Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presentasi Hotel dan Bayangan yang Tertinggal
Sabtu sore tiba dengan langit mendung yang menggantung rendah di atas kota. Setelah menuntaskan ibadah pagi di Vihara, Callista melangkah keluar dari gerbang rumahnya dengan perasaan campur aduk. Keretakan kecil dengan Sean sejak hari Kamis masih menggantung kaku. Cowok itu tadi pagi di Vihara bersikap sangat sopan, namun ada jarak tak kasatmata yang dipasang rapi olehnya.
Callista membenarkan letak blazer hitam kasual yang ia kenakan di atas kemeja putihnya. Sebuah mobil sedan hitam mengilap sudah terparkir di depan gerbang. Kaca mobil bagian belakang perlahan menurun, menampilkan Kenzo yang sudah tampil sangat rapi dalam balutan kemeja formal berstelan jas gelap tanpa dasi.
"Masuk, Callista. Kita bisa terlambat kalau kejebak macet hujan," ujar Kenzo singkat dari dalam mobil.
Callista menghela napas, membuka pintu mobil, lalu duduk di samping Kenzo. Aroma citrus dan kayu cendana yang elegan langsung menyergap indramunya. Di dalam mobil, Pak Sopir langsung melajukan kendaraan menuju hotel bintang empat di pusat kota tempat pertemuan dengan pihak sponsor diselenggarakan.
"Nih," Kenzo menyodorkan sebuah map kulit tebal ke pangkuan Callista. "Baca lagi bagian estimasi biaya panggung dan penataan dekorasi. Perwakilan sponsor dari perusahaan minuman ini agak detail soal branding."
Callista menerima map itu tanpa bersuara. Ia menatap deretan angka dan catatan rapi di dalamnya, namun pikirannya sesekali melayang pada tiket pameran seni di saku jaket Sean yang mungkin saat ini sudah terbuang di tempat sampah.
Kenzo, yang menyadari keterdiaman Callista, melirik pelan dari balik dokumennya. "Lo masih marah soal tiket pameran itu?"
Callista tidak mendongak. "Gue gak marah. Cuma merasa bersalah sama Sean. Dia udah nyiapin tiket itu dari jauh-jauh hari khusus buat gue."
Kenzo terdiam sejenak. Tangannya merapikan jam tangan rantai perak di pergelangan tangannya. "Di dunia profesional, penyesuaian jadwal itu hal biasa, Callista. Kalau lo mau berkembang di organisasi atau karier nanti, lo harus belajar memisahkan antara prioritas tanggung jawab dan perasaan personal."
Callista menoleh, menatap Kenzo lurus-lurus. "Nzo, gak semua hal di dunia ini bisa dinilai pakai hitungan logika atau profesionalitas kaku lo itu. Ada hal-hal yang namanya empati dan janji sama sahabat."
"Sahabat?" Kenzo menaikkan sebelah alisnya, tatapan matanya mengeras tipis. "Lo yakin dia cuma menganggap lo sahabat?"
Deg.
Pertanyaan Kenzo yang menohok itu membuat Callista menelan ludah. Sebelum Callista sempat membalas, sedan hitam yang mereka tumpangi sudah berhenti halus di depan lobby utama hotel Grand Wijaya.
Suasana ballroom kecil lantai dua hotel tersebut terasa sangat formal. Bu Rita sudah menunggu mereka bersama dua orang perwakilan sponsor berjas rapi.
Meskipun baru duduk di bangku kelas sepuluh, Kenzo menunjukkan kelasnya sebagai calon pemimpin masa depan. Ia membuka presentasi dengan bahasa yang sangat lugas, percaya diri, dan artikulatif. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam setiap kata yang diucapkannya.
Ketika tiba giliran Callista untuk menjelaskan rancangan visual panggung dan tata letak booth acara, Callista sempat merasa gugup. Tangannya yang memegang remote proyektor sedikit gemetar. Namun, saat matanya tidak sengaja beradu dengan pandangan Kenzo, cowok itu memberikan sebuah anggukan pelan yang sangat halus—sebuah gestur dukungan yang menyiratkan kata: 'Lo pasti bisa.'
Keyakinan Callista seketika terkumpul. Dengan bakat seni dan pemahamannya yang mendalam soal estetika panggung, Callista memaparkan konsep visualnya secara memukau. Penjelasannya yang hangat dan penuh imajinasi berhasil mencairkan suasana rapat yang tadinya kaku.
"Luar biasa," puji Pak Hermawan, perwakilan utama pihak sponsor, sambil bertepuk tangan pelan di akhir presentasi. "Konsep dari Callista ini sangat segar, dan susunan anggaran dari Kenzo sangat realistis. Kami setuju untuk menutup dana penuh untuk Bulan Bahasa tahun ini."
Bu Rita tersenyum lebar penuh kebanggaan, sementara Callista bernapas lega luar biasa. Usaha lembur dan kerja keras mereka terbayar tuntas.
Pukul enam sore, hujan deras akhirnya turun mengguyur area drop-off hotel. Bu Rita sudah pulang lebih dulu menggunakan taksi karena ada urusan mendadak, meninggalkan Kenzo dan Callista yang berdiri berdua di bawah kanopi pelataran hotel menunggu mobil jemputan Kenzo yang terjebak macet.
Ufuk barat dihiasi warna ungu keemasan yang tertutup tirai hujan. Suasana di pelataran hotel terasa cukup lengang dan dingin.
"Kerja yang bagus tadi," kata Kenzo tiba-tiba, suaranya tenang menembus deru suara hujan. "Penjelasan visual lo bikin pihak sponsor langsung yakin."
Callista menoleh, mengukir senyum tipis di bibirnya. "Makasih. Tapi tanpa data anggaran yang lo bikin presisi banget itu, konsep gue cuma jadi mimpi di atas kertas."
Kenzo menatap Callista lekat-lekat. Sinar lampu kristal hotel memantul di mata Callista, menciptakan kilau indah yang membuat jantung Kenzo kembali berdegup tidak karuan.
"Callista," panggil Kenzo pelan.
"Ya?"
"Soal pertanyaan gue di mobil tadi..." Kenzo melangkah setengah tindak lebih dekat, berdiri cukup rapat hingga Callista bisa merasakan kehangatan dari tubuh cowok itu di tengah dinginnya angin sore. "Gue gak cuma asal bicara. Gue tau rasanya memperhatikan seseorang dengan cara yang beda."
Callista menahan napasnya, matanya membelalak pelan. "Maksud lo apa, Kenzo?"
Kenzo tidak langsung menjawab. Jemari tangannya yang panjang terulur ragu, lalu perlahan merapikan helai rambut Callista yang berantakan tertiup angin pelataran, menyilakkannya ke belakang telinga cewek itu dengan sentuhan yang luar biasa lembut.
"Maksud gue... gue mulai peduli sama lo lebih dari sekadar sekretaris kelas," bisik Kenzo jujur, merobohkan seluruh dinding harga diri dan sifat dinginnya di hadapan Callista. "Dan gue gak suka liat lo selalu mengutamakan orang lain sebelum diri lo sendiri."
Jantung Callista rasanya mau melompat keluar dari dadanya. Pengakuan jujur dari Kenzo yang begitu tiba-tiba membuat seluruh pertahanan dirinya luluh seketika. Di bawah naungan hujan sore di pelataran hotel, percikan cinta yang selama ini tertahan akhirnya meledak nyata.
Namun, tepat di saat momen magis itu tercipta, sebuah sepeda motor dengan pengendara berjas hujan biru berhenti di tepi jalan raya di seberang pelataran hotel.
Dari balik kaca helmnya yang agak basah oleh air hujan, Sean berdiri mematung di atas motornya. Ia sedari tadi memutari area kota untuk menenangkan diri, dan tak sengaja melintas di depan hotel ini.
Mata Sean menyaksikan semuanya—bagaimana Kenzo merapikan rambut Callista dengan begitu lembut, dan bagaimana Callista menatap Kenzo dengan binar mata yang tidak pernah cewek itu tunjukkan padanya selama bertahun-tahun mereka bersahabat.
Tangan Sean di stang motor mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di dadanya. Tanpa membunyikan klakson atau memanggil nama Callista, Sean menarik gas motornya dalam-dalam, melesat pergi menembus derasnya hujan malam yang kian pekat.