NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengkhianatan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Bikin Terbiasa

Hari sudah menjelang siang. Tapi Regan masih mengurung diri di ruangan game pribadinya sejak bangun tidur pukul sembilan tadi.

"Dear, anakmu belum keluar juga?" Tanya Sofia saat melihat Raymond baru saja masuk dari terrece.

"Belum honey, mungkin tidur lagi di dalam." Jawab Raymond sambil mendekati istrinya.

"Tapi dia belum makan dari tadi. Bagaimana kalau dia kelaparan?"

"Dia akan makan. Karena dia bukan anak kecil lagi."

Sofia membuang napas pelan. Ia melangkah ke dapur. Mengambil satu piring nasi goreng seafood buatannya. Segelas susu putih dan air putih.

Setelah semuanya masuk ke dalam nampan, Sofia pergi ke ruangan gamenya Regan.

Sesampainya di depan pintu, Sofia menahan nampan dengan satu tangan. Dan satunya lagi mengetuk pintu.

"Regan, Mamy boleh masuk?" Katanya sedikit berteriak.

Beberapa detik Sofia hanya berdiri, menunggu jawaban dari dalam. Tapi akhirnya Sofia ingat satu hal, Regan menyukai ruangan kedap suara. Jadi, kemungkinan suara Regan tidak terdengar olehnya.

Sofia memilih untuk membuka pintunya, dan untungnya pintu itu tidak di kunci.

"Regan." Sofia kembali memanggilnya.

Begitu pintu dibuka, ruangan itu langsung terasa berbeda dari bagian penthouse lainnya.

Dinding salah satu sisi dipenuhi miniatur mobil Formula 1 dalam laci kaca tinggi. Beberapa helm balap edisi koleksi tersusun rapi di rak display dengan lampu LED lembut berwarna putih.

Di tengah ruangan berdiri simulator balap profesional. Kursi bucket seat hitam, setir Racing lengkap dengan tombol-tombol warna-warni, pedal gas dan rem berbahan logam mengkilap.

Di depannya terbentang tiga monitor besar melengkung yang menampilkan sirkuit balap. Suara mesin mobil virtual meraung memenuhi ruangan.

Di sudut lain ada sofa abu-abu besar, meja kopi, kulkas mini, dan rak berisi beberapa game serta koleksi die-cast yang masih tersimpan dalam kotaknya.

Mata Sofia mengintari sekeliling ruangan, bibirnya langsung terbuka saat melihat kondisi di sana. Jaket, kemeja, dasi berserakan di atas sofa. Ada beberapa plastik dan cup bowl bekas makanan. Botol minum dari yang kosong hingga yang tersisa setengah.

"Haiya Regan, apa kamu tidak pernah merapikan ruangan ini?" Tanya Sofia. Ia mendekati Regan.

"Bukan tidak pernah, My. Itu belum aku beresin bekas malam kemarin." Jawab Regan tanpa menoleh.

"Kamu belum makan. Ayok makan dulu."

"Arghh! Kenapa ke kanan!" Pekik Regan, tangannya mencengkeram erat stir racingnya.

"Regan, kamu tidak dengar Mamy ngomong?"

"Dengar, My. Mamy bilang kangen sama aku." Tatapannya tetap fokus pada tiga monitor di depannya.

Sofia menggeleng. "Dasar anak nakal." Gerutunya. Sofia berdiri semakin dekat dengan Regan. Tangannya terulur ke telinga putranya, lalu ia menjewernya. "Mamy bilang makan dulu. Udahan main gamenya."

"Arghh! My, My, My. Lepasin! Mobilku takut kalah udah paling depan ini!" Regan berteriak kecil, tapi tidak menolah sedikit pun. "My, suapin aja, ya!"

Sofia akhirnya membuang napas. Ia menarik satu kursi kecil ke sebelah Regan.

Sofia menuntut suapan pertama ke mulut putranya. Awalnya ia hanya mengumpat, tapi lama-lama justru ikut menikmati permainan Regan.

"Regan, awas di kiri ada mobil!" Teriak heboh Sofia.

Regan langsung banting stir. "Huftt... untung Mamy kasih tahu," katanya dengan mulut penuh makanan.

Beberapa menit berlalu, makanan di piring pun sudah habis. Tapi sekarang Sofia ikut tenggelam dalam keasyikan bersama putranya. Sampai akhirnya...

"YEAYYY! AKU JUARA SATU!" Regan mengangkat tangannya.

Mata Sofia melebar, mulutnya terbuka. "Kita juara?"

Regan menggeleng cepat. "Bukan, tapi aku."

Sofia mendengus sambil berdiri. "Mamy juga bantuin kamu ngasih tahu lho. Kok kamu doang yang juara." Katanya sambil tersenyum lembut.

Regan tertawa kecil. "Mamy gak mau kalah sama anaknya."

Sofia menjewernya sekali lagi, sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan game.

"Aiyo Mamy, kebiasan banget jewer-jewer." Gumam Regan sambil mengelus telinganya.

Regan menatap pintu yang kembali tertutup, bibirnya tersenyum tanpa sadar. Lalu, ia kembali memainkan game racingnya.

...****************...

Cahaya matahari menembus kaca, masuk ke ruang kerja Alvero. Menciptakan warna keemasan dan debu-debu kecil yang berterbangan.

Waktu makan siang sudah tiba sejak tiga puluh menit yang lalu. Alvero masih duduk di kursinya, jemarinya mengetuk permukaan meja. Matanya terus menoleh ke arah pintu.

"Kenapa jadi nungguin dia?" Gumamnya. "Kan aku tahu hari ini dia gak masuk!"

Alvero membuang napas, ia bersandar ke kursi. Menatap langit-langit. Salah satu kebiasaan Regan yang membuat Alvero terbiasa, yaitu, selalu mengantarkan makan siang. Tapi sekarang, tidak ada.

Alvero menatap pintu sekali lagi. Tapi tetap, tidak ada yang datang. Ia mendecak pelan. Lalu mengusap wajahnya. "Kenapa harus ngandelin dia. Apa gunanya perusahaan menyediakan kantin," gumamnya. Ia bangun dari duduknya.

Langkahnya pelan saat memasuki lift. Alvero menekan tombol, angka dua puluh lima perlahan turun menuju lantai sepuluh. Kawasan cafeteria yang berada di laintai tengah-tengah.

Suasana cafeteria selalu ramai, apalagi di jam makan siang seperti sekarang. Saat Alvero hendak masuk...

"Pak Al," suara Ahsan menghentikannya.

Alvero menoleh. "Ahsan."

"Belum makan siang? Kenapa gak panggil saya aja, biar saya anterin ke ruangan." Tanya Ahsan.

Alvero terkekeh kecil. "Gak perlu, saya bisa sendiri."

"Tapi biasanya Regan yang selalu bawain makan siang, Pak Al."

"Saya gak nyuruh. Dia selalu punya inisiatif lebih awal dari rasa lapar saya." Jawab Alvero sambil meraih nampan yang tak jauh dari pintu masuk.

Alvero mengambil nasi rendang dan salad buah. Lalu, ia melangkah ke arah meja kosong. Alvero duduk sendirian. Tapi tak lama, Ahsan datang menyusul.

"Jarang-jarang makan bareng, Pak." Kata Ahsan sambil menyendok makanannya.

Alvero hanya tersenyum kecil.

Saat baru satu suap. Alvero kini menjadi pusat perhatian. Bisikan-bisikan mulai menghampiri telinganya.

"Kemana aja gue selama ini, baru sadar punya atasan tampan."

"Auranya ya ampunn! Makin menjadi aja, Pak Al."

"Pantes aja Regan selalu bawain makanan ke ruangannya. Dia takut Pak Al direbut yang lain."

"Kenapa harus Regan?"

"Dia yang paling deket sama Pak Al soalnya."

"Pak Al, sekali keluar bikin satu kantin menoleh."

Alvero hanya bisa tersenyum. Sesekali ia melirik ke orang-orang di sebelahnya.

Menjadi pusat perhatian seperti itu, membuat Alvero tidak nyaman. Ia menatap Ahsan, lalu makanan di depannya.

"Udah jangan di dengerin," kata Ahsan sambil mengunyah.

Alvero menghela napas kecil. Lalu ia berdiri.

"Lahh, mau kemana Pak Al?" Tanya Ahsan, ia mendongak.

"Saya masih ada kerjaan. Jadi... saya lanjut makan di ruangan saya aja."

Alvero menatap orang-orang di dekat mejanya. Ia tersenyum ramah sambil mengangguk. Langkahnya sedikit lebih cepat saat keluar dari cafeteria. Di tangannya ia membawa nampan.

Saat tubuhnya benar-benar keluar, Alvero akhirnya membuang napas. Seolah baru sadar, kalau dari tadi ia menahan napas.

"Ahh, Regan." Alvero menggeleng pelan. "Bikin terbiasa." lanjutnya lirih.

1
Lasa Hardianti
Bener emng beruntung bgt punya mertua dan suami kayak gitu, apalagi mertuanya bukan yang rempong, suka ikut campur urusan umah tangga anak laki-lakinya
Mutia Kim🍑
Moga Veyra ngk baper sma perhatian Regan😌
Its me
ini mah bukan Regan yang menggoda tapi veyra yang mancing orang lain masuk dalam rumah tangganya
Rain Aricia
Ganti bajulah, nanti masuk angin
Rain Aricia
Nih alvero cuek tapi perhatian gitu yak
mama Al
Mami Sofia Carikan jodoh untuk Regan
Melissa McCarthy
haha suka banget sama Regan yang tengil banget ini, semoga aja gak ada niat tersembunyi🤭
Mutia Kim🍑
Jangan ngomong sembarangan Regan😌
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
aaaa makin gemesh ma Regan deh
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
yaampun Regan manja banget sih udah gede juga 😆
Laila Sarifah
Gue marah ya sama lo Vey, ngapain genggam tangan cowok lain depan suami lo sendiri😭
Addb_Rh
anu Regan, no no no ya.. jangan inget-inget genggaman Veyra lagi.. noh, lakinnya yg lagi ngurusin elu... 😭🥲
Addb_Rh
baru sadar lu Al, Veyra udah mulai condong tuh ke Regan.

panggilin mamy nya Regan itu biar sembuh.
mama Al
wkwkwk dracin banget
Rain Aricia
Regan ini suka sama cewek yang udah bersuami?
Rain Aricia
Alvero nanti ga mrah kah liat istrinya gini?
ginevra
regan ini kenapa ya? dia ini terlalu perhatian ke keluarga Alvero. yang ia sayang sebenarnya Alvero atau Veyra? aku masih belum bisa nebak
ArsyilaQi
pasutri emang beda🤭
Mutia Kim🍑
Tolong jgn ada yg merusak rumah tangga mereka😭
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
aduh manja banget penikung tampan ini🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!