, masuk mobil dulu sama Om ya. Papa ngobrol sebentar."
Cia menurut. Langkah kecilnya menjauh, meninggalkan dua orang dewasa yang auranya sama-sama tegang.
"Ngomong apa?" tanya Rafa dingin.
Johan menarik napas. Ini kesempatannya.
"Saya mohon, Pak. Izinkan saya bertemu Cia. Saya ingin menebus kesalahan saya. Saya... saya ayah kandungnya."
Kalimat itu menggantung di udara.
Wajah Rafa mengeras.
"Kamu baru ingat sekarang, Johan? Setelah bertahun-tahun menelantarkan mereka?"
"Saya tahu saya brengsek. Saya tahu. Tapi saya kangen. Saya cuma mau memeluk anak saya sekali, Pak. Tolong."
Hening. Hanya suara mobil yang lalu lalang.
Akhirnya Rafa mengembuskan napas panjang.
"Baik. Ke rumah saya. Kita bicara dengan Alana juga."
Johan duduk kaku di ruang tamu yang mewah itu. Tangannya berkeringat dingin.
Dari atas terdengar langkah kaki.
Alana muncul, digandeng Rafa.
Dan saat mata mereka bertemu... dunia Alana runtuh.
Jantungnya berdegup terlalu kencang. Dadanya sesak.
_Laki-laki ini. Laki-laki yang dulu menghancurkan hidupku. Ngapain dia di sini?_
Rafa menggenggam tangan Alana erat, seolah memberi kekuatan.
"Duduk, Sayang. Dengerin dulu."
Johan menunduk. Suaranya pecah.
"Alana... aku minta maaf. Aku tahu kata maaf nggak akan cukup. Tapi izinkan aku ketemu Cia. Aku cuma mau jadi ayah buat dia. Walau telat."
Alana tidak menjawab. Air matanya jatuh tanpa suara.
Rafa mengusap punggung tangan istrinya.
"Sayang, aku tahu ini berat. Tapi cepat atau lambat, Cia akan bertanya. Dia berhak tahu."
Alana terisak. "Tapi Mas..."
"Demi Cia," potong Rafa lembut. "Jangan karena luka kita, Cia yang kehilangan kesempatan mengenal ayahnya."
Akhirnya Alana mengangguk, meski berat.
"Ketemunya di sini. Jangan bawa Cia keluar."
"Iya," sahut Johan cepat, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Alana. Terima kasih."
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka.
Cia muncul dengan rambut dikuncir dua, masih bingung.
Rafa berjongkok di depannya.
"Cia, ini Papa Johan. Papa kandung Cia."
Cia memiringkan kepala.
"Papa kandung? Berarti... Cia punya dua papa?"
Ia lalu menoleh ke Alana, lalu ke Rafa, dan berkata polos,
"Cia maunya Papa Rafa aja."
Seketika ruangan itu hening. Hanya suara tangis tertahan dari Alana.
Johan hanya bisa tersenyum kaku. Ia ingin mengulurkan tangan, ingin memeluk. Tapi tatapan Cia yang polos dan ragu itu menghentikannya.
Akhirnya sore itu Johan pulang dengan tangan kosong.
Tidak ada pelukan. Tidak ada sapaan "Papa".
Hanya ada rasa perih yang ia bawa pulang ke mobilnya.
Di dalam rumah, setelah Johan pergi, Alana masih memeluk Cia erat.
"Maaf ya sayang..." bisiknya pelan.
Cia mengerutkan dahi. "Mama sedih ya? Cia nggak suka kalau Mama sedih."
Alana mengangguk sambil mengusap rambut Cia. "Iya. Tapi Mama janji akan baik-baik aja."
Rafa dari kejauhan hanya memperhatikan. Ia menarik napas panjang, lalu menghampiri dan memeluk mereka berdua.
---
Hari-hari berikutnya berjalan.
Johan tidak pernah menyerah.
Setiap minggu ia datang. Tepat waktu. Selalu membawa sesuatu: buku gambar, coklat, atau sekadar mainan kecil.
Tapi Cia masih sama. Dingin, jauh
Ia akan duduk di sofa seberang, memeluk bonekanya, dan sesekali melirik ke arah Johan dengan tatapan bertanya: _'Kamu siapa?'_
Alana dan Rafa tidak melarang.
Mereka hanya punya satu syarat.
Johan hanya bisa menemui Cia dirumah, tidak diluar kalaupun Cia bertemu di sekolah dengan Johan, harus dengan didampingi Rafa atau Alana.
Bagi Johan, itu sudah lebih dari cukup.
Meski Cia belum bisa menerimanya. Meski setiap pertemuan masih canggung dan penuh jarak.
Setidaknya... ia diberi kesempatan.
Kesempatan untuk duduk di ruangan yang sama dengan putrinya.
Kesempatan untuk mendengar tawanya, walau tawa itu bukan untuknya.
Dan Johan bersumpah dalam hati.
_Suatu hari, Cia akan memanggilku "Papa". Dengan tulus._
---