Dihianati oleh kekasih yang dicintai memang begitu menyakitkan, apalagi kekasih yang ia percaya akan membuat dirinya bahagia ternyata diam diam menjalin hubungan dengan sepupunya. Namaku Alisha Azura inilah kisah cintaku dan perjalanan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersy 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Regan ke ruang saya sekarang juga" ucap Mohan melalui panggilan intercom. Tak lama terdengar ketukan pintu dari luar.
Tok
Tok
"Masuk" sahut Mohan dari dalam ruangannya. Tak lama seorang pria berwajah manis memakai kacamata berjalan mendekati atasannya yang tak lain Mohan Bastara. "Silahkan duduk" perintah Mohan dengan wajah datarnya. Regan langsung duduk di kursi depan bosnya.
"Ada yang perlu saya bantu pak?" tanya Regan sopan. Mohan tidak langsung menjawab, setelah beberapa saat kemudian Mohan menatap asistennya dengan wajah berubah serius. "Tolong kamu selidiki penyebab kecelakaan yang dialami putri saya. Kamu cari tau informasi lebih lengkap dan saya mau informasi itu sudah terkumpul hari ini juga" tegas Mohan kepada asistennya. Regan langsung mengangguk "Baik pak, saya akan kerjakan sekarang juga" sahutnya tegas. "Hem, sekarang kamu boleh keluar" perintahnya tanpa menatap asistennya. Mohan berharap kecelakaan putrinya tidak ada kaitannya dengan Fandi. Kalau sampai terbukti Fandi penyebab putrinya kecelakaan maka ia tidak akan segan-segan menghancurkan hidup Fandi. "Aku Mohan Bastara tidak akan mengampuni siapapun yang sudah membuat permata hatiku (Alisha Azura Bastara) terluka. "Nak, papa akan lakukan apapun untuk membalas sakit hatimu jika memang Fandi lah penyebab kamu mengalami semua ini" gumam Mohan menatap dingin kearah luar yang nampak jelas pemandangan kota dari jendela kaca besar di ruangannya.
\>\>\>\>\>\>\>
"Mbak, maaf aku dan mas Roni baru dengar kabar tentang kecelakaan yang dialami Alisha. Sekarang bagaimana keadaan Alisha mbak?" tanya Laras terdengar kawatir dengan keadaan keponakannya. Mama Alena menghela nafas berat, hatinya begitu sedih melihat kondisi putrinya yang sudah 3 hari belum bangun dari komanya. "Kondisi Alisha masih belum ada perubahan, dia masih koma entah kapan putriku akan bangun dari komanya" sahut mama Alena dengan kedua matanya sudah berlinang air mata. Laras yang melihat kakaknya begitu terpuruk langsung memeluknya dan membisikkan kata kata penyemangat untuk menguatkan hati kakaknya. Sedangkan Roni yang melihat keadaan Alisha, pria paruh baya tersebut juga merasa prihatin. "Kasihan sekali kamu Alisha" ucap Roni dalam hati saat melihat Alisha melalui pintu kaca kecil ruang ICU.
\>\>\>\>\>\>\>
Sedangkan Vania, masih setia menjaga Fandi hingga saat ini Vania masih berusaha mengambil hati Fandi. Saat Vania ingin menyuapi Fandi sarapan namun Fandi menolak menepis tangan Vania saat Vania akan menyuapi dirinya. Jujur hati Vania sakit atas penolakan yang dilakukan Fandi. Fandi bahkan meminta Vania pergi namun Vania tetap kekeh mau menjaga Fandi. Fandi yang sudah lelah dengan sikap keras kepala Vania pada akhirnya pria tersebut membiarkannya saja. Saat ini Fandi ingin cepat sembuh agar bisa segera menemui Alisha. Fandi berharap saat ini Alisha sudah sadar dan mau berbicara dengannya. Fandi bertekad ingin meluluhkan hati Alisha kembali, Fandi ingin memperbaiki hubungan mereka meskipun keadaan Alisha tidak seperti dulu lagi.
Diruangan lain
Setelah kepergian orang tua Vania, mama Alena duduk di kursi tunggu seorang diri. Hari ini Mohan suaminya harus pergi ke kantor karena ada rapat penting yang tidak bisa diwakilkan kepada asistennya. Santa yang baru saja datang, ia menatap wajah pucat mama Alena menghela nafas panjang. "Kasian tante pasti beberapa hari ini istirahatnya tidak tenang karena kepikiran dengan kondisi Alisha" gumam Santa merasa prihatin. "Tante sarapan dulu yuk, tante pasti belum sempat sarapan kan? ini Santa bawa bubur ayam tadi dibelikan kak David sebelum datang kesini" ucap Santa tersenyum ceria seraya menunjukkan 2 bungkus bubur ayam yang belikan kakaknya saat Santa akan pergi ke rumah sakit. Mama Alena tersenyum lalu menggeleng pelan " Sebelumnya tante ucapkan terimakasih, tapi maaf tante sedang tidak berselera makan saat ini" jawab mama Alena sendu.
Santa yang mendengar jawaban mama Alena langsung menggeleng cepat "No no no..." ucap Santa seraya jari telunjuknya bergerak ke kiri ke kanan pertanda menolak jawaban mama Alena. "Untuk saat ini Santa tidak menerima penolakan, pokonya tante harus makan kalau tante enggak mau makan Santa juga enggak mau makan titik enggak pakai koma" ucapnya seraya bersidekap tangan didada memasang expresi seolah-olah sedang merajuk. Mama Alena yang melihat tingkah sahabat putrinya bibirnya tersenyum kecil seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Baiklah tante akan makan, apakah sekarang kamu merasa puas, hem...?" tanya mama Alena tersenyum kecil. Santa yang mendengar ucapan mama Alena ikut tersenyum kecil "Sangat puas dong" sahut Santa tersenyum senang. "Hem... tante boleh nggak kalau Santa minta disuapin sama tante? Santa rindu disuapin sama mommy" ucap Santa menundukkan kepalanya. Mama Alena tersenyum lembut menjawab "Boleh, kenapa enggak boleh, kamu sudah tante anggap seperti anak tante sendiri. Jadi kamu jangan merasa sendirian ya nak" wanita paruh baya tersebut segera membuka bungkusan yang berisi bubur ayam dan langsung menyuapi Santa dengan telaten. Sedangkan Santa yang disuapi air matanya langsung terjatuh, Santa memeluk erat mama Alena lalu berbisik "Santa sangat merindukan Alisha, karena biasanya saat Santa sedang tidak berselera makan pasti Alisha membujuk Santa untuk makan dengan cara menyuapi Santa sampai Santa kekenyangan begitupun sebaliknya" ucap Santa disela tangisnya diperlukan mama Alena. Mama Alena yang mendengar ucapan Santa juga ikut terisak karena wanita paruh baya tersebut juga sangat merindukan putrinya. "Kita harus perbanyak doa supaya Alisha segera sadar dan bisa berkumpul dengan kita lagi" ucap mama Alena disela tangisnya. Santa yang mendengar ucapan mama Alena mengangguk kecil "Amin.. sekarang tante juga makan ya, biar Santa suapin" ucap Santa mengambil sendok dan menyuapi mama Alena dan mama Alena menerima suapan dari Santa. Dua wanita beda generasi tersebut makan dengan perasaan tak menentu.
\>\>\>\>\>\>\>\>
"Kamu siapa ?" tanya Siska mama Fandi kepada seorang gadis muda yang sedang duduk di sofa yang tak lain Vania Larissa sepupu Alisha. Vania yang tidak menyadari kedatangan Siska, dia sedikit tersentak namun segera mengubah expresi wajahnya setenang mungkin agar tidak terlihat gugup didepan wanita paruh baya tersebut yang tak lain orang tua Fandi. Vania segera berjalan menghampiri wanita paruh baya tersebut yang sejak tadi menatapnya penuh selidik. "Tante.." sapa Vania tersenyum lembut Vania berniat menyalami tangan Siska namun Siska seolah enggan bersentuhan dengan gadis asing didepannya. "Kamu belum jawab pertanyaan saya, kamu siapa dan sedang apa disini ?!" ketus Siska sambil bersidekap tangan didada. Memandang Vania dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai. "Ternyata tante ini mamanya kak Fandi, ini kesempatan aku untuk mengambil hati mama kak Fandi" batin Vania.
"Perkenalkan tante, nama saya Vania Larissa teman dekat kak Fandi" ucap Vania memperkenalkan diri dengan tersenyum manis. Expresi wajah Siska langsung berubah tidak suka "Apa kamu yakin, cuma teman dekat anak saya atau kamu salah satu jalang murahan yang sering naik ke atas ranjang putra saya. Wanita yang menghalalkan segala cara supaya mendapatkan apapun yang ia mau!"
Jleb....
Kata kata Siska terdengar lembut namun begitu menusuk ke jantung Vania. Vania yang mendengar perkataan wanita paruh baya didepannya hatinya terasa tercubit meskipun apa yang dikatakan tidaklah salah karena Vania mendekati Fandi karena tujuan tertentu. "Maaf tante anda salah paham, saya memang teman dekat kak Fandi tapi saya tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh tante barusan" bohong Vania dengan mata berkaca-kaca seolah olah ia terluka dengan ucapan wanita paruh baya yang tak lain orang tua Fandi. Siska yang mendengar jawaban Vania barusan tiba tiba merasa bersalah karena telah berkata kasar terhadap gadis didepannya.
"Maaf, saya kira kamu salah satu teman ranjang putra saya. Karena sejujurnya saya kesal dengan perbuatan Fandi yang tidak pernah berubah sejak dulu, tapi mau bagaimana pun Fandi tetap putra saya satu satunya. Saya sudah berulang kali menasehatinya tapi Fandi seolah olah tidak mau mendengarkan saya. Saya kawatir akan berdampak buruk pada hubungannya bersama Alisha. Saya kawatir gara gara kebodohannya sendiri Fandi akan kehilangan Alisha selama lamanya. Vania yang mendengar perkataan mama Fandi kedua tangannya terkepal kuat. "Alisha lagi Alisha lagi, lagi lagi aku mendengar namanya disebut. Aku begitu membenci namanya, kenapa sih banyak orang menyukainya sebenarnya apa kelebihan dia dari pada aku" geram Vania dalam hati.
Vania mencoba tersenyum lembut lalu berkata "Tante yang sabar ya, nanti saya akan coba berbicara dengan kak Fandi pelan pelan dan semoga saja kak Fandi mau mendengarkan saya" ucap Vania lembut. Siska yang mendengar perkataan Vania langsung tersenyum senang "Beneran nak, kamu mau bantuin tante?" tanya Siska tersenyum haru. "Ternyata muda sekali mengambil hati tante Siska ya meskipun tadi perkataannya membuat aku sangat kesal padanya. Vania tugasmu sekarang adalah pelan pelan dekati orang tua kak Fandi agar mereka berpihak padamu" batin Vania tersenyum licik.
"Iya tante nanti pelan pelan saya akan berbicara dengan kak Fandi" jawab Vania tersenyum manis. Siska langsung menggenggam kedua tangan Vania lalu berkata "Terimakasih Vania, ternyata selain cantik kamu juga gadis yang baik hati" puji Siska tulus. Vania tersenyum lembut "Iya tante sama sama, sesama manusia kan harus saling tolong menolong" jawabnya bijak. Siska semakin kagum dengan kebaikan gadis didepannya.
Saat mereka sedang berbincang-bincang tiba tiba terdengar suara Fandi yang baru bangun tidur. "Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Fandi sedikit heran melihat mamanya nampak akrab dengan Vania. "Kami tidak berbicara apapun nak, oya bagaimana keadaanmu?" tanya Siska lembut. "Masih sakit" jawab Fandi dingin. Siska yang mendengar jawaban putranya terkesan dingin menghela nafas berat. Vania berjalan mendekati ranjang pasien dengan tersenyum manis "Kakak butuh sesuatu biar aku ambilkan" tawar Vania lembut. "Tidak perlu, pulanglah kamu sejak semalam sudah disini" ucap Fandi datar sejujurnya Fandi tidak mengharapkan kedatangan Vania. Tapi tidak dengan Vania, perkataan Fandi justru disalah artikan ia berfikir Fandi begitu peduli dengannya. Vania tersenyum lalu mengangguk kecil "Baik kak, Vania pulang dulu nanti kesini lagi" ucap Vania langsung bersiap pulang, sebelum pulang Vania berpamitan kepada Siska dengan mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut membuat Siska tersenyum kagum "Ternyata dia gadis yang baik dan sopan" batin Siska memuji Vania.