Sinopsis
Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.
Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.
Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.
Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 21 - MASUKNYA HAMA
Setelah menyelesaikan misi, Lily dan saudara-saudaranya akhirnya kembali ke rumah.
"Huft... capek banget, gilak," keluh Lea dengan dramatis.
"Baru segitu aja capek," balas Alex dengan nada datar.
"Hah? Apa kata lo?! Baru segitu aja capek? Excuse me, Alex muka tembok! Lo kira jalan tiga puluh empat kilometer itu dekat? Hello! Kalau kita manusia biasa, pasti udah pingsan. Gilak, ngeselin banget sih!" omel Lea panjang lebar dengan wajah kesal.
Seluruh anggota keluarga yang melihat Lea terus mengomel hanya bisa menggelengkan kepala.
Mereka sudah terbiasa melihat tingkah anak gadis itu.
"Haaa... kalian nggak capek apa? Kerjaannya bertengkar terus," tanya Daddy Mike kepada kedua anaknya.
"Dia duluan, loh, yang mulai," ucap Lea membela diri.
Sementara itu, Alex hanya diam tanpa membalas.
Lily yang melihat kedua kakaknya bertengkar hanya bisa menghela napas.
Sepanjang perjalanan pulang dari misi, mereka memang tidak berhenti saling berdebat.
"Mom, Dad, aku ke kamar dulu ya. Mau lihat keadaan Luna," pamit Lily.
Semua orang menganggukkan kepala.
Lily pun berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di sana, ia menghampiri ranjang tempat Luna terbaring.
"Halo, Luna. Kak Lily udah pulang. Gimana kabarnya? Kok betah banget sih tidurnya? Cepat bangun dong. Kak Lily rindu nih," ucap Lily sambil tersenyum lembut.
Namun seperti hari-hari sebelumnya...
Tidak ada jawaban.
Sementara itu, di gerbang pangkalan...
"Selanjutnya!" panggil petugas.
"Nama dan satu tas persediaan ukuran sedang," ucap petugas tanpa basa-basi.
"Anu, Pak... apa kami bisa masuk tanpa harus dikarantina dulu?" tanya seorang pria dengan gugup.
"Tidak bisa. Semua orang wajib menjalani karantina tanpa terkecuali."
Petugas berhenti sejenak, lalu tersenyum licik.
"Tapi... kalau ada sesuatu..."
Pria itu langsung mengerti maksudnya.
"Saya akan menambahkan persediaan dan memberi bonus makanan untuk Anda."
Senyum petugas langsung melebar.
"Baiklah. Tunggu di belakang sana. Nanti saya bantu supaya kamu bisa masuk."
"Terima kasih, Pak."
"Selanjutnya!"
Setelah berhasil menyuap petugas dan membeli sebuah rumah, pria itu membawa wanita yang digendongnya menuju rumah tersebut.
Sesampainya di dalam, ia membaringkan wanita itu di atas kasur.
Tangannya menggenggam tangan sang wanita erat-erat.
"Tahan ya, Sayang... Maafkan aku..."
Air mata pria itu terus mengalir.
Wanita yang sangat dicintainya kini telah berubah menjadi zombie.
"Groarrr..."
"Roarrr..."
Mendengar geraman itu, pria tersebut segera mengikat mulut wanita itu agar suaranya tidak menarik perhatian orang lain.
Kembali ke sisi Lily.
Karena merasa bosan hanya berada di rumah, Lily akhirnya berbicara dengan sistem.
"Sistem, menurut lo sekarang gue harus ngapain? Gue bosen banget di rumah terus."
DING!!
«Bagaimana kalau Tuan Rumah mengambil misi pembersihan area zombie yang ditawarkan petugas wanita kemarin?»
Lily mengangguk pelan.
"Hemm... boleh juga sih."
"Eh, tapi ngomong-ngomong, kenapa lo udah lama nggak ngasih gue misi lagi?"
DING!!
«Misi dari sistem bersifat acak. Misi hanya akan muncul apabila ada pemicu yang sesuai.»
"Oh... jadi begitu."
"Kalau gitu gue ambil misi lagi aja. Gue bener-bener bosan di tempat ini."
Lily langsung bangkit dari tempat tidur lalu keluar dari kamar.
Saat tiba di ruang tamu, suasana terlihat sangat sepi.
Biasanya semua orang berkumpul di sana.
Namun kali ini hanya Mommy Grace dan sang tante yang sedang duduk.
"Mom, yang lain ke mana?" tanya Lily.
"Oh, Lily. Mereka lagi tidur. Katanya capek setelah perjalanan kemarin," jawab Mommy Grace.
"Oh gitu."
Lily mengangguk pelan.
"Oh iya, Mom. Lily izin keluar dulu ya. Kayaknya baru pulang besok."
Mommy Grace langsung menoleh dengan wajah bingung.
"Hah? Mau ke mana? Kok pulangnya besok?"
"Emm... Lily mau ambil misi pembersihan area zombie."
"Hah?! Nggak! Bahaya itu! Nggak boleh! Mommy nggak izinin!"
Mommy Grace langsung menolak keras.
"Oh ayolah, Mom. Lily janji bakal hati-hati. Lily bosen terus di rumah."
"Sekali nggak ya tetap nggak! Kamu nggak boleh pergi."
"Ihhh... ayolah, Mom. Lily janji besok udah pulang. Ya... ya..."
Saat perdebatan masih berlangsung, Daddy Mike tiba-tiba datang dari belakang.
"Sudahlah, Grace."
"Biarkan putrimu pergi."
"Lagipula, tidak baik terus menahan anak di saat keadaan seperti ini."
"Biarkan dia berlatih menghadapi dunia luar."
"Karena pada akhirnya, hanya orang yang mampu bertahan yang akan tetap hidup."
Mommy Grace menatap suaminya dengan ragu.
"Tapi itu berbahaya, Mas."
"Percayakan semuanya kepada Lily."
Daddy Mike tersenyum tipis.
Setelah menghela napas panjang, Mommy Grace akhirnya mengalah.
"Haaaa... baiklah."
"Tapi janji besok sudah pulang, ya?"
Lily langsung tersenyum lebar.
"Janji!"
"Makasih, Mom! Makasih, Dad!"
Tanpa membuang waktu lagi, Lily segera pergi meninggalkan rumah.
Tak lama kemudian, Lily tiba di pusat informasi misi.
Gadis petugas yang kemarin masih berjaga di tempat yang sama.
"Eh, Kak! Kakaknya sudah pulang dari misi? Selamat ya," ucap gadis itu sambil tersenyum.
"Iya. Tadi pagi baru sampai."
Lily membalas senyum gadis tersebut.
"Emm, kira-kira misi pembersihan zombie masih ada?"
"Masih, Kak. Masih banyak."
Gadis itu kemudian melihat ke belakang Lily.
Namun ia tidak menemukan siapa pun.
"Kakak... sendiri?"
"Iya."
"Sendiri aja. Nggak apa-apa kok. Gue udah biasa."
Gadis itu tampak sedikit ragu.
"Oh... kalau begitu."
"Kakak ditugaskan membersihkan area ini."
Ia menunjuk sebuah titik pada peta.
"Lokasinya sekitar delapan belas kilometer dari pangkalan."
"Kakak diberi waktu tiga hari."
"Kalau lebih dari itu dan belum kembali, Kakak akan dianggap telah meninggal."
"Jadi... hati-hati ya."
Lily menganggukkan kepalanya.
"Oke. Terima kasih."
"Oh iya."
"Nama gue Lily."
"Catat aja. Biar nggak usah tanya lagi."
Gadis itu terkekeh kecil sebelum mulai mendata identitas Lily.
Setelah semua selesai, Lily berjalan menuju gerbang pangkalan.
Tatapannya lurus ke depan.
Senyuman tipis mulai menghiasi wajahnya.
"Sudah saatnya panen kristal zombie."
Begitulah pikir Lily dalam hati sebelum melangkahkan kakinya keluar dari pangkalan.