elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Kehamilan Pertama dan Ibu Mertua Pindah
Pesan singkat Cheng An tetap menyala di layar, sementara lima mangkuk di meja makan perlahan kehilangan uap.
Nan Shin teringat satu masa ketika kursi kosong suaminya masih bisa ia maafkan dengan mudah. Waktu itu mereka belum memiliki rumah di Cluster Verona. Mereka masih tinggal di kontrakan bocor, dan di dalam tubuh Nan Shin baru tumbuh kehidupan yang bahkan belum sebesar buah anggur.
Sebelas tahun lalu, dua garis merah muncul pada alat tes kehamilan pukul lima pagi.
Nan Shin duduk di tepi bak mandi dengan kedua tangan menutup mulut. Ia baru pulang jaga malam. Matanya perih, kakinya bengkak, tetapi semua lelah seolah lenyap ketika melihat dua garis itu.
“Cheng An,” panggilnya.
Suaminya yang sedang tidur langsung terbangun. “Ada apa?”
Nan Shin keluar dari kamar mandi dan mengulurkan alat tes tanpa bicara.
Cheng An perlu beberapa detik untuk memahami. Setelah itu ia bangkit terlalu cepat sampai lututnya membentur sisi ranjang.
“Ini berarti...?”
Nan Shin mengangguk.
Cheng An memegang kedua bahunya. Wajah pria itu berubah antara tidak percaya dan bahagia. “Kita akan punya anak?”
“Kalau hasilnya benar.”
“Harus benar.”
Ia memeluk Nan Shin erat, lalu buru-buru melepaskan karena takut menekan perutnya. Gerakan canggung itu membuat Nan Shin tertawa di sela air mata.
Pagi itu mereka tidak tidur. Cheng An membeli bubur dari ujung gang, Nan Shin membuat daftar pemeriksaan, dan keduanya menghitung ulang tabungan dalam amplop Rumah Sendiri. Ada biaya kontrol, vitamin, kebutuhan bayi, dan uang sewa yang tetap harus dibayar.
“Aku bisa ambil lebih banyak jadwal,” kata Cheng An.
“Aku juga masih bisa kerja.”
“Tapi jangan terlalu capek.”
Nan Shin menatapnya. “Kalau kita berdua mengurangi kerja, siapa yang bayar semua ini?”
Cheng An tidak punya jawaban. Ia hanya memindahkan lebih banyak uang ke amplop kebutuhan harian.
Pemeriksaan pertama mereka lakukan bersama. Usia kehamilan diperkirakan sembilan minggu. Di layar kecil, bentuk janin belum jelas, tetapi suara detak jantungnya memenuhi ruang pemeriksaan.
“Perkembangannya sesuai usia kehamilan,” kata dokter kandungan. “Ibu tetap makan teratur, minum vitamin, dan segera datang kalau ada perdarahan atau nyeri hebat.”
“Dia masih boleh kerja malam, Dok?” tanya Cheng An.
“Boleh selama kondisinya baik, tetapi jangan memaksakan diri. Istirahat saat tubuh memberi tanda.”
Nan Shin melirik suaminya. “Dengar? Boleh kerja, bukan disuruh berhenti.”
Cheng An mengangkat kedua tangan. “Aku cuma memastikan.”
Jari Cheng An mencari tangan Nan Shin.
“Cepat sekali,” bisiknya.
Nan Shin menggenggam balik. Untuk beberapa menit, segala kekhawatiran tentang kontrak, sewa, dan jadwal malam terasa jauh.
Mereka membawa pulang hasil pemeriksaan dalam map putih. Cheng An menempelkannya sementara di dinding dekat tempat tidur karena mereka belum punya lemari khusus. Setiap bangun, Nan Shin melihat bayangan abu-abu kecil itu lebih dulu.
Namun rumah sakit tidak berhenti hanya karena ia hamil.
Nan Shin tetap menjalani giliran malam. Ia mengenakan sepatu yang lebih longgar, menyimpan biskuit di saku, dan duduk setiap kali ada kesempatan. Kalau mual datang saat mencium antiseptik, ia masuk ke kamar mandi, membasuh wajah, lalu kembali bekerja.
Cheng An juga semakin sibuk di unit bedah. Mereka mulai bergantian meninggalkan pesan di meja lagi, hanya saja sekarang pesannya berisi pengingat vitamin dan jadwal kontrol.
Kontrol berikutnya dijadwalkan pukul sembilan pagi setelah Nan Shin selesai jaga. Cheng An berjanji datang langsung dari rumah sakit.
Pukul sembilan lewat sepuluh, kursi di samping Nan Shin masih kosong.
Pukul sembilan lewat dua puluh, namanya dipanggil.
Ia menelepon Cheng An sekali sebelum masuk. Sambungan diangkat setelah dering kelima.
“Aku masih di kamar operasi,” kata Cheng An cepat. Suara alat dan langkah kaki terdengar di belakangnya. “Kasusnya lebih lama dari perkiraan.”
Nan Shin melihat pintu ruang pemeriksaan terbuka. “Aku sudah dipanggil.”
“Masuk dulu. Nanti kirim hasilnya.”
“Kamu bisa menyusul?”
Ada jeda pendek. “Sepertinya nggak.”
Panggilan berakhir karena seseorang memanggil dr. Kho dari kejauhan.
Nan Shin masuk seorang diri.
Dokter kandungan menjelaskan pertumbuhan janin sesuai usia, tekanan darah Nan Shin baik, tetapi ia perlu lebih banyak istirahat dan mengurangi berdiri terlalu lama. Nan Shin mengangguk sambil mencatat semuanya di ponsel.
Ketika dokter memutar layar untuk menunjukkan gerakan kecil di dalam rahim, Nan Shin tersenyum. Tangannya otomatis bergerak mencari tangan di kursi sebelah.
Yang disentuhnya hanya permukaan plastik yang dingin.
Ia pulang membawa foto hasil pemeriksaan sendiri.
Malamnya, Cheng An datang dengan wajah lelah dan meminta maaf. Ia duduk di lantai, menempelkan telinga ke perut Nan Shin yang belum terlalu terlihat, lalu berkata bahwa suatu hari anak mereka harus tahu papanya melewatkan kontrol karena sedang menyelamatkan pasien.
Nan Shin mengusap rambutnya. “Jangan sering-sering diselamatkan pakai alasan itu.”
Cheng An tertawa. “Aku janji.”
“Dokter bilang aku perlu mengurangi berdiri terlalu lama.”
Cheng An mengangkat kepala. “Ada masalah dengan bayinya?”
“Tidak. Tapi aku sering mual dan pusing.”
“Minta jadwal yang lebih ringan.”
“Kalau aku minta, penilaian kontrakku bisa terpengaruh.”
“Lalu kamu mau terus memaksa?”
“Aku mau kita membagi risiko. Kamu ikut satu kontrol, aku tidak perlu menerima semua penjelasan sendirian.”
Cheng An menggenggam tangannya. “Kontrol berikutnya aku catat sekarang.”
“Bukan hanya dicatat. Datang.”
“Aku datang.”
Janji tersebut bertahan sampai kontrol berikutnya kembali berbenturan dengan jadwal rumah sakit.
Ketika usia kehamilan Nan Shin memasuki bulan kelima, Ibu Kho datang membawa tiga koper dan dua kardus.
“Mama cuma mau membantu,” katanya sebelum Nan Shin sempat bertanya. “Kamu kerja malam, Cheng An juga sibuk. Siapa yang jaga kamu?”
Cheng An terlihat lega. “Bagus juga kalau Mama tinggal di sini sementara.”
“Sampai kapan, Ma?” tanya Nan Shin.
Ibu Kho menepuk salah satu koper. “Sampai kamu nggak perlu dibantu lagi.”
“Kontrakan ini sempit.”
“Mama nggak butuh banyak tempat. Yang penting kamu dan cucu Mama aman.”
Cheng An mengambil koper paling besar. “Kita coba dulu. Kalau terasa sempit, nanti kita atur lagi.”
Nan Shin menatap dua kardus yang sudah melewati ambang pintu. “Kita bicarakan lagi setelah beberapa hari, ya.”
“Iya,” jawab Cheng An cepat. “Nanti kita bicarakan.”
Sementara.
Kata itu membuat Nan Shin membuka pintu lebih lebar.
Kamar kecil yang sebelumnya digunakan menyimpan pakaian langsung dikosongkan. Ibu Kho melipat selimutnya sendiri, menata obat dan perlengkapan sembahyang di meja, lalu memindahkan dua kardus ke dapur.
Pada hari pertama, kehadirannya benar-benar terasa seperti bantuan. Mama memasak sup hangat, mencuci pakaian Nan Shin, dan menyuruhnya tidur lebih awal.
Pada hari ketiga, letak piring berubah.
Pada hari kelima, bumbu dapur dipindahkan ke wadah baru tanpa bertanya.
Pada minggu kedua, Ibu Kho mulai menempelkan daftar makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan Nan Shin. Kopi disingkirkan. Makanan pedas dilarang. Jadwal tidur dan vitamin ditulis dengan huruf besar.
“Ma, piringnya boleh dikembalikan ke rak bawah?” tanya Nan Shin. “Saya lebih mudah mengambilnya di sana.”
“Rak bawah lembap. Mama sudah lap rak atas.”
“Tapi saya yang paling sering memasak.”
“Sekarang jangan terlalu sering masuk dapur.”
Nan Shin melihat bumbu yang sudah berpindah tempat. “Kalau Mama mau mengubah sesuatu, bilang dulu.”
Ibu Kho tersenyum seolah sedang menghadapi anak keras kepala. “Mama membantu. Kalau semua harus minta izin, kapan selesainya?”
“Minta izin dan memberi tahu itu berbeda.”
“Kamu terlalu memikirkan hal kecil.”
“Hal kecil yang berubah setiap hari tetap membuat saya merasa seperti tamu.”
“Ma, dokter bilang aku boleh minum kopi sedikit,” kata Nan Shin suatu pagi.
“Dokter cuma lihat kamu beberapa menit. Mama yang tinggal sama kamu.”
“Tapi aku tahu kondisi tubuhku.”
“Kalau tahu, kamu nggak akan terus ambil jaga malam.”
Nan Shin menatap Cheng An yang sedang mengancingkan kemeja kerja. Ia berharap suaminya membantu menjelaskan bahwa jadwal malam tidak bisa dihentikan begitu saja, bahwa kontraknya bergantung pada penilaian kerja, dan bahwa pendapatan mereka masih dibutuhkan.
Cheng An hanya berkata, “Mama khawatir. Ikuti dulu aja.”
Sejak itu, bantuan dan izin mulai terdengar seperti hal yang sama.
Siang berikutnya, Ibu Kho membuka kardus terakhir. Isinya kain bedong, botol susu, dan pakaian bayi yang sudah dibeli tanpa mengajak Nan Shin memilih.
Cheng An mengangkat sepasang kaus kaki kecil. “Cepat sekali, Ma.”
Ibu Kho tersenyum puas, lalu meletakkan tangannya di perut Nan Shin.
Nan Shin menahan napas. Telapak tangan itu hangat, tetapi tubuhnya justru terasa kaku.
“Nanti kalau cucu saya lahir, biar saya yang atur semuanya.”