Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa puas,Rencana pembalasan mulai berjalan
Di dalam mobil Rolls-Royce yang melaju tenang membelah jalanan kota, Elena menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kulit yang empuk.
Ia melepaskan kalung mutiara hitamnya, melemparkannya ke samping dengan helaan napas panjang yang melelahkan. Perannya sebagai Elena Van Doren membutuhkan energi mental yang luar biasa; setiap kata yang ia ucapkan harus diperhitungkan dengan cermat untuk menghancurkan psikologis korbannya tanpa meninggalkan celah curiga.
Namun kali ini, senyum tipis yang tulus muncul di bibir Elena. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan penuh dendam, hatinya terasa ringan. Ia menutup mata sejenak, membiarkan gelombang kepuasan membanjiri dirinya. ("Akhirnya,") bisik hatinya. ("Aku berhasil menjatuhkan wanita ular itu di depan Rendy,si pecundang.")
Elena tersenyum,bayangan wajah Lisa tadi yang memerah padam, air mata yang mengancam merusak riasan tebalnya, dan tatapan putus asa saat Rendy justru membenarkan hinaannya,semua itu terulang di benak Elena seperti film yang memuaskan. Wanita yang dulu merebut suaminya, yang meracuni dirinya pelan-pelan hingga hampir mati, kini diinjak harga dirinya di depan umum. Dan Rendy? Pria yang pernah ia cintai sepenuh hati, yang mengkhianatinya demi nafsu dan ambisi, kini tak berkutik di tangannya,Elena semakin percaya diri,Ia yakin tidak akan membutuhkan waktu lama ia akan bisa membalaskan sakit hati dan dendamnya pada Rendi dan Lisa .
Elena tertawa pelan, suaranya lembut namun penuh kemenangan. “Mereka pasti sedang bertengkar hebat sekarang,” gumamnya sendiri. Ia bisa membayangkan dengan jelas: di dalam mobil Rendy, Lisa menjerit-jerit, memukul dada pria itu, sementara Rendy yang terpojok mulai meragukan segalanya. Benih keraguan yang ia tanam sudah tumbuh subur. Rendy tak lagi melihat Lisa sebagai sekutu, melainkan beban yang mengancam imperium bisnisnya. Dua triliun rupiah yang dipertaruhkan membuat pria itu lumpuh, tak berani membela kekasihnya.
“Rendy … kau sudah berada di telapak tanganku,” bisik Elena dengan mata yang menyipit penuh kepuasan. Sakit hati yang dulu menggerogoti hatinya seperti racun,pengkhianatan, racun di minumannya, pembuangan di rumah sakit saat ia sekarat,kini sedikit terbalaskan. Bukan balas dendam total, tapi ini awal yang manis. Melihat Rendy memilih bisnis di atas loyalitasnya pada Lisa terasa seperti obat penawar luka lama.
Mobil berhenti di lampu merah. Sopir di depan, seorang pria paruh baya bernama Pak Rahmat yang merupakan orang kepercayaan Arka, melirik ke spion tengah dengan senyum hormat.
“Madam Elena, Anda luar biasa tadi,” ujar Pak Rahmat dengan suara rendah yang penuh kekaguman. “Cara Anda menekan mereka … begitu elegan tapi mematikan. Saya hampir tidak bisa menahan senyum saat melihat wajah nona Lisa itu memucat. Anda benar-benar ratu balas dendam.”
Elena membuka mata dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak Rahmat. Arka memang memilih orang yang tepat untuk mendampingiku. Dukunganmu berarti banyak.”
Pak Rahmat mengangguk sambil menjalankan mobil kembali. “Dari awal saya tahu rencana ini akan berhasil. Tuan Arka sering bilang, Non Alana,maaf, Madam Elena,memiliki kekuatan yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Kesabaran Anda, kecerdasan Anda … itu yang membuat mereka tak bisa berkutik. Rendy Pratama sekarang seperti tikus yang terjebak. Satu gerakan salah, semuanya hancur.”
Kata-kata Pak Rahmat semakin menghangatkan hati Elena. Ia menatap pemandangan Jakarta di luar jendela yang gelap, gedung-gedung tinggi berkelap-kelip. Dulu, saat ia terbaring lemah setelah terselamatkan dari derasnya air sungai,ia sudah dikhianati oleh suami dan Lisa, ia berjanji akan bangkit lebih kuat. Arka, pria yang menyelamatkannya dan memberinya identitas baru, telah memberi alat untuk itu. Dan hari ini, langkah pertama berhasil sempurna.
Elena mengambil ponselnya, membuka aplikasi pelacak yang tersembunyi. Titik merah menunjukkan lokasi SUV Rendy sedang macet di kawasan Sudirman. Ia bisa membayangkan pertengkaran yang semakin memanas di sana. Lisa pasti menangis histeris, mengancam, sementara Rendy mulai lelah dan meragukan pilihan hidupnya.
“Lisa … kau dulu merasa menang karena merebut Rendy dariku,” bisik Elena dengan suara dingin. “Sekarang rasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh pria yang kau korbankan segalanya. Rendy tidak akan bertahan lama membelamu. Ego dan ketakutannya lebih besar daripada cintanya padamu.”
Kepuasan itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Sakit hati yang bertahun-tahun lalu kini terasa sedikit lebih ringan. Bukan hilang sepenuhnya,luka pengkhianatan terdalam masih ada,tapi hari ini memberinya kekuatan untuk melanjutkan. Ia akan menyaksikan mereka saling menghancurkan dari dalam, lalu ia akan menyelesaikan semuanya dengan tangan dingin.
“Pak, tolong antar saya ke penthouse. Besok kita lanjutkan langkah berikutnya,” kata Elena sambil menyandarkan kepala lagi.
“Baik, Madam. Istirahat yang cukup. Anda pantas mendapatkannya setelah pertunjukan luar biasa tadi,” balas Pak Rahmat penuh hormat.
Elena tersenyum. Ya, ia pantas. Dendamnya baru saja dimulai, dan rasanya sangat menyenangkan, sangat manis.
Elena memandang kedepan dan tersenyum sendiri,hingga sebuah suara familier terdengar dari speaker nirkabel di kabin mobil,membuyarkan lamunannya . "Retakan itu kini telah berubah menjadi pecahan yang tajam, Elena. Kau melakukannya dengan sangat presisi."
Elena menoleh ke arah layar kecil di konsol tengah. Wajah Arka tampak di sana, duduk di ruang kerja rahasianya dengan latar belakang deretan monitor yang menampilkan data audit Adiguna Group yang terus mengalir masuk.
"Rendy mengorbankannya tanpa ragu, Arka," ucap Elena, ada nada kecaman sekaligus kepuasan dalam suaranya. "Dia mencopot harga diri Lisa di depanku hanya untuk mengamankan uang yang bahkan tidak pernah ada. Pria itu benar-benar mahluk yang paling menjijikkan."
"Itulah sifat dasar dari seorang oportunis, Elena. Mereka tidak memiliki kesetiaan sejati. Ketika badai datang, mereka akan melempar siapa saja dari atas kapal demi menyelamatkan diri mereka sendiri," Arka menyahut, tatapannya yang tajam menatap Elena melalui kamera. "Budi baru saja mengonfirmasi bahwa setelah tiba di kantor pusatnya satu jam yang lalu, Rendy langsung mengeluarkan surat keputusan sepihak. Lisa resmi dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Pemasaran Adiguna City."
Elena memejamkan matanya, merasakan kemenangan kecil itu merayap di dadanya. Pukulan pertama telah mendarat dengan telak pada Lisa. Wanita yang dulu merebut posisinya, rumahnya, dan suaminya, kini mulai merasakan bagaimana rasanya disingkirkan dan tidak dihargai.
"Ini baru permulaan untuk Lisa," bisik Elena, membuka matanya yang kini kembali bersinar dengan kilatan dendam yang dingin. "Dan untuk Rendy ... dia baru saja mengundang badai yang jauh lebih besar masuk ke dalam hidupnya."
Arka tersenyum tipis di balik layar, sebuah senyuman yang menandakan bahwa seluruh kekuatan finansial raksasanya siap bergerak untuk mendukung langkah berikutnya dari sang wanita yang bangkit dari kematian.
"Sistem audit kita sudah menyerap separuh dari data keuangan mereka, Elena. Besok, kita akan memegang tali kekang yang sesungguhnya atas leher Rendy Pratama."