Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Hehehe... Jon, kiri itu buntu!" seru Gondrong saat mereka berbelok tajam ke arah yang ditunjukkan oleh Assassin bertopeng rubah tadi. Di ujung lorong, sebuah gerbang besi tebal yang digembok rantai raksasa berdiri kokoh, menutup jalan keluar dari pabrik tekstil ini.
"Enggak ada kata buntu buat petir, Ndrong!"
Joni tidak mengurangi kecepatannya sama sekali. Ia memusatkan energi Ki ke tangan kanannya, membuat Lightning Iron Gauntlet-nya berderit merah menyala karena panas ekstrem.
"Tokkan Punch!"
BOOOMMM!
Hantaman tinju listrik Joni menghancurkan gembok rantai itu hingga meleleh dan jebol seketika. Mereka bertiga menerobos masuk ke dalam sebuah ruangan laboratorium terbengkalai yang dipenuhi tabung-tabung kaca raksasa yang sudah pecah. Bau menyengat dari zat kimia kuno langsung menusuk hidung.
BRAKK!
Pintu masuk laboratorium itu tiba-tiba dihantam dari luar. Empat mahasiswa Mythic Peak berhasil mengejar mereka. Sang Swordsman Level 52 mendobrak sisa-sisa gerbang besi dengan pedang besarnya, wajahnya menyeringai penuh kemenangan.
"Mau lari ke mana lagi kalian, Tikus Sacred Gate?!" teriak si Swordsman lantang. "Sektor ini buntu! Serahin sarung tangan listrik dan cincin es itu, atau gue bikin level kalian anjlok malam ini!"
Sang Archer di belakangnya langsung menarik tali busur, membidik kaki Laras dengan anak panah beracun yang sudah siap lepas landas. "Habisi aja sekalian, Bos! Biar mereka kapok main ke Hole!"
Joni mengambil posisi di depan Laras dan Gondrong, menghalangi jalur tembak. Tangannya mengepal erat, bersiap menghadapi skenario terburuk: bertarung habis-habisan dan mempertaruhkan 10 level miliknya.
Namun, sebelum anak panah itu sempat dilepaskan, lantai beton di bawah kaki kelompok Mythic Peak mendadak memancarkan pendaran cahaya merah darah yang berpola rumit. Sebuah segel lingkaran sihir kuno bangkit dari tanah.
WUSH—ZZZZTTT!
"Hah?! Apa-apaan ini?!" Si Swordsman terkejut saat menyadari tubuhnya mendadak kaku, tidak bisa digerakkan sama sekali.
[SISTEM: ANDA TERKENA EFEK 'SHADOW BIND' - TINGKAT TINGGI]
Durasi kaku: 10 Detik.
Karakter tidak dapat menggunakan skill atau bergerak.
Dari balik bayangan tabung kaca di langit-langit ruangan, sosok Assassin bertopeng rubah tadi kembali muncul dengan posisi berjongkok secara terbalik, menempel di langit-langit seperti seekor laba-laba maut. Di jemarinya, untaian benang hitam spiritual terhubung langsung dengan bayangan empat anak Mythic Peak tersebut.
"Sudah kubilang, kalian terlalu berisik," ucap si Assassin dengan suara mekanisnya yang dingin.
Tanpa memberikan kesempatan untuk merespons, Assassin itu mengibaskan tangan kirinya. Empat bilah belati hitam legam melesat secepat kilat, menembus tepat ke arah ulu hati keempat mahasiswa Mythic Peak itu sekaligus.
SHRREEEKKK!
CRASH! CRASH! CRASH! CRASH!
Ddamage yang dihasilkan sangat tidak masuk akal. Angka kerusakannya bahkan tidak muncul di sistem, melainkan langsung mengubah indikator HP keempat orang itu menjadi nol dalam sekejap mata.
POFF! POFF! POFF! POFF!
Tubuh empat mahasiswa Mythic Peak itu meledak serentak menjadi partikel cahaya putih, ter-respawn paksa kembali ke lobi kampus mereka dengan penalti kehilangan 10 level dan barang-barang mereka. Di atas lantai beton, pedang besar milik si Swordsman dan busur panah beracun milik si Archer terjatuh berdenting, berserakan sebagai barang jarahan (drop item).
Gondrong melongo sampai rahangnya hampir lepas. "Wadidaww m-modar semua dalam satu tebasan..."
Assassin itu melompat turun dari langit-langit, mendarat tanpa suara di depan tumpukan senjata jarahan tersebut. Ia sama sekali tidak menyentuh senjata-senjata mahal itu. Matanya yang dingin di balik topeng rubah menatap lurus ke arah Joni.
"Ambil senjata itu," perintah si Assassin dingin, menunjuk ke lantai dengan dagunya. "Dan ikut aku. Master Johan sudah menunggu di distrik terdalam."
Joni tertegun. "Master Johan? Jadi lo... orangnya Master?"
Assassin itu tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah menembus dinding laboratorium yang retak, meninggalkan Joni dkk yang masih syok di tengah ruangan yang dipenuhi hawa kematian Sacred Gate Hole.
"Master Johan?" Gondrong mengucek matanya, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Jon, Assassin gila ini... muridnya master loh?!"
"Bukan waktu yang tepat buat bengong, Ndrong. Ambil senjatanya, buruan!" Joni langsung bergerak cepat.
Gondrong dengan sigap memungut pedang besar (greatsword) milik si Swordsman dan busur panah beracun milik si Archer. Meskipun mereka tidak bisa menggunakannya karena perbedaan faksi, senjata-senjata Tier 2 dari mahasiswa level 50-an ini bernilai ratusan ribu poin jika dijual ke tengkulak pasar gelap kampus.
Setelah mengamankan jarahan, ketiganya langsung berlari menyusul bayangan Assassin bertopeng rubah yang sudah bergerak jauh di depan.
Anehnya, begitu mereka mengikuti jalur Assassin tersebut, gerombolan Factory Zombie yang tadinya memenuhi jalanan Sacred Gate Hole seolah-olah menyingkir dengan sendirinya. Makhluk-makhluk mati itu hanya berdiri mematung di dalam kegelapan lorong, gemetaran merasakan aura mengerikan yang dipancarkan oleh si topeng rubah.
Mereka terus bergerak semakin dalam, menembus labirin kota mati hingga tiba di sebuah kawasan stasiun kereta bawah tanah terbengkalai. Tangga menuju ke bawah tanah itu tampak gelap gulita, diselimuti lumut hitam tebal.
Si Assassin menghentikan langkahnya tepat di mulut tangga. Ia berbalik, menatap Joni, Gondrong, dan Laras secara bergantian.
"Sampai di sini saja tugas penjemputanku," ucap si Assassin, suaranya masih terdengar datar dan mekanis dari balik topengnya. "Turunlah ke bawah. Master Johan berada di jalur rel nomor empat."
Joni maju selangkah, menatap tajam mata di balik topeng rubah itu. "Siapa lo sebenarnya? Dan kenapa guru gue ada di tempat berbahaya kaya gini?"
Assassin itu hanya terdiam sekilas. Perlahan, ia mengangkat tangan kanannya, menggeser sedikit topeng rubahnya ke atas, hanya memperlihatkan bagian mulut dan rahangnya yang tegas. Di sudut bibirnya, terdapat sebuah bekas luka bakar vertikal yang sangat khas.
Melihat bekas luka itu, mata Laras langsung terbelalak. Tubuhnya bergetar kecil karena terkejut. "K-Kak...?"
Namun, sebelum Laras sempat menyelesaikan kalimatnya, Assassin itu sudah kembali menurunkan topengnya dengan cepat.
"Gunakan senjata barumu dengan benar, Joni. Senin besok, Tian Baskoro tidak akan bermain-main di arena kampus. Dia sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih busuk dari yang kau bayangkan," bisik si Assassin.
WUSH!
Dalam satu kedipan mata, tubuh Assassin itu meleleh menjadi bayangan hitam dan lenyap menyatu dengan kegelapan malam, meninggalkan keheningan yang mencekam di mulut tangga stasiun.
"Ras... tadi lo mau ngomong apa?" tanya Joni, menoleh ke arah Laras yang wajahnya mendadak memucat.
Laras menelan ludah, tangannya meremas tongkat Qigong-nya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Enggak... bukan apa-apa, Kak. Mungkin aku cuma salah lihat."
Gondrong yang tidak menyadari ketegangan itu langsung menunjuk ke arah tangga bawah tanah yang gelap. "Hehehe... Jon, lupakan dulu si topeng rubah. Mending kita samperin Master Johan. Gue penasaran, ngapain guru kita yang killer itu malah nongkrong di stasiun zombie malam-malam begini."
Joni mengangguk. Aura petir di Lightning Iron Gauntlet-nya kembali dinyalakan, bertindak sebagai obor penerang jalan mereka. "Ayo turun. Tetap waspada, kita nggak tahu apa yang ada di bawah sana."
Ketiganya mulai melangkah menuruni anak tangga yang licin, menuju distrik terdalam Sacred Gate Hole yang belum pernah terjamah oleh peta resmi akademi.