NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Jalan Berliku ke Alas Jati Mulya

Saat cahaya fajar mulai memecah kegelapan, menyinari Desa Sindangasih dengan sinar keemasan yang lembut, suasana di desa itu terasa jauh lebih segar dan tenang dibandingkan malam sebelumnya. Dari balik pintu-pintu rumah, mulai terdengar suara orang berbicara, tawa anak-anak, dan langkah kaki yang sibuk — tanda warga desa sudah terbangun dari tidur panjang mereka tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi semalam.

Cepot dan Dawala sudah bangun sejak tadi, duduk di bawah pohon beringin sambil mengunyah sisa bekal singkong rebus yang mereka bawa dari rumah. Dawala memandang sekeliling dengan wajah lega.

“Lihat, Kang! Semua orang sudah beraktivitas seperti biasa seolah tidak ada apa-apa. Untung saja semalam kita berhasil menghentikan sihir Nyai Ronggeng,” ujarnya sambil menelan makanan.

Cepot mengangguk sambil membersihkan tangannya ke daun kering. “Memang benar. Yang penting jiwa dan tubuh mereka selamat. Biarlah mereka tidak tahu apa-apa, agar hati mereka tetap tenang dan tidak takut tinggal di sini. Tugas kita selesai di tempat ini, sekarang saatnya melanjutkan perjalanan.”

Mereka pun berdiri, membereskan barang bawaan, dan melangkah keluar dari desa menuju jalan setapak yang mengarah ke timur, seperti yang ditunjukkan oleh Jin Caplak semalam. Semakin jauh mereka berjalan, tanahnya mulai menanjak, udara terasa lebih sejuk dan bersih, serta pepohonan semakin rapat dan menjulang tinggi menutupi langit.

Setelah berjalan kira-kira dua jam, jalan yang tadinya lurus mulai berbelok-berbelok tajam, kadang naik terjal, kadang turun curam ke lembah yang dalam. Suasana hutan menjadi semakin sunyi, hanya diselingi kicauan burung dan suara daun yang berdesir tertiup angin.

Dawala mulai terengah-engah, keringat membasahi dahinya. Ia berhenti sejenak sambil menopang lututnya. “Kang… jalan ini benar-benar sulit. Belok sana belok sini, rasanya kita seperti berjalan melingkar saja. Apakah kita tidak tersesat?”

Cepot juga terlihat lelah, tapi ia tetap memaksakan senyum sambil mengusap keringat di lehernya. “Sabar, Da. Kalau jalan mudah, namanya bukan perjalanan, tapi jalan santai ke pasar. Jin Caplak bilang Alas Jati Mulya tempatnya tinggi dan tersembunyi, jadi wajar jalannya berliku. Ingat, semakin sulit jalannya, semakin berharga apa yang akan kita dapatkan di ujungnya.”

Belum selesai Cepot berbicara, tiba-tiba tanah di depan mereka berguncang pelan. Dari balik semak-semak besar, keluar suara gemeretak ranting yang keras, disertai langkah kaki berat yang membuat tanah terasa bergetar. Dawala segera melompat ke samping sambil memegang erat galah bambunya.

“Kang! Ada apa itu?!” serunya dengan suara sedikit bergetar.

Semak-semak terbelah, dan muncul sesosok makhluk besar berbulu lebat berwarna cokelat kehijauan, tingginya dua kali lipat manusia biasa. Kepalanya besar dengan dua tanduk pendek dan mata yang melotot tajam. Namun, saat makhluk itu melangkah mendekat, terlihat kakinya sedikit pincang dan wajahnya terlihat lebih sedih daripada marah.

Cepot langsung melangkah ke depan menghadapinya, tapi ia tidak mengangkat senjata atau pusaka. Sebaliknya, ia berdiri santai sambil berkacak pinggang.

“Wah, makhluk besar juga rupanya. Mau apa mendatangi kami? Mau menakuti atau mau menolong?” tanya Cepot dengan nada biasa saja, tidak terlihat takut sedikit pun.

Makhluk itu mendengus keras, mengeluarkan napas yang berbau daun kering. “Siapa kalian berani melintas di wilayah ini? Tidak tahu aturan hutan kah? Siapa yang mengizinkan kalian lewat?” suaranya berat dan menggema, tapi nadanya tidak seganas yang dibayangkan.

Dawala yang mulai agak tenang ikut menyahut dari belakang bahu Cepot. “Kami bukan pencuri atau pengganggu hutan, Tuan. Kami hanya melewati jalan ini menuju Alas Jati Mulya untuk mencari orang bijak guna menghentikan kejahatan Ki Burak.”

Mendengar nama Ki Burak disebut, mata makhluk itu berubah sedikit melembut. Ia menundukkan kepalanya perlahan. “Ki Burak… makhluk itu sudah membawa banyak kerusakan ke seluruh tempat. Namaku Kala Penjaga Jalan. Selama bertahun-tahun aku menjaga jalur ini agar tidak dimasuki makhluk jahat atau orang yang tidak bertanggung jawab.”

Ia lalu mengangkat salah satu kakinya yang pincang, memperlihatkan luka menganga yang terlihat sudah lama dan belum sembuh sempurna. “Beberapa waktu lalu, sekutu Ki Burak melintas dan melukai kakiku ini. Sejak itu aku sulit bergerak dan menjaga jalan dengan baik. Kalau kalian benar-benar melawannya, mungkin kalian punya hati yang baik.”

Cepot melangkah mendekat sedikit, memperhatikan luka itu. “Kalau begitu, mengapa tidak bilang saja dari awal, malah membuat kami kaget? Kami pikir akan dimakan hidup-hidup tadi,” katanya sambil cengengesan. “Kami tidak punya obat ajaib, tapi setidaknya bisa membersihkan lukanya agar tidak bernanah dan terasa lebih nyaman.”

Tanpa ragu, Cepot mengambil sejenis daun lebar yang ia kenal sebagai penawar alami, mengunyahnya sebentar sampai lembut, lalu mengoleskannya perlahan pada luka kaki Kala. Dawala membantu mengikatnya dengan tali dari serat pohon yang kuat.

Kala menggeram pelan, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena rasa perih yang berangsur hilang. Ia menggerakkan kakinya perlahan sambil menatap kedua bersaudara itu dengan pandangan berubah menjadi hormat.

“Terima kasih, anak muda. Sudah lama tidak ada yang berani mendekat, apalagi menolongku. Sebagai balasannya, aku akan tunjukkan jalan pintas agar kalian tidak tersesat lagi di belokan-belokan ini,” ujarnya dengan nada lebih ramah.

Ia menunjuk ke arah celah di antara dua pohon jati raksasa yang tampak tertutup akar menjuntai. “Lewatlah di sana. Jalannya lebih sempit tapi lebih lurus dan lebih cepat sampai. Tapi hati-hati, di tengah jalan itu ada rintangan lain yang menguji ketenangan hati, bukan kekuatan fisik.”

“Terima kasih banyak, Kala Penjaga Jalan! Nanti kalau sudah selesai urusan kami, kami akan lewat lagi dan menengok keadaanmu,” janji Cepot sambil melambaikan tangan.

Kala hanya mengangguk perlahan dan mundur kembali ke balik semak-semak, menghilang dari pandangan mereka.

Mereka pun masuk ke jalan yang ditunjukkan itu. Memang benar, jalannya sempit, cukup untuk satu orang saja, dan diapit oleh akar serta batang pohon yang besar. Udara di sini terasa lebih tenang, tapi perlahan-lahan mulai muncul suara-suara aneh yang berbisik dari segala arah.

Suara-suara itu terdengar seperti suara orang yang mereka kenal: suara ibu memanggil pulang, suara tetangga yang mengajak makan, bahkan suara yang mengatakan bahwa perjalanan ini sia-sia dan lebih baik berhenti saja.

Dawala mulai mengerutkan dahi, telinganya bergerak mendengar bisikan itu. “Kang… dengar itu? Suara-suara memanggil kita. Rasanya ingin berhenti saja dan kembali pulang, rasanya perjalanan ini terlalu berat dan tidak ada gunanya…”

Cepot juga mendengar suara itu, tapi ia langsung menepuk telinganya sendiri keras-keras. “Itu bukan suara asli, Da! Itu hanya sihir halus yang berusaha melemahkan tekad kita. Ingat apa yang kita tuju! Kalau kita menyerah sekarang, nanti Ki Burak bangkit dan bukan hanya desa Sindangasih yang celaka, tapi seluruh tempat di sekitar kita.”

Ia lalu berjalan lebih cepat sambil berbicara lantang untuk menghilangkan pengaruh suara itu. “Dengar baik-baik, Dawala! Kalau jalan terasa berat, berarti kita sedang naik ke tempat yang lebih tinggi. Kalau pikiran mulai ragu, ingat tujuan kita. Kalau telinga mendengar hal yang tidak masuk akal, tutup saja dengan kepercayaan pada diri sendiri!”

Dawala menarik napas dalam-dalam, mengusap matanya, dan mengangguk mantap. “Benar kata Kang! Jangan biarkan suara-suara itu mengganggu. Ayo kita teruskan, jangan pedulikan apa yang dikatakan angin!”

Mereka melangkah terus dengan kepala tegak dan hati yang mantap. Semakin jauh mereka berjalan, suara bisikan itu semakin samar sampai akhirnya hilang sama sekali, digantikan oleh cahaya matahari yang mulai menerobos masuk lewat celah pohon, menandakan mereka sudah hampir keluar dari jalur sempit itu.

Sesampainya di ujung jalan, pemandangan terbentang luas di hadapan mereka. Di lembah yang subur, berdiri sebuah hutan jati yang sangat rapi dan tinggi-tinggi, dengan udara yang terasa paling sejuk dan menyejukkan hati yang pernah mereka rasakan selama perjalanan. Di tengahnya, terlihat gubuk sederhana berdiri kokoh di atas tanah yang datar, dikelilingi bunga-bunga berwarna cerah yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.

“Ini pasti Alas Jati Mulya,” gumam Cepot dengan wajah berbinar lega. “Akhirnya kita sampai juga.”

Dawala tersenyum lebar, rasa lelahnya seolah hilang begitu saja melihat pemandangan di depan mata. “Perjalanan panjang dan banyak rintangannya, tapi sungguh indah hasilnya. Semoga orang bijak yang tinggal di sana bisa memberikan petunjuk yang kita butuhkan untuk menghadapi Ki Burak nanti.”

Mereka melangkah turun menuju lembah itu, hati penuh harapan, bersiap bertemu dengan sosok yang mungkin memegang kunci akhir dari pertarungan melawan kegelapan.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!