Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Lantai koridor lantai dua gedung selatan masih terasa agak lembab sisa sisa gerimis dini hari.
Pukul enam lewat empat puluh lima menit, suasana SMAN 1 belum terlalu ramai.
Regina berjalan menyusuri lorong kelas 12 IPS dengan langkah teratur, membawa sebuah kantong plastik putih berlogo minimarket yang terikat rapi di tangan kanannya.
Di dalamnya, jas hujan ponco biru tua milik Helga sudah dilipat simetris dan dibungkus kain bersih.
Saat Regina berhenti tepat di depan ambang pintu kelas 12 IPS 2, beberapa siswi yang berada di dalam ruangan langsung menghentikan obrolan mereka.
Seorang siswi berambut sebahu dengan pita hitam di seragamnya—yang biasa dipanggil Fanya—berdiri dari meja paling depan.
Ia melipat kedua tangannya di dada, melangkah dua pijakan mendekati pintu.
"Ngapain anak IPA 1 main ke lorong IPS pagi-pagi?" tanya Fanya dengan nada sinis, matanya melirik kantong plastik di tangan Regina dari atas ke bawah.
"Nyari siapa? Helga?"
Regina tidak mengalihkan pandangannya, berdiri tetap tegak di ambang pintu.
"Gue mau balikin jas hujan Helga."
"Sok perhatian banget," cibir siswi lain yang duduk di samping Fanya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kemarin-kemarin diajak ngobrol aja buang muka, berasa paling mahal se-sekolah. Sekarang malah nyamperin ke kelasnya langsung. Kenapa? Udah gak gengsi lagi?"
Fanya tertawa kecil, melangkah satu pijakan lagi hingga jarak mereka tinggal satu meter.
"Lagian aneh aja. Anak yang sok rapi dan nggak suka keributan kayak elo, tiba-tiba ngurusin jas hujan anak IPS. Mau cari perhatian ya?"
"Jas hujan ini dipinjamkan kemarin pas hujan deras," jawab Regina tenang, suaranya jernih tanpa intonasi tinggi.
"Gue cuma mengembalikan barang yang bukan milik gue. Itu hal biasa."
"Biasa kata elo," potong Fanya cepat, matanya memicing.
"Tapi gaya elo tuh sok jual mahal banget, tau gak? Sok dingin, sok gak butuh orang..."
Klak! Klak! Klak!
Suara langkah kaki sepatu kets beradu kencang dengan ubin koridor dari arah tangga.
Helga muncul bersama Andreas dan Varen. Jaket jeans belel Helga tersampir santai di bahu kirinya, sementara Andreas sedang mengunyah roti tawar isi cokelat.
Langkah Helga langsung melambat saat melihat Regina berdiri di depan pintu kelasnya, berhadapan langsung dengan Fanya.
"Ada apa nih ramai-ramai di pintu kelas gua?" potong Helga, suaranya yang dalam memotong obrolan di ambang pintu.
Helga melangkah maju, mengambil posisi berdiri persis di antara Regina dan Fanya.
Ia memiringkan badannya sedikit, menyisakan jarak yang cukup luas agar Regina tidak terdesak ke arah kusen pintu.
Andreas yang berjalan di belakangnya langsung bersandar pada dinding koridor, mengambil satu gigitan rotinya sambil menatap Fanya datar.
"Pagi-pagi udah berisik aja, Fan. Kurang minum air putih lu?"
"Gua cuma nanya, An," sahut Fanya agak tertahan, melangkah mundur setengah pijakan ke dalam kelas.
"Regina nyariin Helga tuh."
Helga tidak menoleh ke arah Fanya. Pandangannya langsung tertuju pada kantong plastik putih yang dipegang Regina.
"Jas hujan lu," kata Regina pendek, menyodorkan kantong plastik itu ke depan dada Helga.
"Udah dilipat dan dikeringkan."
Helga berkedip sekali. Tangannya terangkat pelan, menerima tali kantong plastik itu dari jari Regina.
Sentuhan singkat jemari mereka di tali plastik membuat Helga berhenti bergerak selama setengah detik sebelum ia menganggukkan kepala.
"Makasih," ucap Helga, senyum tipis yang hampir tidak terlihat muncul di sudut bibirnya.
"Padahal gak usah buru-buru, gua bisa ambil sendiri nanti."
"Gue mau barangnya selesai," balas Regina datar.
Ia membetulkan posisi tali ransel abu-abunya di bahu kanan.
"Tempat pensil gue udah balik, jas hujan kamu juga udah balik. Jadi udah gak ada utang barang."
Varen yang berdiri di dekat tangga tertawa pelan tanpa suara, menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
"Perhitungan banget, mantap."
Helga melirik Varen tajam hingga Varen mendadak berdehem dan melihat ke arah langit-langit koridor.
"Sori kalau temen-temen kelas gua tadi bikin lu gak nyaman," kata Helga lagi, beralih menatap Regina.
Suaranya dipelankan satu tingkat, hanya cukup didengar oleh Regina dan orang yang berdiri sangat dekat.
"Gak apa-apa," jawab Regina singkat. "Gue balik ke kelas dulu. Sebentar lagi bel masuk."
Regina membalikkan badannya tanpa menunggu balasan lagi. Rok abu-abunya mengayun pelan saat ia melangkah menyusuri lorong kembali menuju gedung IPA.
Helga berdiri tetap di tempatnya, memperhatikan punggung Regina yang makin menjauh di belokan koridor.
Ia memutar-mutar ikatan kantong plastik putih di tangannya, lalu memasukkan plastik itu ke dalam tas punggungnya yang agak kusam.
Andreas menepuk bahu Helga pelan dari samping.
"Galak tapi bertanggung jawab. Tipe lu banget gak, Ga?"
"Bising lu," celetuk Helga datar.
Ia melangkah masuk ke dalam kelasnya, melempar tasnya ke atas meja belakang.
Regina berjalan cepat melewati lapangan basket utama.
Saat ia hampir sampai di pintu kelas 12 IPA 1, Shinta mendadak muncul dari balik tiang koridor, memegang sebuah kertas lipat warna kuning terang.
Puk!
Shinta menahan lengan Regina dengan wajah sangat serius.
"Gin! Elo dari lorong IPS kan?" bisik Shinta cepat, matanya melirik ke sekeliling untuk memastikan tidak ada siswa lain yang mendengar.
"Iya, balikin jas hujan Helga," sahut Regina datar.
Shinta menunjukkan kertas kuning di tangannya.
"Tadi pas elo ke lorong IPS, ada anak kelas sebelah yang nemuin kertas ini terselip di bawah meja lu. Isinya tulisan tangan, Gin... Dan ada nama Helga di bawahnya."