NovelToon NovelToon
THE DEADLY BODYGUARD

THE DEADLY BODYGUARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Raja Tentara/Dewa Perang / Balas Dendam
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.

Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.

Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.

Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.

Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?

"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Baja

Keheningan di ruang bawah tanah sedalam 10 meter itu terasa begitu pekat, hanya diinterupsi oleh dengung halus kipas pendingin dari modul pemindai sidik jari mekanis di depan Nathan. Suhu di area semen ini turun drastis hingga mencapai 16 derajat Celsius, mengirimkan hawa sedingin es yang menembus mantel panjang hitamnya.

Nathan berdiri tidak bergerak, mengamati layar indikator alat perekam data optik nirkabel yang dipasang oleh Rendra pada panel sirkuit pemindai. Di bawah visual hijau kacamata malamnya, deretan kode heksadesimal hijau mengalir deras pada layar OLED mikro berukuran 2 - 3 sentimeter tersebut.

Sistem Enkripsi Tingkat 1: Berhasil dilewati. Sistem Enkripsi Tingkat 2: Berhasil didekripsi.

"Bos," suara Rendra berbisik sangat halus melalui earpiece hantaran tulang di pelipis kanan Nathan. Jaringan satelit militer pribadi mereka bekerja sempurna tanpa hambatan jarak. "Protokol dekripsi enkripsi tingkat 3 sedang berjalan. Algoritme enkripsi yang digunakan Elena adalah AES-256 yang dimodifikasi secara dinamis. Butuh waktu sekitar 7 menit untuk memecahkan sandi regeneratifnya."

"Percepat jalurnya, Rendra. Aku tidak memiliki banyak waktu sebelum patroli perimeter dalam berikutnya dimulai dalam 15 menit," jawab Nathan, suaranya sangat lirih, hampir berupa getaran udara di tenggorokannya.

"Aku sedang mengarahkan daya komputasi dari peladen cadangan kita di Sektor Kencana untuk membantu pemrosesan paralel, Bos. Tetap di posisimu," sahut Rendra taktis.

Nathan bersandar pada dinding beton basah, matanya tetap menyapu koridor sempit bawah tanah yang sunyi. Di dalam kegelapan ini, benaknya melayang kembali pada malam jahanam 15 tahun lalu. Ia mengingat dengan sangat detail bagaimana bau bensin yang menyengat bercampur dengan jeritan adik perempuannya yang baru berusia 8 tahun saat api mulai melahap rumah masa kecil mereka.

Semua itu terjadi karena keserakahan satu wanita, Elena Wijaya. Dokumen pengalihan aset pelabuhan utara yang saat ini tersimpan di balik pintu baja di depannya adalah bukti fisik utama yang memicu pembantaian tersebut. Ayah Nathan, yang saat itu menjabat sebagai kepala otoritas pelabuhan, menolak menandatangani dokumen ilegal itu, dan penolakan tersebut harus dibayar dengan nyawa seluruh keluarganya.

BEEP.

Bunyi alarm frekuensi rendah yang sangat halus dari alat perekam data menyentak Nathan kembali ke realitas taktisnya. Layar mikro itu kini menampilkan satu baris pesan berwarna hijau terang.

Sistem Enkripsi Tingkat 3: Akses Diberikan. Membuka Kunci Mekanis.

KLAK. SZZZZT.

Suara pelepasan hidrolik pintu baja antipeluru Level VIII itu terdengar seperti desah napas panjang dalam keheningan bawah tanah. Pintu baja setebal 20 sentimeter tersebut perlahan terbuka ke arah dalam, memperlihatkan sebuah ruangan berukuran 4 x 4 meter yang sangat steril.

Nathan melepas alat peretas nirkabel dari panel luar, menyimpannya kembali ke dalam saku jas abu-abu gelapnya, lalu melangkah masuk ke dalam brankas taktis Elena.

Berbeda dengan bayangan orang biasa mengenai brankas miliarder yang dipenuhi tumpukan emas atau uang tunai, ruangan ini tampak seperti server mini yang sangat dingin. Di sisi kiri, terdapat sebuah rak baja yang menampung tiga unit peladen penyimpanan data yang terus berkedip biru.

Di sisi kanan, sebuah lemari arsip berbahan titanium berdiri kokoh, masing-masing lacinya dikunci dengan gembok kombinasi mekanis.

Nathan berjalan langsung menuju unit peladen utama. Ia mengeluarkan sebuah kandar penyimpanan taktis berkapasitas 2 terabite buatan Rendra, lalu menghubungkannya langsung ke port data peladen menggunakan kabel serat optik ultra-cepat.

"Rendra, aku sudah terhubung ke peladen penyimpanan data utama. Mulai proses penyalinan data massal," perintah Nathan.

"Koneksi terdeteksi, Bos. Proses pengunduhan data dimulai... Kecepatan transfer 1,2 gigabite per detik. Butuh waktu sekitar 4 menit untuk menyalin seluruh basis data proyek ekspansi pelabuhan utara dari tahun 2011 hingga 2026," lapor Rendra dengan nada suara yang dipenuhi kegembiraan taktis.

Sambil menunggu proses pengunduhan selesai, Nathan mendekati lemari arsip mekanis di sisi kanan. Menggunakan keahlian taktisnya, ia meraba dial kombinasi mekanis pada laci pertama. Dengan mengandalkan kepekaan pendengarannya terhadap bunyi klik gesekan logam mikro di dalam kunci, Nathan berhasil memutar dial tersebut ke angka kombinasi yang tepat 24-08-11.

KLEK.

Laci besi itu meluncur terbuka. Di dalamnya, berbaris rapi puluhan map dokumen fisik berwarna merah berlogo Megantara Group emas.

Nathan mengambil salah satu map teratas yang bertuliskan, Proyek Reklamasi & Ekspansi Sektor Utara - Dokumen Rahasia 01. Ia membukanya di bawah temaram lampu taktis kecilnya. Matanya menyipit saat membaca deretan transaksi keuangan luar negeri senilai 10 juta dolar yang dikirimkan ke sebuah rekening bank di Swiss pada bulan Agustus 2011, tepat satu minggu sebelum keluarganya dibantai.

Nama pemilik rekening penerima dana tersebut adalah Black Cobra Mercenary Group.

Dan di sudut kanan bawah dokumen otorisasi transaksi fisik tersebut, tertera tanda tangan tinta basah berwarna biru milik Elena Wijaya sendiri.

Napas Nathan tertahan di dalam paru-parunya. Bukti fisik yang dicarinya selama 15 tahun di berbagai medan perang dunia, kini berada di genggaman tangannya. Tanda tangan itu adalah vonis mati yang sah bagi Elena. Air mata kemarahan yang dingin hampir saja menitik di sudut matanya, namun ia segera meredamnya dengan fokus esnya yang biasa.

"Penyalinan data peladen selesai, Bos! 100% data berhasil diamankan!" suara Rendra tiba-tiba terdengar di telinganya.

Nathan segera menutup map dokumen tersebut, mengembalikannya ke posisi semula, dan mengunci kembali laci arsip mekanis dengan presisi tinggi agar tidak ada setitik pun perbedaan posisi dial yang mencurigakan. Ia mencabut kandar penyimpanan taktisnya dari unit peladen, menyimpannya di saku mantel terdalam, lalu melangkah keluar dari brankas.

Ia mendorong kembali pintu baja antipeluru tersebut hingga mengunci secara mekanis dengan bunyi hidrolik yang berat.

Nathan melirik jam taktis di pergelangan tangannya. Pukul 23.48 malam.

"Aku akan kembali ke lantai atas, Rendra," ucap Nathan seraya mematikan kacamata malamnya setelah lampu indikator luar beralih kembali menjadi merah menyala, menandakan brankas telah terkunci kembali dengan enkripsi penuh.

"Dimengerti, Bos. Tetap waspada, sensor gerak lobi tengah mendeteksi ada aktivitas di lantai satu sekitar satu menit yang lalu," Rendra memberikan peringatan darurat.

Nathan menegang. Ia segera berlari menaiki tangga beton dingin bawah tanah dengan gerakan yang sangat halus tanpa menimbulkan suara gesekan sedikit pun. Begitu tiba di balik pintu kayu jati arsip tua, ia menempelkan telinganya ke permukaan kayu, mendengarkan situasi di luar selama 5 detik.

Sepi.

Nathan menggeser kartu titanium hitam milik Hendra ke panel pemindai dalam, membuka kunci pintu kayu, lalu menyelinap keluar ke koridor barat lantai bawah yang remang-remang. Ia menutup pintu arsip dengan kehalusan luar biasa.

Namun, baru saja ia memutar tubuhnya untuk melangkah kembali ke arah lobi tengah, sesosok tubuh ramping berdiri diam sekitar 5 meter di depannya, tepat di bawah temaram cahaya lampu lorong yang redup.

Clara Wijaya berdiri di sana, mengenakan piyama sutra berwarna putih salju yang dilapisi kardigan abu-abu rajutnya yang longgar. Rambut panjangnya terurai berantakan, dan kedua tangannya memeluk erat sebuah cangkir porselen putih yang masih mengeluarkan kepulan uap tipis dari susu hangat.

Wajah Clara tampak sangat pucat, dan matanya yang bulat tampak terkejut melihat sosok tegap Nathan yang tiba-tiba muncul dari arah koridor privat luar tersebut pada jam sesunyi ini.

"Nathan...?" bisik Clara lirih, suaranya terdengar sangat rapuh di tengah keheningan lorong malam. "Kenapa... kamu ada di koridor belakang ini?"

Nathan membeku selama sepersekian detik. Adrenalin di dalam tubuhnya yang masih mendidih karena penemuan dokumen pembantaian keluarganya harus segera ia jinakkan. Dalam waktu kurang dari setengah detik, ekspresi dingin seorang pembunuh berdarah dingin menguap sepenuhnya dari wajahnya. Topeng seorang pengawal pribadi yang tenang dan patuh kembali terpasang dengan sempurna.

Nathan melangkah maju dua langkah, lalu membungkuk hormat dengan kemiringan 15 derajat yang presisi.

"Selamat malam, Nona Clara. Maaf jika saya mengejutkan Anda," ucap Nathan dengan suara beratnya yang stabil dan menenangkan. "Saya sedang melakukan pemeriksaan fisik manual pada jalur evakuasi darurat di koridor belakang dapur dan ruang arsip untuk memastikan tidak ada kunci elektronik luar yang mengalami malafungsi setelah badai semalam."

Clara menatap mata gelap Nathan, mencari setitik kebingungan di sana. Namun yang ia temukan hanyalah ketenangan profesional yang biasa ditunjukkan pengawalnya. Ketegangan di wajah Clara perlahan-lahan mereda, digantikan oleh rasa lelah yang teramat sangat.

"Oh... begitu ya," gumam Clara lembut, menyesap susu hangatnya sedikit. "Aku... aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, aku masih mendengar suara guntur dan... bau aneh seperti ada sesuatu yang terbakar seperti di rumah semalam."

Nathan menatap wajah gadis itu dengan perhatian yang tulus. Rasa bersalah yang halus kembali merayap di batinnya. Gadis polos ini tidak tahu bahwa bau terbakar yang ia rasakan semalam adalah bau mesiu dan daging manusia yang hangus terbakar oleh tarian maut Nathan di lobi bawah.

"Trauma pasca-stres psikologis adalah hal yang sangat wajar setelah apa yang Anda lalui semalam, Nona," ucap Nathan dengan nada suara yang sedikit lebih lembut. "Susu hangat yang Anda bawa adalah langkah awal yang sangat baik untuk membantu merilekskan saraf Anda."

Clara tersenyum tipis, merona merah tipis di pipinya yang pucat. "Terima kasih, Nathan. Kamu selalu tahu cara menenangkanku."

Clara melangkah satu langkah lebih dekat, menatap mata gelap Nathan dengan binar harapan yang tulus. "Maukah kamu... menemaniku duduk di lobi tengah sebentar? Hanya sampai aku menghabiskan susu ini. Aku masih sedikit takut dengan kesunyian rumah ini malam ini."

Nathan terdepan dalam dilema taktis yang rumit. Di dalam sakunya, terdapat kandar penyimpanan berisi dokumen yang akan menghancurkan ibu dari gadis di depannya ini. Namun, melihat kerapuhan Clara yang murni, Nathan tidak mampu menolak.

"Dengan senang hati, Nona Clara," jawab Nathan sopan seraya membimbing Clara berjalan menuju lobi tengah yang hangat di bawah cahaya redup lampu malam. "Saya akan menjaga Anda sampai Anda merasa cukup aman untuk kembali beristirahat."

Di bawah langit malam Megapura yang dingin, sang Raja Perang duduk diam di samping putri mahkota dinasti musuhnya, memegang rahasia kehancuran mereka di sakunya, sementara batinnya terjebak di antara tuntutan balas dendam berdarah dan kehangatan murni yang perlahan-lahan mulai meretakkan dinding es di hatinya.

- Assalamualaikum semuanya\, jangan lupa juga membaca karya Thea "Benci di Tepian Hari\, Lindung di Balik Bayang" sebuah kisah 2 anak manusia yang saling melindungi dalam bayangan. kisah yang akan menguras emosi kalian selama mengikuti perjalanan kisah mereka\, - Terima kasih semuanya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!