NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Langkah Baru di Koridor Sekolah

****

Pengunduran diri Devan Dirgantara yang diumumkan secara terbuka di hadapan ratusan murid saat upacara bendera benar-benar mengubah total peta kekuatan serta dinamika sosial di SMA Tunas Bangsa dalam semalam. Begitu barisan dibubarkan oleh guru piket, area lobi utama gedung administrasi langsung menjelma menjadi lautan manusia yang dipenuhi oleh riuh rendah suara bisik-bisik gosip yang tak berkesudahan. Hampir tidak ada satu pun murid yang fokus untuk segera masuk ke ruang kelas masing-masing. Sebagian besar anak-anak organisasi OSIS tampak berdiri berkerumun di sudut koridor dengan wajah yang kebingungan sekaligus cemas, sementara murid-murid kelas dua belas lainnya sibuk berspekulasi liar tentang pelanggaran kode etik berat apa yang sebenarnya telah diperbuat oleh sang mantan Ketua OSIS hingga didepak secara tidak hormat oleh pihak sekolah.

Aku berjalan menjauh dari pusat kerumunan yang bising itu, melangkah dengan santai di sebelah Risa menyusuri selasar panjang menuju ke arah gedung ruang kelas XII MIPA. Rasa ringan yang teramat sangat, yang sudah berminggu-minggu tidak pernah kurasakan, kini menjalar dengan bebas di kedua kakiku. Embusan angin pagi yang masih membawa sisa-sisa kelembapan pasca-hujan bertiup dengan sangat lembut, menerpa wajahku dan seolah membawa pergi seluruh beban mental yang selama ini menghimpit dadaku. Atmosfer koridor yang biasanya terasa begitu menekan dan mencekam setiap kali aku menapakkan kaki di area ini, kini berubah menjadi tempat yang terasa begitu bersahabat.

"Sumpah demi apa pun, Mik, gue masih merinding sampai sekarang kalau ingat ekspresi mukanya Devan di atas podium tadi," Risa membuka suara memecah keheningan di antara kami berdua. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan tidak percaya saat langkah kaki kami mulai menaiki satu per satu anak tangga menuju ke lantai dua gedung utama. "Dia yang selama ini selalu kelihatan sempurna, selalu bisa mengontrol segala jenis situasi dengan senyuman malaikatnya yang sok ramah itu, tadi pucat banget kayak mayat hidup yang kehilangan jiwanya. Tapi lo tahu gak apa hal yang paling memuaskan dari semua ini?"

Aku menoleh ke arah Risa, menaikkan sebelah alisku sambil tersenyum tipis. "Apa?"

"Bangku di sebelah lo sekarang kosong melompong, Mikaela!" seru Risa dengan nada suara setengah berbisik namun dipenuhi kepuasan yang meledak-ledak. "Si ular manipulatif itu akhirnya resmi ditendang keluar dari jangkauan hidup lo, setidaknya untuk dua minggu ke depan selama dia menjalani masa hukuman skorsing dari Pak Malik!"

Aku tertawa kecil mendengar celetukan blak-blakan dari sahabatku itu. Secara refleks, aku melirik ke arah pergelangan tangan kananku sendiri. Bandul berbentuk bintang kecil dari gelang perak pemberian Saka bergerak-gerak halus, mengeluarkan bunyi gemerincing yang sangat samar saat bergesekan dengan kulitku, memantulkan kilau cahaya matahari pagi yang masuk dari sela-sela jendela kaca koridor. "Gue cuma merasa bersyukur karena semuanya bisa terbongkar dengan rapi, Ris. Setidaknya, mulai hari ini dan seterusnya, gue gak perlu lagi berpura-pura menjadi cewek penurut yang ketakutan setiap kali dia mengancam gue."

"Tapi lo jangan sampai lengah dan menurunkan kewaspadaan lo begitu aja, Mik," langkah kaki Risa mendadak terhenti tepat di belokan koridor yang berbatasan langsung dengan ruang laboratorium biologi. Wajahnya yang semula dipenuhi tawa kini berubah menjadi sangat serius, matanya menatap lurus-lurus ke dalam manik mataku dengan binar cemas yang nyata. "Gue tahu Devan udah jatuh di dalam sekolah hari ini. Tapi lo harus ingat satu hal, dia itu cuma diskors selama dua minggu, bukan dikeluarkan secara permanen dari sekolah ini. Karakter orang yang punya sifat manipulatif tingkat tinggi kayak Devan gak bakal hilang atau bertobat begitu aja hanya karena satu kali menerima kekalahan telak. Waktu dua minggu di luar sekolah itu bener-bener waktu yang lebih dari cukup buat dia menyusun strategi baru bareng jaringan koneksinya yang ada di luar."

"Gue tahu betul risiko itu, Ris," jawabku dengan nada suara yang mantap, mencoba sekuat tenaga untuk meyakinkan Risa sekaligus mengusir sisa-sisa kecemasan yang sempat terbersit di dalam benakku sendiri. "Tapi sekarang situasinya udah bener-bener berubah seratus delapan puluh derajat. Saka udah memegang alat perekam suara digital itu sebagai kartu as kita, dan Pak Malik sendiri udah tahu gimana tabiat asli di balik topeng Devan. Dia udah kehilangan seluruh *power* dan otoritas hukum organisasi yang selama ini dia pakai buat mengintimidasi gue di dalam lingkungan sekolah ini."

Risa mengembuskan napas panjang, tampaknya sedikit lega mendengar jawaban tegas yang kuberikan. Kami pun kembali melanjutkan langkah kaki kami yang sempat tertunda, berjalan beriringan menuju ke arah pintu ruang kelas XII MIPA 2. Namun, baru saja aku hendak melangkah melewati ambang pintu kayu bagian depan kelas, sebuah siluet tubuh tinggi tegap yang sangat kukenal sudah berdiri dengan santai bersandar di balik tembok beton koridor luar.

Itu Saka Aditya.

Cowok ugal-ugalan dari jurusan IPS itu berdiri di sana dengan gaya yang jauh lebih tenang dan dewasa, namun tetap memancarkan aura dominasi yang sangat kuat dan tak terbantahkan. Almamater sekolahnya yang berwarna biru tua terpasang dengan sangat rapi, menutupi kemeja putihnya yang dimasukkan dengan sempurna ke dalam celana abu-abu. Potongan rambut pendek barunya yang hitam tampak membingkai wajah tegasnya dengan sangat pas, membuat garis rahangnya yang kokoh terlihat semakin jelas di bawah siraman cahaya lampu koridor. Sebuah seringai tipis nan ugal-ugalan yang sangat khas terukir di sudut bibirnya saat mata elangnya menangkap kedatanganku. Di tangan kanannya, dia tampak sedang memegang dua kotak susu cokelat dingin yang baru saja dibelinya dari area kantin bawah.

"Selamat pagi, ceweknya Devan... eh, maksud gue, mantan ceweknya si Ketos bangsat yang hari ini resmi jadi buronan skorsing sekolah," goda Saka dengan nada suara baritonnya yang serak, rendah, dan sengaja diperkeras agar suaranya terdengar oleh beberapa anak kelas MIPA yang sedang berjalan masuk melewati kami.

"Saka! Tolong jangan keras-keras kalau bicara, ih!" mukaku refleks memerah sempurna karena rasa malu yang mendadak menyerang. Aku melangkah maju mendekatinya, mencoba merebut salah satu kotak susu cokelat dingin dari cengkeraman tangannya. Namun, Saka dengan sangat cepat mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, memanfaatkan keunggulan tinggi badannya yang jauh di atasku untuk menjahiliku seperti biasa.

"Eits, gak bisa langsung diambil begitu aja dong, Mikaela. Di dunia anak IPS, semua barang yang berpindah tangan itu harus ada pajaknya dulu," kekeh Saka, menatap ke arahku dengan binar mata elangnya yang kini sudah kembali seutuhnya—sebuah binar mata yang dipenuhi oleh rasa hangat, perlindungan, dan obsesi posesif yang tulus tanpa ada lagi sekat kebohongan di antara kami.

Risa yang berdiri tepat di belakangku hanya bisa mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat pasrah, lalu memutar kedua bola matanya dengan malas melihat tingkah laku kami berdua. "Duh, ampun deh, ini masih jam pertama sekolah tapi matamata gue udah dipaksa buat melihat pamer kemesraan yang gak ada habisnya. Gue masuk ke dalam kelas duluan ya, Mik. Gak sudi gue berlama-lama berdiri di sini cuma buat jadi obat nyamuk di koridor," cetus Risa dengan nada ketus yang dibuat-buat, lalu berjalan melewatiku begitu saja sambil menepuk pundak Saka singkat sebelum akhirnya sosoknya menghilang di balik pintu kelas.

Setelah kepergian Risa masuk ke dalam kelas, atmosfer di antara kami berdua di koridor yang mulai sepi itu mendadak terasa sedikit lebih sunyi dan intim. Saka perlahan menurunkan kembali tangan kanannya yang tinggi, lalu menyodorkan kedua kotak susu cokelat dingin itu langsung ke dalam genggaman kedua telapak tanganku dengan gerakan yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan keagresifannya yang biasa.

"Gimana rasanya setelah lo melihat sendiri si ular manipulatif itu berjalan keluar dari pintu gerbang utama sekolah dengan kepala tertunduk lesu pagi ini, hah?" tanya Saka, nada suaranya kini berubah menjadi jauh lebih serius dan dalam, meskipun posisinya masih tetap bersandar santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya yang rapi.

"Gue ngerasa lega banget, Sak. Benar-benar lega sampai rasanya gue bisa bernapas dengan bebas lagi sekarang," ucapku dengan sangat tulus, menatap lurus ke dalam manik mata elangnya yang indah. Aku mengangkat tangan kananku sedikit, menunjukkan gelang perak berbentuk bintang kecil pemberiannya yang kini sudah terpasang bebas tanpa ada lagi halangan. "Makasih banyak ya, Sak... kalau bukan karena taktik nekat dan kecerdasan lo yang mengambil alat perekam suara rahasia itu dari atas meja ruang OSIS kemarin sore, gue mungkin sampai detik ini masih terikat di dalam lingkaran sandiwara beracun yang dia buat."

Saka memajukan posisi tubuhnya sedikit, memotong jarak horizontal di antara kami hingga aku bisa merasakan dengan jelas kehangatan tubuhnya yang tegap dan aroma parfum maskulinnya yang menguar kuat di udara koridor yang sejuk. Dia menundukkan wajahnya, mengunci seluruh atensiku agar aku tidak melirik ke tempat lain.

"Gue udah pernah bilang sama lo semalam di bawah jembatan layang, kan, Mik? Gue rela memotong rambut gue jadi pendek dan merapikan seluruh seragam gue ini bukan karena gue takut dengan aturan hukum sekolah, atau karena gue menyerah kalah dari ancaman pemecatan yang dibuat oleh Devan. Gue sengaja melakukan ini semua cuma buat bermain cantik di dalam sistem yang dia agung-agungkan, biar gue punya alasan yang sah secara hukum sekolah untuk bisa terus berjalan di koridor ini, berada di dekat lo, dan mengawasi pergerakan lo setiap hari tanpa bisa diganggu gugat lagi oleh siapa pun," tutur Saka dengan untaian kalimat yang begitu matang, teratur, namun sarat akan obsesi perlindungan yang teramat pekat.

Saka mengalihkan pandangan matanya sekilas ke arah dalam ruang kelas kami, menatap tajam ke arah barisan kursi paling depan tempat meja belajarku berada, yang kini tampak lengang tanpa adanya keberadaan tas ransel hitam milik Devan. Sebuah seringai dingin nan tajam kembali terukir di wajah tampannya, memancarkan pesona *bad boy* versi patuh aturan yang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.

"Mulai hari ini dan seterusnya, gak akan ada lagi satu pun pengurus OSIS atau murid lain yang bisa mengatur tempat duduk lo, atau membatasi dengan siapa lo boleh berteman di sekolah ini. Tapi lo harus tetap ingat satu hal penting, Mikaela..." Saka menjeda kalimatnya sesaat, jari telunjuk tangan kanannya tiba-tiba terulur untuk menyentuh dan mengusap permukaan bandul bintang kecil di gelang perakku dengan gerakan yang sangat posesif. "Meskipun Devan udah gak ada di lingkungan sekolah ini selama dua minggu ke depan karena sanksi skorsing, lo tetap berada di bawah pengawasan penuh dari gue. Sifat berandal dan keagresifan gue gak bakal pernah hilang hanya karena pakaian seragam gue sekarang terkancing rapi sesuai aturan. Kalau sampai ada cowok lain dari anak-anak kelas MIPA yang berani macam-macam, tebar pesona, atau mencoba mendekati lo selama gue gak ada di dalam kelas ini... mereka semua bakal langsung merasakan gimana cara ugal-ugalan gue yang sesungguhnya di luar pengawasan Pak Malik."

Gue tertawa kecil mendengar untaian ancaman protektif yang keluar dari mulut Saka sore itu, sebuah ancaman berkarakter *red flag* yang anehnya justru membuat seluruh sudut hatiku merasa sangat aman, nyaman, dan terlindungi sepenuhnya dari dunia luar. Aku mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan, menggenggam erat kedua kotak susu cokelat dingin di tanganku sebelum melangkah masuk ke dalam kelas.

asmara kami di luar sekolah dipastikan bakal berjalan dengan jauh lebih liar, dinamis, dan penuh dengan pergerakan konfrontasi yang memacu adrenalin. Kebebasanku dari kurungan emas Devan memang telah kembali seutuhnya hari ini, namun aku tahu bahwa mulai detik ini, aku telah dengan sukarela menyerahkan seluruh sisa masa SMA-ku untuk dikunci dengan rapat di dalam lingkaran perlindungan posesif nan agresif milik si berandal patuh aturan ini, siap menghadapi badai baru apa pun yang sedang dirancang oleh sang mantan Ketua OSIS di luar sana.

##

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!