Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Pesta Pertunangan di Puncak
Setelah menulis "Aku tamat", Tan Ardian menghabiskan dua hari berikutnya dengan satu masalah baru.
Masalah itu bernama Budiman Sekar.
Sekar tetap bekerja seperti biasa. Pijat satu jam, kompres hangat, catatan suhu kulit, sticky note makanan, cek obat, omelan kecil kalau Ardian menjawab "tidak sakit" dengan wajah menahan sesuatu. Tidak ada yang berubah dari caranya bicara.
Justru itu yang membuat Ardian lebih kacau.
Orang yang membuat jantungnya berisik masih memanggilnya Pak Tan dengan nada profesional, masih bisa berdiri di sampingnya sambil membahas jadwal buang sampah medis, dan masih sama sekali tidak sadar bahwa seseorang di dekatnya sudah menulis "Aku tamat" seperti vonis.
Hari pertunangan Kevin dan Felicia datang dengan langit Puncak yang cerah.
Sebelum berangkat, Sekar memeriksa tas kecilnya di ruang tengah. Obat, tisu basah, kartu Rio, sticky note, power bank, payung lipat, semua lengkap. Lalu ia melihat Darren berdiri terlalu tenang di dekat sofa.
Terlalu tenang untuk Tan Darren.
"Pak Darren," kata Sekar, "isi tas itu apa?"
Darren memeluk tas ransel hitamnya. "Perlengkapan pesta."
Ardian menatap dari kursi roda. "Buka."
"Koko tidak percaya adik sendiri?"
"Tidak."
Darren tampak terluka selama setengah detik, lalu membuka tas.
Sekar melihat isinya dan langsung menutup mulut.
Di dalam tas itu ada beberapa kembang api kecil, petasan pesta, korek panjang, plester, dan satu bungkus sosis.
"Pak Darren," suara Sekar pelan, "ini pesta pertunangan atau perang kemerdekaan?"
"Kita tidak tahu situasi di lapangan," Darren berbisik serius. "Aku menyiapkan hiburan, distraksi, dan cadangan energi."
Ardian berkata datar, "Keluarkan petasan."
"Koko, ini bukan petasan berbahaya. Ini ukuran pesta."
"Keluarkan."
Darren menatap Sekar meminta dukungan.
Sekar mengambil tas itu, mengeluarkan korek panjang, lalu memasukkan kembali petasan dengan susunan lebih rapi.
Ardian mengangkat alis.
"Saya sita koreknya," kata Sekar. "Tanpa korek, petasan hanya benda berisik yang belum punya kesempatan."
Darren langsung mengacungkan jempol.
"Kamu memanjakannya," kata Ardian.
"Saya belajar dari Pak Tan."
Darren menutup mulut, terlalu senang.
Perjalanan ke Villa di Puncak memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Jalan menanjak, udara lebih dingin, dan deretan villa mewah di balik pagar tinggi membuat lokasi itu terlihat seperti tempat orang kaya menyembunyikan masalah keluarga sambil minum teh mahal.
Ketika mobil mereka berhenti di depan gerbang utama, Sekar langsung tahu ada yang salah.
Tangga.
Banyak tangga.
Dari area drop-off menuju pintu utama villa, ada tujuh anak tangga lebar dari batu alam. Tidak ada ramp. Tidak ada jalur samping yang terlihat. Di teras atas, beberapa tamu berdiri sambil memegang gelas, pura-pura mengobrol, tetapi mata mereka semua mengarah ke mobil Tan.
Darren turun lebih dulu. Wajahnya yang tadi ceria langsung berubah.
"Katanya akses disiapkan," gumamnya.
Sekar menatap tangga itu, lalu tamu-tamu di atas. Beberapa bisikan terdengar.
"Itu Tan Ardian?"
"Kasihan, masih pakai kursi roda."
"Kevin berani juga mengundang dia."
"Felicia kan mantannya."
Ardian keluar dari mobil dengan wajah tenang. Terlalu tenang. Sekar mengenal ketenangan itu. Itu bukan damai, itu perisai.
Kevin muncul dari pintu utama dengan jas biru tua dan senyum tuan rumah. Felicia berada di sampingnya memakai gaun champagne, cantik, ringan, dan palsu seperti bunga plastik mahal.
"Ardian, Darren, kalian datang," kata Kevin hangat. "Maaf, area depan sedikit ramai."
Sekar melihat tangga. "Sedikit tinggi juga."
Felicia tersenyum lembut. "Aduh, maaf. Villa ini bangunan lama. Ramp portabelnya sedang disiapkan staf, mungkin agak terlambat."
"Terlambatnya pas sekali," kata Sekar.
Beberapa tamu menahan tawa. Felicia menatapnya sekilas, dingin.
Kevin berkata, "Tidak apa-apa. Staf kami bisa membantu mengangkat kursi roda."
Sekar langsung tersenyum cerah. "Wah, terima kasih. Tapi undangan kemarin Pak Kevin bilang akses tentu disiapkan. Karena ternyata belum siap, menurut saya paling pantas tuan rumah sendiri yang membantu."
Senyum Kevin berhenti di ujung bibir.
"Tentu," katanya setelah jeda singkat. "Aku bisa bantu."
"Felicia juga, kan?" Sekar menoleh padanya. "Calon nyonya rumah."
Felicia menegang. "Aku pakai gaun."
"Cantik sekali. Justru kamera tamu akan melihat betapa tulusnya calon nyonya rumah."
Darren di samping Sekar hampir menggigit jarinya sendiri agar tidak tertawa.
Kevin melirik tamu-tamu yang mulai memperhatikan lebih serius. Ia tidak bisa menolak tanpa terlihat sengaja mempermalukan Ardian.
"Baik," katanya. "Kita bantu bersama."
Sekar mengangguk puas, lalu tiba-tiba duduk menyamping di paha kanan Ardian.
Ardian membeku.
"Budiman Sekar."
"Sebentar, Pak Tan. Ini bagian dari strategi."
Darren melompat. "Aku juga?"
"Tentu." Sekar menunjuk paha kiri Ardian. "Pak Darren duduk di sana."
"Apa?" Kevin dan Felicia berkata hampir bersamaan.
Darren sudah duduk sebelum rasa takutnya menyusul. Ia lebih berat dari Sekar dan jauh lebih panik.
Ardian menutup mata sebentar.
"Turun."
Sekar berbisik cepat, cukup dekat agar hanya Ardian mendengar, "Mereka mau membuat Pak Tan terlihat menyedihkan. Kita buat mereka terlihat tidak sanggup menyambut tamu."
Ardian membuka mata.
Di wajahnya masih ada dingin, tetapi sudut bibirnya hampir bergerak.
Darren berbisik dari sisi lain, "Koko, kalau aku mati, sosis di tasku untukmu."
"Diam."
Sekar menatap Kevin dengan senyum polos. "Maaf, Pak Kevin. Kursi roda ini elektronik, pusat gravitasinya sensitif. Kalau hanya Pak Tan yang duduk, saat diangkat miring bisa berbahaya. Harus diseimbangkan."
Seorang tamu pria berdehem untuk menahan tawa.
Felicia tampak ingin menghancurkan gelas di tangannya.
"Itu tidak masuk akal," katanya.
"Saya pengasuh pribadi sekaligus asisten rehabilitasi," jawab Sekar. "Keselamatan pasien nomor satu."
Kevin tidak punya jalan keluar. Dua staf berdiri siaga di samping untuk keamanan, tetapi Sekar memastikan pegangan depan tetap dipegang Kevin dan sisi satunya dipegang Felicia. Bodyguard Tan berdiri dekat, bukan membantu, hanya memastikan jika mereka gagal, Ardian tidak jatuh.
"Satu, dua, tiga," kata Kevin kaku.
Kursi roda terangkat sedikit.
Darren menjerit kecil. "Aku belum siap!"
"Pak Darren," Sekar berkata serius, "berat badan Bapak adalah bagian dari strategi."
"Aku tersinggung tapi bangga."
Mereka naik satu anak tangga.
Kevin sudah berkeringat.
Felicia menggigit bibir, gaunnya hampir tersangkut batu. Kamera beberapa tamu jelas mengarah ke mereka. Ada yang pura-pura memotret bunga, padahal lensa menghadap ke tuan rumah yang sedang mengangkat kursi roda mantan tunangan dengan dua penumpang tambahan.
Sekar melambai kecil pada tamu. "Terima kasih sudah memberi jalan."
Ardian menatap lurus ke depan. Wajahnya dingin, tetapi di bawah tangan yang diletakkan di sandaran kursi, jarinya menegang.
Saat langkah ketiga, sesuatu seperti arus kecil merambat di paha kirinya.
Sangat lemah.
Seperti semut berjalan di bawah kulit.
Ardian nyaris mengira itu imajinasinya, sampai rasa itu muncul lagi ketika Darren bergeser panik.
Kesemutan.
Paha kirinya merasakan kesemutan.
Napas Ardian tertahan setengah detik.
Sekar menoleh cepat. "Pak Tan?"
"Tidak apa-apa," katanya.
Suaranya tetap datar, tetapi tangannya menggenggam sandaran lebih kuat. Ini bukan tempat untuk bicara. Bukan saat Kevin dan Felicia berdiri begitu dekat, bukan di depan puluhan tamu yang menunggu ia terlihat lemah.
Mereka akhirnya mencapai teras atas.
Begitu kursi roda turun ke lantai datar, Sekar dan Darren segera berdiri. Darren hampir mencium tanah karena lega.
"Selamat," kata Sekar pada Kevin dan Felicia. "Akses tamu berhasil disediakan oleh tuan rumah secara langsung."
Kevin tersenyum dengan napas pendek. "Kalian sangat... kreatif."
"Terima kasih."
Felicia tidak berkata apa-apa. Riasannya masih sempurna, tetapi senyumnya sudah pecah di beberapa tempat.
Di aula utama, pesta pertunangan itu mewah. Bunga putih, lilin, meja dessert, piano kecil di sudut, dan foto prewedding Kevin-Felicia terpampang besar. Semua indah, semua mahal, semua seperti panggung yang dibangun untuk memastikan Ardian terlihat sebagai masa lalu yang kalah.
Sayangnya, banyak tamu justru masih membicarakan tangga.
"Felicia tadi benar-benar angkat kursi roda?"
"Kevin sampai merah wajahnya."
"Pengasuhnya siapa? Berani sekali."
Darren mendengar bisikan itu dan hampir menari.
Sekar memeriksa posisi Ardian. "Pak Tan benar-benar tidak apa-apa?"
"Tidak."
Ia menjawab terlalu cepat.
Sekar menyipitkan mata.
Ardian menatap meja dessert. "Aku tidak suka tempat ini."
"Itu bukan jawaban medis."
"Itu jawaban jujur."
Sebelum Sekar bisa mengejar, seorang staf perempuan mendekat. "Mbak, Nona Felicia meminta Mbak ke ruang rias tamu sebentar. Katanya kalau Mbak ingin merapikan pakaian setelah perjalanan, ruangnya sudah disiapkan."
Darren langsung waspada. "Kenapa dia harus pergi?"
Sekar melihat rok kerjanya yang sedikit kusut setelah duduk di kursi roda tadi. "Saya pergi sebentar. Pak Darren jangan makan semua dessert."
"Aku bukan anak kecil."
Ardian berkata, "Jangan lama."
Sekar tersenyum. "Siap, Pak Tan."
Ruang rias tamu berada di lorong samping, dekat area privat keluarga. Sekar masuk, melihat cermin besar, sofa kecil, dan beberapa gantungan gaun cadangan. Ia baru membasuh tangan dan merapikan rambut ketika suara dari ruangan sebelah terdengar melalui pintu penghubung yang tidak tertutup rapat.
Awalnya ia tidak berniat mendengar.
Lalu ia mengenali suara Felicia.
"Kamu lihat tadi? Pengasuh itu sengaja mempermalukanku."
Suara Kevin menjawab lebih rendah. "Tenang. Setelah malam ini, dia tidak akan bisa terus berdiri di depan Ardian."
Sekar membeku.
Tangannya masih memegang tisu.
Felicia mendesis, "Kamu selalu bilang tenang. Tapi Ardian masih hidup, masih punya Darren, sekarang malah punya pengasuh gila itu. Orang waktu itu terlalu lambat, membuat dia lolos hidup-hidup..."