NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 18

Sepasang netra Aragon akhirnya berhenti tepat pada sosok Aurora.

Gadis itu berdiri gemetar dengan sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Aragon tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Aurora, meneliti setiap jengkal kekacauan yang menimpa gadis itu, sebelum pandangannya beralih pada puing-puing atap panti yang hancur.

Namun, alih-alih menunduk ketakutan seperti kebanyakan orang yang berhadapan dengan sang penguasa neraka, Aurora justru perlahan menegakkan kepalanya.

Gadis itu mendongak, menantang langsung sepasang manik kelam Aragon.

Aragon sedikit mengernyitkan alisnya, sebuah gerakan mikro yang hampir tak kentara, namun menandakan gelombang ketertarikan yang jarang terjadi dalam dirinya.

Pria itu terbiasa melihat dua jenis tatapan dari wanita: tatapan penuh ketakutan yang mengemis belas kasihani, atau tatapan menjijikkan dari para wanita pesolek yang mencoba menggoda demi harta dan kekuasaannya.

Tapi Aurora berbeda.

Gadis di hadapannya ini mengenakan pakaian sederhana yang jauh dari kata mewah. Ia hanyalah seorang gadis miskin yang saat ini dunianya sedang berada di ujung tanduk, panti asuhan tempatnya bernaung sedang sekarat di ambang kehancuran. Logikanya, Aurora seharusnya berlutut sambil memohon, atau menangis, dan meratapi nasibnya yang malang, bahkan saat di depan perusahaan Aragon pun Aurora tak sekalipun berlutut untuk memohon dan mengambil simpatik.

Aragon merasa sudut bibirnya berkedut. Rasa penasaran yang aneh mulai merayap dan mencengkeram dadanya.

Meski Aragon juga tahu gadis di hadapannya ini juga ketakutan bukan karena ketakutan akan diri sendiri yang kehilangan tempat bernaung, namun memikirkan nasib orang yang ia sayangi.

Sedangkan di sisi Aurora? Gadis itu jelas terkejut dengan kedatangan Aragon. Padahal, baru beberapa jam yang lalu Aragon bersikap begitu acuh tak acuh. Pria itu bahkan tidak sudi keluar dari mobilnya, ditambah lagi sekretaris pribadinya yang sangat tidak ramah dan mengusirnya.

Namun detik ini, pria itu justru muncul tepat di hadapannya.

“Kenapa? Kenapa si pria dermawan palsu ini datang?” tanya Aurora dalam hati.

“Kau harus ganti rugi atas kerusakan mobil yang telah kau timbulkan tadi,” kata Aragon tiba-tiba dengan suara rendah, seolah-olah ia bisa membaca apa yang sedang berkecamuk di dalam hati Aurora.

Mendengar hal itu, Aurora jelas terperanjat. Terperanjat karena dual, Aragon yang bisa tahu apa yang Aurora katakan di dalam hati, dan betapa menyebalkannya pria yang ada di hadapannya ino, menagih biaya kerusakan di waktu yang tidak tepat.

“Sekarang?” tanya Aurora, sama sekali tidak habis pikir.

Di sekitar mereka, para suster hanya bisa saling pandang, tidak mengerti dengan situasi tegang yang sedang terjadi.

“Ya, sekarang,” jawab Aragon dingin.

Hank yang berdiri di dekat mereka langsung melirik ke arah tuannya. Baru kali ini ia melihat sang tuan mau berbicara langsung dengan gadis yang dianggap berderajat rendah. Selama ini, Aragon tidak pernah sudi berbicara dengan wanita mana pun, kecuali untuk urusan bisnis resmi.

“Anda tidak lihat situasinya?!” teriak Aurora kesal.

”Anda pikir ini waktu yang tepat! Saya akan bayar! Saya akan bayar semua kerusakan yang sebenarnya hanya senilai nominal seupil untuk Anda!” teriak Aurora kesal, napasnya memburu dengan jantung yang berdebar kencang karena amarah.

Melihat Aurora yang melotot tajam ke arahnya, sudut bibir Aragon justru terangkat sedikit. Pria itu menyunggingkan senyum tipis.

Hank kembali dibuat terkejut. Selama bertahun-tahun bekerja dengan Aragon, hampir tidak pernah sekalipun ia melihat dan mendapatkan perubahan ekspresi seperti itu di wajah tuannya. Jelas tuannya tersenyum. Senyuman yang berbeda.

“Kenapa? Kau terganggu dengan mereka?” tanya Aragon, pura-pura tak paham, dan melirik sekilas ke arah Bulldog.

“Hmm… Aku tidak suka ini, kalau mereka mengganggumu, berarti urusan kita juga akan terganggu.” Aragon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, bersikap acuh tak acuh namun sarat intimidasi. “Aku tidak suka ada yang mengusik jalanku saat sedang membahas uangku.”

Aurora hanya terdiam. Ia sama sekali tidak mengerti apa sebenarnya maksud tersembunyi dan keinginan pria di hadapannya ini.

“Kita harus membicarakan ganti rugi atas semua kerusakan mobil-mobilku,” lanjut Aragon, kini tatapan matanya kembali menghujam lurus ke arah Bulldog. “Dan supaya kita bisa fokus menyelesaikan urusan itu, sepertinya ada sampah yang harus disingkirkan terlebih dahulu.

Firasat buruk seketika mencengkeram Bulldog.

Tatapan mata Aragon begitu tajam dan menusuk, seolah sedang melihat seonggok rongsokan yang menjijikkan.

Kedatangan Aragon saja sudah cukup untuk mengikis habis nyali Bulldog. Iring-iringan mobil mewah, puluhan pengawal bersenjata, serta aura pekat yang dibawa pria itu jelas menunjukkan bahwa ia berada di kasta yang jauh berbeda.

Dan itu baru dari apa yang terlihat. Bulldog bahkan belum menyadari, siapa sebenarnya sosok monster yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.

“Baiklah. Sebelum itu, mari bereskan masalah yang menghalangi,” kata Aragon, yang sedetik kemudian langsung mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Bulldog.

Bulldog, yang awalnya sempat tertegun oleh kemegahan iring-iringan tersebut, mulai mengumpulkan kembali keberaniannya. Ia adalah penguasa wilayah distrik ini, dan ia tidak sudi diintimidasi di hadapan anak buahnya sendiri.

Dengan langkah angkuh, Bulldog maju beberapa langkah, mencoba menantang dominasi Aragon.

"Hei, keparat! Siapa kau sebenarnya, hah?!" bentak Bulldog, menunjuk wajah Aragon dengan telunjuknya yang kasar. "Sengaja datang membawa rombongan sirkus untuk pamer? Tempat ini urusanku! Pergi dari sini sebelum aku membuat mobil-mobil mahalmu itu jadi rongsokan!"

Aragon tidak berkedip. Ia bahkan tidak sudi berlama-lama melihat Bulldog. Baginya, suara pria itu tak lebih dari sekadar dengungan lalat yang mengganggu.

Melihat gelagat yang kian menyudutkannya, Bulldog menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mengucur deras, membasahi dahi dan lehernya. Rasa panik yang akut mulai menggerogoti akalnya, memaksa pria itu untuk menggunakan kartu as terakhir yang ia miliki: gertakan.

“H-hei! Jangan macam-macam kau, ya!” seru Bulldog, mencoba mengeraskan suaranya walau nadanya bergetar hebat. Ia melangkah mundur, berlindung di balik barisan anak buahnya yang juga mulai sangsi.

“Kau pikir kau siapa, hah? Hanya karena punya beberapa mobil bagus dan pengawal, kau pikir bisa berkuasa di distrik ini?” Bulldog membusungkan dadanya yang gemetar, mencoba memanggil kembali sisa-sisa harga dirinya yang sudah tercecer di tanah. “Dengar baik-baik, Bajingan! Aku tidak bergerak sendirian di kota ini. Aku mengenal banyak mafia hebat di kota ini! Jaringan mereka menguasai seluruh bisnis hitam dari ujung utara sampai selatan! Dari jengkal Barat sampai Jengkal timur!”

Bulldog menunjuk-nunjuk ke arah Aragon dengan jari yang gemetar. “Satu telepon dariku, dan para bos besar itu akan mengirimkan ratusan orang untuk meratakanmu dan seluruh rombongan sirkusmu ini! Jadi, sebaiknya kau mundur sekarang sebelum kau memicu perang dengan penguasa kota yang sebenarnya!”

Mendengar gertakan itu, keheningan yang mencekam kembali melingkupi area panti. Anak buah Bulldog menahan napas, berharap gertakan bos mereka berhasil menakuti pria asing di hadapan mereka.

Bersambung

1
Rainn G.
Calon istri ga tuh 🗿
Rainn G.
Mau kasian tapi lebih kasian diriku 😭
Rainn G.
What? Sakit banget
Rainn G.
Psikotes banget tapi suka 🔥💅🏻
Rainn G.
Manly guys
Rainn G.
Asikk ributtt 🔥
Rainn G.
Merajuk ke? 😂
Rainn G.
Marahin aja marahin 😏
Rainn G.
Iyalah orang jodohnya wkwk
Rainn G.
Makanya jaga jarak 😑
Rainn G.
Padahal omongin aja langsung ra siapa tau bisa sampein
Anggitadama
Aku tungguin lho kok blm up kak?
Anggitadama
belum up ua kak
Anggitadama
keren sekali up lagi
Anggitadama
up lagi
Arumi Hanza
seru lanjut lagi novelnya
Arumi Hanza
lanjutkan update
Luna.aluna
aku sudah tebar koin untuk kakak semoga kakak senang jadi kakak semangat untuk update selanjutnya karena novel kakak bagus sekali
Luna.aluna
Kak apakah kakak tahu novel kakak sangat aku tunggu-tunggu sekali
Bangun Hanjaya
tolong jangan lama-lama up again
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!